MasukWinter terbangun ketika ponselnya berdering berkali-kali. Ia mengerjap, menyadari dirinya tertidur di sofa apartemen dengan posisi miring dan leher pegal. Dengan gerakan lambat, Winter menyibak rambutnya ke belakang lalu mengangkat panggilan yang terus memaksa masuk.
“Hallo,” ucapnya lirih. “Winter, Ibu sudah lihat berita tentang kau di TV,” suara Maia, ibu tirinya terdengar langsung menghakimi. “Siapa yang akan membayar biaya berobat ayahmu dan kuliah Serena?” Winter menutup mata sejenak. Tentu. Yang ditanyakan bukan kabarnya, bahkan bukan apakah ia baik-baik saja setelah diterpa skandal nasional. “Aku akan cari pekerjaan lain setelah ini,” ucap Winter, berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil. “Kau harus ingat siapa yang merawatmu sejak kecil. Sebagai balas budimu, pastikan adikmu kuliah tinggi. Jangan sampai dia cuma lulusan SMA seperti dirimu.” Setiap kata itu menusuk. Winter menggenggam ponselnya erat, menahan napas agar tidak pecah. “Iya, aku tahu,” jawabnya perlahan. “Dan jangan biarkan aku menua sambil terus mengurus keluargamu. Ayahmu saja sekarang jadi tanggunganku. Kau tahu betapa beratnya semua ini?” Winter hampir tertawa getir. Ayahku juga suamimu, batinnya. Dulu, ketika ayahnya masih sehat, lelaki itu bekerja tanpa henti demi keluarga. Tidak pernah membiarkan mereka kekurangan. Dan ketika penyakit datang, semua kebaikan itu menguap, berganti menjadi daftar panjang hutang budi yang terus diungkit. Ibu tirinya pernah bersumpah akan merawat Winter seperti anak sendiri ketika menikahi ayahnya. Janji manis yang sekarang terdengar seperti kalimat iklan yang hanya enak di awal. Winter menatap langit-langit, dada terasa sesak. “Baik, Bu. Aku akan urus semuanya.” Percakapan itu berakhir, menyisakan kesunyian yang terasa lebih berat daripada sebelumnya. Winter meletakkan ponselnya di meja dan menunduk, menenangkan napas yang mulai berantakan. Ponselnya kembali berbunyi, kali ini notifikasi email. Saat dibuka, yang muncul adalah surat resmi dari agensi berisi pemutusan kontrak. Tidak ada basa-basi, tidak ada ucapan terima kasih. Hanya kewajiban denda yang harus ia bayar dalam batas waktu tertentu. Winter mematung beberapa detik, sebelum tubuhnya perlahan merosot ke lantai. Punggungnya menyandar ke sofa, napasnya pendek-pendek. Akhirnya benar-benar resmi. Semuanya runtuh. Seluruh perjuangannya selama bertahun-tahun, audisi demi audisi, casting kecil, syuting tanpa tidur, kerja sampingan demi mengejar mimpi. Lenyap dalam satu malam. Satu kesalahan kecil yang bahkan tidak sepenuhnya ia lakukan. “Bagus, Winter,” gumamnya lirih, sarkastik pada diri sendiri. “Bagus sekali.” Ponselnya berbunyi lagi. Kali ini chat dari Serena, adik tirinya. ‘Kak, uang SPP semester baru belum masuk. Kapan Kakak transfer?’ Tidak ada emoji. Tidak ada pertanyaan “Kakak gimana?” atau sekadar “lagi sibuk?”. Hanya tuntutan. Winter menatap layar itu lama, sebelum akhirnya meletakkan ponselnya menghadap ke bawah. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya naik turun pelan, bukan karena menangis, tapi karena menahan semuanya agar tidak meledak. Winter menatap ruang tamunya yang sederhana. Ruangan terasa lebih sunyi daripada biasanya, seakan suara ibunya yang barusan lewat masih tertinggal di udara. Ia meremas rambutnya, mencoba menahan rasa frustasi yang merayap naik ke tenggorokan. Dia bangkit dari sofa dan berjalan ke dapur kecil. Mengambil segelas air, meneguknya setengah, lalu menatap pantulan dirinya di pintu kulkas yang sedikit mengkilap. Mata sembab, rambut berantakan, kaos lusuh. Jauh sekali dari citra selebriti. Dia menatap keluar jendela apartemen, lampu kota masih menyala samar. Hari bahkan belum benar-benar dimulai, tetapi beban yang harus ia hadapi sudah terasa seperti satu hari penuh. Tagihan rumah sakit ayahnya, uang kuliah Serena yang belum terbayar, serta kontrak yang diputus sepihak. Semua datang bersamaan, menekan tanpa ampun. Winter menunduk, menatap ujung kakinya sendiri. Aku bahkan belum selesai mengurus diriku sendiri. Tapi harus tetap mengurus semuanya. Ia memejamkan mata, menghela napas panjang. Tidak ada satupun rencana yang benar-benar terasa mungkin. Menjual barang-barangnya hanya menunda. Meminta bantuan pada siapa? Orang-orang yang dulu mengaku dekat bahkan tidak lagi menjawab pesan. Winter tertawa lirih, hambar. Ia sendirian. “Tentu saja,” gumamnya. “Karena hidupku memang selalu seberat ini.” Pikirannya melayang tanpa izin, pada wajah itu. Tatapan datar di bar. Suara rendah yang tidak menghakimi. Cara Greyson Hale menatapnya seolah ia bukan perempuan rusak yang baru saja jatuh dari puncak. Penawaran itu… Winter menelan ludah. Ia ingin menertawakannya, menyebutnya gila, mustahil, terlalu berbahaya. Tapi semakin ia mencoba menepis, semakin jelas detailnya kembali di kepalanya. Hidupnya sedang terperosok, dan seseorang justru menawarkan solusi dengan cara paling tidak masuk akal. Pernikahan kontrak. Winter menarik napas panjang. Tidak. Aku tidak bisa menaruh masa depan pada keputusan impulsif seorang aktor yang bahkan tidak ia kenal. Aku tidak boleh… kan? “Mulai dari mana, Winter?” tanyanya pada diri sendiri. Jawabannya tidak datang. Yang muncul justru notifikasi baru di ponselnya, memecah keheningan. Winter mengambil ponselnya dengan malas, mengira itu pesan ibu tirinya lagi. Namun nama di layar membuatnya membeku. Greyson Hale. ‘Aku serius soal tawaranku. Kalau kau berubah pikiran, beritahu aku.’Setelah menghabiskan beberapa hari di rumah sakit, Greyson akhirnya diperbolehkan pulang. Kondisinya sudah stabil, meski pergelangan kakinya masih terbalut perban tebal. Setiap langkah yang ia ambil kini harus dibantu sepasang kruk, gerakannya lebih pelan dari biasanya, jauh dari sosok Greyson yang dikenal selalu sigap dan penuh kontrol.Lorong rumah sakit terasa lebih sunyi saat ia melangkah keluar. Ada rasa lega karena bisa meninggalkan bau antiseptik dan suara alat medis, tapi juga ada ketidaknyamanan yang mengendap, ketergantungan, keterbatasan, dan jeda paksa dalam hidup yang biasanya bergerak cepat.Greyson tidak menyukainya. Namun, ia tidak punya pilihan selain menerima.Mereka tiba di apartemen. Mike sigap seperti biasa, membantu Greyson berjalan hingga masuk ke kamar. Setelah memastikan pria itu berbaring dengan nyaman, Mike keluar dan duduk di sofa ruang tamu, menghembuskan napas panjang untuk pertama kalinya hari itu.Tak lama kemudian, pintu apartemen terbuka. Winter muncu
Winter mendongak. Ada dorongan kuat di dadanya. Keinginan untuk melihat Greyson, memastikan dengan matanya sendiri bahwa pria itu baik-baik saja. Namun rasionalitasnya lebih dulu berbicara. Rumah sakit terlalu berisiko. Terlalu banyak mata.Ia menggeleng perlahan.“Aku mempercayakan Greyson padamu, Mike,” ucap Winter akhirnya.Kalimat itu terdengar tenang. Padahal di baliknya, ada kegelisahan yang belum juga reda dan keinginan yang ia paksa untuk tetap disimpan sendiri.***Mike kembali ke rumah sakit. Greyson sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Pria itu setengah bersandar di ranjang, ponsel di tangannya, fokus pada permainan yang sebenarnya tidak benar-benar ia nikmati. Ia hanya sedang membunuh waktu dan kebosanan.Saat pintu terbuka, Greyson sempat melirik ke arah sana. Ada jeda sepersekian detik, harapan kecil yang nyaris tak ia akui. Namun yang masuk adalah Mike.Ekspresi kecewa itu cepat ia tekan, terlalu singkat untuk dibaca orang lain. Greyson mematikan ponselnya dan meletakk
Greyson mengerang pelan. Suara itu nyaris tak terdengar, namun cukup untuk memecah keheningan.Mike langsung bereaksi. Ia berlari menghampiri, menjadi orang pertama yang paling panik di antara kerumunan yang mulai bergerak.“Greyson, jangan berdiri! Jangan dipaksa,” ucapnya cepat, berlutut di hadapan Greyson tanpa peduli debu di celananya.Tangannya gemetar saat hendak menyentuh pergelangan kaki Greyson, lalu ragu. Takut salah, takut memperparah. Mike menoleh tajam ke arah kru.“Panggil tim medis. Sekarang!”Beberapa orang langsung bergerak. Yang lain mundur, memberi ruang. Greyson masih bertumpu pada satu lutut, napasnya berat, keringat bercampur debu menempel di pelipisnya.“Bisa berdiri?” tanya Mike lebih pelan, suaranya turun, cemasnya tak bisa lagi disembunyikan.Greyson menggeleng singkat. Rahangnya mengeras, menahan lebih dari sekadar rasa sakit.“Bukan apa-apa,” gumamnya, entah pada Mike atau pada dirinya sendiri.Namun cara tangannya mencengkram aspal terlalu kuat untuk diseb
Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar yang gelap. Sunyi di apartemen itu terasa menekan, berbeda dengan sunyi yang biasa ia nikmati. Sunyi kali ini penuh gema nama Winter, suara Winter, dan kata tidak yang diucapkannya dengan tegas.Nyaman, Greyson mengulang kata itu dalam kepalanya. Dia nyaman… tanpa aku dikenal sebagai bagian dari hidupnya.“Aku tidak pernah meminta banyak,” gumamnya pelan, suaranya nyaris tenggelam. “Aku hanya tidak ingin merasa sendirian saat aku bersamamu.”Ia menutup mata sejenak. Bayangan Winter muncul begitu saja, cara perempuan itu menarik napas saat gugup, caranya berpura-pura tenang ketika jelas-jelas sedang ketakutan. Cara ia selalu berdiri di antara ingin dan takut, memilih aman meski harus mengorbankan sesuatu.Ia bangkit setengah duduk, menyandarkan punggung ke kepala ranjang. Sepatu bayi itu masih ada di tangannya, kini terasa semakin berat.“Kenapa aku membelimu?”“Apa aku berharap sesuatu yang bahkan belum tentu ia inginkan?”Greyson
Stella sudah melangkah pergi ketika tinggal dua langkah lagi menuju pintu. Tangannya terangkat hendak meraih gagang, lalu ia berhenti.Ia menoleh pelan, ekspresinya berubah seolah baru mengingat sesuatu yang nyaris terlupa. Senyum kecil terbit di sudut bibirnya.“Ah,” gumamnya ringan. “Aku hampir lupa.”Winter menegakkan tubuhnya, instingnya langsung menegang.Stella berbalik setengah, menyandarkan bahunya ke arah Winter. Tatapannya tajam, penuh minat yang tidak disembunyikan lagi. “Sekarang aku mengerti,” lanjutnya. “Kenapa Greyson bisa terlihat… dekat denganmu.”Ia melangkah mendekat, jaraknya cukup dekat untuk membuat Winter sulit menghindar tanpa terlihat mencurigakan. “Kau bukan sekadar menolong Greyson Hale,” ucap Stella perlahan. “Kau tahu kelemahannya.”Winter menahan napas. “Aku tidak tahu apa yang kau maksud.”Stella terkekeh kecil. Bukan tawa senang, lebih seperti konfirmasi. “Oh, Winter,” katanya lembut, hampir simpatik. “Kau terlalu cepat menyangkal.”Ia mencondongkan tub
Greyson berbalik menuju kamar dengan langkah senyap. Tepat sebelum pintu menutup, ia menoleh sekali lagi sekilas, tanpa kata.Hening belum sempat benar-benar mengendap ketika ketukan kembali terdengar.Lebih keras.Winter menarik napas panjang, merapikan rambutnya dengan cepat. Tangannya sempat gemetar saat memegang gagang pintu, namun ia memaksa ekspresi netral sebelum membukanya.Stella berdiri di sana. Wajahnya tersenyum, tapi matanya bergerak cepat menilai, mengamati.“Maaf mengganggu,” ucap Stella ringan. “Aku mengetuk dari tadi.”“Tidak apa,” jawab Winter, suaranya berhasil terdengar stabil. “Aku sedang bekerja.”Stella melangkah setengah inci ke depan, pandangannya meluncur melewati bahu Winter. Ke dalam apartemen, ke sofa, ke ruangan yang terasa… hangat. Terlalu hangat untuk sekadar ruangan kosong.“Kau sendirian?” tanya Stella, terlalu santai untuk sekadar basa-basi.Winter menahan refleks menoleh ke belakang. “Ya.”Satu kata. Pendek. Terlalu cepat.Stella tersenyum namun ins







