Share

Sky and Earth
Sky and Earth
Penulis: Adaha Kena

Bab 1

"Amara sudah lama menyukai Zean. Menikahlah dengan Amara!" ajak seorang perempuan dengan suara yang lantang.

"Kamu itu wanita jelek, miskin, dan tidak berpendidikan. Kalau kamu memandangku dengan benar dan mengerti posisimu, seharusnya kamu paham bahwa kalimat tadi adalah kalimat yang sangat haram untuk diucapkan oleh perempuan sepertimu."

Hanya perlu beberapa detik untuk Zean memberikan jawabannya. Lelaki itu banyak sekali menghadapi pengakuan cinta dari lawan jenis. Tetapi tidak ada yang serendah perempuan di depannya.

Pada umumnya, wanita yang mengatakan cinta pada Zean adalah orang-orang dari keluarga terkemuka. Atau orang yang cukup percaya dengan kecantikan dirinya. Namun Amara? Dia bahkan tidak punya sesuatu untuk dibanggakan. Dia hanya bermodal nekat menyatakan perasaan pada lelaki tersebut.

Air matanya mulai membumi di bawah langit taman yang mulai menjingga. Wanita itu tidak lagi berani menjalin kontak mata dengan lawan bicaranya usai mendapat jawaban yang menampilkan kenyataan. Dia menunduk dan terhanyut dalam keheningan.

Seiring banyaknya detik yang dibunuh sepi, angin sore menerpa mereka sekali lagi. Suasana yang terkesan sejuk tidak juga membuat jemari kasar wanita itu berhenti mengeluarkan keringat dingin.

"Ma-maaf, bukannya Amara enggak sadar diri. Amara cuma mau kasih tahu perasaan Amara. maaf jika Amara lancang, kalau Zean menolak adalah hal yang wajar. Zean jangan gak datang ke kafe Lina hanya karena pengakuan Amara. Setelah ini Amara janji tidak akan ganggu Zean lagi," Jelasnya dengan suara yang tipis.

Amara ingin segera pulang agar dapat memulai misi penyelamatan hati. Meringkuk di bawah selimut seperti yang sering ia lakukan ketika dunia sedang menyakitinya. Tapi mesin teleportasi di imajinasi Amara, dan kaki di kenyataan, tidak satu pun di antara keduanya dapat ia gunakan untuk berpindah tempat.

"Aku tidak mengatakan aku menolakmu. Kapan kita akan menikah?"

Tidak yakin dengan apa yang barusan dia dengar, Amara sontak mendongak, Matanya sedikit melebar dengan ekspresi cengo yang kental.

"Hah?!"

Kini di penglihatan Amara jelas terlihat lelaki dengan tubuh tinggi, kulit cerah bak seorang artis, dan rambut hitamnya yang diatur sedemikian rupa. Dan ya, Amara tidak sama sekali mempercayai telinganya. Bagaimana mungkin kalimatnya itu nyata. Dia pasti mengkhayal karena ditolak.

"Kamu tidak berada dalam khayalan, ilusi atau semacamnya. Aku menerima ajakanmu, mari menikah!"

Kalimat 'mari menikah!' seperti mimpi yang dipaksa satu lintasan dengan kenyataan. Pandangannya sedikit demi sedikit kian memudar. Sungguh, dibanding ditolak, Amara lebih tidak siap untuk mendapat penerimaan.

Zean refleks berusaha menangkap tubuh Amara yang oleng ke belakang. Satu alisnya terangkat ketika berhasil mencegah perempuan tersebut jatuh.

"Mati?"

***

Setelah hari itu, Amara bekerja seperti biasa di Kafe Lina. Tidak ada terjalin korelasi apapun lagi ketika Zean bersantai di sana. Calon suaminya tersebut hanya datang sekali ke rumah untuk bertemu wali Amara dan membahas pernikahan. Zean datang sendiri tanpa di temani keluarganya. Meskipun demikian, kesepakatan pernikahan masih tetap dapat tercapai.

Amara menjadi cukup kaku saat bersanding dengan orang yang dia cintai tersebut. Kentara dia sedang menormalkan ekspresi bahagianya agar tidak muncul berlebihan. Hal yang patut di syukuri di taman hari itu adalah, dia tidak terkena serangan jantung. Kalau tidak, upacara pemakaman yang akan menyambutnya, bukan pernikahan seperti saat ini.

Satu persatu tamu undangan mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Ada ekspresi aneh di wajah mereka saat menatap keduanya. Namun, tidak ada yang demikian berani membicarakan betapa berbeda mereka. Sampai pada ketika seorang remaja datang dan sepintas melirik Amara.

"Aku kira kau akan menikah dengan selebriti atau perempuan yang setara. Pernikahan ini lebih mirip seperti sisi homur dongeng dimana seorang pangeran menikahi pelay–"

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, remaja tersebut bergerak menghindari sesuatu yang akan jatuh di belakangnya. Dia langsung menyorot tajam pada pria yang terhunyung cengegesan.

Zenon menstabil tubuh, "Lama tidak bertemu. Refleksmu masih bagus seperti biasanya, Reyzen," pujinya pada remaja tersebut.

Reyzen menatap Zenon yang mengenakan pakaian necis, "Berhentilah mengincar bahuku!"

Zenon mengubar ekpresi kecewa yang dibuat-buat, "Aku hanya berusaha merangkulmu. Tidakkah kita bisa lebih akrab? Aku sungguh ingin berteman denganmu!"

Dalam situasi formal seperti pernikahan dan terlebih Zenon seumuran kakaknya. Tidak seharusnya dia bertingkah kekanak-kanakan. Reyzen menghela napas, mengabaikan perkataan Zenon, dan memilih menjelaskan tujuannya datang.

"Sebenarnya aku tidak ingin menghadiri pernikahanmu. Tetapi kau tahu betapa sulit untukku menghindari pertanyaan ibu nanti karena dia sudah memintanya. Aku hanya akan berfoto untuk jalur pelarianku. Setelah ini aku akan pulang."

"Kedatanganmu ini sudah cukup," jawab Zean.

Seusai berfoto Reyzen benar-benar melangkah pergi. Zenon yang tidak habis pikir menggelengkan kepala menatap kepergiannya. Begitupun Amara, perkataan adik iparnya dan pulang lebih awal membuatnya sedih. Reyzen adalah satu-satunya keluarga Zean yang datang. Dan kini dia pulang dengan memberikan kesan yang melukai.

"Aku rasa tidak ada yang bisa mengubah kepribadian buruknya itu." Tatapan nanar itu beralih ke dua orang yang memakai pakaian dengan warna senada. "Selamat, semoga aku juga cepat menikah," lanjut Zenon sambil memupuk senyum.

"Bukankah doanya salah sasaran? Banyak waktu untuk mendoat dirimu sendiri," keluh Zean.

"Okeh, semoga panjang umur serta cepat diberikan anak."

Amara sedikit tersiram kehangatan mendengar doa Zenon. Memiliki keluarga yang untuk adalah cita-cita terbesarnya. Ah, itu pasti sangat menyenangkan nantinya kalau dia dan Zean memang memiliki banyak anak. Amara akan berusaha sebisa mungkin untuk menjadi istri dan ibu yang baik.

Setelah mengambil sesi berfoto bersama Zenon. Seorang wanita cantik yang menyita banyak perhatian melangkah ke arah mereka. Memiliki postur tinggi dan tubuh yang indah, seolah dia tercipta bukan sebagai manusia.

"Zean, aku tahu kamu punya sisi humor yang buruk. Tapi aku tidak pernah berharap kemampuan dalam bercanda seburuk ini. Apa-apaan orang yang kamu nikahi ini? Dia benar-benar buruk rupa!"

Setelah sampai, tanpa filter Katia mengatakan hal tersebut sambil menatap Amara penuh penghinaan.

"Aku yakin dia akan membuatmu bosan hanya dengan satu detik. Sampai kau menceraikannya. Aku tidak masalah menikah dengan duda sepertimu," ucapnya lagi pada Zean.

Hey! Bukanlah pelakor terlalu cepat didatangkan ke rumah tangga Amara? Apalagi makhluk berbisa itu seperti seorang cheater dalam sebuah game. Parasnya sungguh membuat bahunya lemas saja.

Amara diam-diam mencuri pandang pada pria di sampingnya. Zean sama sekali tidak menampilkan ekspresi yang berarti. Tetap datar dan dingin seperti biasa. Dia tidak sedikitpun terganggu.

Perkataan Katia merupakan fakta yang tidak bisa dibantah. Mata siapapun akan mengaanggap bahwa Katia yang lebih pantas menjadi mempelai wanitanya.

"Kau baru datang, Katia! Minta maaflah karena kata-katamu sungguh tidak baik," tegur Zenon.

Mata angkuh Katia melirik, keberpihakan laki-laki tersebut membuatnya mencebik sekali lagi.

“Meminta maaf? Wanita sempurna sepertiku tidak seharusnya melakukan hal semacam itu. Lagi pula yang aku lakukan bukanlah sebuah kesalahan. Dia jelek, aku mewakili semua orang yang ada di sini akan hal itu," balas Katia.

Amara tidak memiliki banyak polesan di wajahnya. Dia tampil menggunakan gaun milik ibunya yang disimpan sudah sangat lama, lusuh dan kampungan. Secara perawakan dia memang bagus, tapi wajahnya yang penuh plek hitam dan kusam adalah minus paling terlihat.

Hal tersebut menciptakan pertanyaan yang sama di dalam benak setiap tamu undangan. Kenapa Zean mau menikah dengannya?

Katia sudah menyukai Zean sejak di bangku kuliah. Dia mendapati penolakan yang sulit dihitung jumlahnya. Ketika melihat Amara yang levelnya sangat jauh di bawahnya dapat bersanding dengan pria yang amat dia suka, kemarahan meluap begitu saja.

"Kamu jangan senang. Zean pasti akan memilihku pada akhirnya!" Katia berlalu pergi meninggalkan peringatannya.

Zenon menelisik wajah pucat Amara. Terlihat mental sedang jatuh karena perkataan Katia. Bukan hanya itu, perempuan tersebut juga pasti paham bahwa para tamu undangan lebih memilih Katia sebagai pasangan yang layak untuk sumainya.

"Jangan terlalu dipikirkan, Amara. Zean sudah menolak Katia dan memimilih kamu," hibur Zenon.

"Iya, Amara gak papa," balas Amara lalu memberikan senyumnya. Dia bahkan tidak tahu kenapa Zean memilihnya.

Zenon tentu tidak sulit diperdaya dengan senyum seperti itu. Pasti sulit bagi Amara mengabaikan perkataan itu begitu saja.

"Zean, seharusnya kamu lebih bisa membela istrimu!" tukas Zenon.

"Kalau aku menjawab itu akan lebih rumit," jawab Zean.

***

Rumah bak istana berwarna cream tampil di pandangan Amara. Dari balik kaca jendela mobil matanya memancarkan binar takjub. Sampai pada tiba mobil itu berhenti, pelayan laki-laki yang menunggu di depan kediaman Elkira membukakan pintu dengan sopan.

Amara tidak bergeming, pandangannya masih terpaku pada rumah besar di depannya. Mulai hari ini seterusnya dia akan hidup bersama suaminya di sana. Hal itu seperti surga yang menjadi nyata.

"Nyonya?" ucap pelayan pada Aamar yang masih diam.

"Huh? Oh, Amara akan turun!"

Agar gaun milik ibunya tidak kotor Amara melangkahkan kaki dengan hati-hati memasuki rumah. Beberapa pelayan perempuan juga telihat berusaha membantunya dengan baik.

"Kami sudah menyiapkan pakaian cukup banyak untuk, Nyonya. Mari saya antar ke sana!"

Amara menganggukkan kepala, dia cukup kaku dipangil dengan sebutan nyonya. Ketika sudah sampai di ruangan ganti, dia menatap dirinya yang lain di cermin besar. Sejurus kemudian salah satu pelayan mendorong cukup banyak pakaian.

"Kami membeli pakaian dari berbagai brand. Nyonya boleh memilih yang Nyonya rasa cocok."

Mata Amara langsung memilah pakaian yang tergantung di depannya. Entah kenapa tidak ada yang seperti dia harapakan.

"Tidak ada celana atau rok panjang? Amara biasanya pakai kaos jadi gak terbiasa mengenakan pakaian seperti ini," jelas Amara.

"Maafkan kami, Nyonya. Sebelumnya kami tidak tahu pakaian seperti apa yang Nyonya suka. Jadi hanya ini yang kami beli."

"hmmm ... kalau begitu Amara pakai yang ini aja."

Amara mengambil Dress berwarna hitam.

"Silahkan, biar saya yang membantu Nyonya." Satu pelayan mengajukan diri.

"Amara bisa sendiri."

"Baik, Nyonya."

Setelah beberapa saat Amara keluar dari balik tirai. Di depan cermin dia berputar dengan malu-malu. Badannya sangat cocok memakainya. Kalau saja kulitnya wajahnya putih dan besih. Dia pasti akan menjadi wanita yang sempurna.

"Amara enggak akan masuk angin'kan kalau pakai ini?" tanyanya sambil berusa menurunkan dress yang menurutnya terlalu pendek. "Amara rasa ini terlalu terbuka, dan meng–"

Amara menutup mulutnya cepat. Dia baru sadar kalau hal tersebut mungkin Zean yang meminta pelayanannya menyiapkan baju seperti ini. Lagipula tidak masalah berpakaian teralu terbuka di depan suami sendiri.

"Nyonya sangat cocok memakainya. Saya rasa tuan pasti menyukainya."

"Semoga," gumam Amara, pipinya bersemu merah.

"Sembari menunggu tuan pulang. Nyonya ingin kami temani keliling rumah atau istirahat saja?"

Karena pernikahan dilakukan secara tiba-tiba dan yang datang kebanyakan dari pihak Zean. Amara hanya membawa ibu dan kakaknya. Dan suaminya itu sedang mengantarkan mereka secara pribadi untuk pulang.

"Amara mau istirahat saja," jawabnya.

"Kalau begitu biar saya tunjukkan kamar Nyonya dan tuan."

Menyusuri kediaman Elkira membuat Amara berpikir dia mungkin akan tersesat sewaktu-wktu. Dia curiga dikehidupan sebelumnya pernah menyelamatkan seluruh galaksi sehingga dikehidupan yang sekarang begitu beruntung. Tidak hanya sangat tampan, suaminya juga berpendidikan tinggi dan kaya.

Tidak lama kemudian Amara akhirnya sampai di kamarnya. Sebelumnya dia diberikan card kunci untuk akses keluar masuk. Pelayan itu juga berpesan jika Amara menginginkan sesuatu bisa memanggilnya. Amara benar-benar menjadi nyonya sekarang.

Di atas kebahagiaannya sekarang, masih tertanam pertanyaan. Pertanyaan itu bahkan tidak hanya milik Amara. Tapi juga semua orang yang menghadiri pernikahan tadi. Kenapa Zean mau menikahinya yang penuh kekurangan? Dilihat dari sisi manapun amara tidak mempunyai apa-apa.

Amara tidak bisa menghitung seberapa banyak yang mengidolakan Zean. Katia hanya salah satu orang-orng itu. Dia masih berpikir keras dibagian mananya dia lebih baik dari mereka. Masih sangat tidak masuk diakal Zean malah memilihnya.

Cukup lama dia merenungkan hal tersebut hingga banyak waktu yang terbuang. Amara tidak mendapat sedikitpun jawaban logis sampai jam berwarna emas di dinding menunjukkan pukul 06.12 sore. Pikirannya dibangunkan oleh beberapa ketukan di pintu kamar.

"Zean?"

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status