MasukTeman Teman maafkan terlalu malam T.T
Gadis itu tidak langsung menjawab pertanyaan ayahnya. Melainkan menatap sekitar, ada banyak orang di sini yang menatap heran padanya.“Bapak?” lirih gadis itu, tatapannya penuh permohonan.Sebagai kepala desa yang gagah dan juga dikenal sangat penyayang keluarga, Pak Lurah langsung menangkap sinyal tidak wajar dari mata putrinya. Ia berbalik, menatap para stafnya dengan wibawa dan ketenangn."Kalian kembali kerja saja, selesaikan laporan yang tadi kita bahas," titah Pak Lurah singkat.Ia kemudian membimbing putri cantiknya ini masuk ke dalam ruang kerjanya yang luas dan berbau kayu jati.Begitu pintu ditutup, Riska langsung memutar kunci. Gadis itu takut ada telinga yang menguping pembicaraan mereka. Gadis itu berdiri sambil menunduk di depan meja besar ayahnya. Bahkan jemarinya terus memilin ujung bajunya dengan gelisah.Pak Lurah menghela napas, lalu duduk di kursi kebesarannya. "Ada apa ini, Neng? Siapa yang bikin kamu nangis sampai begini? Cerita semuanya sama Bapak!" tegasnya, d
Tangan gadis asing itu gemetaran, bahkan piringnya sampai merosot dari atas pangkuan. Pandangannya pun berembun, dan telinga mendadak tuli, sebab ucapan Bu Rima saja tidak terdengar olehnya.Gadis itu terisak pelan, tujuannya tadi datang, memang untuk menarik perhatian. Ia yang memang berkunjung ke rumah Bu Rima mendapati informasi dari salah satu pekerja, kalau wanita paruh baya itu datang ke kolam, termasuk Randy juga ikut. “Nak? Riska?” Suara Bu Rima lemah lembut.Gadis itu diam saja, seperti patung. Wajahnya juga mendadak pucat.Mungkin … ia pikir, Dinda yang dikenal sebagai perempuan kota akan bangun siang atau ongkang-ongkang kaki di rumah itu. Pastilah … sawah, kebun, atau kolam menjadi hal kotor yang mana mungkin disentuh oleh anak kota. Namun, barusan … ia melihat Dinda malah asyik menikmati momen bersama Randy di pinggir kolam ikan.“Neng?” panggil Bu Rima lagi, lalu menggoyang-goyangkan bahu gadis itu. “Neng Riska? Aduh, jangan diem. Ibu jadi pa—”Mendadak gadis itu berdi
Beberapa menit sebelumnya, Bu Rima yang duduk di atas dipan mencoba mengalihkan pandangan terus menerus. Namun, suara cekikikan Dinda dan Randy berpadu dengan kecipak air membuatnya dihantui penasaran. Wanita itu diam-diam melirik, meskipun semua orang yang ada di sekitar tampak sibuk.“Udah kusindir, bukannya pulang masih bertahan di sini,” gumam Bu Rima. “Apa dia mau harta anakku?” Mata keriputnya itu menatap sekeliling kolam yang luas. Seluruh kolam yang ada di sini, sawah, dan beberapa hektar kebun nantinya memang milik Randy.Wanita itu membungkuk, lamunannya pun terinterupsi dengan suara Langkah pelan dari arah belakang. Ketika menoleh, Bu Rima tersenyum kecil. Gadis itu, menantu idamanya datang ke sini, sambil menenteng rantang. Sudah pasti berisikan masakan gadis itu yang ingin merebut hatinya.“Neng Riska ke sini?” sapa Bu Rima saat gadis itu mencium punggung tangannya.“Iya, Bu. Kebetulan masak banyak. Ingat Ibu, jadi saya bawakan ke sini.” Gadis itu tersenyum malu-malu. Lalu
Setelah puas melihat sunrise, Randy mengajak Dinda pulang. Motor tua itu pun melaju membelah jalanan desa yang mulai sibuk. Lucunya, hampir setiap beberapa meter, ada saja orang melambaikan tangan atau sekadar berteriak menyapa. Randy membalas dengan klakson pendek atau anggukan sopan."Wah, Mas Randy beneran terkenal, ya? Padahal ini ‘kan jauh dari rumah," celetuk Dinda sambil sedikit berteriak agar suaranya tidak kalah oleh angin.Randy terkekeh kecil. "Mereka masih tetangga, Din. Rata-rata yang kamu lihat tadi itu pekerja di sawah dan kolam milik Ibu.""Mas punya kolam juga?!" pekik Dinda."Punya," jawab Randy singkat."Saya mau lihat, boleh? Penasaran pengen tahu seperti apa kolamnya," tanya Dinda dengan nada antusias.Randy mengangguk, lalu fokus mengendarai motornya.Melihat respon positif itu, perasaan Dinda entah kenapa jadi makin senang. Tanpa sadar, ia mengeratkan tangannya di pinggang Randy, dan menopang dagu di bahu pria itu.Motor berbelok ke area jalan setapak yang lebih
Malam harinya usai makan malam yang menegangkan, Dinda gegas merapikan piring-piring kotor ke dapur. Ia ingin cepat selesai karena Randy sudah menunggunya di teras depan untuk sekadar mengobrol.Setelah mencuci tangan, Dinda melangkah menuju pintu depan. Namun, di lorong dekat ruang tengah, ia berpapasan dengan Bu Rima. Mengingat ketegangan seharian ini, Dinda mengangguk pelan, sebagai tanda hormat. Hanya saja saat lengan mereka bergesekan pelan, tiba-tiba tubuh Bu Rima limbung.Wanita paruh baya itu mengerang dan refleks mencengkeram kuat lengan Dinda, untuk menahan bobot tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai. Napasnya tersengal, dan wajahnya tampak menegang. Ia yakin, wanita paruh baya itu sedang menahan sakit.“Bu?” panggil Dinda pelan. Ia melingkarkan tangannya pada pinggang Bu Rima agar wanita itu tidak jatuh. “Ibu kenapa? Mana yang sakit?”Bu Rima tidak menjawab. Alih-alih mengeluh, ia justru melepaskan tangan Dinda dari pinggangnya. Namun, baru satu saja melangkah, wanita paruh b
Kesal dengan ocehan Dinda yang dinilainya tidak sopan, Bu Rima buru-buru merapikan peralatannya, lalu meninggalkan Dinda sendirian di sana.Sedangkan Dinda hanya mengedik bahu melihat sikap kekanakan wanita paruh baya itu.“Emang bener, ya, kalau udah tua balik lagi kayak anak-anak. Duh, kesabaran gue harus diperluas lagi ini sih.”Dinda lantas melangkah santai ke luar rumah. Ia melihat-lihat halaman yang luas ini. Jemarinya menyentuh permukaan daun kemangi yang mengeluarkan aroma segar, lalu beralih meraba batang tanaman cabai rawit yang buahnya memerah menggoda, kalau saja manis … mungkin sudah ia petik. Di sudut lain, ada rumpun sawi hijau tumbuh sangat subur dengan helai daun lebar, bersanding dengan rimbunnya pohon tomat yang mulai berbuah kecil-kecil hijau.“Jadi penasaran, waktu Mas Randy kecil kayak gimana di sini,” gumam Dinda tersenyum sendiri.Tiba-tiba, sebuah embusan napas hangat menerpa tengkuknya, membuat Dinda terlonjak hingga menjerit kecil."Akh … Mas Randy!" seru Din







