Share

5 Hasrat Dibalik Tirai

Penulis: Ryu Lee
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-06 11:01:15

Duniaku seolah berhenti berputar saat pintu kamar mandi itu berderit terbuka dan Elena yang pandangannya langsung ke arahku dan Sarah.

Aku yang tadi tersiksa dengan hasrat yang dikendalikan oleh dokter Sarah, kini ditambah lagi dengan kehadiran Elena yang tiba-tiba saja keluar dari kamar mandi. Rasanya aku mau hilang saja dari kamar ini dan kembali ke bagasi mobil untuk bersantai sembari membakar sebatang rokok murah ku.

"Sar, handuk bersihnya dimana? Aku lupa membawanya tadi," tanya Elena masih mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Ia bertanya dengan santai, sama sekali tidak menyadari kalau ia hanya berjarak dua meter dengan supir yang tadi ia gunjing kan bersama dengan Sarah.

Cengkraman tangan dokter Sarah di lenganku mengencang seketika. Aku bisa merasakan kuku-kukunya yang terawat sedikit menekan kulitku, memberikan sinyal bahaya.

Dengan gerakan yang sangat cepat, halus, dan nyaris tanpa suara, dokter Sarah menarik lenganku.

Sebelum aku sempat memproses apa yang terjadi atau sekedar mengatur langkah, dia sudah menyeret ku ke arah jendela besar di sudut kamar.

Tanpa peringatan, dia mendorongku masuk ke dalam balik tirai jendela yang sangat tebal dan berat.

Sret!

Tirai itu menutup sempurna, menenggelamkan kami dalam kegelapan yang sempit dan pengap.

Di dalam sini, ruang gerak kami benar-benar habis. Secara harfiah, aku benar-benar merasakan sangat terjepit.

Di punggungku, ada kaca jendela yang dingin dan keras, kontras dengan suhu tubuh dokter Sarah yang menempel padaku tanpa celah sedikit pun.

Kami berdiri begitu dekat, hingga ujung hidung kami bersentuhan. Setiap hembusan napasnya yang memburu terasa seperti uap panas yang membakar kulit leherku.

"Ini, pakai yang ini saja. Ada di atas kursi!" seru dokter Sarah dari balik tirai. Ia membuat suaranya senatural mungkin, meski aku bisa mendengar nada gemetaran di sana.

Dia merogoh kan tangannya ke luar celah tirai sebentar untuk menunjukkan letak handuk itu.

Di balik tirai yang berat ini, setiap gerakan kecil Sarah mampu membuat tubuh kami saling bergesekan dengan intensitas yang menyiksa. Gaun tidurnya yang licin saat bergesekan terasa begitu halus dan licin saat bergesekan dengan kulitku dadaku yang bidang, di tambah dengan tekanan dari miliknya  yang ranum, membuat kejantananku di bawah sana semakin terasa keras.

Aku yakin sekali kalau dokter Sarah pasti merasakan kejantanan ku itu berkedut, sehingga ia semakin menekankan dadanya yang sintal itu ke dadaku. Membuat otakku benar-benar korslet.

Sebagai laki-laki normal, instingku berteriak untuk melakukan sesuatu, namun logika profesionalitas ku sebagai supir terus menamparku agar tetap diam mematung.

"Makasih Sar, tapi, kamu kok disana? Lagi ngapain? Tutup jendela?" suara Elena terdengar lagi, diikuti bunyi kain handuk yang di tarik.

"Ini lagi mau nutup jendelanya. Anginnya kencang soalnya. Ntar masuk angin lagi," jawab dokter Sarah mencoba mengakhiri percakapan.

Untungnya Elena tidak bertanya lebih lanjut. Suara langkah kakinya menjauh, di susul suara pintu kamar mandi yang kembali tertutup dan bunyi klik kunci yang di putar. Kami aman, setidaknya dari penglihatan Elena. Tapi aku justru merasa dalam bahaya yang lebih besar di dalam sini.

Dokter Sarah tidak menunjukkan tanda-tanda ingin keluar dari balik tirai. Dia tetap di sana, mengunci posisiku dengan tubuhnya. Dalam kegelapan yang remang-remang, aku bisa melihat kilat di matanya yang memantulkan sedikit cahaya yang menembus celah kain.

Suasana di balik tirai ini mendadak berubah menjadi sangat intim dan menyesakkan. Oksigen seolah menghilang, digantikan oleh ketegangan yang lebih panas dari sebelumnya.

Tiba-tiba aku merasakan jemarinya yang lentik kembali bergerak.

Tanpa ragu sedikit pun, tangan dokter Sarah menyusup masuk kedalam celah kemejaku yang kancingnya sudah lepas sebagian. Telapak tangannya yang hangat dan lembut menyentuh kulit perutku, lalu naik perlahan dengan gerakan memutar menuju dadaku. Dia seolah sedang memetakan setiap jengkal ototku dengan rasa penasaran yang tidak terkendali.

"Dokter, jangan. Tolong," bisikku parau. Suaraku nyaris hilang karena tenggorokan yang mengering.

Kesadaran sebagai supir rendahan berteriak keras. Aku tau batasan ini dan tidak boleh dilewati. Aku tau siapa diriku, dan siapa wanita di depanku saat ini.

Dengan sisa-sisa keberanian dan akal sehat, aku meraih pergelangan tangannya. Aku menggenggamnya dengan cukup kuat untuk menghentikan pergerakan jemarinya yang mulai nakal di dadaku. Tanganku yang kasar dan berurat karena kerja keras, terasa sangat kontras saat bersentuhan dengan kulit pergelangan tangannya yang halus.

Aku menggeleng pelan dalam kegelapan, menatap matanya dengan tatapan memohon agar ia berhenti sebelum segalanya menjadi tak terkendali. Aku tidak ingin kehilangan pekerjaan ini, tapi aku juga tidak yakin bisa menahan gempuran ini lebih lama kagi.

Bukannya marah karena gerakannya di tahan, dokter Sarah justru menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang sangat provokatif dan penuh kemenangan. Dia melepaskan tangan satunya dari pundakku, lalu dengan gerakan perlahan yang sengaja dibuat lambat, dia meletakkan jari telunjuknya tepat di atas bibirku.

"Sssshhhh.." desisnya sangat pelan, nyaris tak terdengar, namun terasa seperti sengatan listrik di telingaku.

Dia menatapku dalam-dalam, menyuruhku diam tanpa kata-kata. Jarinya yang menempel di bibirku terasa dingin di permukaan, namun membakar di saat yang sama.

Di balik tirai sempit ini, dokter Sarah kembali menekan tubuhnya lebih rapat lagi ke tubuhku, membuat dadanya terasa jelas di dadaku. Aku bisa merasakan degup jantungnya yang liar dan cepat, beradu dengan detak jantungku yang sudah tidak karuan.

Kami terjebak dalam keheningan yang sangat berbahaya, menunggu Elena selesai di dalam kamar mandi, sementara di balik tirai ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sopir Kesayangan Dokter Cantik   9 Gairah Panas Di Mobil

    'Tidak salah lagi, Elena pasti tau semuanya. Sial, apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana kalau Elena memberi tau suami dokter Sarah? Ahhhh, tamat sudah riwayatmu Reno,' batinku, merutuki kebodohanku sendiri.Niat yang tadinya mau hidup tenang, tiba-tiba saja di gagalkan oleh skandal memalukan ini.Tak lama kemudian, dokter Sarah pun tiba, tapi kali ini ia datang bersama dengan Maya. Ya ampun, ujian apa lagi ini."Elena, Maya bilang dokter Riska tidak bisa dihubungi, karena pasien juga merupakan pasien dari dokter Riska, kamu tolong jemput dia ke rumahnya. Saya dan Reno akan berangkat duluan ke rumah sakit," perintah dokter Sarah yang membuat Elena kembali menatapku dengan tatapan yang penuh arti. Aku tau apa yang ada di dalam pikirannya. Dia pasti mengira kalau aku akan memiliki kesempatan lagi bersama dokter Sarah."Tapi Sar, kenapa tidak Maya saja yang pergi? Aku takutnya nanti kamu keteteran," ucap Elena membuat kening dokter Sarah berkerut."Keteteran? Maksud kamu gimana

  • Sopir Kesayangan Dokter Cantik   8 Sindiran Elena

    Ponsel di atas nakas itu kembali menjerit nyaring, merobek atmosfer panas yang baru saja kami bangun. Dokter Sarah tersentak, perlahan melepaskan lumatannya dari bibirku dengan napas yang masih tersengal-sengal. Sorot matanya yang tadi sayu penuh damba, dalam sekejap berubah menjadi dingin dan waspada saat melihat layar ponselnya. Permainan kami terhenti karena panggilan itu. "Ya, saya segera ke sana sekarang," ucapnya singkat, suaranya kembali otoriter seolah adegan panas tadi tidak pernah terjadi. Setelah panggilan penting itu berakhir, dokter Sarah kembali menatapku dengan tatapan rumit. "Maafkan aku Reno, aku ada pekerjaan mendesak. Permainan ini harus segera kita akhiri," ucapnya mencoba mengendalikan nafasnya yang masih memburu. Sial! Tanpa menunggu jawaban dariku, dokter Sarah bergegas turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi. Sedangkan aku? Aku hanya bisa mematung di atas ranjang, mengatur napas yang masih memburu dan menahan denyut frustasi di bawah perutku. Se

  • Sopir Kesayangan Dokter Cantik   7 Eksekusi Yang Lagi-Lagi Mendapatkan Gangguan

    Suara pintu utama yang tertutup rapat oleh Maya tadi masih menyisakan gema yang mencekam di telingaku. Keheningan yang menyusuk setelahnya justru terasa jauh lebih berat dan nebekan dari pada saat ada orang lain di kamar ini. Dokter Sarah tidak membuang waktu sedetik pun. Dengan langkah cepat yang dipenuhi campuran antara marah yang tertahan dan gairah yang sudah meluap hingga ke ubun-ubun, dia berjalan menuju pintu utama kamar dan memutar kunci ganda. Klik.. Klik.. Suara kunci itu bagaikan pelatuk pistol yang di tarik tepat di depan wajahku. Dia berbalik, matanya yang tajam dan berkilat di bawah temaram lampu kamar menatap langsung ke arah tirai tempatku masih mematung dengan napas memburu. Tanpa kata-kata, dia menyambar kain tirai tebal itu dan menyibakkannya dengan satu sentakan kasar. Cahaya lampu kamar kini menerangi seluruh tubuhku yang berantakan, dengan kemeja seragam supir yang terbuka lebar dan kulit yang mengkilap oleh keringat. "Keluar dari sana Reno!" perintahnya. Suar

  • Sopir Kesayangan Dokter Cantik   6 Godaan Maya

    Keheningan di dalam kamar mewah itu mendadak pecah oleh suara yang paling kami tidak harapkan. Sebuah ketukan teratur di pintu kayu yang kokoh, namun di telingaku, suaranya terdengar seperti dentuman godam yang menghantam dada.Tok.. Tok.. Tok.."Dokter Sarah? Ini saya, Maya," suara lembut namun tegas itu membelah kesunyian "Saya bawakan teh hangat untuk dokter dan bu Elena."Jantungku seolah merosot hingga ke dasar lambung. Di balik tirai yang sempit ini, cengkraman dokter Sarah di pundakku seketika mengeras. Aku bisa merasakan kuku-kukunya yang terawat semakin menusuk kulit pundakku melalui kain kemeja yang aku kenakan. Tubuh dokter Sarah yang tadinya begitu menempel padaku, kini menjadi sekaku batu, seolah ia sedang memerintahkan seluruh anggota tubuhnya untuk berhenti bergerak dan mengeluarkan bunyi sekecil apa pun. Tanpa perlu di perintah, aku menahan napas sampai dadaku terasa perih dan panas. Keringat dingin mulai mengucur deras dari pelipis ku, mengalir melewati pipi yang me

  • Sopir Kesayangan Dokter Cantik   5 Hasrat Dibalik Tirai

    Duniaku seolah berhenti berputar saat pintu kamar mandi itu berderit terbuka dan Elena yang pandangannya langsung ke arahku dan Sarah. Aku yang tadi tersiksa dengan hasrat yang dikendalikan oleh dokter Sarah, kini ditambah lagi dengan kehadiran Elena yang tiba-tiba saja keluar dari kamar mandi. Rasanya aku mau hilang saja dari kamar ini dan kembali ke bagasi mobil untuk bersantai sembari membakar sebatang rokok murah ku. "Sar, handuk bersihnya dimana? Aku lupa membawanya tadi," tanya Elena masih mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Ia bertanya dengan santai, sama sekali tidak menyadari kalau ia hanya berjarak dua meter dengan supir yang tadi ia gunjing kan bersama dengan Sarah. Cengkraman tangan dokter Sarah di lenganku mengencang seketika. Aku bisa merasakan kuku-kukunya yang terawat sedikit menekan kulitku, memberikan sinyal bahaya. Dengan gerakan yang sangat cepat, halus, dan nyaris tanpa suara, dokter Sarah menarik lenganku. Sebelum aku sempat memproses apa yang terjad

  • Sopir Kesayangan Dokter Cantik   4 Kecurigaan Elena

    "Aneh? Aneh apanya?" sergah Sarah cepat, suaranya terdengar seperti orang tercekik.Elena turun dari ranjang dengan gerakan mengancam. Langkah kaki telanjangnya menginjak karpet tanpa suara mendekati lemari."Aroma udara di sekitar sini beda. Ada bau asing yang menyengat, entah yaa bau apa. Kayak bau-bau lumpur gitu. Bau hujan. Aku kurang paham. Intinya bau yang nggak banget ada di kamar kamu. Padahal, aku tau banget kamu orangnya ga suka ada bau lain selain parfum kamu sendiri."Elena mendongak sedikit di depan pintu lemariku, menghirup udara dengan hidung mancungnya. "Baunya kayak campuran keringat laki-laki kotor dan asap rokok kretek murahan. Kamu sendiri, kan, paling sensitif sama asap rokok. Masa kamu nggak nyium baunya?"Jantungku berhenti berdetak detik itu juga. Itu bau badanku dari garasi tadi sore."Jangan ngawur kamu, El! Itu paling sisa bau jaket suamiku di dalam lemari!" jerit Sarah dengan nada terlalu tinggi untuk menutupi kebohongannya.Elena sama sekali tidak menggubr

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status