Home / Fantasi / Snowborn Sword God / Bab 2 : Kehangatan

Share

Bab 2 : Kehangatan

Author: GSilva
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-13 11:48:18

[Usia Rowan: 0 - 2 Tahun] [Lokasi: Gubuk Hans, Pinggiran Desa Frosheim]

Tahun pertama kehidupan barunya adalah siksaan neraka bagi harga diri Rowan.

Bayangkan saja. Jiwa seorang manajer berusia 35 tahun, yang terbiasa memecat karyawan dan memimpin rapat direksi, kini terperangkap dalam tubuh bayi yang tidak berdaya.

Dia harus menahan rasa malu yang luar biasa saat Maria mengganti popok kainnya yang kotor. Dia harus membuang muka saat Hans mengangkatnya tinggi-tinggi sambil tertawa lebar, "Ciluk-ba! Lihat, Maria! Jagoan kita tertawa!"

"Aku tidak tertawa, Pak Tua. Aku sedang menahan diri untuk tidak memukul wajahmu karena terlalu dekat," batin Rowan datar.

Namun, tubuh bayi punya instingnya sendiri. Saat perutnya lapar, dia menangis. Saat popoknya basah, dia merengek. Rowan membenci betapa lemahnya makhluk bernama 'bayi' ini.

Terlebih lagi, dia tahu persis di mana dia berada.

Gubuk kayu milik Hans dan Maria lebih mirip kandang ternak daripada rumah manusia. Dindingnya penuh celah yang disumpal lumut kering. Angin malam Frosheim yang menusuk tulang selalu berhasil menyelinap masuk.

Tapi anehnya... di tempat sesejuk ini, Rowan merasakan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan di apartemen mewahnya dulu yaitu Kehangatan.

Sayangnya, kehangatan itu hanya ada di dalam gubuk ini. Di luar sana, alam tidak selembut itu.

Di Frosheim, matahari adalah tamu yang pelit. Wilayah ini dikutuk dengan musim dingin yang berlangsung selama sepuluh bulan dalam setahun. Hanya ada dua bulan singkat—yang warga sebut sebagai "Musim Lumpur"—di mana salju mencair sedikit dan tanah bisa dicangkul.

Di waktu yang sempit itulah, para petani bertaruh nyawa menanam satu-satunya tanaman yang sudi tumbuh di tanah beku ini: Kentang Batu (Stone Potato). Kulitnya tebal, rasanya hambar, dan kerasnya minta ampun. Tapi bagi penduduk miskin Frosheim, umbi jelek ini adalah nyawa.

Dan malam ini, Rowan akan belajar seberapa mahal harga sebuah nyawa itu.

Bekal yang Tak Dimakan

Badai salju menderu di luar. Pintu gubuk terbuka kasar oleh angin.

Sosok tua itu masuk dengan tubuh gemetar hebat. Hans pulang dengan mantel kulit yang sudah tipis dan bibir membiru. Tidak ada makanan di tangannya dan tidak ada koin.

"Maafkan aku, Maria..." suara Hans parau, nyaris tak terdengar. "Pengepul menolak membeli kayu kita hari ini. Katanya terlalu basah karena badai."

Maria, yang sedang menggendong Rowan di dekat tungku api, hanya tersenyum lembut. Dia meletakkan Rowan di keranjang anyaman, lalu menghampiri suaminya.

"Tidak apa-apa, Hans. Kau pulang dengan selamat saja sudah cukup. Dewa masih sayang pada kita."

Hans menunduk, wajah keriputnya penuh rasa bersalah. Tangan kasarnya merogoh saku dalam mantel dengan gemetar.

Dia mengeluarkan sebuah bungkusan daun yang sudah layu. Di dalamnya, ada satu butir kentang rebus kecil yang sudah dingin dan keras seperti batu.

Rowan, yang mengintip dari keranjang bayi, mengenali kentang itu. Tunggu... Itu kan bekal makan siang yang Ibu siapkan tadi pagi?

"Aku... aku tadi terlalu sibuk menebang pohon," kata Hans sambil tersenyum canggung, berusaha menutupi suaranya yang lemah. "Aku lupa memakannya. Jadi... ini rejeki untuk makan malam kita."

Kruyuuuuk.

Suara perut Hans berbunyi sangat keras, memecahkan kebohongan itu seketika.

Hening.

Maria menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Dia tahu Hans berbohong. Pria tua itu tidak "lupa" makan. Dia sengaja menahan lapar seharian di tengah badai salju, mengayunkan kapak berat dengan perut kosong, hanya supaya kentang kecil ini bisa dibawa pulang kembali.

"Hans..." suara Maria bergetar.

"Sstt... jangan menangis," potong Hans cepat. Dia membelah kentang kecil itu dengan tangan gemetar. "Ayo. Kau makan kulitnya, aku makan tengahnya sedikit, dan sisanya buat Jagoan Kecil kita."

Rowan menatap Hans dari balik selimutnya. Hatinya mencelos.

Orang tua bodoh, batin Rowan. Matanya terasa panas. Kau bekerja seperti budak, kedinginan, dan kelaparan... hanya demi menyelamatkan anak pungut sepertiku?

Di kehidupan lamanya, Rowan sering membuang makanan sisa restoran mahal tanpa pikir panjang. Tapi malam ini, melihat Hans menyodorkan potongan kentang dingin itu... Rowan bersumpah, itu adalah makanan paling berharga yang pernah dia lihat.

"Aaa... buka mulutnya, Rowan," kata Hans dengan senyum tulus, mengabaikan perutnya sendiri yang menjerit kelaparan.

Rowan membuka mulutnya. Dia menelan harga dirinya, dan memakan pengorbanan ayahnya. Rasanya hambar dan dingin. Tapi di tenggorokan Rowan, itu terasa hangat.

Aku akan membalas ini, Yah. Aku bersumpah.

Aku tidak peduli kalau harus membunuh monster, menipu, atau menghancurkan dunia ini sekalipun. Aku akan membuat gubuk ini menjadi istana untuk kalian.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Snowborn Sword God   Bab 9: Kepulangan yang Hampa dan Lahirnya Sang Iblis

    [Usia Rowan: 8 Tahun] [Lokasi: Jalan Menuju Gubuk Hans - Dini Hari]Badai salju masih mengamuk, seolah alam ingin menghapus jejak darah dan dosa yang baru saja tumpah di alun-alun desa.Di tengah putihnya salju, sesosok tubuh kecil berjalan tertatih-tatih melawan angin. Setiap langkah adalah siksaan neraka.Seret... Pincang... Seret...Kaki kanan Rowan yang baru disambung terasa kaku dan asing. Bekas luka kasar berwarna cokelat tua di pergelangan kakinya bergesekan panas dengan kulit sepatu bot yang bolong. Tulang-tulangnya menjerit setiap kali menapak tanah, tapi dia memaksanya bergerak.Dia merogoh saku jubahnya yang compang-camping. Kosong.Dia meraba balik bajunya. Kosong.Tidak ada botol obat. Tidak ada daging. Tidak ada roti hangat. Semuanya sudah dirampas kembali oleh Denten dan para penjaga sialan itu.Rowan menunduk, menatap kedua tangannya yang gemetar karena kedinginan. Tangan kanannya kini memiliki pola jahitan luka yang mengerikan di tiga jarinya.Air mata Rowan sudah mem

  • Snowborn Sword God   Bab 8: Eksekusi Anak Pungut

    [Lokasi: Alun-alun Desa Frosheim - Tengah Malam]Teng... Teng... Teng...Lonceng desa berbunyi. Suaranya berat, membangunkan seluruh penduduk Frosheim dari tidur lelap mereka.Di tengah badai salju yang mengamuk, obor-obor dinyalakan. Warga desa—tukang roti, pandai besi, petani—keluar dari rumah mereka dengan wajah ketakutan. Mereka tahu arti lonceng tengah malam: Eksekusi.Di tengah alun-alun, sebuah panggung kayu.Rowan diseret paksa oleh dua penjaga. Tubuhnya dilempar ke atas panggung yang lantainya tertutup es licin. Kedua tangannya diikat rantai besi ke sebuah balok kayu yang berlumuran darah beku lama."Lepaskan!" teriak Rowan, suaranya serak. Dia meronta, tapi tubuh kecilnya kalah kuat melawan rantai itu."Lihatlah!"Suara menggelegar Kepala Desa (Baron Frosheim) memecah keheningan. Dia berdiri di atas panggung, mengenakan jubah bulu putih yang mewah—kontras dengan baju Rowan yang compang-camping."Warga Frosheim! Malam ini kita menangkap seekor tikus!" Kepala Desa menunjuk Ro

  • Snowborn Sword God   Bab 7: Tikus di Gudang Singa

    [Lokasi: Gudang Penyimpanan Kepala Desa]Rumah Kepala Desa adalah satu-satunya bangunan batu dua lantai di Frosheim. Dindingnya licin, dan pagar besi setinggi tiga meter.Bagi orang biasa, ini benteng. Bagi Rowan, ini cuma taman bermain.Wush!Rowan melompati pagar besi tanpa suara. Kakinya mendarat di salju selembut kucing. Kecepatan Rowan sudah di luar nalar.Dia merayap di dinding, mencari ventilasi udara di lantai dua. "Mudah," batin Rowan. "Terlalu mudah."Dia masuk lewat celah ventilasi, mendarat di atas tumpukan karung gandum. Hawa hangat langsung menyapa kulitnya yang beku. Aroma surga menusuk hidungnya—daging asap, keju tua, dan roti gandum yang baru dipanggang.Perut Rowan berbunyi keras, melilit nyeri. Dia ingin memakan semuanya. Tapi dia menahan diri. Fokus. Obat dulu. Makanan nanti.Matanya yang tajam (berkat Mata Dewa Pedang) memindai ruangan gelap itu. Di rak paling atas, ada botol kaca berisi cairan merah.. [Item: Minor Healing Potion] Efek: Menyembuhkan penyakit par

  • Snowborn Sword God   Bab 6: Musim Dingin Neraka

    [Usia Rowan: 8 Tahun] [Lokasi: Gubuk Hans - Desa Frosheim]Musim dingin tahun ini datang membawa dendam. Biasanya, badai salju di Frosheim hanya berlangsung seminggu, memberi jeda bagi matahari untuk muncul sehari, lalu badai lagi. Tapi tahun ini berbeda. Langit tertutup awan hitam pekat selama dua bulan tanpa henti.Di dalam gubuk reot itu, uap napas mereka membeku menjadi kristal es di udara sebelum menyentuh tanah. Kayu bakar sudah habis seminggu yang lalu. Perabot kayu—kursi makan, meja tua, bahkan rak sepatu—sudah mereka bakar demi mendapatkan sedikit kehangatan.Tapi itu tidak cukup."Uhuk... uhuk...!"Suara batuk Hans terdengar basah dan berat, seolah paru-parunya penuh air. Pria tua itu duduk meringkuk di dekat tungku yang hanya menyisakan bara merah redup. Wajahnya abu-abu, matanya cekung."Maafkan Ayah, Rowan..." bisik Hans, suaranya gemetar. "Ayah... tidak bisa pergi ke hutan. Kaki Ayah... tidak bisa digerakkan."Rowan menatap kaki Hans. Kulitnya menghitam karena frostbit

  • Snowborn Sword God   Bab 5: Harga Sebuah Daging

    [Usia Rowan: 7 Tahun] [Lokasi: Gerbang Desa Frosheim]"Wah, lihat," kata Denten, menendang perut babi hutan hasil buruan Rowan. "Si Anak Pungut bawa makan siang buat kita."Denten adalah anak Kepala Desa. Usianya 10 tahun, tubuhnya bongsor karena gizi yang cukup, dan dia punya hobi menyiksa anak-anak yang lebih lemah.Rowan menatap mereka datar. Tangannya masih mencengkeram kaki babi hutan itu erat-erat. "Minggir," katanya pelan."Hah? Kau bicara apa?" Denten mendekatkan telinganya dengan gaya mengejek. "Minggir? Kau menyuruhku minggir di tanah ayahku?""Itu milikku," kata Rowan, suaranya mulai menajam. "Aku memburunya di hutan. Minggir atau...""Atau apa?" potong Denten. Dia maju selangkah, lalu mendorong dada Rowan keras-keras.BRUK!Rowan jatuh terduduk. Biasanya, dia bisa menahan dorongan itu. Dia bisa mematahkan jari Denten dalam sekejap. Tapi sekarang...[Stamina: 0/15] [Status: Kelelahan Ekstrem]Tubuhnya tidak mau bergerak. Otot-ototnya mati rasa setelah menyeret beban 50kg se

  • Snowborn Sword God   Bab 4: Perburuan Pertama

    [Usia Rowan: 7 Tahun] [Lokasi: Pinggiran Hutan Frosheim - Zona Aman]Tiga tahun kemudian.Hutan Frosheim di pagi hari tertutup kabut tebal. Embun membeku di ujung dedaunan. Suasana sunyi, hanya ada suara derit salju yang dipijak.Rowan, kini berusia tujuh tahun, berdiri diam di balik batang pohon besar. Tubuhnya tidak lagi seringkih dulu. Meski masih kurus karena kurang gizi, matanya tajam dan fokus.Di tangannya, bukan lagi ranting rapuh, melainkan Tongkat Kayu Ulin yang sudah dia runcingkan ujungnya dan dibakar di atas api agar keras seperti besi.Di depannya, sekitar sepuluh meter, target pertamanya sedang mengais akar di bawah salju.[Status Window] Target: Babi Hutan Salju (Snow Boar) Level: 2 Berat: 80 kg Status: Lapar / Agresif Kelemahan: Telinga bagian dalam, Mata. "Daging..." gumam Rowan pelan. Air liurnya terbit. Sudah seminggu Hans tidak mendapatkan buruan. Maria mulai batuk-batuk karena kedinginan dan kurang asupan lemak. Babi hutan ini bukan sekadar monster bagi Ro

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status