LOGIN[Usia Rowan: 7 Tahun] [Lokasi: Pinggiran Hutan Frosheim - Zona Aman]
Tiga tahun kemudian. Hutan Frosheim di pagi hari tertutup kabut tebal. Embun membeku di ujung dedaunan. Suasana sunyi, hanya ada suara derit salju yang dipijak. Rowan, kini berusia tujuh tahun, berdiri diam di balik batang pohon besar. Tubuhnya tidak lagi seringkih dulu. Meski masih kurus karena kurang gizi, matanya tajam dan fokus. Di tangannya, bukan lagi ranting rapuh, melainkan Tongkat Kayu Ulin yang sudah dia runcingkan ujungnya dan dibakar di atas api agar keras seperti besi. Di depannya, sekitar sepuluh meter, target pertamanya sedang mengais akar di bawah salju. [Status Window] Target: Babi Hutan Salju (Snow Boar) Level: 2 Berat: 80 kg Status: Lapar / Agresif Kelemahan: Telinga bagian dalam, Mata. "Daging..." gumam Rowan pelan. Air liurnya terbit. Sudah seminggu Hans tidak mendapatkan buruan. Maria mulai batuk-batuk karena kedinginan dan kurang asupan lemak. Babi hutan ini bukan sekadar monster bagi Rowan. Ini adalah Sup Daging Hangat untuk seminggu penuh. KROSAK! Si Babi Hutan mendadak berhenti mengais. Telinganya bergerak. Hidungnya mengendus bau manusia. Mata merahnya langsung menatap lurus ke tempat persembunyian Rowan. "Ketahuan," batin Rowan tenang. GROOK! Babi itu tidak lari. Hewan itu mendengus kasar, uap panas keluar dari hidungnya, lalu menerjang maju. Tanah bergetar. Kecepatan larinya mengerikan untuk ukuran hewan gemuk. Taring kuningnya yang mencuat siap merobek perut anak kecil manapun yang menghalanginya. Rowan tidak lari. Dia memasang kuda-kuda rendah. Dia tahu dia tidak bisa adu tenaga (Strength). Jika dia menahan serudukan itu, tulang tangannya akan patah. "Ayo... lebih dekat lagi..." Jarak tinggal lima meter. Tiga meter. Satu meter. Bau napas busuk babi itu sudah tercium. Sekarang! Rowan melakukan Sidestep (Langkah Samping) yang sangat tipis. Dia membiarkan tubuh besar babi itu melewatinya hanya selisih satu jengkal dari pinggangnya. Di momen sepersekian detik saat leher babi itu terbuka di sampingnya, Rowan menusukkan tongkat kayunya. "[Technique: Pierce]" Bukan menebas kulitnya yang tebal, Rowan menusuk tepat ke lubang telinga babi itu—satu-satunya jalan tol menuju otak. JLEB! "KIIIIIKKKK!" Babi hutan itu melengking tinggi. Kakinya tergelincir di salju. Momentum larinya sendiri membuat tongkat itu menancap makin dalam, mengaduk-aduk otaknya. Tubuh besarnya terguling di salju, kejang-kejang beberapa detik, lalu diam selamanya. [TING!] [Anda membunuh Babi Hutan Salju (Lvl 2)] [EXP Diterima. Level Up! 1 -> 2] Rowan menghela napas panjang, uap putih keluar dari mulutnya. Kakinya gemetar hebat. Serangan barusan membutuhkan konsentrasi mental dan refleks yang menguras seluruh energinya. Tapi masalah sebenarnya baru dimulai. "Berat sekali, sial..." umpat Rowan saat mencoba menarik kaki belakang babi itu. Berat babi itu 50 kg. Berat Rowan mungkin cuma 25 kg. Dengan Strength yang masih level balita, Rowan harus menyeretnya inci demi inci menembus salju tebal. Perjalanan pulang ke desa yang biasanya cuma 15 menit, kali ini memakan waktu 2 jam. Keringat dingin membasahi punggungnya. Otot-otot kecilnya menjerit kesakitan. Paru-parunya terasa mau meledak. [Peringatan: Stamina Kritis (1/15)] Saat dia akhirnya melihat gerbang desa, Rowan tersenyum lega. Dia membayangkan wajah kaget Hans dan senyum bahagia Maria nanti saat melihat daging segar ini. Namun, senyum itu hilang seketika. Tiga sosok anak laki-laki yang lebih besar menghalangi jalannya di gerbang desa. Denten, Leyus, dan Alen. Mereka menatap babi hutan itu dengan mata serakah.Rowan melangkah masuk ke dalam guild, diikuti oleh Sylphi. Suasana di dalam langsung terasa ramai. Beberapa petualang berdiri di depan meja resepsionis, beberapa berbicara santai dengan rekan mereka, sementara yang lain terlihat sibuk merapikan perlengkapan. Namun, yang menarik perhatian banyak orang bukanlah Rowan melainkan Sylphi. Sebagai seorang elf yang cantik dan kulit putih,Tatapan mereka tajam, penuh rasa penasaran. Rowan tahu betul apa yang ada dalam pikiran mereka. Elf di dekat manusia pasti adalah seorang budak. Namun, dia tidak peduli.Sylphi, di sisi lain, merasakan tatapan itu dengan jelas. Meskipun dia sudah terbiasa, masih ada sedikit rasa canggung di matanya. Matanya menunduk, mencoba mengabaikan pandangan yang terus mengarah kepadanya. Namun, Rowan bisa melihat dari sudut matanya bahwa itu masih terasa berat baginya.Rowan meliriknya sekilas. “Jangan pedulikan mereka,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Sylphi. Dengan langkah tegas, dia bergerak m
Pagi di Kota Lotus terasa cerah dan hangat. Cahaya matahari jatuh lembut di jalanan batu, membuat kota terlihat hidup sejak pagi hari. Pasar sudah ramai, suara pedagang bercampur dengan langkah kaki orang-orang yang berlalu-lalang, sementara aroma makanan dan rempah memenuhi udara.Di tengah keramaian itu, Rowan dan Sylphi berjalan berdampingan.Hari ini mereka tidak sekadar berjalan-jalan. Mereka sedang mempersiapkan perjalanan ke kota berikutnya.Rowan sudah memutuskan untuk tidak menggunakan kereta kuda. Kali ini mereka akan berjalan kaki, bukan hanya untuk menghemat, tetapi juga karena Rowan ingin melatih Sylphi selama perjalanan.Perjalanan itu tidak singkat. Untuk mencapai kota berikutnya, mereka membutuhkan waktu sekitar dua minggu jika berjalan kaki.Itu berarti mereka harus mempersiapkan banyak hal.Makanan, perlengkapan, dan senjata.Rowan berhenti di depan sebuah toko pandai besi. Papan kayu di atas pintu bergoyang pelan tertiup angin, menandakan tempat itu sudah lama berdir
[Restoran Kota Lotus]Restoran itu sederhana, tapi ramai. Aroma makanan memenuhi udara—daging panggang, sup hangat, dan bumbu tajam bercampur menjadi satu. Suara tawa, percakapan, dan dentingan gelas saling bertabrakan, membuat ruangan terasa hidup.Namun di tengah keramaian itu, ada satu meja yang terasa berbeda.Beberapa orang melirik. Tatapan sinis. Tidak suka.Sumbernya jelas.Rowan dan Sylphi.Tubuh elf itu masih kurus, kotor, dan lemah. Meskipun tertutup jubah, penampilannya tetap mencolok. Tidak seperti pelanggan lain.Rowan duduk tenang. Tidak peduli.“…makan.”Sylphi langsung bergerak.Tidak bertanya. Tidak menolak.Dia mulai makan.Awalnya pelan. Ragu.Lalu—lebih cepat.Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh makanan hangat itu. Sup yang layak. Daging yang benar-benar daging. Roti yang tidak keras seperti batu.Sudah lama.Terlalu lama.Air mata jatuh.Diam. Tanpa suara.Rowan memperhatikannya sebentar.“…hanya karena ini.”Makanan murah.Namun bagi Sylphi—itu cukup
[Ruang Budak – Dalam Gedung]Udara di dalam gedung pasar budak terasa berat dan pengap. Bau keringat, darah, dan kelembapan bercampur menjadi satu, membuat siapa pun yang masuk akan langsung merasa tidak nyaman. Cahaya dari batu sihir di dinding hanya cukup untuk menerangi sebagian lorong, sementara bagian lain tenggelam dalam bayangan gelap.Rowan berjalan perlahan di dalam ruangan itu.Di kiri dan kanan, deretan sel berdiri rapat. Di dalamnya, berbagai ras dikurung tanpa perbedaan—manusia, beastkin, bahkan elf. Tidak ada yang terlihat layak. Beberapa duduk diam dengan tatapan kosong, beberapa terbaring lemah, dan ada juga yang bahkan tidak bergerak sama sekali.Penjaga di sampingnya mendengus pelan. “Jadi, Tuan…” “Mau yang seperti apa?”Rowan tidak menoleh. “…aku mau lihat dulu.”Penjaga mendecak. “…cih.”Dia bergumam pelan. “Banyak juga yang cuma lihat-lihat.” “Ujungnya tidak beli.”Rowan tidak peduli.Dia terus berjalan.Semakin dalam—Semakin gelap.Cahaya batu sihir mulai b
[Gerbang Kota Lotus]Kereta mereka berhenti, pintu kereta terbuka, penumpang turun satu persatu, rowan merasakan udara yang berbeda tidak lagi dingin tapi hangat, rowan turun bagian akhir, matanya langsung melihat kedepan gerbang kota yang besar, orang orang yang ramai mengantri untuk masuk dan keluar.Beberapa anggota guild membantu kusir yang terluka.“Cepat, bawa dia ke pusat pemulihan.”“Lukanya dalam.”Mereka bergerak cepat.Salah satu anggota guild menoleh ke Rowan.“Hei, anak muda.”Rowan berhenti.“Kalau kau cari penginapan…”Dia menunjuk ke arah utara.“…ke sana.”“Kau pasti langsung tahu tempatnya.”Rowan mengangguk.“…terima kasih.”Tanpa banyak kata rowang langsung pergi.[Jalan Kota – Pagi Hari]Kota Lotus yang terasa hiudp lebih ramai dari eldrham, banyak pedagang yang saling berteriak agar pelanggan membeli dagangannya, banyak dagangan berjejer, makanan, senjata, kain. Rowab berjalan pelan matanya bergerak pada sesuatu yang tidak biasa bagi dirinya, sebuah kereta dengan
[Hutan Frosheim]Salju masih turun.Tipis.Beberapa sosok berdiri di tengah hutan.Ketua guild.Dan beberapa anggota lainnya.Tanah di depan mereka—berantakan.Tubuh-tubuh tergeletak di atas salju.Darah membeku.Bekas tebasan terlihat jelas.Cepat.Bersih.“…tidak lama.”Salah satu anggota berlutut.Memeriksa luka.“Sekali tebas.”“…tanpa ragu.”Asisten guild menelan ludah.“Guild Master… apakah Anda tahu siapa pelakunya?”Hening.Ketua guild menatap tubuh-tubuh itu.Matanya tenang.Lalu—senyum tipis muncul.“…aku punya gambaran.”Dia menghela napas pelan.“Aku sudah bilang…”Tatapannya sedikit berubah.“…jangan buat masalah di desa.”Hening.“Tapi…”Dia menoleh ke arah hutan yang lebih dalam.“…ini terjadi di luar desa.”Senyumnya melebar sedikit.“…jadi…”“…sulit menyalahkannya.”Beberapa anggota guild saling melirik.“…Anda tidak akan menyelidikinya?”Ketua guild terkekeh pelan.“Yang mati…”“…mencari masalah duluan.”Hening.“…anggap saja ini pelajaran.”Dia berbalik.“Kita sele







![Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)