INICIAR SESIÓNLampu kristal di foyer yang menyilaukan itu seolah menjadi lampu interogasi bagi Soraya. Berdiri di hadapan George yang baru saja pulang dari London, lebih cepat dari jadwal, dengan tatapan mata yang tajam dan setelan trench coat yang membuatnya terlihat seperti detektif di film noir, Soraya tahu dia hanya punya waktu sepersekian detik untuk mengubah narasi.Aroma Damien masih samar-samar menempel di kulitnya, sebuah bom waktu aroma yang bisa meledak kapan saja jika George mendekat terlalu agresif. Kepanikan yang sempat menyergapnya harus segera dikubur dalam-dalam, digantikan oleh akting terbaik yang pernah dia pelajari dari sang pengacara iblis.Soraya memasang wajah tenang, sebuah topeng dingin yang menyembunyikan detak jantungnya yang berpacu seperti kuda liar. Dia tidak mundur. Dia tidak menunduk. Dia membalas tatapan suaminya dengan sorot mata lelah yang mengandung sedikit kemarahan, seolah kedatangan George dan pertanyaannya adalah gangguan yang tidak perlu."Ya, aku memang ter
Rutinitas itu terbentuk dengan cepat, menjadi candu yang lebih mematikan daripada narkotika jenis apa pun. Pertemuan Soraya dan Damien makin intens, melampaui batas kewajaran hubungan antara klien dan kuasa hukum.Setiap hari, dengan dalih "konsultasi mendalam" atau "persiapan berkas pra-peradilan", Soraya melangkahkan kakinya ke kantor firma hukum Vargan & Associates yang terletak di puncak gedung pencakar langit itu.Gedung itu bukan lagi tempat mencari keadilan baginya, itu adalah kuil pemujaan di mana Soraya dengan sukarela mengorbankan harga dirinya di altar nafsu Damien.Polanya selalu sama, mereka akan membahas kasus selama sepuluh menit, formalitas belaka di mana Damien menjelaskan strategi hukum dengan nada profesional yang dingin, dan sisa jam-jam berikutnya berakhir dengan percintaan liar dan kurang ajar. Meja kerja mahoni yang kokoh itu telah menjadi saksi bisu bagaimana tubuh Soraya dilipat, dibentangkan, dan dinikmati dalam berbagai posisi yang tidak pernah ia bayangkan
Udara malam New York yang menyusup masuk melalui pintu penthouse yang terbuka lebar bercampur dengan aroma feromon yang pekat di ruang tamu itu. Di atas karpet bulu yang tebal, Soraya kehilangan sisa-sisa identitasnya sebagai istri diplomat yang anggun.Posisi doggy style yang dipaksakan Damien bukan sekadar variasi posisi bercinta, itu adalah sebuah pernyataan. Dengan wajah terbenam di bantal sofa yang ia tarik ke lantai, dan pinggul yang diangkat tinggi ditopang oleh kaki jenjang yang dibalut heels, Soraya merasa seperti hewan persembahan yang sedang dinikmati oleh dewa yang lapar.Desahan Soraya semakin menggila saat Damien semakin mendominasi.Tidak ada ritme cinta yang lembut di sini. Damien bergerak dengan tempo yang brutal dan tidak kenal ampun. Setiap hujaman yang ia berikan terasa penuh, mengisi kekosongan Soraya hingga ke titik terdalam, meregangkan dinding-dinding kewanitaannya yang sudah sangat basah dan sensitif."Ahhh! Vargan! Ya!" jerit Soraya, suaranya parau dan pecah.
Suara erangan dan desahan kembali menguasai penthouse Damien, memecah kesunyian malam di lantai teratas gedung pencakar langit itu. Tidak ada musik romantis, tidak ada lilin, hanya suara kulit yang beradu, napas yang memburu, dan teriakan-teriakan kenikmatan yang tak tertahan.Soraya dalam posisi doggy style, bertumpu pada lutut dan sikunya di atas karpet berbulu tebal di ruang tamu, sedang menikmati hujaman Damien yang datang bertubi-tubi dari belakang. Wajahnya terbenam di bantal sofa yang ia tarik jatuh ke lantai, mulutnya terbuka lebar menyuarakan ekstasi yang merobek kewarasannya.Selesai pesta tadi, skenario kehidupan Soraya berubah drastis dalam hitungan menit.Di lobi hotel, saat Soraya masih merasakan sisa adrenalin dari dansa mereka, ponsel George berdering. Panggilan prioritas tinggi dari London. Krisis diplomatik. Tanpa ragu, tanpa menimbang perasaan istrinya yang baru saja ia pamerkan, George berubah mode. Dia bukan lagi suami; dia adalah pejabat negara."Aku harus pergi
George memperhatikan gerak-gerik istrinya dengan ketelitian seorang penyidik yang sedang mencari retakan mikroskopis pada kesaksian tersangka. Ia mencari kedutan di sudut mata, getaran di bibir, atau perubahan ritme nafas yang menandakan kebohongan. Namun, Soraya berdiri di hadapannya dengan ketenangan yang menakutkan. Wanita itu tidak menarik diri, tidak menunduk, dan yang paling mengganggu George, tidak terlihat merasa bersalah sedikitpun karena tertangkap basah berdiri terlalu dekat dengan pria lain.Soraya menatapnya tenang, matanya jernih memantulkan cahaya lampu gantung, lalu berkata dengan nada rasional yang menusuk, "Reaksimu akan membuat yang lain mengira ada sesuatu di antara kami, George. Pelankan suaramu dan kendalikan wajahmu. Orang-orang mulai menoleh."Peringatan itu telak. George sadar ia hampir tergelincir. Ia hampir membiarkan cemburunya merusak topeng sempurnanya di depan umum.George tersenyum hangat, senyum yang terlatih untuk kamera, tapi dalam hati tidak senang
Kehadiran itu datang tanpa suara, seperti bayangan yang memisahkan diri dari kegelapan untuk berdiri di samping cahaya. Tidak ada sapaan, tidak ada denting gelas yang beradu, hanya perubahan drastis pada tekanan udara di sekitar Soraya. Bulu kuduk di tengkuknya meremang, bukan karena dinginnya pendingin ruangan ballroom Hotel Lux, melainkan karena radar instingnya mendeteksi bahaya yang familiar, bahaya yang kini menjadi candu baginya.Aroma musk yang tajam bercampur dengan tobacco mahal dan hint aroma laut yang dingin menyusup ke indra penciumannya, menyingkirkan aroma parfum citrus ringan milik tamu-tamu lain. Aroma itu adalah tanda tangan Damien Vargan.Soraya langsung menoleh, gerakan lehernya cepat dan antisipatif.Soraya bertemu tatap dengan Damien yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya. Pria itu tampak menjulang, mengenakan tuksedo hitam pekat yang dipotong sempurna mengikuti tubuh atletisnya, dengan dasi kupu-kupu yang sedikit miring, memberikan kesan rogue yang m







