LOGIN[Usia Rowan: 0 - 2 Tahun] [Lokasi: Gubuk Hans, Pinggiran Desa Frosheim]
Tahun pertama kehidupan barunya adalah siksaan neraka bagi harga diri Rowan. Bayangkan saja. Jiwa seorang manajer berusia 35 tahun, yang terbiasa memecat karyawan dan memimpin rapat direksi, kini terperangkap dalam tubuh bayi yang tidak berdaya. Dia harus menahan rasa malu yang luar biasa saat Maria mengganti popok kainnya yang kotor. Dia harus membuang muka saat Hans mengangkatnya tinggi-tinggi sambil tertawa lebar, "Ciluk-ba! Lihat, Maria! Jagoan kita tertawa!" "Aku tidak tertawa, Pak Tua. Aku sedang menahan diri untuk tidak memukul wajahmu karena terlalu dekat," batin Rowan datar. Namun, tubuh bayi punya instingnya sendiri. Saat perutnya lapar, dia menangis. Saat popoknya basah, dia merengek. Rowan membenci betapa lemahnya makhluk bernama 'bayi' ini. Terlebih lagi, dia tahu persis di mana dia berada. Gubuk kayu milik Hans dan Maria lebih mirip kandang ternak daripada rumah manusia. Dindingnya penuh celah yang disumpal lumut kering. Angin malam Frosheim yang menusuk tulang selalu berhasil menyelinap masuk. Tapi anehnya... di tempat sesejuk ini, Rowan merasakan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan di apartemen mewahnya dulu yaitu Kehangatan. Sayangnya, kehangatan itu hanya ada di dalam gubuk ini. Di luar sana, alam tidak selembut itu. Di Frosheim, matahari adalah tamu yang pelit. Wilayah ini dikutuk dengan musim dingin yang berlangsung selama sepuluh bulan dalam setahun. Hanya ada dua bulan singkat—yang warga sebut sebagai "Musim Lumpur"—di mana salju mencair sedikit dan tanah bisa dicangkul. Di waktu yang sempit itulah, para petani bertaruh nyawa menanam satu-satunya tanaman yang sudi tumbuh di tanah beku ini: Kentang Batu (Stone Potato). Kulitnya tebal, rasanya hambar, dan kerasnya minta ampun. Tapi bagi penduduk miskin Frosheim, umbi jelek ini adalah nyawa. Dan malam ini, Rowan akan belajar seberapa mahal harga sebuah nyawa itu.Bekal yang Tak Dimakan Badai salju menderu di luar. Pintu gubuk terbuka kasar oleh angin. Sosok tua itu masuk dengan tubuh gemetar hebat. Hans pulang dengan mantel kulit yang sudah tipis dan bibir membiru. Tidak ada makanan di tangannya dan tidak ada koin. "Maafkan aku, Maria..." suara Hans parau, nyaris tak terdengar. "Pengepul menolak membeli kayu kita hari ini. Katanya terlalu basah karena badai." Maria, yang sedang menggendong Rowan di dekat tungku api, hanya tersenyum lembut. Dia meletakkan Rowan di keranjang anyaman, lalu menghampiri suaminya. "Tidak apa-apa, Hans. Kau pulang dengan selamat saja sudah cukup. Dewa masih sayang pada kita." Hans menunduk, wajah keriputnya penuh rasa bersalah. Tangan kasarnya merogoh saku dalam mantel dengan gemetar. Dia mengeluarkan sebuah bungkusan daun yang sudah layu. Di dalamnya, ada satu butir kentang rebus kecil yang sudah dingin dan keras seperti batu. Rowan, yang mengintip dari keranjang bayi, mengenali kentang itu. Tunggu... Itu kan bekal makan siang yang Ibu siapkan tadi pagi? "Aku... aku tadi terlalu sibuk menebang pohon," kata Hans sambil tersenyum canggung, berusaha menutupi suaranya yang lemah. "Aku lupa memakannya. Jadi... ini rejeki untuk makan malam kita." Kruyuuuuk. Suara perut Hans berbunyi sangat keras, memecahkan kebohongan itu seketika. Hening. Maria menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Dia tahu Hans berbohong. Pria tua itu tidak "lupa" makan. Dia sengaja menahan lapar seharian di tengah badai salju, mengayunkan kapak berat dengan perut kosong, hanya supaya kentang kecil ini bisa dibawa pulang kembali. "Hans..." suara Maria bergetar. "Sstt... jangan menangis," potong Hans cepat. Dia membelah kentang kecil itu dengan tangan gemetar. "Ayo. Kau makan kulitnya, aku makan tengahnya sedikit, dan sisanya buat Jagoan Kecil kita." Rowan menatap Hans dari balik selimutnya. Hatinya mencelos. Orang tua bodoh, batin Rowan. Matanya terasa panas. Kau bekerja seperti budak, kedinginan, dan kelaparan... hanya demi menyelamatkan anak pungut sepertiku? Di kehidupan lamanya, Rowan sering membuang makanan sisa restoran mahal tanpa pikir panjang. Tapi malam ini, melihat Hans menyodorkan potongan kentang dingin itu... Rowan bersumpah, itu adalah makanan paling berharga yang pernah dia lihat. "Aaa... buka mulutnya, Rowan," kata Hans dengan senyum tulus, mengabaikan perutnya sendiri yang menjerit kelaparan. Rowan membuka mulutnya. Dia menelan harga dirinya, dan memakan pengorbanan ayahnya. Rasanya hambar dan dingin. Tapi di tenggorokan Rowan, itu terasa hangat. Aku akan membalas ini, Yah. Aku bersumpah. Aku tidak peduli kalau harus membunuh monster, menipu, atau menghancurkan dunia ini sekalipun. Aku akan membuat gubuk ini menjadi istana untuk kalian.Rowan melangkah masuk ke dalam guild, diikuti oleh Sylphi. Suasana di dalam langsung terasa ramai. Beberapa petualang berdiri di depan meja resepsionis, beberapa berbicara santai dengan rekan mereka, sementara yang lain terlihat sibuk merapikan perlengkapan. Namun, yang menarik perhatian banyak orang bukanlah Rowan melainkan Sylphi. Sebagai seorang elf yang cantik dan kulit putih,Tatapan mereka tajam, penuh rasa penasaran. Rowan tahu betul apa yang ada dalam pikiran mereka. Elf di dekat manusia pasti adalah seorang budak. Namun, dia tidak peduli.Sylphi, di sisi lain, merasakan tatapan itu dengan jelas. Meskipun dia sudah terbiasa, masih ada sedikit rasa canggung di matanya. Matanya menunduk, mencoba mengabaikan pandangan yang terus mengarah kepadanya. Namun, Rowan bisa melihat dari sudut matanya bahwa itu masih terasa berat baginya.Rowan meliriknya sekilas. “Jangan pedulikan mereka,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Sylphi. Dengan langkah tegas, dia bergerak m
Pagi di Kota Lotus terasa cerah dan hangat. Cahaya matahari jatuh lembut di jalanan batu, membuat kota terlihat hidup sejak pagi hari. Pasar sudah ramai, suara pedagang bercampur dengan langkah kaki orang-orang yang berlalu-lalang, sementara aroma makanan dan rempah memenuhi udara.Di tengah keramaian itu, Rowan dan Sylphi berjalan berdampingan.Hari ini mereka tidak sekadar berjalan-jalan. Mereka sedang mempersiapkan perjalanan ke kota berikutnya.Rowan sudah memutuskan untuk tidak menggunakan kereta kuda. Kali ini mereka akan berjalan kaki, bukan hanya untuk menghemat, tetapi juga karena Rowan ingin melatih Sylphi selama perjalanan.Perjalanan itu tidak singkat. Untuk mencapai kota berikutnya, mereka membutuhkan waktu sekitar dua minggu jika berjalan kaki.Itu berarti mereka harus mempersiapkan banyak hal.Makanan, perlengkapan, dan senjata.Rowan berhenti di depan sebuah toko pandai besi. Papan kayu di atas pintu bergoyang pelan tertiup angin, menandakan tempat itu sudah lama berdir
[Restoran Kota Lotus]Restoran itu sederhana, tapi ramai. Aroma makanan memenuhi udara—daging panggang, sup hangat, dan bumbu tajam bercampur menjadi satu. Suara tawa, percakapan, dan dentingan gelas saling bertabrakan, membuat ruangan terasa hidup.Namun di tengah keramaian itu, ada satu meja yang terasa berbeda.Beberapa orang melirik. Tatapan sinis. Tidak suka.Sumbernya jelas.Rowan dan Sylphi.Tubuh elf itu masih kurus, kotor, dan lemah. Meskipun tertutup jubah, penampilannya tetap mencolok. Tidak seperti pelanggan lain.Rowan duduk tenang. Tidak peduli.“…makan.”Sylphi langsung bergerak.Tidak bertanya. Tidak menolak.Dia mulai makan.Awalnya pelan. Ragu.Lalu—lebih cepat.Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh makanan hangat itu. Sup yang layak. Daging yang benar-benar daging. Roti yang tidak keras seperti batu.Sudah lama.Terlalu lama.Air mata jatuh.Diam. Tanpa suara.Rowan memperhatikannya sebentar.“…hanya karena ini.”Makanan murah.Namun bagi Sylphi—itu cukup
[Ruang Budak – Dalam Gedung]Udara di dalam gedung pasar budak terasa berat dan pengap. Bau keringat, darah, dan kelembapan bercampur menjadi satu, membuat siapa pun yang masuk akan langsung merasa tidak nyaman. Cahaya dari batu sihir di dinding hanya cukup untuk menerangi sebagian lorong, sementara bagian lain tenggelam dalam bayangan gelap.Rowan berjalan perlahan di dalam ruangan itu.Di kiri dan kanan, deretan sel berdiri rapat. Di dalamnya, berbagai ras dikurung tanpa perbedaan—manusia, beastkin, bahkan elf. Tidak ada yang terlihat layak. Beberapa duduk diam dengan tatapan kosong, beberapa terbaring lemah, dan ada juga yang bahkan tidak bergerak sama sekali.Penjaga di sampingnya mendengus pelan. “Jadi, Tuan…” “Mau yang seperti apa?”Rowan tidak menoleh. “…aku mau lihat dulu.”Penjaga mendecak. “…cih.”Dia bergumam pelan. “Banyak juga yang cuma lihat-lihat.” “Ujungnya tidak beli.”Rowan tidak peduli.Dia terus berjalan.Semakin dalam—Semakin gelap.Cahaya batu sihir mulai b
[Gerbang Kota Lotus]Kereta mereka berhenti, pintu kereta terbuka, penumpang turun satu persatu, rowan merasakan udara yang berbeda tidak lagi dingin tapi hangat, rowan turun bagian akhir, matanya langsung melihat kedepan gerbang kota yang besar, orang orang yang ramai mengantri untuk masuk dan keluar.Beberapa anggota guild membantu kusir yang terluka.“Cepat, bawa dia ke pusat pemulihan.”“Lukanya dalam.”Mereka bergerak cepat.Salah satu anggota guild menoleh ke Rowan.“Hei, anak muda.”Rowan berhenti.“Kalau kau cari penginapan…”Dia menunjuk ke arah utara.“…ke sana.”“Kau pasti langsung tahu tempatnya.”Rowan mengangguk.“…terima kasih.”Tanpa banyak kata rowang langsung pergi.[Jalan Kota – Pagi Hari]Kota Lotus yang terasa hiudp lebih ramai dari eldrham, banyak pedagang yang saling berteriak agar pelanggan membeli dagangannya, banyak dagangan berjejer, makanan, senjata, kain. Rowab berjalan pelan matanya bergerak pada sesuatu yang tidak biasa bagi dirinya, sebuah kereta dengan
[Hutan Frosheim]Salju masih turun.Tipis.Beberapa sosok berdiri di tengah hutan.Ketua guild.Dan beberapa anggota lainnya.Tanah di depan mereka—berantakan.Tubuh-tubuh tergeletak di atas salju.Darah membeku.Bekas tebasan terlihat jelas.Cepat.Bersih.“…tidak lama.”Salah satu anggota berlutut.Memeriksa luka.“Sekali tebas.”“…tanpa ragu.”Asisten guild menelan ludah.“Guild Master… apakah Anda tahu siapa pelakunya?”Hening.Ketua guild menatap tubuh-tubuh itu.Matanya tenang.Lalu—senyum tipis muncul.“…aku punya gambaran.”Dia menghela napas pelan.“Aku sudah bilang…”Tatapannya sedikit berubah.“…jangan buat masalah di desa.”Hening.“Tapi…”Dia menoleh ke arah hutan yang lebih dalam.“…ini terjadi di luar desa.”Senyumnya melebar sedikit.“…jadi…”“…sulit menyalahkannya.”Beberapa anggota guild saling melirik.“…Anda tidak akan menyelidikinya?”Ketua guild terkekeh pelan.“Yang mati…”“…mencari masalah duluan.”Hening.“…anggap saja ini pelajaran.”Dia berbalik.“Kita sele







![Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)