Share

Bab 2

Author: Wind
Setelah kembali ke paviliun kecilnya, Keswari mengeluarkan satu per satu perhiasan yang selama bertahun-tahun diberikan Harjuna kepadanya. Dia berniat menggadaikannya menjadi uang perak untuk ditinggalkan kepada ibunya.

Setiap perhiasan itu begitu indah dan mewah. Dulu, benda-benda itu pernah dipakaikan sendiri oleh Harjuna kepadanya. Namun, kini semuanya terasa seperti duri yang menusuk ujung-ujung jarinya hingga terasa perih.

Keesokan harinya, baru saja dia membawa peti itu keluar, tanpa diduga dia berpapasan dengan Manika.

"Berhenti!" Sekilas pandang, Manika langsung melihat peti di tangannya. Ekspresinya seketika berubah. "Apa yang kamu bawa itu?"

Sebelum Keswari sempat menjawab, Manika sudah membuka tutup peti itu dengan kasar. Ketika melihat isi di dalamnya, wajahnya langsung menjadi muram karena marah.

"Bagus sekali, Keswari! Berani-beraninya kamu mencuri barang-barangku!" teriak Manika sambil mencengkeram pergelangan tangan Keswari. "Pelayan! Seret pencuri ini ke aula leluhur!"

"Aku nggak mencuri!" Keswari berusaha melepaskan diri sambil menjelaskan. "Semua ini adalah barang milikku sendiri!"

Namun, Manika sama sekali tidak mau dengar. Dia memerintahkan para pelayan tua menyeret Keswari ke aula leluhur.

Tak lama kemudian, seluruh keluarga pun berdatangan.

"Ayah!" Manika menunjuk perhiasan-perhiasan di dalam peti itu dengan suara tajam. "Semua ini adalah barang anugerah kerajaan. Mana mungkin putri selir sepertinya mendapatkannya? Jelas sekali dia mencuri barangku!"

Sang adipati, Bhagawan, memandang peti penuh harta itu dengan wajah muram. "Keswari, dari mana asal semua barang ini?"

"Ayah, mohon selidiki dengan adil." Keswari berlutut di lantai dengan suara gemetar. "Semua ini memang milikku. Sama sekali bukan hasil curian."

"Bohong!" Manika mencibir, lalu menyuruh seseorang membawa beberapa kotak brokat. "Lihat sendiri! Semua ini hadiah dari Pangeran untukku. Bukankah sama persis dengan yang ada di peti itu?"

Tubuh Keswari langsung gemetar. Tentu saja dia tahu mengapa semuanya sama.

Karena semua perhiasan itu dibeli dalam waktu yang sama oleh Harjuna. Satu diberikan secara terang-terangan kepada Manika, sedangkan satu lagi diam-diam diberikan kepadanya.

"Masih belum mau mengaku?" Manika menatapnya dari atas dengan angkuh. "Menurut aturan keluarga, pencuri harus dipatahkan tangan dan kakinya, lalu diusir dari kediaman!"

Tubuh Keswari terus gemetar. Namun, dia tidak mungkin mengungkap asal-usul sebenarnya dari semua perhiasan itu.

Dia hanya bisa mengulang-ulang, "Aku nggak mencuri ...."

"Panggil Pangeran kemari!" teriak Manika. "Biar Yang Mulia sendiri yang memastikan apakah semua barang ini berasal dari Istana Timur!"

Mendengar itu, wajah Keswari langsung memucat. Dia bahkan tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi jika Harjuna benar-benar datang.

Namun, dia tidak sempat menghentikannya. Tak lama kemudian, Harjuna pun tiba dengan jubah brokat putih keperakan, wajah setampan dewa. Namun, sikapnya sedingin bongkahan es.

"Yang Mulia." Manika langsung merangkul lengannya dengan akrab. "Coba lihat, apakah semua barang ini berasal dari Istana Timur?"

Tatapan Harjuna menyapu perhiasan yang berserakan di lantai, lalu mengangguk tipis. "Benar. Semua ini memang barang dari Istana Timur."

"Keswari!" Manika berbalik. Tatapannya dipenuhi kemarahan. "Buktinya sudah jelas. Apa lagi yang bisa kamu katakan?"

Keswari berlutut di atas lantai batu yang dingin, lalu mendongak menatap Harjuna. Mata yang pernah memandangnya dengan kelembutan itu kini sedingin es. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Dia hanya bisa memohon lewat tatapannya. Asalkan Harjuna mengucapkan satu kalimat saja, pria itu bisa menyelamatkannya dari semua ini.

Namun, Harjuna hanya melirik sekilas dengan acuh tak acuh, lalu mengalihkan pandangan, seolah dirinya hanyalah orang asing yang sama sekali tidak penting.

"Yang Mulia." Manika terus mendesak, "Apa Yang Mulia pernah menghadiahkan semua barang ini padanya?"

Bibir tipis Harjuna sedikit terbuka. Suaranya dingin menusuk. "Nggak pernah."

Dua kata itu bagaikan dua bilah pisau tajam yang menghunjam tepat ke dalam hati Keswari. Seluruh tubuhnya terasa membeku.

Baru saat itulah dia benar-benar mengerti. Demi memastikan Manika tidak terluka, Harjuna benar-benar tidak peduli pada hidup atau matinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 24

    "Keswari ... aku salah. Aku tahu aku salah. Maafkan aku. Kamu masih mencintaiku, 'kan?" gumam Harjuna, berusaha mengulurkan tangan untuk meraih bayangan semu itu.Namun, bagaimana mungkin Keswari menjawabnya?Meski hanya khayalannya sendiri, Keswari tetap berdiri di tempat yang tak akan pernah bisa dijangkaunya, menatapnya dengan sorot mata yang dingin."Jangan ... jangan menatapku seperti itu, Keswari ...."Dia tidak lagi mampu menahan tangisnya. Air mata mengalir deras. Sekali lagi dia teringat ... andai pada hari itu dia menyetujui permintaan Keswari.Bukan hanya menjadikannya selir, melainkan langsung berjanji menikahinya. Apakah akhir mereka akan berbeda?Harjuna menggigit bibirnya erat-erat. Air matanya terus mengalir tanpa henti. Di tengah rasa sakit yang mencapai puncaknya, akhirnya dia memejamkan mata untuk selama-lamanya.Abimanyu hanya memandang semuanya tanpa ekspresi. Harjuna telah mati. Seluruh pasukannya menyerah.Bahkan pengawal pribadinya pun menyerahkan diri kepada pa

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 23

    Pada hari yang sama, Harjuna sedang menuliskan rencananya."Ayah pasti akan memanggil Abimanyu kembali ke ibu kota untuk melindunginya. Asalkan aku membunuhnya, nggak akan ada lagi yang bisa menghalangiku."Dia berbicara dengan tenang, tetapi di dalam matanya masih tersimpan obsesi yang mendalam.Pengawal yang mengikutinya berkata dengan ragu, "Jenderal Abimanyu sudah lama bertugas di perbatasan. Dalam waktu setengah bulan saja, beliau sudah bisa tiba di ibu kota.""Saat itu beliau akan membawa hampir 100 ribu prajurit pilihan. Kita akan sangat sulit menang.""Walaupun sulit, kita tetap harus menang!" Harjuna menghantam meja dengan keras.Pengawal itu langsung ketakutan dan berlutut. "Baik! Tapi ada satu hal yang belum hamba pahami. Kaisar sejak lama sudah berniat menyerahkan takhta kepada Yang Mulia.""Yang Mulia tinggal menunggu beberapa tahun lagi. Setelah Kaisar mangkat karena usia tua, Yang Mulia bisa naik takhta secara sah. Kenapa sekarang Yang Mulia justru mengambil risiko sebes

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 22

    Saat itu, banyak hal berkecamuk di benak Abimanyu. Tiba-tiba, dia mendengar suara seseorang."Jenderal! Jenderal! Jenderal Abimanyu!"Abimanyu langsung tersadar. Dia baru menyadari dirinya masih berada di perkemahan. "Maaf, tadi aku sedang memikirkan sesuatu. Kita lanjutkan."Dia kembali mengangkat tombak panjangnya.Sekelompok prajurit langsung tertawa."Jarang sekali Jenderal melamun.""Jangan-jangan sedang memikirkan istri?""Kudengar hari ini Pangeran datang mencari Kakak Ipar. Jangan-jangan mau merebut istri Jenderal?""Dia putra mahkota, 'kan? Mana mungkin!""Tapi Kakak Ipar memang layak diperjuangkan. Kalau bukan karena itu, mana mungkin Pangeran datang sendiri ke sini? Kalau memang urusan resmi, bukankah cukup langsung menemui Jenderal?"Mereka terus menebak-nebak.Tanpa sadar, Abimanyu mengernyit. Bagaimana mereka bisa menjadikan putra mahkota sebagai bahan candaan? Itu adalah tindakan yang sangat tidak sopan.Kalau sampai didengar orang lain, dalam kasus yang serius, mereka b

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 21

    Sungguh janji yang terdengar begitu indah. Putri mahkota, bahkan permaisuri. Kedudukan yang diimpikan oleh begitu banyak orang, kini dijanjikan Harjuna kepada Keswari.Kalau dulu, dia pasti akan sangat gembira. Bagaimanapun, dia pernah mencintai pria itu dengan begitu mendalam.Mendengar bahwa pria itu akan menikahinya, bagaimana mungkin dia tidak akan merasa bahagia?Namun sekarang ... selain kesedihan yang tak berujung dan kekecewaan, Keswari tak lagi memiliki perasaan lain.Dia mengeluarkan saputangan sutra putih yang selama ini selalu dibawanya ke mana pun. Saputangan itu digenggam erat di tangannya."Apa Yang Mulia masih ingat? Dulu ketika Yang Mulia mengambil darah dari jantungku, aku bilang aku menginginkan satu permintaan. Saat itu, Yang Mulia membubuhkan cap persetujuan."Harjuna mengangguk. Memang ada kejadian seperti itu.Keswari membentangkan saputangan itu. Di atasnya tertulis kalimat demi kalimat yang lahir dari darah dan air mata."Inilah permintaanku. Yang Mulia, mohon

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 20

    "Di mana Abimanyu?" teriak Harjuna.Abimanyu memasang wajah tenang, lalu keluar seorang diri."Ada keperluan apa, Yang Mulia?" tanyanya dengan sopan."Aku tanya padamu, apakah Keswari sudah menikah denganmu? Aku memerintahkan kalian bercerai sekarang juga!"Harjuna turun dari kudanya dan menatap Abimanyu. Namun, pria di hadapannya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mundur."Maaf, saya nggak bisa menyetujuinya. Hubungan saya dan Keswari sangat baik. Hanya karena satu kalimat dari Yang Mulia, Yang Mulia ingin memisahkan kami? Apa itu nggak terlalu gegabah?"Wajah Abimanyu tampak masam. Dia tidak membungkuk, juga tidak menunduk. Dia hanya menatap lurus ke arah Harjuna."Aku adalah putra mahkota. Kelak aku akan menjadi kaisar. Aku hanya memintamu bercerai dengan Keswari. Bukankah kamu seorang jenderal? Kenapa kamu nggak mematuhi perintahku? Atau jangan-jangan kamu ingin membangkang?"Selain kaisar, semua orang harus menghormati putra mahkota. Siapa yang berani melampaui kedudukannya

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 19

    Bagaimana mungkin dia tidak mengenalnya? Putri mahkota saat ini adalah kakaknya sendiri. Sebelum mereka menikah, setiap hari dia diam-diam bertemu dengan sang putra mahkota.Pria yang di mata orang lain dikenal elegan dan berbudi luhur itu ... setiap kali bertemu dengannya justru selalu menindihnya dan melampiaskan hasrat tanpa kenal lelah. Seolah dia mencintainya hingga ke relung jiwa.Namun, setiap kali semuanya berakhir, sikapnya kembali begitu dingin dan menyakitkan. Dia membiarkan orang lain salah paham terhadapnya, membiarkan orang lain menyakitinya.Pria itu ingin dia selamanya hidup dalam bayang-bayang, menjadi mainannya yang tidak boleh diketahui siapa pun.Untuk melarikan diri darinya, Keswari memilih menikah dan pergi ke wilayah perbatasan ini. Namun, dia tidak menyangka Harjuna tetap datang mencarinya.Jari-jari Keswari mengepal erat. Meskipun sudah tak lagi mencintai pria itu, mengungkapkan semua ini kepada orang lain tetap membuat dadanya terasa sakit. Itu adalah masa lal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status