Beranda / Romansa / Skandal Panas Tuan Aktor / Bab 6 Di Balik Pintu Apartemen

Share

Bab 6 Di Balik Pintu Apartemen

Penulis: Secret juju
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-18 15:27:00

Winter hampir berlari ketika keluar dari mobil dan memasuki rumah. Serena mengabari lewat pesan bahwa ayah mereka terjatuh saat berusaha mengambil minuman di meja kecil dekat tempat tidur. Tubuh ayahnya yang lumpuh sebagian sejak kecelakaan kerja lima tahun lalu membuat hal sederhana seperti itu menjadi berbahaya.

“Bagaimana ayah?” tanya Winter begitu melihat Serena di ruang tengah.

Serena hanya mengangguk ke arah kamar, wajahnya tegang.

Winter masuk dan napasnya tercekat.

“Oh, Tuhan…” Lututnya melemas melihat kening ayahnya yang robek, darahnya sudah mengering bercampur obat merah seadanya. Perbannya kusut, jelas dipasang terburu-buru. Winter langsung mendekat, meraih tangan ayahnya yang tergeletak lemah di sisi tubuh. Telapak tangannya dingin.

“Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?” suara Winter pecah, tapi ia menahannya tetap stabil.

Serena menunduk. Sebelum adiknya menjawab, Maia muncul di ambang pintu.

“Kita tidak punya uang,” ucap ibu tirinya datar. Maia berdiri dengan tangan terlipat, seperti hanya sekadar mengamati. Tatapannya bukan kekhawatiran, melainkan hitung-hitungan.

Winter menoleh pelan, menatap wanita yang telah membesarkannya itu. Ada banyak hal yang ingin ia katakan. Tentang kepedulian, tentang tanggung jawab, tentang bagaimana ayah tetap manusia yang perlu dirawat dengan layak. Namun tenggorokannya terasa terlalu sempit.

“Aku sudah bersihkan sebisanya,” lanjut Maia tanpa merasa bersalah. “Kalau setiap luka kecil dibawa ke rumah sakit, kita mau makan apa besok?”

Winter menunduk lagi pada ayahnya, merapikan selimutnya dengan gemetar. Ia menelan pahit kata-kata Maia. Kata-kata yang semakin lama semakin sering ia dengar sejak ayahnya lumpuh lima tahun lalu. Meski Ayah tidak lagi bisa menafkahi mereka, tapi itu tidak membuatnya kurang layak dihormati. Ia tetap kepala rumah tangga mereka. Pria yang dulu bekerja keras tanpa mengeluh demi keluarga ini.

Sejak kecelakaan itu, hidup mereka berubah total. Ayah tak lagi bisa menjadi penopang. Serena yang masih sekolah menjadi tertekan, dan Winter bekerja keras menutupi segalanya. Namun sekarang Winter bahkan kehilangan pekerjaannya sendiri.

“Aku bawa ayah ke rumah sakit,” ucap Winter pelan namun tegas. Ia kembali merapikan selimut ayahnya dengan tangan gemetar. “Aku tidak bisa melihat luka seperti ini dibiarkan.”

Ayahnya mencoba tersenyum tipis, seakan ingin menenangkan putrinya. Winter menggenggam tangannya sedikit lebih erat, memastikan ayah tahu ia tidak sendiri.

Winter menyiapkan kursi roda yang terparkir di sudut kamar, memeriksa remnya, lalu membantu ayahnya perlahan. Serena ikut memegang sisi tubuh ayah agar tidak oleng. Ayah meringis kecil, namun tidak mengeluh.

“Pelan-pelan, Yah. Kita keluar sebentar saja,” ucap Winter, suaranya menurun lembut.

Maia tetap berdiri di pintu, tidak bergerak membantu.

“Kalau kalian mau bawa ke rumah sakit, terserah,” katanya sambil menghela napas. “Tapi jangan minta aku keluar uang. Aku sudah bilang dari awal, keuangan kita …”

Winter menahan diri untuk tidak menanggapi. Ia hanya memastikan ayah duduk dengan aman di kursi roda.

Serena menggigit bibir, menunduk. “Aku ikut, Kak.”

Winter mengangguk. “Ambilkan jaket ayah.”

Saat Serena bergegas, Winter kembali menatap ayahnya. Pria itu mencoba tersenyum, seolah tidak ingin jadi beban.

“Tidak apa-apa, Nak. Ayah cuma kurang hati-hati,” ucapnya lirih.

Winter menunduk, menyembunyikan rasa sesak yang naik tiba-tiba. Ia merapikan kerah baju ayahnya dengan tangan yang sedikit gemetar.

“Kalau ayah butuh apapun, bilang. Jangan paksakan diri,” katanya, suaranya lebih lembut daripada kelihatannya.

Serena kembali, membantu Winter membawa ayah keluar rumah. Begitu melewati ruang tamu, Maia masih mengikuti mereka dengan pandangan dingin.

“Winter,” panggil Maia sebelum mereka pergi. “Jangan buat keputusan gegabah. Ingat, semua biaya ayah dan kuliah Serena itu tanggung jawabmu. Kalau kau tidak dapat pekerjaan baru secepatnya, kita semua yang repot.”

Winter berhenti sejenak. Ia tidak menoleh, hanya menarik napas perlahan.

“Kita bahas nanti,” ucapnya singkat.

Ia mendorong kursi roda ayahnya keluar rumah, memilih fokus pada hal yang lebih penting. Memastikan ayahnya dirawat dengan layak.

Di luar, udara jauh lebih dingin dibandingkan dalam rumah. Serena membuka pintu mobil, dan Winter membantu ayah masuk perlahan. Begitu kursi roda terlipat dan bagasi tertutup, Winter sempat menatap rumah itu. Tempat yang dulu terasa hangat, kini hanya menyisakan tuntutan dan kewajiban. Namun ia menahan semuanya di dalam dada. Saat ini, ayah yang paling penting.

“Ayo, Kak,” ucap Serena dari kursi penumpang, menyadarkan Winter yang sempat terdiam.

Winter masuk ke kursi kemudi, menyalakan mobil, dan membawa mereka menuju rumah sakit tanpa menoleh sedikitpun pada masa lalu yang terus membebaninya.

***

Winter berdiri di depan pintu unit apartemen Greyson selama hampir lima belas menit. Tangannya beberapa kali terangkat hendak mengetuk, namun selalu kembali turun. Keputusannya kali ini terasa nekat. Tapi dia tidak lagi punya banyak pilihan. Tawaran Greyson adalah satu-satunya jalan yang muncul di kepalanya sejak pagi.

Ia akhirnya menekan bel. Tidak ada suara langkah dari dalam. Tidak ada gerakan di balik pintu. Setelah menunggu lebih lama dari seharusnya, Winter mulai ragu. Mungkin Greyson sedang pergi, atau tertidur, atau sebenarnya, dia memang tidak seharusnya datang.

Winter menghela napas dan memutuskan pergi. Baru satu langkah ia berbalik, suara elektronik kunci pintu berbunyi. Pintu terbuka perlahan.

Greyson muncul di baliknya, memakai kaos polos gelap dan celana rumah, rambut sedikit acak seperti baru bangun atau terlalu fokus pada sesuatu sampai lupa waktu. Pandangannya langsung jatuh pada Winter.

“Masuk,” ucap Greyson singkat.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Skandal Panas Tuan Aktor   Bab 104 Yang Datang Bersamamu

    Greyson menoleh ke Winter. Ada jeda singkat. Tarikan napas yang tidak terlalu dalam, tapi cukup memberi tahu Winter bahwa kalimat berikutnya bukan kalimat ringan.“Istriku,” kata Greyson.Sandra membeku satu detik, lalu wajahnya berubah cerah. Senyumnya melebar, tulus, tanpa beban. “Istrimu?” ulangnya. “Oh… pantas saja.”Ia mendekat ke Winter, menatapnya dari ujung kepala sampai kaki, seperti seorang ibu yang menilai menantunya untuk pertama kali. Tidak menghakimi, hanya ingin mengenal.“Kau cantik,” ucap Sandra. “Kenapa Gaffin tidak mengenalkanmu lebih awal?”Greyson menunduk sedikit. Tidak menjawab.Winter tersenyum kecil, canggung. Ia tidak tahu harus merespons dengan cara apa yang benar.“Saya… Winter,” katanya akhirnya. Nada suaranya pelan. “Senang bertemu dengan Mama.”Sandra tampak senang mendengarnya. Ia mengangguk-angguk kecil, lalu mengulurkan boneka capybara yang sedari tadi dipeluknya.“Pegang ini sebentar,” katanya. “Tanganku pegal.”Winter ragu sejenak sebelum menerima

  • Skandal Panas Tuan Aktor   Bab 103 Yang Perlahan Terungkap

    Hari itu apartemen Greyson terasa lebih terang dari biasanya, meski suasananya justru hening. Winter berdiri di dekat meja makan, menata beberapa wadah makanan yang baru saja datang. Bukan masakannya karena ia tahu batas kemampuannya, tapi ia memastikan semuanya makanan sehat, sesuai anjuran dokter.Greyson duduk di kursinya, tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih. Ia memperhatikan Winter sekilas. Perempuan itu bergerak tenang, efisien, tanpa banyak bicara. Kepedulian yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Bukan karena perasaan, melainkan karena rasa kemanusiaan. Greyson tahu itu, yang membuatnya tidak ingin berharap terlalu jauh.Greyson mengambil sendok, menyuap sup pelan. Winter akhirnya duduk di kursi seberang.Beberapa suapan berlalu dalam diam. Greyson meletakkan sendoknya. Gerakan kecil itu cukup membuat Winter berhenti makan dan menoleh. “Apa makanannya tidak enak?” tanyanya spontan. “Tidak sesuai seleramu?”Greyson tidak langsung menjawab. Ia menegakkan tubuhnya sedikit, men

  • Skandal Panas Tuan Aktor   Bab 102 Dugaan yang Salah

    Greyson tidak langsung menjawab. Untuk sepersekian detik raut wajahnya berubah. Bukan panik, bukan takut. Lebih seperti seseorang yang tersentuh tepat di titik yang jarang disentuh orang lain.Stella melihatnya. Dan ia yakin itu pukulan telak.Ruangan terasa menyempit.Greyson menarik napas pelan. “Kau tahu,” katanya akhirnya, tenang tapi padat, “banyak orang di industri ini menyamakan privasi dengan kebohongan.”Ia menatap Stella lurus-lurus. Tatapan yang tidak meminta pengertian, tidak juga pembelaan.“Aku tidak takut jika publik tahu,” lanjutnya. “Tapi tentu saja kau cukup cerdas untuk memahami perbedaannya.”Greyson mengangkat ponsel rusak itu sedikit lebih tinggi, lalu menurunkannya kembali ke samping tubuhnya. Gestur kecil, tapi penuh kendali. “Menyembunyikan,” katanya, “dan melindungi itu dua hal yang berbeda.”Stella tidak tersenyum kali ini.“Aku ada di industri ini bukan untuk menjual luka keluargaku,” ucap Greyson. Suaranya tetap datar, namun ada sesuatu yang mengeras di sa

  • Skandal Panas Tuan Aktor   Bab 101 Kendali yang berpindah Tangan

    Diamnya Greyson justru membuat senyum Stella mengembang perlahan. Ia berhasil. Reaksi itu terlalu jelas untuk disangkal. Stella kini semakin yakin Greyson dan Winter bukan sekadar saling mengenal. Ada kedekatan yang lebih dalam, lebih personal.“Masuklah,” ucap Greyson akhirnya. Nada suaranya datar, tapi keputusan itu terasa berat.Stella melangkah masuk ketika Greyson menggeser tubuhnya ke samping. Begitu pintu tertutup, Stella sempat menoleh, mengamati punggung Greyson yang bergerak tertatih menuju ruang tengah, satu kruk menopang langkahnya. Dugaan di kepalanya semakin menguat.“Apa yang ingin kau bicarakan tentang Winter?” tanya Greyson.“Hm.” Stella bergumam pelan, lalu melangkah santai ke sofa dan duduk seolah ini apartemennya sendiri. “Apa yang ingin kau tahu?” katanya ringan. “Keluarganya? Kekasihnya?” Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis. “Atau skandal-skandalnya?”Greyson menatapnya tajam. Ada sesuatu yang terasa keliru sejak awal. “Keluar,” ucapnya dingin. “Jika kau ti

  • Skandal Panas Tuan Aktor   Bab 100 Tamu tak di Undang

    “Tubuhmu panas. Apa kau demam?” ucap Winter.Ucapannya nyaris refleks, diikuti gerakan yang tak disengaja. Jemarinya menyentuh kulit Greyson, lalu punggung tangannya menempel di kening pria itu, mengukur suhu dengan kebiasaan sederhana yang lahir dari kepedulian.Greyson menegang seketika.“Aku baik-baik saja,” katanya cepat. Tangannya terangkat, menjauhkan tangan Winter dari keningnya, mungkin sedikit lebih keras dari yang ia maksudkan.Winter terdiam sesaat, tapi kerut di dahinya tak menghilang. “Aku yakin tubuhmu panas…” gumamnya. Kekhawatiran itu nyata. Pikirannya langsung melompat ke kemungkinan terburuk, luka bekas operasi, air yang mungkin tak sengaja mengenai perban, infeksi yang terlambat disadari.Ia menatap Greyson lebih lama, seolah mencoba membaca sesuatu di balik sikap defensifnya. “Jangan bohong. Kau sering begitu kalau tak mau merepotkan orang lain.”Greyson menarik napas dalam-dalam. Ini justru alasan kenapa ia harus menghentikan semua ini sekarang.“Aku tidak demam,”

  • Skandal Panas Tuan Aktor   Bab 99 Panas

    Napas mereka sama-sama memburu, antara ketegangan yang tiba-tiba dan kelegaan yang menyusul.Greyson menoleh ke arah Winter. Wajah mereka kini begitu dekat, jarak di antara bibir mereka nyaris tak ada. Greyson seharusnya segera melepaskan. Tapi untuk sepersekian detik yang terlalu lama, Greyson hanya diam.Winter akhirnya bergerak lebih dulu. Ia menarik tubuhnya pelan, berhati-hati agar tidak membuat Greyson kehilangan keseimbangan. Telapak tangannya masih menyentuh bahu Greyson saat ia berdiri kembali, wajahnya sedikit memerah, entah karena uap air panas, entah karena sesuatu yang lain.“Maaf,” katanya. “Lantainya licin.”Greyson mengangguk. “Aku tidak apa-apa.” Dengan suara rendah dan sedikit serak, Greyson berucap, “Kau harus hati-hati.”Winter mengangguk singkat, terlalu sibuk menata napasnya sendiri untuk menjawab dengan lebih dari itu.Kenapa rasanya jadi secanggung ini?Padahal ini bukan pertama kalinya mereka bersentuhan. Mereka pernah lebih dekat dari sekadar pegangan di ping

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status