ANMELDENPada akhirnya, Agnia pun memilih untuk patuh dan menyerah terhadap apa yang awalnya ia takuti. Ya, karena cinta yang sudah telanjur tumbuh dan sulit dihilangkan, ia pun tidak mau lagi menyangkal jika dirinya sangatlah ingin menjadi wanita yang dicintai pria matang setampan dosennya. Soal istrinya nanti, biarlah itu menjadi urusan belakangan yang mungkin akan diam-diam ia pikirkan selagi Irgi mampu menepati janji. “Kamu bisa pegang kata-kataku, Agnia. Tidak ada lagi wanita selain kamu yang bisa aku perlakukan seistimewa ini. Karena hanya kamu, satu-satunya wanita yang aku cintai dan layak aku perjuangkan sampai kelak kita akan bersatu dalam sebuah hubungan resmi yang amat sakral,” tutur Irgi sungguh-sungguh. Mendengar itu, tentu saja Agnia percaya. Dia pun sangat yakin jika sang pria tidak mungkin memiliki niatan buruk apalagi sampai mencampakkannya suatu hari nanti.Maka dari itu, Agnia pun mencoba untuk menurut saja. Perlahan, dia pun belajar membiasakan diri memanggil Irgi dengan
Belum selesai mandi besar, Agnia tiba-tiba teringat sesuatu. Ya, ia lupa membawa handuk dan secara refleks wanita itu pun tampak menepuk jidatnya seraya berkata, “Mampus! Kenapa gue bisa lupa, sih.” Padahal, Agnia bisa kroscek dulu sebelum masuk ke kamar mandi tadi. Bukan malah langsung buka baju, siram sekujur tubuh menggunakan air dingin yang lumayan menyegarkan pada situasi segerah tadi meski hari masih pagi. “Terus sekarang gimana? Kan, gak lucu kalo misalkan gue teriak minta tolong sama Pak Irgi buat dibawain handuk. Mana gue lagi bugil gini kan? Malapetaka ini sih namanya. Bisa-bisa ada part lanjutan soal kejadian tadi malam yang sialnya masih susah buat gue lupain,” gerutunya dongkol sendiri.Kini, ia harus memutar otaknya dan berpikir keras agar bisa menemukan ide yang sedikit waras dan masuk akal. Paling tidak, dia perlu sesuatu yang bisa menutupi tubuh telanjangnya tanpa perlu meminta bantuan Irgi dalam mendapatkannya. “Eh, ada kaos nganggur ternyata. Tapi, ini kaos Pak I
“Agnia,” gumam Irgi yang baru saja menerima pengembalian dompet dari Arfi karena semalam sempat tertinggal. “Maaf ya, Ar. Saya tidak bisa menjamu kamu dulu di waktu pagi ini. Saya harus kembali masuk sebelum istri saya mengamuk karena saya lama ngobrol sama kamu,” celetuk Irgi buru-buru. Sementara itu, Arfi hanya mengangguk penuh pengertian sesaat sebelum membiarkan Irgi bergegas masuk guna menghampiri suara teriakan yang diduga berasal dari istrinya di dalam sana. Untungnya, Arfi juga tidak sedang memiliki kepentingan yang begitu genting kepada Irgi. Sehingga, ketika pria itu pamit masuk dan tak bisa banyak mengobrol dengannya, Arfi pun hanya mengangguk patuh saja sembari melenggang pergi meninggalkan pekarangan rumah Irgi. Sedangkan Irgi, dia sudah melesat masuk menuju kamar dimana semalaman tadi ia bersama Agnia. “Agnia, ada apa?” tanya Irgi tepat di ambang pintu kamar. Menoleh, Agnia yang baru saja selesai memakai kembali kaus longgarnya yang semula sempat dipungutnya dari l
Tidak tahu siapa yang memulai, tetapi sekarang Agnia dan Irgi sedang berciuman intens tanpa ada kecanggungan lagi di antara mereka. Membuat keduanya sama-sama saling kecanduan, seakan terasa sulit untuk menghentikan sesi ciuman itu setelah sama-sama mengungkapkan isi hatinya. Dalam keadaan tubuh basah pasca kehujanan, Irgi bahkan tidak lagi merasa kedinginan. Sekarang, dia malah sedang dalam keadaan on fire. Tubuhnya mendadak panas padahal baju dan celana yang dikenakannya benar-benar basah tak tertolong. “P-pak Irgi, emh…” Agnia mulai meracau ketika sang pria menurunkan ciumannya ke arah leher. Membuat si wanita tampak keenakan, di tengah pejaman mata yang pada saat itu pula menuntun Irgi untuk menginginkan lebih dari sekadar berciuman saja. “Hentikan saya jika kamu merasa saya sudah berlebihan, Agnia,” gumam Irgi serak. Bibirnya sedang berada tepat di cerukan leher Agnia yang menguarkan aroma wangi khas buah-buahan. Agnia mengangguk seolah paham dengan apa yang baru saja pria it
Sampai malam hari, Irgi benar-benar tidak menampakkan batang hidungnya di hadapan Agnia. Membuat sang wanita tampak mondar-mandir di tengah rasa kalut yang menyelimuti diri. “Apa Pak Irgi beneran marah gara-gara perbincangan gue sama dia tadi pagi? Tapi, semua yang gue bilang itu emang bener, kan? Terus, dimana letak salahnya?” gumam Agnia gusar. Tangannya saling meremas. Tidak jarang, ia pun melayangkan pandangan cemas ke arah pintu yang tak kunjung dibuka oleh sosok yang sedang ia tunggu-tunggu kepulangannya. “Udah malem gini, dia gak ada nunjukin diri sama sekali. Ini serius gue diginiin?” imbuhnya merasa ciut. Mengingat malam kemarin saja listrik sempat padam dalam durasi yang cukup lama. Maka, tentu saja Agnia pun takut kalau hal serupa kembali terjadi di malam ini. DUARRR.Tiba-tiba, bunyi petir menggelegar. Menyebabkan Agnia refleks menjerit seiring dengan ia yang berjongkok sambil menutup telinga dan memejamkan mata. “Jangan ada lagi mati lampu susulan, please. Sama suar
“Ja-jatuh hati?” ucap Agnia terbata. Ia menatap pria di hadapannya dengan sorot menuntut penjelasan. Berharap jika Irgi bersedia untuk sekadar menuturkan kalimat penjelasannya dengan sangat rinci dan tidak setengah-setengah hingga memunculkan tanda tanya yang tak ada habisnya. “Ya, Agnia. Saya sudah jatuh hati dan bahkan sekarang menjadi sangat cinta sama kamu. Maaf … tapi memang itu yang terjadi. Kamu, adalah satu-satunya wanita yang berhasil membuat saya kembali hidup. Tidak ada alasan untuk saya berpaling pada wanita lain sekalipun kamu belum siap untuk menerima saya sepenuhnya,” tukas Irgi lugas. Tanpa paksaan, tulus serta nyata. Kalimat itu meluncur sempurna dari mulut sang dosen yang selama ini Agnia pikir ia hanya ingin menjadikan dirinya sebagai pelampiasan saja dari rumitnya rumah tangga yang ia jalani. “I love you so much, Agnia Kirana. Saya cinta kamu tanpa tapi. Saya benar-benar ingin kamu menjadi rumah saya. Kamu belum lupa dengan perkataan saya waktu itu bukan?” samb







