Share

Skandal Cinta Sang Psikiater
Skandal Cinta Sang Psikiater
Penulis: Zahra Zha

Terjadi Lagi ....

El, bangun!” teriak Laras histeris.

Laras melihat Elena tidak sadarkan diri dalam keadaan tangan penuh darah.

“Lu ngelakuin ini lagi, El?” tanya Laras sambil menggoyang-goyangkan kepala Elena, berharap Elena segera sadar.

Beberapa menit tidak kunjung sadar, Laras membuka pintu kamar lalu berteriak meminta tolong kepada penghuni asrama putri tersebut.

Para penghuni kamar berdatangan ke kamar nomor 25 tersebut, termasuk Bu Ratna, kepala asrama.

“Ada apa ini?” tanya Bu Ratna penasaran, dari balik pintu.

“El, Bu.” Laras menarik tangan Bu Ratna.

“El kenapa?” tanya Bu Ratna.

Bu Ratna segera masuk ke kamar Elena dengan wajah cemas, sembari menyuruh Laras mencari kain untuk membersihkan darah yang berceceran di lantai.

“Cepat! Cepat panggil ambulans!” seru Bu Ratna kepada Laras.

“Ya Allah, kenapa lagi dengan anak ini?” tanya Bu Ratna sambil mendekatkan minyak kayu putih ke hidung Elena, berharap Elena segera sadar. 

Di tengah kegaduhan, Maria, gadis berkaca mata dan berperawakan gemuk itu tiba-tiba pingsan. Menambah suasana menjadi riuh. 

“Kenapa pula dengan Maria?” teriak Bu Ratna.

“Tadi, sebelum pingsan, Maria mengeluhkan mual dan pusing melihat darah, Bu,” jawab salah seorang di antara kerumunan itu.

“Ya sudah, kalian semua bubar dan bawa Maria ke kamar! Tolong jaga sampai dia sadar, ibu mau ke rumah sakit mengantar Elena,” titah Bu Ratna kepada para penghuni asrama.

Mobil ambulans datang dengan bunyi yang mengundang banyak keingintahuan warga, sehingga banyak warga datang memenuhi halaman asrama. 

Petugas ambulans, Laras, dan Bu Ratna keluar dengan membawa Elena, lalu memasukkan ke mobil ambulans. Segala pertanyaan warga tidak dihiraukan oleh Bu Ratna. Ada perasaan malu di benak Bu Ratna, karena ini adalah kali kedua percobaan bunuh diri yang dilakukan Elena semenjak menghuni asramanya.

Di dalam ambulans, Bu Ratna sedikit berbincang dengan Laras.

“Ras, orang tuanya sudah kamu hubungi?” tanya beliau pelan.

“Laras sudah coba telepon ayahnya, Bu, tapi ibu tirinya yang menjawab. Beliau cuma bilang sudah bosan dengan tingkah El, lalu menutup teleponnya. Laras juga coba hubungi ibunya El melalui adiknya, tapi ibu ‘kan tahu sendiri keadaan ibunya El.  Enggak mungkin beliau paham apa yang sedang terjadi dengan anaknya,” jelas Laras dengan tatapan nanar ke arah sahabatnya itu.

Bu Ratna hanya bisa menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan, sambil menatap wajah Elena dalam-dalam.

‘Kasihan sekali sebetulnya anak ini,’ batinnya.

***

Suara ambulans terdengar lengking memasuki halaman rumah sakit. Para perawat sudah bersiaga di depan pintu IGD, sambil menunggu petugas ambulans mengeluarkan Elena dari mobil. Tubuh Elena dibawa ke ruangan IGD dan langsung diperiksa oleh dokter dan perawat.

Tidak berselang lama, dokter dan satu perawat datang menghampiri Laras dan Bu Ratna.

“Kalian keluarganya?” tanya dokter kepada Bu Ratna, “oh, apakah ini ibunya pasien?” imbuhnya lagi.

“Bukan, Dok, saya ibu asrama tempat anak ini tinggal. Kenapa, Dok?” tanya Bu Ratna.

“Lalu, apa Mbak saudaranya?” 

“Bukan, Dok, saya sahabatnya,” jawab Laras.

“Begini, ya, pasien ini banyak mengeluarkan darah dan dia butuh sekali satu kantung darah golongan A secepatnya. Apa di antara kalian ada yang golongan darahnya A?” tanya dokter yang masih kelihatan sangat muda itu.

Laras dan Bu Ratna saling berpandangan. Bu Ratna menggelengkan kepala begitu juga Laras, tanda bahwa golongan darah mereka berbeda dengan El.

“Stok darah A di sini lagi kosong, tolong kalian usahakan secepatnya, ya!” pinta dokter, sambil berlalu pergi untuk memeriksa kembali keadaan Elena.

“Ras, coba kamu telepon anak-anak di asrama. Siapa tahu ada yang punya golongan darah A,” perintah Bu Ratna.

“Iya, Bu. Ini Laras juga lagi hubungi teman-teman, saat ini belum ada yang menanggapi di grup. Laras coba telepon Dian, untuk tanyakan ke anak-anak.” 

Laras menelepon salah satu siswi di asrama tersebut, tampak Laras sedang berbincang serius dengan Dian.

“Sepuluh menit lagi Dian akan telepon balik, Bu,” ucap Laras pada Bu Ratna.

Dokter kembali menghampiri Laras dan Bu Ratna untuk menanyakan kembali soal darah yang dibutuhkan Elena.

“Bagaimana, Bu? Sudah dapat darahnya? Kami tak bisa menunda lebih lama lagi, nyawa pasien ini dalam bahaya,” terang dokter tersebut.

Tampak Laras dan Bu Ratna terkejut dan bingung, berapa kali Laras mencoba telepon Dian namun tak tersambung juga. 

“Bagaimana, Ras?” tanya Bu Ratna dengan wajah bingung.

“Enggak bisa dihubungi, Bu,” jawab Laras cemas.

Di tengah kebingungan Bu Ratna, Laras, dan dokter itu, datang Dokter Andreas dengan baju biasa tanpa atribut seragamnya, lalu menyapa dokter jaga yang menangani Elena. 

“What happened, Dra?” tanya dia sambil memandang ke arah Laras dan Bu Ratna.

“Lagi butuh darah A satu kantung, Dok. Ada pasien darurat,” jawab dokter yang ternyata bernama Indra itu.

“Terus, ada?” tanya Dokter Andreas balik. 

“Belum, Dok,” jawabnya.

“Ya sudah, kebetulan golongan darahku juga A, bisa ambil darahku sekarang,” tawar Dokter Andreas yang kemudian di-iyakan oleh Dokter Indra.

Keduanya masuk ke dalam ruangan IGD. Salah satu perawat menyuruh Bu Ratna untuk mengurus segala keperluan administrasi yang diperlukan, sedang Laras menunggu sahabatnya itu di ruang IGD.

***

Selang beberapa jam menunggu, akhirnya dokter memanggil Laras dan Bu Ratna. Lalu, mengatakan kalau Elena sudah sadar dan bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Ada senyum kelegaan di wajah mereka berdua.

Elena pun dibawa ke ruang Dahlia, keadaannya masih lemah namun, sudah bisa diajak bicara.

“Lu, kenapa nekat begini lagi, sih, El?” tanya Laras yang duduk di samping tempat tidur Elena.

Elena hanya terdiam, ada air mata yang mengalir dari sudut mata sayunya. Terpancar semburat kesedihan mendalam yang lama terpendam, luka batin dan trauma saling bergumul memenuhi jiwanya yang kosong. Elena sedang tidak baik-baik saja. Kerasnya hidup yang dia jalani selama ini, ditambah lagi inner child yang belum tuntas sepenuhnya, membuatnya tumbuh menjadi seorang gadis dengan psikologis yang berantakan. 

“Lu butuh psikiater, El!”

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status