LOGINWinter melangkah masuk, dan baru setelah itu Greyson menutup pintu. Ia berjalan ke sofa, menjatuhkan tubuh dengan santai dan menyandarkan satu tangan di punggung sofa. Tatapannya mengikuti setiap gerak Winter yang terlihat lebih kaku dari biasanya.
“Kau sebenarnya bisa langsung masuk tanpa menunggu,” katanya, nada datarnya tetap sama. “Kode sandi ku masih sama.” Winter mengangkat wajah, mencoba terlihat tenang. “Aku harus memastikan kau ada di rumah. Tidak mungkin aku menerobos masuk begitu saja.” Greyson mengangguk pelan, seolah menerima jawaban itu tanpa komentar tambahan. “Lalu,” ia menatap lebih fokus, “maksud kedatanganmu kemari?” Winter menggenggam ujung jaketnya, mencoba menenangkan dirinya sendiri. “Soal tawaran mu yang kemarin …” Greyson menghela napas pendek, menatap ke arah meja seolah ingin mengakhiri pembicaraan itu. “Benar. Soal itu. Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Anggap saja—” “Aku setuju,” potong Winter tiba-tiba. Greyson terdiam. Tatapannya kembali ke Winter, lebih tajam, lebih memeriksa. Tidak ada keterkejutan berlebihan di wajahnya, tapi Winter merasakan perubahan kecil pada tubuh Greyson tidak lagi bersandar, melainkan condong sedikit ke depan. Seperti seseorang yang akhirnya mendengar jawaban yang ia tunggu. Hening. Suara dering ponsel memecah keheningan itu. Greyson melirik sekilas ke layar sebelum mengangkatnya. Dari nada suaranya, Winter tahu itu panggilan dari manajernya, Mike. “Ya,” jawab Greyson singkat. Winter bisa mendengar suara Mike samar-samar, terburu-buru, mengingatkan jadwal pertemuan yang seharusnya dilakukan hari ini, dan mengatakan ia sudah berada di depan unit. Namun Greyson tidak mengalihkan tatapan sedikit pun dari Winter. Seolah seluruh dunia mengecil menjadi satu titik hanya pada perempuan yang duduk di hadapannya. “Aku sedang ada urusan yang lebih penting,” ucapnya datar, tetap menatap Winter. “Pulanglah. Kita jadwalkan ulang.” Winter melihat bagaimana rahangnya mengeras saat ia menutup panggilan itu tanpa memberi kesempatan Mike untuk membantah. Ucapan pamit atau klarifikasi pun tidak diberi ruang. Ponsel diletakkan kembali di meja begitu saja, seperti janji itu memang tidak pernah penting sejak awal. Dan mata Greyson masih tertuju padanya intens, fokus, tidak memberi celah. Winter menelan ludah, tiba-tiba merasa ruangan apartemen yang luas itu terasa lebih kecil dari seharusnya. Greyson baru saja membatalkan jadwal penting hanya karena dirinya. Dan tidak ada sedikit pun penyesalan di wajah pria itu. “Sekarang,” Greyson menggeser tubuhnya sedikit ke depan, kedua sikunya bertumpu di lutut, “jelaskan apa maksud ‘aku setuju’ tadi.” Winter menarik napas panjang, mencoba menyusun kata. “Aku tidak punya pilihan lain. Kondisiku sekarang… ayahku butuh biaya pengobatan, dan aku harus tetap menyekolahkan Serena. Aku … aku tidak bisa menangani semuanya sendirian.” Greyson tidak berkedip. “Jadi kau menerima pernikahan ini demi uang?” Winter mengangguk kecil, meski wajahnya terasa panas. “Aku tahu kedengarannya buruk, tapi … iya. Setidaknya untuk saat ini.” Alih-alih menilai, Greyson justru terlihat seperti sedang menghitung sesuatu dalam kepalanya. “Baik,” ucapnya akhirnya. “Kalau begitu kita lakukan dengan cara yang benar.” Winter mengerutkan kening. “Cara yang benar?” “Aku tidak ingin kau merasa dijebak,” jelas Greyson sambil menyandarkan punggung ke sofa, gerakannya tenang tapi otoritatif. “Kita akan membuat surat perjanjian pra nikah. Hitam di atas putih.” Winter menghembuskan napas lega setengah, tapi masih ragu. “Kau benar-benar serius dengan ini?” “Aku tidak pernah mengulang sesuatu yang tidak kumaksudkan,” jawab Greyson. “Dan aku tidak menikah hanya demi gimmick. Kau akan menjadi istriku, Winter. Secara hukum.” Winter menahan diri untuk tidak mundur. Kata istri membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Bukan karena romantis, tapi karena konsekuensi. Greyson melanjutkan tanpa memberi jeda, “Kalau kau berubah pikiran, ini waktu yang tepat untuk mundur.” Winter menatapnya lama. Lelah, takut, dan terpojok dalam satu waktu. Tapi dia mengingat kondisi ayahnya, tagihan rumah sakit, dan kuliah Serena. “Aku tidak akan mundur,” ucap Winter pelan tapi mantap. Senyum tipis yang hampir tidak terlihat muncul di sudut bibir Greyson. Bukan senyum puas, tapi semacam pengakuan bahwa keputusan itu sesuai dengan apa yang ia perhitungkan. Greyson berjalan ke meja kerja di dekat jendela, membuka sebuah laci, dan mengeluarkan map hitam tipis. Winter mengerutkan kening. “Kau benar-benar sudah menyiapkan ini?” “Tidak,” jawab Greyson sambil membuka map. “Aku hanya menyimpan dokumen-dokumen dasar. Tapi kalau kita melangkah, semuanya harus jelas.” Winter mendekat perlahan. “Dokumen apa?” Greyson tidak langsung menjawab. Ia menyalakan tablet, membuka sebuah formulir digital, memasukkan beberapa data dari map itu, lalu berkata dengan suara stabil. “Kau perlu tahu satu hal dulu, Winter. Aku tidak berbicara tentang pernikahan kontrak.” Winter berdiri lebih tegak. “Lalu apa?” Greyson menatapnya langsung. “Aku ingin pernikahan yang sah. Secara hukum. Secara administratif. Kau akan benar-benar menjadi istriku.” Winter membeku. “Greyson—” “Tapi,” Greyson menyela tenang, “pernikahan itu tidak akan diumumkan. Tidak untuk publik. Tidak untuk media. Tidak untuk siapapun di luar lingkaran yang benar-benar perlu tahu.” Winter merasa napasnya terhenti sejenak. “Kau ingin melakukannya secara diam-diam?” Greyson mengangguk. “Kariermu sedang di ujung tanduk. Karierku juga tidak bisa diganggu skandal apapun. Pernikahan publik akan menghancurkan reputasi kita berdua. Tapi pernikahan resmi yang tidak disiarkan akan mempermudah banyak hal.” Winter mengerjap. “Dan kau pikir orang tidak akan tahu?” “Tidak akan,” jawab Greyson mantap. “Selama kita menjaga batas. Pernikahan ini hanya diketahui keluarga inti dan pihak legal yang menangani dokumennya.” Winter menggenggam jemarinya sendiri, mencoba mencerna semuanya. “Kalau kita menikah resmi lalu apa aturan kita?” Greyson kembali menatap tablet. “Tidak ada aturan aneh. Tidak ada syarat fisik. Tidak ada tuntutan yang memberatkan. Kita hanya menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa dengan status yang tidak diketahui publik.” Winter menelan ludah. “Lalu apa gunanya bagimu?” Greyson berhenti mengetik. “Aku butuh stabilitas dalam hidup pribadi. Aku tidak punya waktu untuk hubungan bertele-tele. Aku tidak ingin rumor setiap bulan. Aku butuh sesuatu yang jelas dan bersih.” Tatapannya sedikit melembut. “Dan kau salah satu orang paling jujur yang pernah aku temui.” “Kau tidak mudah diatur,” jawab Greyson jujur. “Tapi kau tidak palsu. Itu sudah cukup.” Winter menarik napas dalam-dalam. “Dan untukku?” Greyson kembali fokus pada layar. “Seperti yang sudah aku bilang di awal. Aku akan membayar semua penalti kontrakmu. Aku akan pastikan kau kembali bekerja di industri. Bukan sebagai belas kasihan, tapi sebagai investasi. Kau punya potensi yang layak diperjuangkan.” Winter terdiam lama. Ruangan terasa semakin sunyi, seperti keduanya berdiri di atas garis batas yang tidak bisa dihapus. “Sebelum kau bilang apa pun,” ucap Greyson perlahan, “aku akan ulangi sekali lagi. Ini bukan permainan. Bukan proyek. Bukan sandiwara. Ini pernikahan nyata, hanya saja tidak dipublikasikan.” Winter menghembuskan napas pelan. “Greyson… kau sadar apa yang kau tawarkan?” “Sangat sadar.” Mata Greyson tak goyah. “Pertanyaannya hanya satu apa kau mau melangkah atau tidak?” Winter menatapnya balik. Ada ketakutan, ada harapan, ada beban yang ia tahu tidak bisa ia tanggung sendirian lagi. Akhirnya Winter berkata pelan, namun tegas. “Aku setuju.”Setelah menghabiskan beberapa hari di rumah sakit, Greyson akhirnya diperbolehkan pulang. Kondisinya sudah stabil, meski pergelangan kakinya masih terbalut perban tebal. Setiap langkah yang ia ambil kini harus dibantu sepasang kruk, gerakannya lebih pelan dari biasanya, jauh dari sosok Greyson yang dikenal selalu sigap dan penuh kontrol.Lorong rumah sakit terasa lebih sunyi saat ia melangkah keluar. Ada rasa lega karena bisa meninggalkan bau antiseptik dan suara alat medis, tapi juga ada ketidaknyamanan yang mengendap, ketergantungan, keterbatasan, dan jeda paksa dalam hidup yang biasanya bergerak cepat.Greyson tidak menyukainya. Namun, ia tidak punya pilihan selain menerima.Mereka tiba di apartemen. Mike sigap seperti biasa, membantu Greyson berjalan hingga masuk ke kamar. Setelah memastikan pria itu berbaring dengan nyaman, Mike keluar dan duduk di sofa ruang tamu, menghembuskan napas panjang untuk pertama kalinya hari itu.Tak lama kemudian, pintu apartemen terbuka. Winter muncu
Winter mendongak. Ada dorongan kuat di dadanya. Keinginan untuk melihat Greyson, memastikan dengan matanya sendiri bahwa pria itu baik-baik saja. Namun rasionalitasnya lebih dulu berbicara. Rumah sakit terlalu berisiko. Terlalu banyak mata.Ia menggeleng perlahan.“Aku mempercayakan Greyson padamu, Mike,” ucap Winter akhirnya.Kalimat itu terdengar tenang. Padahal di baliknya, ada kegelisahan yang belum juga reda dan keinginan yang ia paksa untuk tetap disimpan sendiri.***Mike kembali ke rumah sakit. Greyson sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Pria itu setengah bersandar di ranjang, ponsel di tangannya, fokus pada permainan yang sebenarnya tidak benar-benar ia nikmati. Ia hanya sedang membunuh waktu dan kebosanan.Saat pintu terbuka, Greyson sempat melirik ke arah sana. Ada jeda sepersekian detik, harapan kecil yang nyaris tak ia akui. Namun yang masuk adalah Mike.Ekspresi kecewa itu cepat ia tekan, terlalu singkat untuk dibaca orang lain. Greyson mematikan ponselnya dan meletakk
Greyson mengerang pelan. Suara itu nyaris tak terdengar, namun cukup untuk memecah keheningan.Mike langsung bereaksi. Ia berlari menghampiri, menjadi orang pertama yang paling panik di antara kerumunan yang mulai bergerak.“Greyson, jangan berdiri! Jangan dipaksa,” ucapnya cepat, berlutut di hadapan Greyson tanpa peduli debu di celananya.Tangannya gemetar saat hendak menyentuh pergelangan kaki Greyson, lalu ragu. Takut salah, takut memperparah. Mike menoleh tajam ke arah kru.“Panggil tim medis. Sekarang!”Beberapa orang langsung bergerak. Yang lain mundur, memberi ruang. Greyson masih bertumpu pada satu lutut, napasnya berat, keringat bercampur debu menempel di pelipisnya.“Bisa berdiri?” tanya Mike lebih pelan, suaranya turun, cemasnya tak bisa lagi disembunyikan.Greyson menggeleng singkat. Rahangnya mengeras, menahan lebih dari sekadar rasa sakit.“Bukan apa-apa,” gumamnya, entah pada Mike atau pada dirinya sendiri.Namun cara tangannya mencengkram aspal terlalu kuat untuk diseb
Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar yang gelap. Sunyi di apartemen itu terasa menekan, berbeda dengan sunyi yang biasa ia nikmati. Sunyi kali ini penuh gema nama Winter, suara Winter, dan kata tidak yang diucapkannya dengan tegas.Nyaman, Greyson mengulang kata itu dalam kepalanya. Dia nyaman… tanpa aku dikenal sebagai bagian dari hidupnya.“Aku tidak pernah meminta banyak,” gumamnya pelan, suaranya nyaris tenggelam. “Aku hanya tidak ingin merasa sendirian saat aku bersamamu.”Ia menutup mata sejenak. Bayangan Winter muncul begitu saja, cara perempuan itu menarik napas saat gugup, caranya berpura-pura tenang ketika jelas-jelas sedang ketakutan. Cara ia selalu berdiri di antara ingin dan takut, memilih aman meski harus mengorbankan sesuatu.Ia bangkit setengah duduk, menyandarkan punggung ke kepala ranjang. Sepatu bayi itu masih ada di tangannya, kini terasa semakin berat.“Kenapa aku membelimu?”“Apa aku berharap sesuatu yang bahkan belum tentu ia inginkan?”Greyson
Stella sudah melangkah pergi ketika tinggal dua langkah lagi menuju pintu. Tangannya terangkat hendak meraih gagang, lalu ia berhenti.Ia menoleh pelan, ekspresinya berubah seolah baru mengingat sesuatu yang nyaris terlupa. Senyum kecil terbit di sudut bibirnya.“Ah,” gumamnya ringan. “Aku hampir lupa.”Winter menegakkan tubuhnya, instingnya langsung menegang.Stella berbalik setengah, menyandarkan bahunya ke arah Winter. Tatapannya tajam, penuh minat yang tidak disembunyikan lagi. “Sekarang aku mengerti,” lanjutnya. “Kenapa Greyson bisa terlihat… dekat denganmu.”Ia melangkah mendekat, jaraknya cukup dekat untuk membuat Winter sulit menghindar tanpa terlihat mencurigakan. “Kau bukan sekadar menolong Greyson Hale,” ucap Stella perlahan. “Kau tahu kelemahannya.”Winter menahan napas. “Aku tidak tahu apa yang kau maksud.”Stella terkekeh kecil. Bukan tawa senang, lebih seperti konfirmasi. “Oh, Winter,” katanya lembut, hampir simpatik. “Kau terlalu cepat menyangkal.”Ia mencondongkan tub
Greyson berbalik menuju kamar dengan langkah senyap. Tepat sebelum pintu menutup, ia menoleh sekali lagi sekilas, tanpa kata.Hening belum sempat benar-benar mengendap ketika ketukan kembali terdengar.Lebih keras.Winter menarik napas panjang, merapikan rambutnya dengan cepat. Tangannya sempat gemetar saat memegang gagang pintu, namun ia memaksa ekspresi netral sebelum membukanya.Stella berdiri di sana. Wajahnya tersenyum, tapi matanya bergerak cepat menilai, mengamati.“Maaf mengganggu,” ucap Stella ringan. “Aku mengetuk dari tadi.”“Tidak apa,” jawab Winter, suaranya berhasil terdengar stabil. “Aku sedang bekerja.”Stella melangkah setengah inci ke depan, pandangannya meluncur melewati bahu Winter. Ke dalam apartemen, ke sofa, ke ruangan yang terasa… hangat. Terlalu hangat untuk sekadar ruangan kosong.“Kau sendirian?” tanya Stella, terlalu santai untuk sekadar basa-basi.Winter menahan refleks menoleh ke belakang. “Ya.”Satu kata. Pendek. Terlalu cepat.Stella tersenyum namun ins







