Inicio / Fantasi / Snowborn Sword God / Bab 1: Kontrak Kematian

Compartir

Snowborn Sword God
Snowborn Sword God
Autor: GSilva

Bab 1: Kontrak Kematian

Autor: GSilva
last update Fecha de publicación: 2026-03-13 11:45:41

Jam dinding menunjuk angka 03.45 pagi.

Rowan (35 tahun) menatap kursor yang berkedip di layar monitornya. Di saku kemejanya, surat pengunduran diri sudah terlipat rapi. Besok, pikirnya. Besok aku akan melempar surat ini ke muka Bos, lalu tidur selama yang aku mau.

Rowan mencoba berdiri, tapi jantungnya tiba-tiba berdetak kencang—seperti drum yang dipukul gila-gilaan—lalu berhenti mendadak.

Hah?

Dunia berputar. Kopi dingin di mejanya tumpah. Tubuhnya ambruk menghantam lantai kantor. Hal terakhir yang dia pikirkan bukan tentang keluarga atau Tuhan, melainkan: Sialan... aku mati saat lembur tanpa dibayar? Konyol sekali.

(Kegelapan Mutlak)

[Lokasi: Ruang Hampa (Limbo)]

Cahaya putih meledak. Rowan tersentak. Di depannya, Dewi Reinkarnasi duduk di singgasana jam pasir, menatapnya bosan.

"Kau mati karena kerja lembur. Konyol sekali. Tapi sesuai prosedur, kau berhak reinkarnasi ke dunia Aeterra."

"Aeterra?" ulang Rowan, mengangkat alis. "Apa ini dunia fantasi standar? Peri cantik? Petualangan santai?"

Dewi tertawa. Bukan tawa sopan, tapi tawa mengejek yang menggema di ruang hampa.

"Jangan mimpi, Manusia," desis Dewi. Dia menjentikkan jarinya, menampilkan proyeksi hologram dunia Aeterra yang suram.

"Aeterra bukan dongeng pengantar tidur. Itu adalah Dunia Sisa Perang Dewa. Di sana, Hukum Rimba adalah satu-satunya konstitusi. Yang kuat memakan yang lemah. Yang punya Mana adalah raja, yang tidak punya adalah budak."

Proyeksi itu menunjukkan monster raksasa yang menghancurkan satu desa dalam sekali jalan, dan bangsawan yang menyiksa rakyat jelata dengan sihir.

"Di Aeterra, tidak ada jaminan HAM, tidak ada asuransi, dan tidak ada pensiun. Kau bisa mati kapan saja—dimakan Behemoth saat tidur, ditusuk perampok saat makan, atau dieksekusi bangsawan hanya karena kau menatap mata mereka."

Rowan terdiam menatap proyeksi mengerikan itu. Otak bisnisnya berputar cepat. Dunia ini bukan pasar bebas. Ini monopoli kekerasan. Kalau aku tidak jadi predator puncaknya, aku yang akan dimakan.

Dewi itu menjentikkan jarinya. WUSHHH!

Ruang hampa itu seketika berubah menjadi galaksi kartu. Ribuan kartu bercahaya melayang di udara, berputar mengelilingi Rowan seperti bintang-bintang. Ada yang bersinar emas menyilaukan, ada yang merah membara, ada juga yang abu-abu kusam.

"Ini adalah Perpustakaan Takdir," kata Dewi, suaranya menggema. "Berdasarkan karma kerjamu, kau punya 10 Slot Kosong di jiwamu. Isilah dengan bijak."

Sebuah papan transparan muncul di depan Rowan:

[KUOTA KARTU ANDA]

• Rank S: Pilih 1 Kartu

• Rank A: Pilih 1 Kartu

• Rank B: Pilih 2 Kartu

• Rank C: Pilih 2 Kartu

• Rank D: Pilih 2 Kartu

• Rank F: Pilih 2 Kartu

"Silakan belanja," ujar Dewi sambil menopang dagu. "Pilihlah skill yang akan menyelamatkan nyawamu."

Rowan tidak panik. Matanya yang tajam memindai ribuan kartu itu layaknya sedang melihat laporan saham.

Memilih Rank S Rowan melihat deretan kartu Emas. Ada [Archmage] (Penyihir Agung), ada [Dragon Slayer], ada [Necromancer]. Tangan Rowan melewati semua itu dan menyambar satu kartu dengan gambar pedang bersayap.

PILIHAN: [Rank S: Sword Master] "Aku lebih suka sesuatu yang pasti. Pedang tidak pernah berbohong," gumamnya.

Memilih Rank A Rowan melihat deretan kartu Merah. Ada [Teleportation], [Stealth], [Explosion Magic]. Tanpa ragu, dia mengambil kartu bergambar sel DNA yang membelah diri.

PILIHAN: [Rank A: Cellular Regeneration] "Serangan fisik sudah punya. Sekarang butuh asuransi kesehatan."

Memilih Rank B - F Untuk sisa slotnya, Rowan asal ambil saja dari udara. Dia butuh mengisi kuota agar bisa melakukan rencananya.

• Rank B: Dia ambil [Cooking] dan [Archery].

• Rank C: Dia ambil [Map] dan [Language].

• Rank D: Dia ambil [Night Vision] dan [Cold Resistance].

• Rank F: Dia ambil [Cleaning] dan [Sewing].

"Selesai," kata Rowan. Kesepuluh kartu itu kini melayang rapi di hadapannya.

Dewi mengangguk. "Pilihan yang standar. Kau punya serangan, pertahanan, dan skill bertahan hidup yang lengkap. Kau siap diberangkatkan?"

Rowan tersenyum tipis. Senyum seorang penipu ulung.

"Tunggu sebentar, Bu Dewi. Aku ingin mengajukan Tukar Tambah."

Dewi mengernyit. "Maksudmu?"

Rowan mengambil kartu [Rank S: Sword Master] dan [Rank A: Regeneration],

Kemudian, dia menyapu 8 Kartu Sisanya (Rank B, C, D, dan F) ke tengah meja imajiner.

"Aku kembalikan semua sampah ini," kata Rowan dingin. "Aku tidak butuh masak. Aku tidak butuh peta. Aku tidak butuh melihat dalam gelap."

"Kau gila?!" Dewi bangkit dari duduknya. "Kau membuang [Map] dan [Common Language]? Kau akan lahir di dunia itu sebagai bayi! Kau cari mati?"

"Aku cari kekuatan," potong Rowan. "Aku ingin menukar 8 kartu penunjang hidup ini... dengan Satu Kartu Rank S Tambahan."

Dewi terdiam. Dia menatap tumpukan kartu yang dibuang Rowan. Secara nilai matematik, 8 kartu level menengah-bawah memang setara dengan 1 kartu level atas. Tapi secara logika bertahan hidup, itu tindakan bunuh diri.

"Kau mau menukar kenyamanan hidupmu demi kekuatan tempur?" tanya Dewi, nada suaranya berubah antara kagum dan ngeri.

"Aku mau kartu itu," Rowan menunjuk ke satu kartu Emas yang masih melayang di kejauhan. [Rank S: Magic Swordsman].

"Berikan itu padaku. Biar kulengkapi koleksiku."

Dewi menyeringai lebar. "Manusia serakah. Baiklah! Jika kau begitu ingin menderita... KABULKAN!"

WUSHHH!

Kedelapan kartu penunjang (Masak, Peta, Tahan Dingin, dll) terbakar menjadi abu. Sebagai gantinya, kartu [Rank S: Magic Swordsman] terbang ke tangan Rowan.

Kini, Rowan hanya memegang tiga kartu:

1. [Rank S: Sword Master]

2. [Rank S: Magic Swordsman]

3. [Rank A: Regeneration]

Tiba-tiba, kedua kartu Rank S di tangan kanan dan kirinya bergetar hebat. Mereka saling tarik-menarik.

KRAK!

Cahaya ungu meledak menyilaukan. Saat cahaya itu pudar, Rowan kini hanya memegang Dua Kartu di tangannya.

Rowan mengangkat kartu pertama—hasil gila dari penggabungan dua Rank S.

[Title Card: GOD OF SWORD]

• Visual Kartu: Terbuat dari bahan seperti Obsidian Cair yang berdenyut dengan urat emas. Di tengahnya, ada ilustrasi bergerak: Sebuah mata raksasa yang pupilnya berbentuk bilah pedang vertikal, menatap angkuh ke arah ribuan senjata yang menancap di bawahnya.

[Divine Passive Effects]: Sovereign of All Blades (Penguasa Segala Bilah): Rowan mendapatkan pemahaman tingkat Grandmaster instan untuk semua jenis kategori pedang.

Efek: Bonus Damage +250% saat menggunakan semua jenis kategori pedang.

Mana-Sword Fusion (Jantung Pedang Sihir): Mengonversi Mana menjadi Aura (Sword Aura) dan mengonversi Aura menjadi Mana (Sword Magic) yang menyelimuti senjata. Aura ini bisa memotong baja, membakar (Api), atau membekukan (Es) tanpa perlu mantra sihir. Cukup dengan keinginan.

Everything is a Sword (Segalanya Adalah Pedang): Di mata Rowan, konsep "pedang" tidak terbatas pada besi. Ranting pohon, sendok, atau tulang—selama benda itu panjang, di tangan Rowan benda itu akan memiliki ketajaman dan ketahanan setara Baja Damaskus (selama dialiri Mana).

Sword Intent (Niat Pedang): Kehadiran Rowan memancarkan aura intimidasi. Musuh dengan mental lemah akan merasa "terpotong" hanya dengan melihat tatapan Rowan.

Divine Sword Eye (Mata Dewa Pedang): Karena seorang ahli pedang harus tahu di mana harus memotong, Rowan diberikan penglihatan absolut.

Analisa Tempur: Melihat Status Musuh (Level, HP, Mana) secara mendetail. Death Line: Melihat "Garis Kematian" atau titik lemah vital pada tubuh musuh (jantung, celah armor, aliran darah).

"Indah sekali," gumam Rowan. "Rasanya aku bisa membelah dewa hanya dengan melihat kartu ini."

Lalu, dia beralih ke kartu kedua—satu-satunya asuransi nyawa yang dia miliki.

[Skill Card Rank A: CELLULAR REGENERATION]

Visual: Berbeda dengan kartu Dewa yang agung, kartu ini terlihat... hidup. Warnanya Merah Darah Pekat. Di tengahnya, ada gambar untaian DNA yang putus namun sedang menjahit dirinya sendiri menggunakan benang cahaya.

Effect: Menyembuhkan luka fatal, menumbuhkan anggota tubuh yang putus, dan menetralisir racun dalam hitungan detik. Cost: Sangat Tinggi. Membutuhkan konsumsi Mana besar per detik aktivasi. Warning: Jika Mana habis saat proses berlangsung, regenerasi akan mengambil dari sisa hp dan meninggalkan bekas luka.

Sang Dewi menatap kedua kartu itu dengan tatapan rumit. "Kombinasi yang mengerikan. [God of Sword] memberimu kemampuan membunuh apa saja, dan [Regeneration] membuatmu sulit dibunuh."

"Tapi ingat peringatanku, Rowan..." Dewi menunjuk kartu merah yang berdenyut itu. "Skill Rank A itu adalah parasit. Jika wadah Mana-mu kecil, dia akan memakan vitalitas hidupmu sebagai gantinya."

"Nikmatilah gelarmu itu, Dewa Kecil," bisik Dewi saat tubuh Rowan mulai memudar. "

WUSHHH!

Dingin. Bukan dingin AC kantor. Ini dingin yang menusuk sampai ke tulang.

Rowan membuka mata. Tidak ada bantal empuk. Dia tergeletak di atas tumpukan salju di tengah hutan gelap. Dia mencoba berteriak, "WOY! Layanannya mana?!"

"Oeeeekkk! Oeeekkk!"

Suara bayi? Rowan terbelalak melihat tangan mungilnya yang merah membiru. Sialan kau, Dewi! Kau melempar pria 35 tahun ke hutan salju dalam wujud bayi?! Ini bukan isekai, ini survival horror!

Tubuhnya mulai kaku. Napasnya memutih. Saat kesadarannya mulai hilang karena hipotermia, sebuah tangan kasar dan hangat mengangkatnya.

"Maria! Lihat! Ada bayi!" suara parau seorang kakek terdengar. "Ya Tuhan... siapa iblis yang membuang malaikat kecil ini?"

Rowan merasakan pelukan erat seorang wanita tua. Baunya apek, campur keringat dan kayu bakar. Tapi bagi Rowan yang baru saja mati kedinginan di lantai kantor... itu adalah kehangatan paling mewah yang pernah ia rasakan.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Snowborn Sword God   Bab 20: Misi Pengawalan

    Rowan melangkah masuk ke dalam guild, diikuti oleh Sylphi. Suasana di dalam langsung terasa ramai. Beberapa petualang berdiri di depan meja resepsionis, beberapa berbicara santai dengan rekan mereka, sementara yang lain terlihat sibuk merapikan perlengkapan. Namun, yang menarik perhatian banyak orang bukanlah Rowan melainkan Sylphi. Sebagai seorang elf yang cantik dan kulit putih,Tatapan mereka tajam, penuh rasa penasaran. Rowan tahu betul apa yang ada dalam pikiran mereka. Elf di dekat manusia pasti adalah seorang budak. Namun, dia tidak peduli.Sylphi, di sisi lain, merasakan tatapan itu dengan jelas. Meskipun dia sudah terbiasa, masih ada sedikit rasa canggung di matanya. Matanya menunduk, mencoba mengabaikan pandangan yang terus mengarah kepadanya. Namun, Rowan bisa melihat dari sudut matanya bahwa itu masih terasa berat baginya.Rowan meliriknya sekilas. “Jangan pedulikan mereka,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Sylphi. Dengan langkah tegas, dia bergerak m

  • Snowborn Sword God   Bab 19: Persiapan Perjalanan

    Pagi di Kota Lotus terasa cerah dan hangat. Cahaya matahari jatuh lembut di jalanan batu, membuat kota terlihat hidup sejak pagi hari. Pasar sudah ramai, suara pedagang bercampur dengan langkah kaki orang-orang yang berlalu-lalang, sementara aroma makanan dan rempah memenuhi udara.Di tengah keramaian itu, Rowan dan Sylphi berjalan berdampingan.Hari ini mereka tidak sekadar berjalan-jalan. Mereka sedang mempersiapkan perjalanan ke kota berikutnya.Rowan sudah memutuskan untuk tidak menggunakan kereta kuda. Kali ini mereka akan berjalan kaki, bukan hanya untuk menghemat, tetapi juga karena Rowan ingin melatih Sylphi selama perjalanan.Perjalanan itu tidak singkat. Untuk mencapai kota berikutnya, mereka membutuhkan waktu sekitar dua minggu jika berjalan kaki.Itu berarti mereka harus mempersiapkan banyak hal.Makanan, perlengkapan, dan senjata.Rowan berhenti di depan sebuah toko pandai besi. Papan kayu di atas pintu bergoyang pelan tertiup angin, menandakan tempat itu sudah lama berdir

  • Snowborn Sword God   Bab 18: Suara yang Hilang

    [Restoran Kota Lotus]Restoran itu sederhana, tapi ramai. Aroma makanan memenuhi udara—daging panggang, sup hangat, dan bumbu tajam bercampur menjadi satu. Suara tawa, percakapan, dan dentingan gelas saling bertabrakan, membuat ruangan terasa hidup.Namun di tengah keramaian itu, ada satu meja yang terasa berbeda.Beberapa orang melirik. Tatapan sinis. Tidak suka.Sumbernya jelas.Rowan dan Sylphi.Tubuh elf itu masih kurus, kotor, dan lemah. Meskipun tertutup jubah, penampilannya tetap mencolok. Tidak seperti pelanggan lain.Rowan duduk tenang. Tidak peduli.“…makan.”Sylphi langsung bergerak.Tidak bertanya. Tidak menolak.Dia mulai makan.Awalnya pelan. Ragu.Lalu—lebih cepat.Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh makanan hangat itu. Sup yang layak. Daging yang benar-benar daging. Roti yang tidak keras seperti batu.Sudah lama.Terlalu lama.Air mata jatuh.Diam. Tanpa suara.Rowan memperhatikannya sebentar.“…hanya karena ini.”Makanan murah.Namun bagi Sylphi—itu cukup

  • Snowborn Sword God   Bab 17: Yang Terlupakan

    [Ruang Budak – Dalam Gedung]Udara di dalam gedung pasar budak terasa berat dan pengap. Bau keringat, darah, dan kelembapan bercampur menjadi satu, membuat siapa pun yang masuk akan langsung merasa tidak nyaman. Cahaya dari batu sihir di dinding hanya cukup untuk menerangi sebagian lorong, sementara bagian lain tenggelam dalam bayangan gelap.Rowan berjalan perlahan di dalam ruangan itu.Di kiri dan kanan, deretan sel berdiri rapat. Di dalamnya, berbagai ras dikurung tanpa perbedaan—manusia, beastkin, bahkan elf. Tidak ada yang terlihat layak. Beberapa duduk diam dengan tatapan kosong, beberapa terbaring lemah, dan ada juga yang bahkan tidak bergerak sama sekali.Penjaga di sampingnya mendengus pelan. “Jadi, Tuan…” “Mau yang seperti apa?”Rowan tidak menoleh. “…aku mau lihat dulu.”Penjaga mendecak. “…cih.”Dia bergumam pelan. “Banyak juga yang cuma lihat-lihat.” “Ujungnya tidak beli.”Rowan tidak peduli.Dia terus berjalan.Semakin dalam—Semakin gelap.Cahaya batu sihir mulai b

  • Snowborn Sword God   Bab 16: Kota Lotus

    [Gerbang Kota Lotus]Kereta mereka berhenti, pintu kereta terbuka, penumpang turun satu persatu, rowan merasakan udara yang berbeda tidak lagi dingin tapi hangat, rowan turun bagian akhir, matanya langsung melihat kedepan gerbang kota yang besar, orang orang yang ramai mengantri untuk masuk dan keluar.Beberapa anggota guild membantu kusir yang terluka.“Cepat, bawa dia ke pusat pemulihan.”“Lukanya dalam.”Mereka bergerak cepat.Salah satu anggota guild menoleh ke Rowan.“Hei, anak muda.”Rowan berhenti.“Kalau kau cari penginapan…”Dia menunjuk ke arah utara.“…ke sana.”“Kau pasti langsung tahu tempatnya.”Rowan mengangguk.“…terima kasih.”Tanpa banyak kata rowang langsung pergi.[Jalan Kota – Pagi Hari]Kota Lotus yang terasa hiudp lebih ramai dari eldrham, banyak pedagang yang saling berteriak agar pelanggan membeli dagangannya, banyak dagangan berjejer, makanan, senjata, kain. Rowab berjalan pelan matanya bergerak pada sesuatu yang tidak biasa bagi dirinya, sebuah kereta dengan

  • Snowborn Sword God   Bab 15: Perjalanan

    [Hutan Frosheim]Salju masih turun.Tipis.Beberapa sosok berdiri di tengah hutan.Ketua guild.Dan beberapa anggota lainnya.Tanah di depan mereka—berantakan.Tubuh-tubuh tergeletak di atas salju.Darah membeku.Bekas tebasan terlihat jelas.Cepat.Bersih.“…tidak lama.”Salah satu anggota berlutut.Memeriksa luka.“Sekali tebas.”“…tanpa ragu.”Asisten guild menelan ludah.“Guild Master… apakah Anda tahu siapa pelakunya?”Hening.Ketua guild menatap tubuh-tubuh itu.Matanya tenang.Lalu—senyum tipis muncul.“…aku punya gambaran.”Dia menghela napas pelan.“Aku sudah bilang…”Tatapannya sedikit berubah.“…jangan buat masalah di desa.”Hening.“Tapi…”Dia menoleh ke arah hutan yang lebih dalam.“…ini terjadi di luar desa.”Senyumnya melebar sedikit.“…jadi…”“…sulit menyalahkannya.”Beberapa anggota guild saling melirik.“…Anda tidak akan menyelidikinya?”Ketua guild terkekeh pelan.“Yang mati…”“…mencari masalah duluan.”Hening.“…anggap saja ini pelajaran.”Dia berbalik.“Kita sele

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status