MasukPagi ini, Dinda dan Randy sudah ada di ruangan obgyn. Sejak pengakuan wanita itu, Randy menjadi lebih peka dan ia terus memegangi tangan istrinya yang tengah menjalani pemeriksaan USG transvaginal."Pasti berhasil, Sayang," bisik Randy memberi kekuatan.Dokter Devi menggeser kursor pada layar monitor, menunjukkan bulatan-bulatan hitam yang cukup banyak."Hasilnya bagus sekali. Sel telurnya banyak yang sudah matang dan ukurannya ideal. Kita akan lakukan tindakan pengambilan sel telur nanti malam," jelas Dokter Devi.Penjelasannya itu, bagai bibit-bibit bunga pembawa harapan baru di taman Randy dan Dinda.Randy pun tersenyum lebar. Ia tidak kuasa menahan rasa haru. Saking senang ia sampai melontarkan pertanyaan beruntun, "Beneran bagus dok hasilnya? Maksud saya, peluangnya besar ‘kan? Tapi istri saya tetap aman, Dok?""Iya, bagus sekali. Tapi Pak Randy, tolong ingatkan Dokter Dinda untuk tetap tenang. Manajemen stres itu kunci utama. Jangan sampai pikiran yang terlalu berat memengaruhi
Sudah dua belas hari Dinda menerima obat guna meningkatkan kualitas dan kuantitas sel telurnya. Ini adalah hari terakhir. Namun, ini adalah akhir pekan.Beruntunglah ia bisa libur, tetapi tidak bisa menolak acara kumpul keluarga di rumah Laras. Di halaman rumah luas nan asri itu, tingkah si kembar asyik dengan dunia imajinasi.Laksa dan Leksa tampak gagah mengenakan jubah kecil ala Sherlock Holmes lengkap dengan topi yang dibelikan Dirga. Mereka dalam menyelidiki hilangnya stoples camilan tadi pagi.Laksa berjongkok di dekat semak, menyodorkan lensa cembungnya ke arah seekor serangga hijau."Kupu-kupu, apa kamu melihat ada orang asing yang masuk rumah ini?" tanya Laksa, jangan lupakan wajahnya yang berlagak serius.Leksa yang sedang memeriksa rumput langsung menoleh dan berkacak pinggang. "Hey Laksa! Dia itu belalang, belalang sembah, bukan kupu-kupu!"Tidak mau kalah, Laksa mendongak pada kembarannya. "Iya, ini belalang, namanya kupu-kupu, Leksa!""Nggak ada sejarahnya! Ini belalang
Bukannya langsung menjawab, Randy malah memandangi Dinda cukup lama. Pria itu lantas memeluk istrinya lebih erat."Mas?" panggil Dinda di balik dada Randy. Namun, Randy tetap diam.Pria itu bukannya diam tanpa alasan, kepalanya sedang berpikir keras. Baginya, kehadiran seorang anak itu anugerah, bukan keharusan yang dikejar sampai mengorbankan ketenangan batin. Randy … takut, jika mereka terlalu terobsesi, Dinda akan kehilangan jati dirinya sendiri."Mas Randy ... nggak mau ya?" tanya Dinda lagi, suaranya terdengar makin parau.Randy bergeming, hingga merasakan kemejanya basah. Ternyata tangisan Dinda makin lama makin deras hingga tubuh wanita itu bergetar.Melihat tangis sang istri yang begitu memilukan, hati Randy seperti diremas-remas.Sakit sekali.Randy melepaskan pelukannya, lalu menangkup pipi Dinda. Ibu jarinya mengusap air mata yang terus mengalir di pipi istrinya."Sayang, dengarkan saya. Sebenarnya saya nggak masalah kapan pun kita diberi anak. Mau sekarang, tahun depan, at
"Mami! Papi!" Dua suara itu bersahutan.Laksa dan Leksa berhambur keluar dari pintu depan. Mereka menubruk kaki Laras dan Dirga yang baru saja turun dari mobil.Sore ini, Laras dan Dirga memang sengaja pulang dari rumah sakit satu jam lebih awal. Meskipun lelah, tetapi tidak menyurutkan keinginan untuk berkumpul di rumah sederhana milik Raymond. Laras rindu pada papinya itu.Laras berjongkok, menghirup aroma sabun bayi yang menyertuak dari leher kedua putranya."Wah, udah rapi dan harum sekali jagoan Mami," puji Laras sambil mengusap pipi mereka yang kenyal, bersih dan merona.Ia kemudian menatap istri Raymond dengan perasaan tidak enak. "Terima kasih banyak, ya, Bu. Maaf kalau Laksa dan Leksa selalu bikin repot di sini."Istri Raymond mengibaskan tangan sambil tertawa kecil, wajah wanita tambun itu tampak segar dan berseri-seri."Repot apa, Ras? Mereka itu pintar sekali, udah mandiri. Makan sendiri, mandi pun udah bisa sendiri, sama sekali nggak merepotkan," jawabnya wanita itu, mene
Dua bocah itu berjalan sambil merengut, kaki mereka sengaja dihentak-hentakkan ke lantai marmer. Kali ini mereka sangat kompak berbagi kekecewaan, bahkan Leksa berlagak menjadi kakak yang dewasa dengan merangkul bahu adik kembarnya. Mereka saling menguatkan karena rencana ke desa gagal total."Terus kita liburan di mana? Sekolah nanti ‘kan libur lama," tanya Leksa sambil menatap lurus ke depan dengan wajah ditekuk.Laksa terdiam sesaat, lalu memutar bola matanya mencari ide lain. "Di rumah Opa? Atau rumah Kakek Raymond?"Leksa langsung menggeleng kuat-kuat. "Nggak seru! Di sana cuma duduk-duduk doang, nggak bisa main air sepuasnya kayak di rumah Abah."Dirga yang sedari tadi berdiri sembari merapikan jam tangaan, hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Dua bocah itu sudah memikirkan rencana liburan sekolah dengan sangat serius, padahal waktu libur masih sangat lama.“Kalian mirip Mami kalau merajuk,” gumam Dirga.Dirga pun melangkah, sengaja mengeraskan langkah sepatu agar kedua anak
Sementara itu di apartemen, suasana di dalam kamar tidur utama sudah terlalu panas dan pengap oleh aroma keringat dari gairah. Randy terus menumbuk miliknya lebih dalam, menghujam langsung ke inti sang istri. Setiap sentakan Randy disambut dengan desahan Dinda yang terdengar liar dan tidak terkontrol."Ahhh ... Mas Randy ... ugh, iya di situ, jangan berhenti," racau Dinda dengan suara serak yang sangat menggoda, membuat darah Randy tambah mendidih.Sudah lebih dari satu jam pria itu menggagahi istrinya ini tanpa berbelas kasih. Randy benar-benar melepas seluruh penat dan stres kerja bersama Dinda.Bagi Randy satu kali pelepasan tidak cukup untuk menuntaskan dahaga pada tubuh wanita yang sangat ia cintai ini. Apalagi, ia merasa memiliki misi khusus, mengejar target untuk menghamili Dinda agar apartemen mereka tidak lagi sepi.Sentakan Randy makin bertenaga, membuat ranjang mereka berderit seiring dengan napas yang memburu. Dinda yang mencapai batas ketahanan pun mulai melengkungkan pun







