LOGIN[Usia Rowan: 4 Tahun] [Lokasi: Halaman Belakang Gubuk]
Empat tahun telah berlalu. Bagi kebanyakan orang, masa kecil adalah masa bermain. Tapi bagi Rowan, ini adalah empat tahun penahanan dalam penjara daging yang lemah . Matahari sore menyinari halaman belakang gubuk yang berdebu. Seorang bocah laki-laki berambut hitam dengan mata yang terlalu dewasa untuk usianya sedang melakukan sesuatu yang aneh. Dia sedang mencoba push-up. "Satu..." desis Rowan, tangannya gemetar hebat. "Dua..." wajahnya memerah padam. "Ti... ga..." BRUK! Tubuh mungilnya ambruk mencium tanah. Napasnya memburu seolah dia baru lari maraton, padahal dia cuma mengangkat tubuhnya sendiri sebanyak tiga kali. Rowan membalikkan badannya, menatap langit biru dengan tatapan kosong. "Menyedihkan," rutuknya. "Di kehidupan lalu, aku bisa bench press 50 kilo sambil menelepon klien. Sekarang? Mengangkat kepala sendiri saja berat." Dia memanggil statusnya. [STATUS WINDOW] Nama: Rowan Usia: 4 Tahun Level: 1 Strength: 2 Agility: 3 Stamina: 2/5 Mana: 1 "Strength 2..." Rowan tertawa miris. "Ayam tetangga bahkan mungkin punya Strength 3." Masalah utamanya bukan pada pengetahuannya. Di dalam kepalanya, tersimpan perpustakaan teknik pedang tingkat Dewa. Dia tahu cara membelah batu. Dia tahu cara memotong aliran udara. Dia tahu titik vital naga. Tapi semua itu tidak berguna jika wadahnya kosong. Rowan bangkit duduk. Dia melihat sebatang ranting pohon oak yang tergeletak. Dia memungutnya. Matanya menajam. Aura bermain anak kecil hilang seketika, digantikan oleh aura pembunuh Sword Master. "Coba sekali lagi. Teknik paling dasar." [Skill Aktif: Vertical Slash (Rank D)] Deskripsi: Tebasan vertikal dasar yang memusatkan seluruh berat tubuh dan gravitasi pada satu titik potong. "Teorinya mudah," gumam Rowan, mengatur napas. "Geser kaki kiri 30 derajat. Kunci siku. Putar pinggang. Ayunkan." Otot memorinya (dari jiwa lamanya) berteriak siap. Tapi otot fisiknya (tubuh 4 tahun) menjerit panik. SRET! Rowan mengayunkan ranting itu sekuat tenaga. Namun, momentum ayunan itu terlalu besar. Tubuh balitanya tidak punya core strength (otot inti) untuk menahan gaya sentrifugal. KLAK! Kakinya tersandung akar. Dia terpelanting ke depan. Wajahnya menghantam tanah keras. Ranting di tangannya patah jadi dua. "Argh..." Rowan meludah. Ada rasa tanah di mulutnya. Bibirnya pecah berdarah. Bukan karena pukulan musuh. Tapi karena dia tersandung sendiri. "Sialan..." air mata frustrasi—bukan kesedihan—menggenang di pelupuk matanya. "Teknikku Rank S. Tapi tubuh ini cuma Level 1." [Peringatan: Stamina Habis (0/5)] [Status: Pingsan Ringan] Pandangannya mulai kabur. Dunia berputar. "Rowan!" Suara cemas terdengar. Maria berlari keluar dari gubuk, masih memegang sendok sup. Dia melihat anaknya telungkup di tanah dengan bibir berdarah. "Astaga, Sayang! Apa yang terjadi?" Maria langsung mengangkat tubuh kecil Rowan, mendekapnya erat. "Apa kau jatuh? Apa kau digigit serangga?" Tapi yang keluar dari mulutnya hanya, "Ungh... jatuh..." Hans muncul di belakang Maria, tertawa kecil melihat adegan itu. "Haha! Lihat itu, Bu. Jagoan kita pasti sedang latihan jadi Ksatria, ya?" Hans mengacak-acak rambut Rowan dengan bangga. "Anak pintar. Laki-laki memang harus banyak luka biar kuat!" Rowan, yang berada dalam gendongan Maria, hanya bisa mendengus pelan. Orang tua bodoh. Ini bukan main-main. Aku sedang mencoba menyelamatkan masa depan kita. Tapi, saat merasakan detak jantung Maria yang tenang dan tangan kasar Hans yang hangat di kepalanya... rasa frustrasi Rowan sedikit mereda. Dia sadar, dia terlalu terburu-buru. Di dunia korporat, dia terbiasa dengan hasil instan. Deadline besok, hasil harus ada sekarang. Tapi tubuh manusia tidak bekerja seperti itu. Baiklah, batin Rowan sambil membiarkan dirinya tertidur di pelukan Maria. Aku tidak bisa memaksakan tubuh ini. Tulangku masih lunak. Ototku belum tumbuh.[Usia Rowan: 8 Tahun] [Lokasi: Jalan Menuju Gubuk Hans - Dini Hari]Badai salju masih mengamuk, seolah alam ingin menghapus jejak darah dan dosa yang baru saja tumpah di alun-alun desa.Di tengah putihnya salju, sesosok tubuh kecil berjalan tertatih-tatih melawan angin. Setiap langkah adalah siksaan neraka.Seret... Pincang... Seret...Kaki kanan Rowan yang baru disambung terasa kaku dan asing. Bekas luka kasar berwarna cokelat tua di pergelangan kakinya bergesekan panas dengan kulit sepatu bot yang bolong. Tulang-tulangnya menjerit setiap kali menapak tanah, tapi dia memaksanya bergerak.Dia merogoh saku jubahnya yang compang-camping. Kosong.Dia meraba balik bajunya. Kosong.Tidak ada botol obat. Tidak ada daging. Tidak ada roti hangat. Semuanya sudah dirampas kembali oleh Denten dan para penjaga sialan itu.Rowan menunduk, menatap kedua tangannya yang gemetar karena kedinginan. Tangan kanannya kini memiliki pola jahitan luka yang mengerikan di tiga jarinya.Air mata Rowan sudah mem
[Lokasi: Alun-alun Desa Frosheim - Tengah Malam]Teng... Teng... Teng...Lonceng desa berbunyi. Suaranya berat, membangunkan seluruh penduduk Frosheim dari tidur lelap mereka.Di tengah badai salju yang mengamuk, obor-obor dinyalakan. Warga desa—tukang roti, pandai besi, petani—keluar dari rumah mereka dengan wajah ketakutan. Mereka tahu arti lonceng tengah malam: Eksekusi.Di tengah alun-alun, sebuah panggung kayu.Rowan diseret paksa oleh dua penjaga. Tubuhnya dilempar ke atas panggung yang lantainya tertutup es licin. Kedua tangannya diikat rantai besi ke sebuah balok kayu yang berlumuran darah beku lama."Lepaskan!" teriak Rowan, suaranya serak. Dia meronta, tapi tubuh kecilnya kalah kuat melawan rantai itu."Lihatlah!"Suara menggelegar Kepala Desa (Baron Frosheim) memecah keheningan. Dia berdiri di atas panggung, mengenakan jubah bulu putih yang mewah—kontras dengan baju Rowan yang compang-camping."Warga Frosheim! Malam ini kita menangkap seekor tikus!" Kepala Desa menunjuk Ro
[Lokasi: Gudang Penyimpanan Kepala Desa]Rumah Kepala Desa adalah satu-satunya bangunan batu dua lantai di Frosheim. Dindingnya licin, dan pagar besi setinggi tiga meter.Bagi orang biasa, ini benteng. Bagi Rowan, ini cuma taman bermain.Wush!Rowan melompati pagar besi tanpa suara. Kakinya mendarat di salju selembut kucing. Kecepatan Rowan sudah di luar nalar.Dia merayap di dinding, mencari ventilasi udara di lantai dua. "Mudah," batin Rowan. "Terlalu mudah."Dia masuk lewat celah ventilasi, mendarat di atas tumpukan karung gandum. Hawa hangat langsung menyapa kulitnya yang beku. Aroma surga menusuk hidungnya—daging asap, keju tua, dan roti gandum yang baru dipanggang.Perut Rowan berbunyi keras, melilit nyeri. Dia ingin memakan semuanya. Tapi dia menahan diri. Fokus. Obat dulu. Makanan nanti.Matanya yang tajam (berkat Mata Dewa Pedang) memindai ruangan gelap itu. Di rak paling atas, ada botol kaca berisi cairan merah.. [Item: Minor Healing Potion] Efek: Menyembuhkan penyakit par
[Usia Rowan: 8 Tahun] [Lokasi: Gubuk Hans - Desa Frosheim]Musim dingin tahun ini datang membawa dendam. Biasanya, badai salju di Frosheim hanya berlangsung seminggu, memberi jeda bagi matahari untuk muncul sehari, lalu badai lagi. Tapi tahun ini berbeda. Langit tertutup awan hitam pekat selama dua bulan tanpa henti.Di dalam gubuk reot itu, uap napas mereka membeku menjadi kristal es di udara sebelum menyentuh tanah. Kayu bakar sudah habis seminggu yang lalu. Perabot kayu—kursi makan, meja tua, bahkan rak sepatu—sudah mereka bakar demi mendapatkan sedikit kehangatan.Tapi itu tidak cukup."Uhuk... uhuk...!"Suara batuk Hans terdengar basah dan berat, seolah paru-parunya penuh air. Pria tua itu duduk meringkuk di dekat tungku yang hanya menyisakan bara merah redup. Wajahnya abu-abu, matanya cekung."Maafkan Ayah, Rowan..." bisik Hans, suaranya gemetar. "Ayah... tidak bisa pergi ke hutan. Kaki Ayah... tidak bisa digerakkan."Rowan menatap kaki Hans. Kulitnya menghitam karena frostbit
[Usia Rowan: 7 Tahun] [Lokasi: Gerbang Desa Frosheim]"Wah, lihat," kata Denten, menendang perut babi hutan hasil buruan Rowan. "Si Anak Pungut bawa makan siang buat kita."Denten adalah anak Kepala Desa. Usianya 10 tahun, tubuhnya bongsor karena gizi yang cukup, dan dia punya hobi menyiksa anak-anak yang lebih lemah.Rowan menatap mereka datar. Tangannya masih mencengkeram kaki babi hutan itu erat-erat. "Minggir," katanya pelan."Hah? Kau bicara apa?" Denten mendekatkan telinganya dengan gaya mengejek. "Minggir? Kau menyuruhku minggir di tanah ayahku?""Itu milikku," kata Rowan, suaranya mulai menajam. "Aku memburunya di hutan. Minggir atau...""Atau apa?" potong Denten. Dia maju selangkah, lalu mendorong dada Rowan keras-keras.BRUK!Rowan jatuh terduduk. Biasanya, dia bisa menahan dorongan itu. Dia bisa mematahkan jari Denten dalam sekejap. Tapi sekarang...[Stamina: 0/15] [Status: Kelelahan Ekstrem]Tubuhnya tidak mau bergerak. Otot-ototnya mati rasa setelah menyeret beban 50kg se
[Usia Rowan: 7 Tahun] [Lokasi: Pinggiran Hutan Frosheim - Zona Aman]Tiga tahun kemudian.Hutan Frosheim di pagi hari tertutup kabut tebal. Embun membeku di ujung dedaunan. Suasana sunyi, hanya ada suara derit salju yang dipijak.Rowan, kini berusia tujuh tahun, berdiri diam di balik batang pohon besar. Tubuhnya tidak lagi seringkih dulu. Meski masih kurus karena kurang gizi, matanya tajam dan fokus.Di tangannya, bukan lagi ranting rapuh, melainkan Tongkat Kayu Ulin yang sudah dia runcingkan ujungnya dan dibakar di atas api agar keras seperti besi.Di depannya, sekitar sepuluh meter, target pertamanya sedang mengais akar di bawah salju.[Status Window] Target: Babi Hutan Salju (Snow Boar) Level: 2 Berat: 80 kg Status: Lapar / Agresif Kelemahan: Telinga bagian dalam, Mata. "Daging..." gumam Rowan pelan. Air liurnya terbit. Sudah seminggu Hans tidak mendapatkan buruan. Maria mulai batuk-batuk karena kedinginan dan kurang asupan lemak. Babi hutan ini bukan sekadar monster bagi Ro







