Share

Bab 5

Penulis: Wind
Suara Harjuna sedingin es. Mendengarnya, Wening langsung gemetar ketakutan. Dia buru-buru menarik Keswari, hendak mengajaknya berlutut memberi hormat.

Namun, Keswari lebih dulu membungkuk di lantai. Sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, dia segera menjawab, "Kakak. Tadi kami sedang membicarakan pernikahan Kakak."

Harjuna sedikit mengernyit. Tatapannya menyapu ibu dan anak itu sesaat, tetapi pada akhirnya dia tidak bertanya lebih jauh. Dia pun menggendong Manika dan melangkah memasuki halaman dalam.

Wening segera membantu Keswari kembali ke paviliun kecilnya. Di bawah cahaya lilin, dia membersihkan luka-luka putrinya dengan hati-hati. Air matanya terus mengalir tanpa henti.

"Keswari ... apa kamu membenci Ibu?" Wening terisak-isak. "Karena Ibu memaksamu menikah dengan orang yang tinggal sejauh itu ...."

Keswari menggeleng pelan. "Nggak, Bu. Aku menerimanya dengan sepenuh hati."

"Benarkah?" Gerakan tangan Wening berhenti sejenak. "Jadi, kamu benar-benar sudah melupakan pria yang kamu cintai itu?"

Tubuh Keswari langsung menegang. Dia teringat tiga tahun lalu, saat itu demi menghindari desakan untuk menikah, dia pernah berkata kepada Wening dengan wajah memerah bahwa dirinya sudah memiliki pria yang dicintai dan pria itu telah berjanji akan datang melamarnya.

Wening memercayainya, sehingga selama ini membiarkannya terus menunda pernikahan.

"Ibu ...." Keswari memaksakan sebuah senyuman. "Mana ada pria yang kucintai? Semua itu hanya kebohongan yang kubuat untuk menipu Ibu."

Mangkuk obat di tangan Wening nyaris terjatuh. "Apa?"

"Aku hanya ingin menemani Ibu beberapa tahun lagi, jadi aku mengarang kebohongan itu." Keswari menunduk, tidak berani menatap mata ibunya. "Jangan dianggap serius."

Nyala lilin bergoyang tertiup angin, menerangi wajah Wening yang penuh jejak air mata. Dengan tangan gemetar, dia membelai pipi putrinya. "Anak bodoh .... Tapi, entah itu benar atau nggak, semuanya sudah berlalu."

"Ya, semuanya sudah berlalu." Keswari mengangguk kuat-kuat. Suaranya lirih bagai bisikan. "Sudah waktunya aku bangun dari mimpi panjang."

Wening memeluk putrinya, lalu menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut seperti saat dia masih kecil.

"Setelah sampai di perbatasan nanti, hiduplah dengan baik. Jenderal Abimanyu itu orang baik. Dia pasti akan memperlakukanmu dengan layak."

Keswari bersandar di bahu ibunya dan mengangguk pelan.

Keswari yang seluruh hati dan pikirannya hanya dipenuhi oleh Harjuna kini benar-benar sudah mati. Mulai sekarang, dirinya hanyalah istri Jenderal Abimanyu yang bertugas di perbatasan.

Dia tidak akan lagi memiliki hubungan apa pun dengan ibu kota maupun dengan Harjuna.

....

Sejak saat itu, Keswari tinggal di rumah untuk mempersiapkan pernikahannya. Hingga akhirnya, tiba hari Festival Kota.

Hari itu, dia tidak punya pilihan selain mengikuti saudari-saudari di keluarganya menghadiri jamuan menikmati bunga plum yang diadakan oleh Tuan Putri Kesembilan, Ishana.

Jamuan itu berlangsung di taman bunga plum. Di mana-mana terdengar gelak tawa dan percakapan riang.

Baru saja Keswari duduk di tempatnya, dia melihat Harjuna berjalan perlahan sambil menggandeng tangan Manika.

Dengan jubah brokat hitam, sosok Harjuna tampak makin tampan sekaligus dingin. Manika, yang mengenakan mantel merah menyala, tampil secantik bunga plum merah yang sedang mekar paling sempurna di taman itu.

"Yang Mulia benar-benar memperlakukan Nona Manika dengan penuh perhatian."

Para nona muda di sekitarnya berbisik-bisik.

"Kudengar bahkan tusuk konde di rambutnya dipasangkan sendiri oleh Yang Mulia."

"Tentu saja. Mereka tumbuh bersama sejak kecil. Kasih sayang seperti itu benar-benar membuat orang iri."

"Kalau mereka benar-benar bisa hidup bersama seumur hidup sebagai satu-satunya pasangan, nama Yang Mulia sebagai pria yang begitu setia pasti akan dikenang sepanjang sejarah."

Keswari menunduk dan menyesap tehnya. Teh itu masih hangat. Namun, kehangatannya sama sekali tak mampu mengusir hawa dingin di jari-jarinya.

"Aduh ... kalian ini terus saja membicarakan hal-hal seperti itu ...." Manika tiba-tiba berkata dengan manja sambil tersipu malu, lalu berdiri. "Aku mau lihat bunga plum."

Harjuna segera melepaskan jubah luarnya untuk menyelimuti Manika. Saat dia membungkuk, sebuah kantong wewangian yang indah tiba-tiba meluncur keluar dari lengan bajunya.

Plak. Benda itu jatuh ke tanah. Ishana yang bermata tajam segera memungutnya.

"Ini pasti sulaman buatan Manika, ya?" Dia tersenyum menggoda. "Kakak ternyata membawanya. Benar-benar romantis."

Cangkir teh di tangan Keswari hampir terlepas. Itu adalah kantong wewangian yang dia berikan kepada Harjuna tiga tahun lalu. Di dalamnya tersimpan lukisan kecil dirinya.

Dulu, Harjuna menolak semua hadiah yang dia berikan. Hanya kantong wewangian inilah yang disimpannya.

Karena tindakan itulah dia keliru mengira bahwa pria itu juga memiliki perasaan untuknya.

"Kak, isinya apa? Biar kulihat, ya." Ishana mulai membuka kantong wewangian itu dengan antusias.

Keswari langsung berdiri. Suaranya sampai bergetar. "Jangan!"

Seluruh tamu jamuan memandangnya dengan heran. Dia baru menyadari dirinya telah kehilangan kendali.

Dia buru-buru berkata, "Aku pernah dengar, kantong wewangian seperti ini nggak boleh dibuka sembarangan oleh orang lain. Kalau dibuka, bisa mengacaukan jodoh pemiliknya."

Tatapannya terpaku pada kantong wewangian itu. Seolah dia ingin membakarnya hanya dengan sorot matanya. Lukisan kecil di dalamnya tidak boleh sampai diketahui orang lain ....

"Omong kosong." Ishana mendengus dengan tidak percaya. "Kakakku dan Manika adalah pasangan yang ditakdirkan. Mereka juga sudah tunangan. Bahkan para dewa pun nggak bisa menggoyahkan jodoh mereka."

Tanpa sadar, Keswari menoleh ke arah Harjuna. Tatapannya penuh permohonan.

Namun, wajah pria itu tetap tenang, seolah semua ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Melihat kantong wewangian itu mulai dibuka, Keswari memejamkan mata dalam keputusasaan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 24

    "Keswari ... aku salah. Aku tahu aku salah. Maafkan aku. Kamu masih mencintaiku, 'kan?" gumam Harjuna, berusaha mengulurkan tangan untuk meraih bayangan semu itu.Namun, bagaimana mungkin Keswari menjawabnya?Meski hanya khayalannya sendiri, Keswari tetap berdiri di tempat yang tak akan pernah bisa dijangkaunya, menatapnya dengan sorot mata yang dingin."Jangan ... jangan menatapku seperti itu, Keswari ...."Dia tidak lagi mampu menahan tangisnya. Air mata mengalir deras. Sekali lagi dia teringat ... andai pada hari itu dia menyetujui permintaan Keswari.Bukan hanya menjadikannya selir, melainkan langsung berjanji menikahinya. Apakah akhir mereka akan berbeda?Harjuna menggigit bibirnya erat-erat. Air matanya terus mengalir tanpa henti. Di tengah rasa sakit yang mencapai puncaknya, akhirnya dia memejamkan mata untuk selama-lamanya.Abimanyu hanya memandang semuanya tanpa ekspresi. Harjuna telah mati. Seluruh pasukannya menyerah.Bahkan pengawal pribadinya pun menyerahkan diri kepada pa

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 23

    Pada hari yang sama, Harjuna sedang menuliskan rencananya."Ayah pasti akan memanggil Abimanyu kembali ke ibu kota untuk melindunginya. Asalkan aku membunuhnya, nggak akan ada lagi yang bisa menghalangiku."Dia berbicara dengan tenang, tetapi di dalam matanya masih tersimpan obsesi yang mendalam.Pengawal yang mengikutinya berkata dengan ragu, "Jenderal Abimanyu sudah lama bertugas di perbatasan. Dalam waktu setengah bulan saja, beliau sudah bisa tiba di ibu kota.""Saat itu beliau akan membawa hampir 100 ribu prajurit pilihan. Kita akan sangat sulit menang.""Walaupun sulit, kita tetap harus menang!" Harjuna menghantam meja dengan keras.Pengawal itu langsung ketakutan dan berlutut. "Baik! Tapi ada satu hal yang belum hamba pahami. Kaisar sejak lama sudah berniat menyerahkan takhta kepada Yang Mulia.""Yang Mulia tinggal menunggu beberapa tahun lagi. Setelah Kaisar mangkat karena usia tua, Yang Mulia bisa naik takhta secara sah. Kenapa sekarang Yang Mulia justru mengambil risiko sebes

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 22

    Saat itu, banyak hal berkecamuk di benak Abimanyu. Tiba-tiba, dia mendengar suara seseorang."Jenderal! Jenderal! Jenderal Abimanyu!"Abimanyu langsung tersadar. Dia baru menyadari dirinya masih berada di perkemahan. "Maaf, tadi aku sedang memikirkan sesuatu. Kita lanjutkan."Dia kembali mengangkat tombak panjangnya.Sekelompok prajurit langsung tertawa."Jarang sekali Jenderal melamun.""Jangan-jangan sedang memikirkan istri?""Kudengar hari ini Pangeran datang mencari Kakak Ipar. Jangan-jangan mau merebut istri Jenderal?""Dia putra mahkota, 'kan? Mana mungkin!""Tapi Kakak Ipar memang layak diperjuangkan. Kalau bukan karena itu, mana mungkin Pangeran datang sendiri ke sini? Kalau memang urusan resmi, bukankah cukup langsung menemui Jenderal?"Mereka terus menebak-nebak.Tanpa sadar, Abimanyu mengernyit. Bagaimana mereka bisa menjadikan putra mahkota sebagai bahan candaan? Itu adalah tindakan yang sangat tidak sopan.Kalau sampai didengar orang lain, dalam kasus yang serius, mereka b

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 21

    Sungguh janji yang terdengar begitu indah. Putri mahkota, bahkan permaisuri. Kedudukan yang diimpikan oleh begitu banyak orang, kini dijanjikan Harjuna kepada Keswari.Kalau dulu, dia pasti akan sangat gembira. Bagaimanapun, dia pernah mencintai pria itu dengan begitu mendalam.Mendengar bahwa pria itu akan menikahinya, bagaimana mungkin dia tidak akan merasa bahagia?Namun sekarang ... selain kesedihan yang tak berujung dan kekecewaan, Keswari tak lagi memiliki perasaan lain.Dia mengeluarkan saputangan sutra putih yang selama ini selalu dibawanya ke mana pun. Saputangan itu digenggam erat di tangannya."Apa Yang Mulia masih ingat? Dulu ketika Yang Mulia mengambil darah dari jantungku, aku bilang aku menginginkan satu permintaan. Saat itu, Yang Mulia membubuhkan cap persetujuan."Harjuna mengangguk. Memang ada kejadian seperti itu.Keswari membentangkan saputangan itu. Di atasnya tertulis kalimat demi kalimat yang lahir dari darah dan air mata."Inilah permintaanku. Yang Mulia, mohon

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 20

    "Di mana Abimanyu?" teriak Harjuna.Abimanyu memasang wajah tenang, lalu keluar seorang diri."Ada keperluan apa, Yang Mulia?" tanyanya dengan sopan."Aku tanya padamu, apakah Keswari sudah menikah denganmu? Aku memerintahkan kalian bercerai sekarang juga!"Harjuna turun dari kudanya dan menatap Abimanyu. Namun, pria di hadapannya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mundur."Maaf, saya nggak bisa menyetujuinya. Hubungan saya dan Keswari sangat baik. Hanya karena satu kalimat dari Yang Mulia, Yang Mulia ingin memisahkan kami? Apa itu nggak terlalu gegabah?"Wajah Abimanyu tampak masam. Dia tidak membungkuk, juga tidak menunduk. Dia hanya menatap lurus ke arah Harjuna."Aku adalah putra mahkota. Kelak aku akan menjadi kaisar. Aku hanya memintamu bercerai dengan Keswari. Bukankah kamu seorang jenderal? Kenapa kamu nggak mematuhi perintahku? Atau jangan-jangan kamu ingin membangkang?"Selain kaisar, semua orang harus menghormati putra mahkota. Siapa yang berani melampaui kedudukannya

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 19

    Bagaimana mungkin dia tidak mengenalnya? Putri mahkota saat ini adalah kakaknya sendiri. Sebelum mereka menikah, setiap hari dia diam-diam bertemu dengan sang putra mahkota.Pria yang di mata orang lain dikenal elegan dan berbudi luhur itu ... setiap kali bertemu dengannya justru selalu menindihnya dan melampiaskan hasrat tanpa kenal lelah. Seolah dia mencintainya hingga ke relung jiwa.Namun, setiap kali semuanya berakhir, sikapnya kembali begitu dingin dan menyakitkan. Dia membiarkan orang lain salah paham terhadapnya, membiarkan orang lain menyakitinya.Pria itu ingin dia selamanya hidup dalam bayang-bayang, menjadi mainannya yang tidak boleh diketahui siapa pun.Untuk melarikan diri darinya, Keswari memilih menikah dan pergi ke wilayah perbatasan ini. Namun, dia tidak menyangka Harjuna tetap datang mencarinya.Jari-jari Keswari mengepal erat. Meskipun sudah tak lagi mencintai pria itu, mengungkapkan semua ini kepada orang lain tetap membuat dadanya terasa sakit. Itu adalah masa lal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status