MasukAgnia tidur meringkuk sambil memeluk perut Irgi yang berotot. Setelah bertempur bertukar peluh hingga kelelahan, Agnia pun tertidur nyenyak tanpa sempat membersihkan diri. Didukung oleh Irgi yang malah meng-puk-puknya seperti menidurkan bayi yang baru lahir. “Lucu sekali wanitaku ini. Dia benar-benar selalu menggemaskan dan membuatku semakin takut kehilangan. Sabar dulu ya, Sayang. Aku pun sedang mengusahakan yang terbaik untuk kita. Termasuk, mencari celah agar aku bisa segera menceraikan Rossi tanpa perlu melukai egonya,” gumam Irgi mendesah berat. Ya, semenjak Agnia menunjukkan cinta kasihnya yang semakin hari semakin menonjol, keputusan Irgi untuk menyudahi pernikahannya dengan Rossi pun semakin besar dan ingin segera ia akhiri.Meski Agnia sempat melarangnya untuk menceraikan Rossi, tetapi Irgi sudah sangat bertekad bulat untuk tidak melanjutkan lagi jalinan pernikahannya dengan Rossi. Pikirnya, untuk apa juga dipertahankan selama itu? Toh, Irgi sudah menemukan tambatan hatinya
Agnia sudah menghabiskan dua batang es krim, tetapi Irgi belum juga kunjung kembali. Mendecak, Agnia yang mulai kesal pun lalu melempar es krim ketiga di tangannya tepat ke atas piring yang sengaja ia simpan di atas meja. “Mas Irgi kemana, sih? Udah kayak remot tv aja tiba-tiba ngilang. Ini seriusan dia digondol kurir gaib? Kok, bisa-bisanya gak balik lagi,” cetus Agnia mengomel.Kali ini, dia bangkit dari duduknya. Kemudian berjalan mondar-mandir bak sebuah setrika yang sedang dipakai melicin. Muka Agnia ditekuk total, kedua tangannya dilipat tanpa berminat menghentikan kegiatan mondar-mandirnya.Sampai pada saat emosi Agnia sudah berada di puncaknya, tiba-tiba yang ditunggu pun muncul masuk tanpa bilang permisi. “Loh, Sayang. Es krimnya sudah datang?” tegurnya seperti orang yang tidak punya salah. Mendengar bahkan melihat Irgi yang tengah berdiri santai seolah tidak sedang melakukan kesalahan, Agnia pun sempat mendelik sinis seiring dengan ia yang menghentikan aksi mondar-mandirn
Setelah puas menangis hingga berhenti sendiri. Agnia pun kini terlihat sedikit lebih manja pada pria yang sedari tadi duduk menemaninya. Entah kenapa, mendadak saja Agnia ingin sekali bergelayut manja di lengan kekar Irgi. Sekaligus menyandarkan kepalanya juga di sana, sambil membayangkan makan es krim rasa stroberi.“Mas,” panggil Agnia pelan.“Ya, Sayang?” Irgi menyahut lembut. “Di kulkas, ada stok es krim gak?” tanya Agnia tiba-tiba. Untuk sesaat, sedikit berhasil membuat Irgi mengernyit heran karena merasa kaget mendengar Agnia menanyakan hal seremeh itu. “Es krim? Sepertinya ada. Aku agak lupa sebenarnya. Tapi kalau mau, mungkin aku bisa memeriksanya dulu sekarang. Bagaimana? Apa aku boleh mengeceknya sebentar?” Agnia menarik kepalanya dari posisi semula. Kemudian, ia menghela nafas sambil mengangguk. “Boleh. Tapi jangan lama ya, Mas,” ucap wanita itu memberi izin. Tersenyum geli, Irgi yang tidak biasa melihat sikap clingy Agnia seperti saat ini pun lalu sigap mengangguk dan
“Cukup, Mas. Aku kenyang,” tolak Agnia tak mau lagi dijejali makanan. Perutnya bahkan tidak sanggup menampung lagi jenis makanan apapun yang coba Irgi sorongkan. Irgi melenguh. Menyimpan lagi sendok yang Agnia tolak ke atas piring yang masih diisi oleh sisa makanan yang tinggal setengahnya. “Kamu ini makan baru sedikit loh, Sayang. Masa sudah kenyang saja. Masakanku tidak enak ya? Apa mau delivery order saja dari restoran terdekat?” usul Irgi antusias. Akan tetapi, secepat kilat Agnia pun mencegahnya. “Gak usah, Mas. Orang aku beneran udah kenyang, kok. Dan masakanmu bukan gak enak. Tapi emang perutku aja yang belakangan ini gampang kenyang. Udah deh, Mas. Jangan lebay ah. Niat hati cuma mau makan di kantin rumah sakit, eh kamu malah jadi repot masakin aku segala. Makasih ya…” celoteh Agnia tersenyum lembut. Mengusap lengan atas Irgi turun naik hingga membuat pria itu sigap mengangguk dan balas membelai kepala Agnia. “Kembali kasih, Sayang. Aku yang harusnya bilang terima kasih ka
“Kamu yakin mau menyudahi karirmu dan pindah menetap lagi di sini? Tapi, bukankah karirmu sedang menanjak di sana. Apa tidak sayang kalau ditinggalkan begitu saja, Ros?” Sebagai seorang ayah yang selalu bangga pada anak kesayangannya, Rio merasa sangat menyayangkan kalau Rossi sampai meninggalkan karirnya hanya demi ingin memperbaiki kehidupan pernikahannya. Lagipula, sejak awal pun Rio tidak pernah merasa setuju pada keputusan Rossi yang ingin menikah dengan Irgi. Apalagi saat itu, Rossi sedang giat sekali menekuni kemampuannya di bidang modeling. Sangat disayangkan, ia harus menunda karirnya gara-gara Irgi yang mengajak Rossi menikah. Sehingga membuat Rossi terlena, dan dia menjadi lupa pada cita-citanya yang ingin mendalami dunia modeling. Rossi menghela nafasnya panjang. Lalu merebahkan kepalanya di bahu sang ayah yang sudah tak setegap dulu. “Rossi capek, Pa. Bertahun-tahun menekuni karir di Jerman, Rossi sampe lupa sama kehidupan Rossi yang bukan seorang gadis lajang lagi. R
“Nia … gimana kondisi nenekmu?” Agnia menoleh mendapati Intan yang tadi sempat Agnia kabari setelah diberi tahu perawat jaga bahwa neneknya sudah siuman. “Masih diperiksa sama dokter, Ma. Oh iya … papa gimana? Kok, mama udah kesini aja,” ujar Agnia mengerjap bingung. Karena setahunya, papanya hanya mau ditemani oleh anak istrinya saja. Di luar itu apalagi pembantu, Rio akan menolak bahkan berhak marah jika sampai kejadian. “Ada Rossi, kok. Makanya Mama berani ke sini,” sahut Intan tersenyum keibuan. Untuk sesaat, sedikit berhasil membuat Agnia tercenung diam ketika mengetahui bahwa kakaknya sudah standby di rumah orangtua mereka di waktu sepagi ini. Agnia lalu ingat dengan kemunculan Irgi tengah malam tadi. Boleh jadi, Rossi memilih pulang ke rumah orangtua mereka karena kecewa ditinggal Irgi. Membuat Agnia merasa sedikit bersalah, tetapi ia pun tidak bisa menolak kehadiran Irgi jika dirinya sendirilah yang mau mendatanginya. “Keluarga pasien nyonya Desi?” Seorang suster berdiri







