LOGIN"Aneh? Aneh apanya?" sergah Sarah cepat, suaranya terdengar seperti orang tercekik.
Elena turun dari ranjang dengan gerakan mengancam. Langkah kaki telanjangnya menginjak karpet tanpa suara mendekati lemari.
"Aroma udara di sekitar sini beda. Ada bau asing yang menyengat, entah yaa bau apa. Kayak bau-bau lumpur gitu. Bau hujan. Aku kurang paham. Intinya bau yang nggak banget ada di kamar kamu. Padahal, aku tau banget kamu orangnya ga suka ada bau lain selain parfum kamu sendiri."
Elena mendongak sedikit di depan pintu lemariku, menghirup udara dengan hidung mancungnya. "Baunya kayak campuran keringat laki-laki kotor dan asap rokok kretek murahan. Kamu sendiri, kan, paling sensitif sama asap rokok. Masa kamu nggak nyium baunya?"
Jantungku berhenti berdetak detik itu juga. Itu bau badanku dari garasi tadi sore.
"Jangan ngawur kamu, El! Itu paling sisa bau jaket suamiku di dalam lemari!" jerit Sarah dengan nada terlalu tinggi untuk menutupi kebohongannya.
Elena sama sekali tidak menggubris pembelaan itu. Pandangannya tetap terpaku curiga pada celah ukiran pintu di hadapannya.
Perlahan, tangan kiri Elena terjulur ke depan. Jari-jarinya yang ramping menyentuh gagang kuningan lemari yang terasa dingin.
Aku memejamkan mata rapat-rapat, mengepalkan kedua tangan menahan ketegangan brutal. Gagang pintu kuningan di luar sana mulai ditarik ke bawah dengan suara klik pelan. Sedikit lagi, riwayatku sebagai supir di rumah ini akan tamat malam ini juga.
Gagang pintu kuningan itu berderit pelan, sebuah suara yang di telingaku terdengar jauh lebih nyaring dari pada ledakan bom. Hanya butuh satu sentakan kasar lagi dari tangan Elena, maka pintu lemari kayu ini akan terbuka lebar. Rahasia seorang supir rendahan yang nekat mengintip majikannya akan terbongkar di depan dua wanita berkuasa di rumah ini.
"Berhenti Elena! Jangan dibuka!" suara dokter Sarah meninggi, memecah kesunyian yang mencekam itu dengan nada panik yang sangat kental. Dari celah sempit di antara dua daun pintu kemar, aku melihat pergerakan dokter Sarah menyambar pergelangan tangan Elena, menahannya dengan kuat tepat sebelum pintu kayu yang memisahkan ku dengan Elena terbuka. "Ada apa sih Sar? Kamu kok panik banget? Muka mu pucat lho," suara Elena terdengar heran dan penuh selidik dengan tangan tetap berada di gagang pintu. "Muka kamu kusam banget El. Debu jalanan tadi kayaknya masih nempel," ujar dokter Sarah dengan nada yang dipaksakan tenang, meski aku tau tangannya pasti gemetar. "Sana masuk ke kamar mandi, pakai sabun pembersihku yang ada di wastafel. Kamu butuh segar dulu sebelum kita lanjut ngobrol soal investasi itu," Elena sempat terdiam sejenak. Matanya menatap pintu kamar lemari itu, lalu beralih menatap tajam ke arah dokter Sarah.Di dalam sini, aku memejamkan mata, berdoa agar insting predator Elena tidak menangkap keberadaan ku. Aku dapat mencium bay parfum Elena yang bercampur dengan parfum mahal milik Sarah yang membuat otakku korslet.
"Aneh banget kamu makam ini Sar. Kayak lagi menyembunyikan selingkuhan aja di dalam lemari," canda Elena yang sukses membuat jantungku nyaris copot. Namun, dia akhirnya mengalah. "Tapi ya sudahlah, emang lengket banget rasanya muka ini." Langkah kaki Elena terdengar menjauh, berjalan santai menuju kamar mandi.Begitu suara pintu kamar mandi tertutup dan kunci diputar dari dalam, dokter Sarah tidak membuang waktu sedetik pun.
KREK! Dia langsung menyambar gagang pintu lemari dan menariknya hingga terbuka lebar. Cahaya lampu kamar yang kuning temaram langsung menyiram tubuhku.Aku berdiri di sana, mematung dengan napas yang memburu. Dokter Sarah sendiri di depan ku dengan wajah yang merah padam, campuran antara amarah yang meledak dan gairah yang tidak lagi dapat ia bendung.
Tanpa sepatah kata pun, tangannya yang halus namun memiliki cengkraman kuat itu segera mencengkram lenganku, dia menarik paksa ku keluar dari tumpukan baju baju mahalnya.Tubuhku terhuyung, dan sebelum aku bisa menyeimbangkan diri, dokter Sarah langsung mendorongku dengan tenaga yang tidak ku sangka sebelumnya.
BRUK!a Punggungku menghantam dinding kamar yang dingin dengan keras. Namun, rasa dingin dinding itu langsung hilang saat tubuh dokter Sarah merapat padaku. Dadaku yang bidang langsung bersentuhan dengan tubuhnya yang hanya berbalut gaun tidur tipis berbahan satin.Aku bisa merasakan panas tubuhnya menembus kemejaku yang basah.
Jantungku berpacu gila. Di posisi ini, aku bisa mencium aroma mawar dari rambutnya yang masih agak basah.
"Kamu nekat banget Reno. Kamu tau apa resikonya kalau Elena melihat mu?" bisiknya dengan napas yang memburu tepat di depan bibirku. Kedua tangannya kini berada di dadaku. Dia tidak mendorongku menjauh, justru telapak tangannya mulai meraba otot dadaku yang mengeras karena tegang. Jari-jarinya bergerak liar, menelusuri lekukan otot dibalik kemejaku. Setiap sentuhannya terasa seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh sarafku, membuat seluruh tubuhku gemetar. Aku menelan ludah kasar. Posisiku sangat terjepit.Di depanku ada dokter Sarah yang sedang memangsa dadaku dengan sentuhannya, dan di sampingku, hanya terhalang satu dinding tipis, ada Elena yang sedang membasuh mukanya dan bisa keluar kapan pun itu.
"Dokter.. tolong.. Elena bisa mendengar kita," suaraku tercekat, nyarik tak keluar. "Biarkan saja dia mendengar," sahutnya dingin, namun matanya sudah sayu karena nafsu. Tangannya turun ke kancing kemejaku, dan melepas satu persatu kancingnya dengan gerakan perlahan yang menyiksa. Ia menekan tubuhnya lebih rapat lagi, membuatku bisa merasakan setiap inci lekukan tubuhnya yang sempurna menempel di tubuhku. Kejantananku di balik celana bahan ini benar-benar memberontak.Dokter Sarah seolah menikmati penderitaanku. Dia terus meraba tubuhku dengan jari jemarinya dan sedikit menekan kulit dadaku yang saat ini sudah terbuka.
"Kamu suka kan? Kamu suka di pegang seperti ini oleh majikanmu?" bisiknya lagi, suaranya kini terdengar sangat rendah dan menggoda. Aku hanya bisa mendongak, menatap langit-langit kamar dengan mata terpejam rapat. Gairah ini sudah di ubun-ubun dan aku ingin sekali membalas pelukannya, merengkuh pinggangnya yang ramping, dan membuktikan bahwa supir ini punya tenaga yang lebih besar darinya. Namun, akal sehatku masih berteriak untuk tetap waspada. Tepat saat dokter Sarah menyusupkan tangannya lebih dalam lagi ke kemejaku, suara klik pintu kamar mandi terdengar nyaring, membuat jantungku berhenti berdetak saat itu juga. Pintu kamar mandi itu terbuka kembali.Elena berdiri di sana mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dan matanya yang masih terpejam itu langsung tertuju ke arah kami yang sedang menempel di dinding.
'Tidak salah lagi, Elena pasti tau semuanya. Sial, apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana kalau Elena memberi tau suami dokter Sarah? Ahhhh, tamat sudah riwayatmu Reno,' batinku, merutuki kebodohanku sendiri.Niat yang tadinya mau hidup tenang, tiba-tiba saja di gagalkan oleh skandal memalukan ini.Tak lama kemudian, dokter Sarah pun tiba, tapi kali ini ia datang bersama dengan Maya. Ya ampun, ujian apa lagi ini."Elena, Maya bilang dokter Riska tidak bisa dihubungi, karena pasien juga merupakan pasien dari dokter Riska, kamu tolong jemput dia ke rumahnya. Saya dan Reno akan berangkat duluan ke rumah sakit," perintah dokter Sarah yang membuat Elena kembali menatapku dengan tatapan yang penuh arti. Aku tau apa yang ada di dalam pikirannya. Dia pasti mengira kalau aku akan memiliki kesempatan lagi bersama dokter Sarah."Tapi Sar, kenapa tidak Maya saja yang pergi? Aku takutnya nanti kamu keteteran," ucap Elena membuat kening dokter Sarah berkerut."Keteteran? Maksud kamu gimana
Ponsel di atas nakas itu kembali menjerit nyaring, merobek atmosfer panas yang baru saja kami bangun. Dokter Sarah tersentak, perlahan melepaskan lumatannya dari bibirku dengan napas yang masih tersengal-sengal. Sorot matanya yang tadi sayu penuh damba, dalam sekejap berubah menjadi dingin dan waspada saat melihat layar ponselnya. Permainan kami terhenti karena panggilan itu. "Ya, saya segera ke sana sekarang," ucapnya singkat, suaranya kembali otoriter seolah adegan panas tadi tidak pernah terjadi. Setelah panggilan penting itu berakhir, dokter Sarah kembali menatapku dengan tatapan rumit. "Maafkan aku Reno, aku ada pekerjaan mendesak. Permainan ini harus segera kita akhiri," ucapnya mencoba mengendalikan nafasnya yang masih memburu. Sial! Tanpa menunggu jawaban dariku, dokter Sarah bergegas turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi. Sedangkan aku? Aku hanya bisa mematung di atas ranjang, mengatur napas yang masih memburu dan menahan denyut frustasi di bawah perutku. Se
Suara pintu utama yang tertutup rapat oleh Maya tadi masih menyisakan gema yang mencekam di telingaku. Keheningan yang menyusuk setelahnya justru terasa jauh lebih berat dan nebekan dari pada saat ada orang lain di kamar ini. Dokter Sarah tidak membuang waktu sedetik pun. Dengan langkah cepat yang dipenuhi campuran antara marah yang tertahan dan gairah yang sudah meluap hingga ke ubun-ubun, dia berjalan menuju pintu utama kamar dan memutar kunci ganda. Klik.. Klik.. Suara kunci itu bagaikan pelatuk pistol yang di tarik tepat di depan wajahku. Dia berbalik, matanya yang tajam dan berkilat di bawah temaram lampu kamar menatap langsung ke arah tirai tempatku masih mematung dengan napas memburu. Tanpa kata-kata, dia menyambar kain tirai tebal itu dan menyibakkannya dengan satu sentakan kasar. Cahaya lampu kamar kini menerangi seluruh tubuhku yang berantakan, dengan kemeja seragam supir yang terbuka lebar dan kulit yang mengkilap oleh keringat. "Keluar dari sana Reno!" perintahnya. Suar
Keheningan di dalam kamar mewah itu mendadak pecah oleh suara yang paling kami tidak harapkan. Sebuah ketukan teratur di pintu kayu yang kokoh, namun di telingaku, suaranya terdengar seperti dentuman godam yang menghantam dada.Tok.. Tok.. Tok.."Dokter Sarah? Ini saya, Maya," suara lembut namun tegas itu membelah kesunyian "Saya bawakan teh hangat untuk dokter dan bu Elena."Jantungku seolah merosot hingga ke dasar lambung. Di balik tirai yang sempit ini, cengkraman dokter Sarah di pundakku seketika mengeras. Aku bisa merasakan kuku-kukunya yang terawat semakin menusuk kulit pundakku melalui kain kemeja yang aku kenakan. Tubuh dokter Sarah yang tadinya begitu menempel padaku, kini menjadi sekaku batu, seolah ia sedang memerintahkan seluruh anggota tubuhnya untuk berhenti bergerak dan mengeluarkan bunyi sekecil apa pun. Tanpa perlu di perintah, aku menahan napas sampai dadaku terasa perih dan panas. Keringat dingin mulai mengucur deras dari pelipis ku, mengalir melewati pipi yang me
Duniaku seolah berhenti berputar saat pintu kamar mandi itu berderit terbuka dan Elena yang pandangannya langsung ke arahku dan Sarah. Aku yang tadi tersiksa dengan hasrat yang dikendalikan oleh dokter Sarah, kini ditambah lagi dengan kehadiran Elena yang tiba-tiba saja keluar dari kamar mandi. Rasanya aku mau hilang saja dari kamar ini dan kembali ke bagasi mobil untuk bersantai sembari membakar sebatang rokok murah ku. "Sar, handuk bersihnya dimana? Aku lupa membawanya tadi," tanya Elena masih mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Ia bertanya dengan santai, sama sekali tidak menyadari kalau ia hanya berjarak dua meter dengan supir yang tadi ia gunjing kan bersama dengan Sarah. Cengkraman tangan dokter Sarah di lenganku mengencang seketika. Aku bisa merasakan kuku-kukunya yang terawat sedikit menekan kulitku, memberikan sinyal bahaya. Dengan gerakan yang sangat cepat, halus, dan nyaris tanpa suara, dokter Sarah menarik lenganku. Sebelum aku sempat memproses apa yang terjad
"Aneh? Aneh apanya?" sergah Sarah cepat, suaranya terdengar seperti orang tercekik.Elena turun dari ranjang dengan gerakan mengancam. Langkah kaki telanjangnya menginjak karpet tanpa suara mendekati lemari."Aroma udara di sekitar sini beda. Ada bau asing yang menyengat, entah yaa bau apa. Kayak bau-bau lumpur gitu. Bau hujan. Aku kurang paham. Intinya bau yang nggak banget ada di kamar kamu. Padahal, aku tau banget kamu orangnya ga suka ada bau lain selain parfum kamu sendiri."Elena mendongak sedikit di depan pintu lemariku, menghirup udara dengan hidung mancungnya. "Baunya kayak campuran keringat laki-laki kotor dan asap rokok kretek murahan. Kamu sendiri, kan, paling sensitif sama asap rokok. Masa kamu nggak nyium baunya?"Jantungku berhenti berdetak detik itu juga. Itu bau badanku dari garasi tadi sore."Jangan ngawur kamu, El! Itu paling sisa bau jaket suamiku di dalam lemari!" jerit Sarah dengan nada terlalu tinggi untuk menutupi kebohongannya.Elena sama sekali tidak menggubr







