Mag-log inDans les profondeurs des terres oubliées du Sud, à l'insu des humains, Vladimir, le chef des vampires, vit reclus, emprisonné par son chagrin. Après la perte dévastatrice de sa bien-aimée, il se retire du monde, abandonnant son clan et se condamnant à une lente agonie. Sa souffrance, aussi ancienne que son immortalité, le pousse à ignorer les affaires du clan et sa propre faim, jusqu'à ce que les anciens, inquiets de son état, décident d'agir. Pour raviver l'obscurité de son appétit, ils lui apportent une princesse humaine dont la présence va bouleverser l'équilibre de l'existence monotone de Vladimir. Alors que Vladimir lutte contre son désir primal, des sentiments qu'il pensait enterrés à jamais ressurgissent mais pas que… Le destin joue des tours cruels. La réapparition de sa fiancée, qu'il croyait morte, fait ressurgir de douloureux souvenirs et des choix impossibles. Coincé entre son amour perdu et la promesse d'un amour naissant, Vladimir doit naviguer dans un monde où ses propres sentiments s'entrechoquent et s'opposent. Alors qu'il est contraint à affronter la réalité, des secrets enfouis et les blessures du passé refont surface, laissant Vladimir dans un dilemme terrible: Son passé ou son présent… Vladimir sera-t-il capable de choisir entre son passé tragique et un présent prometteur, ou sera-t-il condamné à errer éternellement entre deux mondes ?
view more"Hanum, kemeja Mas untuk acara besok nanti sudah kamu setrikain ‘kan?” Aku bertanya pada Hanum---istriku. Saat itu dia tengah sibuk membereskan mainan si kembar Mahendra dan Daffa yang baru berusia satu setengah tahun.
Kulempar tas kerja sembarang. Capek sekali rasanya hari ini di kantor. Banyak masalah berdatangan. Serta tuntutan bos yang memintaku untuk menaklukan salah satu customer baru yang mulai menunjukkan taringnya di dunia industri. Maklum, aku baru saja diangkat jadi manager. Jadi seolah perusahaan memintaku totalitas dan balas dari remunerasi yang merea berikan.
“Sudah, Mas! Aku sudah simpan di dalam lemari! Hmmm … tapi, Mas! Kamu emang sendirian datang di acara ulang tahun perusahaannya? Rasanya aku lihat di undangannya boleh bawa pasangan?!” tanyanya.
Ah, sial! Aku lupa tidak menyembunyikan surat undangan dari perusahaan waktu itu dan yang kukhawatirkan terjadi, Hanum menanyakan hal itu.
“Oh, itu … itu mesti bayar lagi, Han! Jadi sebetulnya undangannya buat satu orang saja! Kalau mau bawa keluarga harus bayar! Lah kalau aku bawa kalian bisa-bisa uang bulanan nanti malah jadi gak cukup!” kilahku. Padahal aku sudah mengajak Meli---teman kantor baruku. Dia itu adik kelas waktu aku di SMA dulu. Beberapa bulan lalu dia menitip lamaran melalui aku dan akhirnya sama-sama keterima di perusahaan ini.
Aku sengaja mengajak Meli karena memang yang hadir ke acara besar ini harus membawa pasangan. Bagaimana bisa aku mengajak Hanum, sekarang penampilannya sangat berantakan. Wajahnya bukan hanya kusam, jerawat juga numbuh di mana-mana. Makin hari, Hanum makin jorok, dia tiap hari gak pernah cuci muka sepertinya kalau mau tidur. Terlebih anak-anakku sangat aktif, gak mungkin kalau harus bawa si kembar ke acara resmi perusahaan seperti ini.
Aku tidak ingin semua karyawan mengetahui siapa istriku dan nantinya dijadikan bahan ejekkan di kantor. Sepertinya wajahku dan wajah Hanum malah terlihat seperti tuaan dia sekarang. Padahal dia di rumah saja gak ngapa-ngapain. Memang semakin hari, dia semakin banyak tuntutan dan tidak pandai merias diri, padahal awal-awal nikah sering aku lihat dia pakai B erl, wajahnya kenyal dan mengkilap, setidaknya sedap dipandang dikala lelah. Sekarang selalu saja banyak alasan. Ketika aku suruh perawatan, dia selalu saja berkilah, uangnya tak cukup. Padahal setahuku harga B erl skincare harganya biasa saja. Buktinya, Meli saja selalu kulihat beli tiap bulannya.
“Oh ya udah kalau gitu! Hati-hati ya, Mas!” ujarnya sambil tersenyum.
“Iya, Han! Kamu jaga anak-anak di rumah, ya! Aku pulang sampai malem soalnya! Acaranya mungkin sampai jam sebelasan!” tukasku.
Padahal acaranya hanya sampai pukul Sembilan, tetapi aku ‘kan harus mengantar Meli pulang. Lagi pula gadis itu mengajakku untuk mampir ke mall sebentar sebelum tutup. Ada perlengkapan kantor yang harus dibelinya. Dia beli juga pakai uangnya. Uangku mana ada lagi hanya tinggal buat cadangan saja, jaga-jaga kalau Risna---adikku merengek minta dibeliin quota. Semua juga kubagi adil pada Hanum setelah kuberikan jatah untuk ibu dan adikku. Namun anehnya, Hanum bilang selalu tak ada sisa dan kurang. Entah dia pakai buat apa? Boros sekali Hanum sekarang.
“Iya, Mas! Padahal aku berharap kamu pulang sore, Mas! Kalau sore itu Mahendra Sama Daffa perang terus! Aku sampai kewalahan, Mas untuk melerai anak-anak kamu yang pada gak mau ngalah itu!” ujarnya sambil menarik napas.
“Iya, sabar! Namanya juga anak-anak!” ucapku sambil berlalu ke dapur. Perut sudah berteriak minta diisi.
“Han, kamu masak ini doang?” Seketika hatiku kecewa ketika melihat yang tertata di bawah tudung saji. Hanya ada oseng-oseng tahu, sambal dan sayur bening.
“Iya, Mas! Tadi sudah beli ikan! Tapi belum sempet aku bersihin! Mahe sama Daffa bertengkar mulu!” jawabnya.
Dia menghampiriku dengan daster rumahan yang tiap hari sepertinya gak ganti. Ya, karena dia membeli daster lusinan. Jadi seolah aku ini dalam kondisi dejavu setiap hari melihat penampilannya dengan baju yang sama. Kondisi rumah yang sama berantakannya dan teriakan Mahendra dan Daffa yang biasanya memekakkan telinga.
“Kamu itu selalu nyalahin mereka! Aku ‘kan udah bilang pengen makan gurame asam manis mumpung abis gajian! Nanti ujung bulan kamu malah suka ngeluh uangnya kurang!” gerutuku merasa kesal.
“Ya, mau gimana, Mas? Namanya juga mereka masih kecil! Apalagi aku ngurus rumah sama ngurus mereka sendirian! Capek banget, Mas!” keluhnya.
“Aku juga sama capek lah Han, tiap hari pergi pagi pulang sore! Kamu pikir aku di kantor main? Aku ‘kan cari nafkah buat kalian! Cuma minta dibuatin makan enak aja banyak alasan!” gerutuku lagi sambil menutup kembali tudung saji.
“Mas, aku ‘kan di rumah sibuk juga! Aku juga capek, Mas!” ucapnya sambil menatapku. Mulai deh, drama. Air matanya mulai menggenang.
“Kamu itu akhir-akhir ini makin banyak protes, ya! Nyesel aku gak ceraikan kamu sekalian!” tegasku sambil menatapnya.
“Oke, Mas! Kalau kamu sudah berkata demikian! Tidak ada lagi alasan aku untuk bertahan! Malam ini aku akan pergi! Ceraikan saja aku, Mas! Ceraikan!” ucapnya membuat aku semakin tersulut emosi.
“Jadi kamu nantangin? Oke kalau mau pergi, silakan pergi! Aku jatuhkan talak satu sama kamu! Pergilah ke mana kamu mau!” ucapku diluar kendali.
Hanum terdiam. Ada air mata menetes deras pada kedua pipinya. Dia berlari menuju kamar depan di mana anak-anak tadi sedang bermain mobil-mobilan. Sementara itu, aku berjalan ke luar. Sekedar mencari angin segar. Bosan sekali setiap kali pulang ke rumah selalu disuguhkan penampilan istriku yang semrawut, rumah berantakan, jeritan anak-anak yang bertengkar. Padahal aku capek, ingin sekali istirahat.
***
Aku cukup terkejut ketika aku pulang dan dia benar-benar pergi bawa anak-anak. Lagian sok-sokan nantangin cerai, ya, aku ceraikan saja sekalian. Ketika kepala sudah dingin, aku menyesali perbuatan itu. Aku tahu, Hanum tak secantik Meli yang terawat dan mulus. Namun, gimanapun dia adalah ibu dari anak-anak yang kusayangi. Huh, ke mana mereka pergi? Mana nomornya gak aktif pun.
Hanya saja, aku tak bisa mencarinya segera. Acara di perusahaan dilaksanakan oleh customer itu besok pagi. Aku tak mungkin absen, karena harus mewakili perusahaan bersama Meli.
Suasana ballrroom restaurant yang dipesan untuk ulang tahun perusahaan customer besarku terasa semarak. Berbagai hiasan warna warni menghias indah.
Kami memakai dress code yang sama. Aku berjalan bersisian bersama Meli. Memakai batik senada. Bangga sekali rasanya bisa menggandeng gadis secantik Meli pada acara semewah ini. Lagi pula, aku memang sudah jatuh hati padanya sejak SMA.
Batik yang kami kenakan senada. Meli tampak sangat cantik dengan rambut digerai. Warna lipstiknya membuat wajahnya tampak sangat segar.
Ada rasa berdesir dalam dada ketika lengan kami bersentuhan. Meli menggandeng tanganku seperti halnya ketika kami jalan saat SMA dulu.
“Ehmmm! Istrinya Pak Ramdan cantik, ya!” Puji Bu Indri---orang yang biasa berhubungan denganku dalam hal pekerjaan.
Meli menunduk tersipu. Ada senyum yang dikulumnya diam-diam.
“Pak Ramdan mari ke sini, Pak! Acaranya sudah akan dimulai!” seru Ervan---staff di divisiku.
“Wah ternyata, aku keduluan Bapak, nih! Meli single tapi sudah gak available!” celotehnya sambil melirik ke arah Meli yang menggelayut manja pada lenganku.
“Bapak dan Ibu, acara akan segera kita mulai! Marilah kita sambut putri dari salah satu pemilik saham terbesar sekaligus brand ambassador B erl cosmetics yang akan membuka perayaan ulang tahun perusahaan ini! Bu Hana Pramesti Hanggara!" ucapnya.
Berjalanlah seorang wanita dengan gamis moderen dan jilbab terpasang rapi. Wajahnya tampak segar dan sangat cantik. Aku tertegun dan degup jantungku terasa berdetak lebih cepat. Apakah aku terkena halusinasi? Tidak mungkin ‘kan wanita cantik itu Hanum---istri yang malam tadi kuceraikan?
Lekas aku mengambil gawai dan menelpon Hanum. Wajah itu begitu mirip dengannya. Namun, lagi-lagi nomornya tak bisa kuhubungi.
Sial, tak mungkin jika itu Hanum---mantan istriku. Di rumah saja penampilannya kusut semrawut gak karuan. Lagi pula, Hanum kan yatim piatu. Gak mungkin, gak mungkin kalau itu Hanum. Namun, kenapa wajah mereka sama?
Le déjeuner avait commencé et déjà, une certaine tension existait autour de cette table. Vladimir pouvait le remarquer, surtout du côté de Luxiana. Il fronça les sourcils surtout au fait que Flavian n'avait pas choisi un autre siège que celui près de Luxiana pour s'asseoir. Elle devait être mal à l’aise à cause de lui. Qui ne le serait pas ? Cet homme avait une présence très malsaine et n’importe qui en éprouverait une certaine gêne à l’avoir autour. Et douce et fragile comme elle était, il était évident que sa Luxiana en serait négativement influencée. En parlant de ça, il ne comprenait toujours pas pourquoi Flavian était encore là, qu’il le sache, il l’avait déjà congédié. Quand il était arrivé dans la salle à manger le trouvant, il avait voulu s’étouffer. Pourquoi Flavian prenait un si malin plaisir à défier son autorité ? Ah pourquoi il n'avait pas le droit de lui arracher la tête ? Sa tante.Il avait soupiré avant de prendre place autour de la table commandant le début du déje
Flavian fronça les sourcils ne comprenant pas ce que voulait dire ce petit être insignifiant à ses yeux. Sa réaction l’avait surpris au-delà des mots. Il avait pensé qu'elle se mettrait à pleurer et se lamenter après ses mots. Il savourait déjà le désespoir sur son visage en imaginant sa mine abattue face à ses affirmations crues. Il s’était déjà léché les lèvres d’anticipation, mais elle n'avait pas été ébranlée. Ou bien si c'était le cas, elle le cachait très bien.Cette femme, elle le regardait avec défi et refusait de se laisser piétiner ? Ou allait-elle aller se plaindre auprès de son frère comme l’autre salope en avait l'habitude ? Non , il ne pensait pas surtout quand on voyait l’éclat au fond des yeux de cette femme. Elle était malheureuse mais acceptait sa réalité, on aurait dit une âme usée par la douleur qui s'était finalement résignée et adaptée à vivre avec.C'était très intriguant et maintenant, il voulait la connaître. Merde , c'était bien la première fois qu’il ressent
Luxiana était aberrée, se pourrait-il que cet homme les ait suivi dans les appartements de Vladimir et ait observé toutes leurs interactions ? Non, il ne serait pas aussi pervers n’est-ce pas ?Elle leva à nouveau le regard vers l’homme, et tombant sur son sourire excentrique, elle se dit que c’était certain! Il était aussi pervers qu’il n’en donnait l’impression.Mais pourquoi agissait-il de la sorte ? Quel était son but ? Depuis qu’il était arrivé dans cette demeure, il n'avait fait que lui jouer des tours et lui faire des blagues de mauvais goût. Même si, elle devait se l'avouer, elles étaient souvent teintées de vérités. Comme le fait qu’elle ne soit qu’un objet à la disposition de son maître. Elle soupira profondément, se souvenant de plus tôt. Il pouvait disposer de son corps comme il l’entendait et la réclamer comme sa possession. En cela, elle ne trouvait aucun inconvénient car c’était sa réalité, ce qu'elle devait faire pour contenter son maître . Elle était la servante d
Vladimir soupira de satisfaction ayant entendu ce qu’il voulait. Il ne savait pas d’où lui venait cette possessivité envers Luxiana mais il savait une chose, il n'était pas question qu’elle regarde un autre homme que lui. Qu’elle s’en languisse ou qu’elle ait une quelconque interaction particulière avec. Il en deviendrait certainement fou. Devoir perdre à nouveau quelque chose qui lui appartenait. Il en avait déjà fait les frais, il n'était plus question qu’il revive ça. Une fois était déjà de trop. Il posa son nez sur la jugulaire de Luxiana, se mettant le frotter sur sa peau douce. Il pouvait sentir les pulsations du sang de Luxiana dans ses veines et la soif qu’il avait réussi à contrôler tout ce temps se réveilla. Avalant d’envie, son cœur commença à s’emballer, toutes les cellules de son corps lui urgeaient littéralement de planter ses crocs dans cette chair si tendre et attrayante. Il en mourait d’envie, c’était tellement tentant. Il ouvrit la bouche, ses crocs s’allon
Luxiana fut fille de roi, ce qui en faisait d'elle une princesse royale.Pour beaucoup de filles, cela aurait été un rêve, vivre dans un palais, entourée de serviteurs, assister à des soirées mondaines prestigieuses avec des invités tout aussi prestigieux. Rencontrer des princes aussi beaux que ch
Cette journée devait être comme toutes les autres, c'est-à-dire monotone. Du moins, c'était ce qu'avait pensé Vladimir à son réveil. Mais force était de constater qu'il se trompa lourdement. Mis à part son réveil routinier, il avait fait la rencontre d’une femme intrigante qui, devrait-il se l
Vladimir pouvait comprendre le regard perdu de Luxiana après ce qu’il lui avait dit. À sa manière d’agir, il comprit que la jeune femme s’attendait à ce qu’il plante ses crocs dans son cou et lui pompe son sang jusqu'à la dernière goutte. Mais plutôt que de faire ce que tout le monde attendait de
Les anciens n’en croyaient pas leurs oreilles. Faire de cette femme humaine, son assistante ? Comment une personne de son rang, aussi illustre que vénérable pouvait autoriser un être aussi disgracieux et sale à ses côtés ?Peut-être était-ce la faim qui le faisait devenir aussi irréfléchi. Il éta












Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.