MasukMalam harinya usai makan malam yang menegangkan, Dinda gegas merapikan piring-piring kotor ke dapur. Ia ingin cepat selesai karena Randy sudah menunggunya di teras depan untuk sekadar mengobrol.Setelah mencuci tangan, Dinda melangkah menuju pintu depan. Namun, di lorong dekat ruang tengah, ia berpapasan dengan Bu Rima. Mengingat ketegangan seharian ini, Dinda mengangguk pelan, sebagai tanda hormat. Hanya saja saat lengan mereka bergesekan pelan, tiba-tiba tubuh Bu Rima limbung.Wanita paruh baya itu mengerang dan refleks mencengkeram kuat lengan Dinda, untuk menahan bobot tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai. Napasnya tersengal, dan wajahnya tampak menegang. Ia yakin, wanita paruh baya itu sedang menahan sakit.“Bu?” panggil Dinda pelan. Ia melingkarkan tangannya pada pinggang Bu Rima agar wanita itu tidak jatuh. “Ibu kenapa? Mana yang sakit?”Bu Rima tidak menjawab. Alih-alih mengeluh, ia justru melepaskan tangan Dinda dari pinggangnya. Namun, baru satu saja melangkah, wanita paruh b
Kesal dengan ocehan Dinda yang dinilainya tidak sopan, Bu Rima buru-buru merapikan peralatannya, lalu meninggalkan Dinda sendirian di sana.Sedangkan Dinda hanya mengedik bahu melihat sikap kekanakan wanita paruh baya itu.“Emang bener, ya, kalau udah tua balik lagi kayak anak-anak. Duh, kesabaran gue harus diperluas lagi ini sih.”Dinda lantas melangkah santai ke luar rumah. Ia melihat-lihat halaman yang luas ini. Jemarinya menyentuh permukaan daun kemangi yang mengeluarkan aroma segar, lalu beralih meraba batang tanaman cabai rawit yang buahnya memerah menggoda, kalau saja manis … mungkin sudah ia petik. Di sudut lain, ada rumpun sawi hijau tumbuh sangat subur dengan helai daun lebar, bersanding dengan rimbunnya pohon tomat yang mulai berbuah kecil-kecil hijau.“Jadi penasaran, waktu Mas Randy kecil kayak gimana di sini,” gumam Dinda tersenyum sendiri.Tiba-tiba, sebuah embusan napas hangat menerpa tengkuknya, membuat Dinda terlonjak hingga menjerit kecil."Akh … Mas Randy!" seru Di
‘Jadi itu … cewek yang mau dijodohin sama Pak Randy? Cantik, sih, ya, lumayan lah,’ oceh Dinda dalam hati. Egonya, tentu tak ingin kalah. Kekaguman yang tadi sempat menyergap pun kini punah, lantaran tahu siapa wanita itu.Dinda berusaha menampilkan sikap tak acuh, berpura-pura sibuk memperhatikan bulir-bulir padi. Namun, Ibu Randy seolah sengaja memanasinya dengan memuji-muji gadis itu.Telinganya benar-benar panas, dan terbakar.“Hati-hati, Neng, jangan sampai jatuh,” ujar Ibu Randy dengan nada lembut yang sama sekali tidak pernah Dinda dengar ditujukan padanya.Gadis asing itu menoleh ke arah Ibu Randy. “Kata Sopir Bapak, Bu Rima cari saya? Ada apa ya?” tanyanya sopan.Mata Bu Rima bergerak-gerak, seperti mencari alasan yang tepat, tidak lama, ia langsung menyahut, “Keponakan Ibu mau masukin anak sekolah. Kamu kan mengajar di SD. Sekolah kamu masih terima murid baru?”“Masih, Bu,” jawab gadis itu. Setelah bertukar senyum, gadis itu kembali bertanya, sorot matanya menyiratkan rasa i
Malam harinya, suasana di meja makan terasa sangat sunyi, hanya diisi rimtik gerimis hujan yang jatuh di genting berpadu denting sendok. Mereka makan malam dalam keheningan yang menyesakkan.Sedari tadi Dinda memperhatikan ibunya Randy yang duduk di seberangnya, yang lebih banyak menghindari tatapan matanya, lantaran sibuk dengan piring sendiri. Berbeda dengan Randy sesekali mencoba mencairkan suasana dengan cerita ringan, tetapi usahanya sia-sia.Dinda menghela napas tertahan dalam hati berkata penuh tekad, ‘Awas, ya, kalau Ibu nanti malah tergila-gila sama gue!’ Gadis itu menatap Ibu Randy dengan tatapan penuh tantangan yang tidak terlihat. ‘Haduh, gimana sih cara meluluhkan hati calon mertua? Pusing gue.’ Ia sadar betul bahwa misinya di desa ini memenangkan hati wanita galak di hadapannya.Demi restu!Setelah makan, Dinda segera membereskan piring-piring kotor, membawa semuanya ke dapur, dan mulai mencuci. Ibunya Randy mengikuti, dengan tatapan curiga pada gadis itu.“Nggak perlu
“M-maksud Ibu… apa, ya?” tanya Dinda, sempat tertegun sesaat. Sungguh ia tidak menyangka sambutan yang diterimanya jauh dari kata ramah.Andai saja bisa, ia ingin melarikan diri, kabur sejauh-jauhnya, tetapi bagaimana dengan Randy? Dinda melirik pria itu yang juga membelalak, mendengar pertanyaan ibunya yang merendahkan.Randy menegakkan duduknya, raut wajahnya berubah tegang. “Ibu, tolong jaga ucapan Ibu.”Rasa malu yang menusuk menjalar di wajah Randy. Ia merasa bersalah telah membawa Dinda ke dalam situasi yang memalukan ini. Reaksi ibunya jauh lebih parah dan langsung menyerang harga diri calonnya itu, bahkan mungkin … lebih parah dari Raymond.Randy menundukkan kepala sebentar, sungguh ia merasa gagal melindungi gadisnya ini dari kesalahpahaman yang dilontarkan ibunya.“Randy! Memang Ibu salah apa?” balas ibunya, nadanya tak kalah keras, wataknya juga tidak ingin mengalah. “Ibu cuma memastikan saja, Dinda ini gadis atau janda? Atau istri orang?”Wanita paruh baya itu menekankan p
‘Nggak pernah aku sangka, akhirnya begini. Jadi istri mertuaku sendiri, lelaki yang usianya lebih jauh dariku. Dia yang aku pikir biasa aja ternyata sosok yang hebat. Jujur, aku malu. Sampai sekarang masih malu karena nggak sepadan dengannya. Aku beruntung, punya suami yang baik, bertanggung jawab, dan … Mas Dokter setia, ya, setia. Padahal di sekelilingnya banyak perempuan cantik dan seksi, tapi dia pilih aku. Terima kasih, Mas,’ Laras membatin, sambil menangkup pipinya di atas meja kerja Dirga. Kelopak mata wanita itu mengerling lembut dan damai. Ia memperhatikan wajah serius suaminya yang memeriksa setiap laporan dari tablet.“Sayang?”“Ya, Mas?”“Kenapa?”“Nggak apa-apa.”Dirga mengangkat pandangannya dari tablet, menyentuh kepala Laras sebentar dengan tangan lebarnya yang selalu hangat. Tatapan sepasang mata karamel itu memancarkan aura yang memikat. Hingga Laras meraba pipinya sendiri yang terasa panas.Entah bagaimana bisa ia perlahan mengikuti tarikan tangan Dirga, hingga ia







