共有

Bab 3

作者: Wind
"Ayah!" seru Manika dengan lantang. "Mohon tegakkan hukum keluarga!"

Bhagawan baru saja hendak memberi perintah, tetapi Harjuna tiba-tiba bersuara, "Tunggu."

Aula leluhur seketika menjadi sunyi. Semua orang menoleh ke arahnya.

"Hari pernikahan sudah dekat, nggak pantas ada kegaduhan." Nada suara Harjuna datar. "Toh cuma perhiasan. Anggap saja itu hadiah yang nanti akan kuberikan ke semua perempuan di kediaman ini."

Bhagawan segera memahami maksudnya dan memanfaatkan kesempatan itu. "Yang Mulia sungguh murah hati. Cepat ucapkan terima kasih."

Keswari bersujud dengan kaku. Keningnya menyentuh lantai batu yang dingin. "Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia."

"Nggak bisa!" Manika tetap tidak mau mengalah. "Peraturan keluarga nggak boleh diabaikan! Setidaknya dia harus dicambuk 30 kali sebagai peringatan bagi yang lain!"

Harjuna menoleh ke arah Manika. Kilatan tak berdaya melintas di matanya. "Ya sudah, lakukan sesuai keinginanmu."

Setelah berkata begitu, dia berbalik dan berjalan ke samping, tak lagi ikut campur.

Keswari ditekan ke lantai. Cambuk yang kasar menghantam punggungnya dengan keras.

Saat cambukan pertama mendarat, Keswari menggigit bibirnya erat-erat. Punggungnya terasa terbakar, tetapi dia memaksakan diri untuk tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

Cambukan kedua menghantam bahunya. Pakaiannya langsung robek, memperlihatkan luka panjang. Dia mencengkeram ujung lengan bajunya erat-erat hingga kuku-kukunya menancap dalam ke telapak tangan.

"Lima ... enam ... tujuh ...."

Cambukan demi cambukan terus menghantam. Punggung Keswari sudah hancur dan berlumuran darah. Darah segar mengalir menyusuri tulang punggungnya hingga menggenang di lantai.

Rasa sakit itu perlahan berubah menjadi mati rasa. Yang dia rasakan hanyalah kekecewaan yang menjalar ke seluruh tubuh.

Dengan sekuat tenaga, dia membuka mata. Dalam pandangannya yang mulai kabur, dia melihat Harjuna sedang menutupi mata Manika dengan tangannya.

"Jangan dilihat." Suaranya lembut, begitu lembut hingga terasa menyakitkan. "Nanti kamu nggak bisa tidur."

Saat cambukan terakhir mendarat, Keswari akhirnya tak sanggup bertahan lagi. Pemandangan di depan matanya menggelap, lalu dia jatuh pingsan.

....

Saat Keswari siuman, luka di punggungnya sudah dibalut seadanya. Dengan susah payah, dia menopang tubuhnya untuk duduk.

Dia melihat dua peti perhiasan yang sebelumnya telah menimbulkan keributan besar itu kini diletakkan di samping ranjangnya. Di sampingnya bahkan ada beberapa peti tambahan.

"Nona," ujar pelayan tua dengan hati-hati. "Semua ini diperintahkan langsung oleh Yang Mulia untuk diantarkan kemari. Di dalamnya juga ada banyak obat luka yang berkhasiat."

Keswari memandang perhiasan-perhiasan yang berkilauan itu. Suaranya serak. "Aku nggak menginginkannya. Bawa kembali."

Pelayan tua itu ragu sejenak. Setelah memastikan tak ada orang lain di sekitar, dia berbisik, "Yang Mulia tahu Nona sudah diperlakukan nggak adil. Beliau secara khusus memanggil tabib istana dan meminta Nona datang ke Istana Timur malam ini untuk menjalani pengobatan."

"Nggak perlu." Keswari menggeleng. "Aku sulit bergerak, jadi nggak akan pergi. Lagi pula, barang-barang semahal ini bukan sesuatu yang pantas dinikmati oleh putri selir sepertiku."

Pelayan tua itu masih ingin membujuk, tetapi melihat sikapnya begitu tegas, dia hanya bisa menghela napas sebelum membawa semua barang itu pergi.

Hari-hari berikutnya, Keswari terus memulihkan luka di dalam kamarnya. Setiap kali malam makin larut dan keadaan benar-benar sunyi, lorong rahasia selalu mengeluarkan suara samar.

Dia tahu Harjuna sedang menunggunya di sana. Namun, dia hanya menutup telinganya dan berpura-pura tidak mendengar.

Sampai suatu hari, dia mendengar bahwa ibunya jatuh sakit. Barulah dia memaksakan diri pergi ke kuil di luar kota untuk memanjatkan doa demi kesembuhan sang ibu.

Tak disangka, setelah selesai berdoa, di bawah pohon jodoh dia justru bertemu dengan Harjuna dan Manika yang sedang bepergian secara diam-diam tanpa pengawalan lengkap.

"Jodoh kalian sudah ditentukan oleh langit. Kalian pasti akan hidup bersama hingga tua." Seorang tetua kuil tersenyum sambil menyerahkan seutas tali merah.

Dengan wajah tersipu malu, Manika menyandarkan kepala di bahu Harjuna. Sementara itu, Harjuna mengikatkan tali merah itu pada pergelangan tangan Manika dengan lembut.

Keswari diam-diam berbalik hendak pergi. Namun, baru beberapa langkah menuruni anak tangga, tiba-tiba seseorang mencengkeram pergelangan tangannya.

Dia mendongak. Tatapannya langsung bertemu dengan sepasang mata Harjuna yang dalam.

"Kenapa beberapa hari ini kamu nggak datang?" Suaranya rendah, mengandung ketidakpuasan. "Kamu mau merajuk?"

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 24

    "Keswari ... aku salah. Aku tahu aku salah. Maafkan aku. Kamu masih mencintaiku, 'kan?" gumam Harjuna, berusaha mengulurkan tangan untuk meraih bayangan semu itu.Namun, bagaimana mungkin Keswari menjawabnya?Meski hanya khayalannya sendiri, Keswari tetap berdiri di tempat yang tak akan pernah bisa dijangkaunya, menatapnya dengan sorot mata yang dingin."Jangan ... jangan menatapku seperti itu, Keswari ...."Dia tidak lagi mampu menahan tangisnya. Air mata mengalir deras. Sekali lagi dia teringat ... andai pada hari itu dia menyetujui permintaan Keswari.Bukan hanya menjadikannya selir, melainkan langsung berjanji menikahinya. Apakah akhir mereka akan berbeda?Harjuna menggigit bibirnya erat-erat. Air matanya terus mengalir tanpa henti. Di tengah rasa sakit yang mencapai puncaknya, akhirnya dia memejamkan mata untuk selama-lamanya.Abimanyu hanya memandang semuanya tanpa ekspresi. Harjuna telah mati. Seluruh pasukannya menyerah.Bahkan pengawal pribadinya pun menyerahkan diri kepada pa

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 23

    Pada hari yang sama, Harjuna sedang menuliskan rencananya."Ayah pasti akan memanggil Abimanyu kembali ke ibu kota untuk melindunginya. Asalkan aku membunuhnya, nggak akan ada lagi yang bisa menghalangiku."Dia berbicara dengan tenang, tetapi di dalam matanya masih tersimpan obsesi yang mendalam.Pengawal yang mengikutinya berkata dengan ragu, "Jenderal Abimanyu sudah lama bertugas di perbatasan. Dalam waktu setengah bulan saja, beliau sudah bisa tiba di ibu kota.""Saat itu beliau akan membawa hampir 100 ribu prajurit pilihan. Kita akan sangat sulit menang.""Walaupun sulit, kita tetap harus menang!" Harjuna menghantam meja dengan keras.Pengawal itu langsung ketakutan dan berlutut. "Baik! Tapi ada satu hal yang belum hamba pahami. Kaisar sejak lama sudah berniat menyerahkan takhta kepada Yang Mulia.""Yang Mulia tinggal menunggu beberapa tahun lagi. Setelah Kaisar mangkat karena usia tua, Yang Mulia bisa naik takhta secara sah. Kenapa sekarang Yang Mulia justru mengambil risiko sebes

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 22

    Saat itu, banyak hal berkecamuk di benak Abimanyu. Tiba-tiba, dia mendengar suara seseorang."Jenderal! Jenderal! Jenderal Abimanyu!"Abimanyu langsung tersadar. Dia baru menyadari dirinya masih berada di perkemahan. "Maaf, tadi aku sedang memikirkan sesuatu. Kita lanjutkan."Dia kembali mengangkat tombak panjangnya.Sekelompok prajurit langsung tertawa."Jarang sekali Jenderal melamun.""Jangan-jangan sedang memikirkan istri?""Kudengar hari ini Pangeran datang mencari Kakak Ipar. Jangan-jangan mau merebut istri Jenderal?""Dia putra mahkota, 'kan? Mana mungkin!""Tapi Kakak Ipar memang layak diperjuangkan. Kalau bukan karena itu, mana mungkin Pangeran datang sendiri ke sini? Kalau memang urusan resmi, bukankah cukup langsung menemui Jenderal?"Mereka terus menebak-nebak.Tanpa sadar, Abimanyu mengernyit. Bagaimana mereka bisa menjadikan putra mahkota sebagai bahan candaan? Itu adalah tindakan yang sangat tidak sopan.Kalau sampai didengar orang lain, dalam kasus yang serius, mereka b

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 21

    Sungguh janji yang terdengar begitu indah. Putri mahkota, bahkan permaisuri. Kedudukan yang diimpikan oleh begitu banyak orang, kini dijanjikan Harjuna kepada Keswari.Kalau dulu, dia pasti akan sangat gembira. Bagaimanapun, dia pernah mencintai pria itu dengan begitu mendalam.Mendengar bahwa pria itu akan menikahinya, bagaimana mungkin dia tidak akan merasa bahagia?Namun sekarang ... selain kesedihan yang tak berujung dan kekecewaan, Keswari tak lagi memiliki perasaan lain.Dia mengeluarkan saputangan sutra putih yang selama ini selalu dibawanya ke mana pun. Saputangan itu digenggam erat di tangannya."Apa Yang Mulia masih ingat? Dulu ketika Yang Mulia mengambil darah dari jantungku, aku bilang aku menginginkan satu permintaan. Saat itu, Yang Mulia membubuhkan cap persetujuan."Harjuna mengangguk. Memang ada kejadian seperti itu.Keswari membentangkan saputangan itu. Di atasnya tertulis kalimat demi kalimat yang lahir dari darah dan air mata."Inilah permintaanku. Yang Mulia, mohon

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 20

    "Di mana Abimanyu?" teriak Harjuna.Abimanyu memasang wajah tenang, lalu keluar seorang diri."Ada keperluan apa, Yang Mulia?" tanyanya dengan sopan."Aku tanya padamu, apakah Keswari sudah menikah denganmu? Aku memerintahkan kalian bercerai sekarang juga!"Harjuna turun dari kudanya dan menatap Abimanyu. Namun, pria di hadapannya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mundur."Maaf, saya nggak bisa menyetujuinya. Hubungan saya dan Keswari sangat baik. Hanya karena satu kalimat dari Yang Mulia, Yang Mulia ingin memisahkan kami? Apa itu nggak terlalu gegabah?"Wajah Abimanyu tampak masam. Dia tidak membungkuk, juga tidak menunduk. Dia hanya menatap lurus ke arah Harjuna."Aku adalah putra mahkota. Kelak aku akan menjadi kaisar. Aku hanya memintamu bercerai dengan Keswari. Bukankah kamu seorang jenderal? Kenapa kamu nggak mematuhi perintahku? Atau jangan-jangan kamu ingin membangkang?"Selain kaisar, semua orang harus menghormati putra mahkota. Siapa yang berani melampaui kedudukannya

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 19

    Bagaimana mungkin dia tidak mengenalnya? Putri mahkota saat ini adalah kakaknya sendiri. Sebelum mereka menikah, setiap hari dia diam-diam bertemu dengan sang putra mahkota.Pria yang di mata orang lain dikenal elegan dan berbudi luhur itu ... setiap kali bertemu dengannya justru selalu menindihnya dan melampiaskan hasrat tanpa kenal lelah. Seolah dia mencintainya hingga ke relung jiwa.Namun, setiap kali semuanya berakhir, sikapnya kembali begitu dingin dan menyakitkan. Dia membiarkan orang lain salah paham terhadapnya, membiarkan orang lain menyakitinya.Pria itu ingin dia selamanya hidup dalam bayang-bayang, menjadi mainannya yang tidak boleh diketahui siapa pun.Untuk melarikan diri darinya, Keswari memilih menikah dan pergi ke wilayah perbatasan ini. Namun, dia tidak menyangka Harjuna tetap datang mencarinya.Jari-jari Keswari mengepal erat. Meskipun sudah tak lagi mencintai pria itu, mengungkapkan semua ini kepada orang lain tetap membuat dadanya terasa sakit. Itu adalah masa lal

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status