مشاركة

Bab 6

مؤلف: Wind
Namun, ketika Keswari membuka matanya kembali, dia mendapati bahwa lukisan kecil yang dikeluarkan oleh Ishana ternyata adalah lukisan Manika!

"Kakak ternyata membawa lukisan kecil Manika ke mana-mana?" tanya Ishana dengan heran. "Kakak benar-benar mencintainya sepenuh hati, ya."

Harjuna tersenyum tipis. "Tentu saja. Saat nggak bisa bertemu dengannya, benda itu bisa sedikit mengobati rasa rinduku."

Semua orang kembali memandang mereka dengan iri.

Saat itu, seorang nona muda tiba-tiba berkata, "Tapi ... kantong wewangian ini sepertinya bukan hasil sulaman Nona Manika."

Harjuna menjawab dengan tenang, "Aku nggak tega membiarkan Manika bersusah payah, juga takut tangannya terluka. Karena itu aku menyuruh seorang penyulam membuatnya."

Keswari merasa seolah terjatuh ke dalam jurang es. Jadi, alasan Harjuna menerima kantong wewangian pemberiannya bukan karena pria itu memiliki perasaan padanya, melainkan karena menganggapnya sebagai seorang penyulam?

Itulah sebabnya lukisan kecil dirinya dibuang dan diganti dengan lukisan Manika!

Ishana tersenyum, lalu menoleh kepada Keswari dengan ekspresi tak sabar. "Kakak dan kakak iparku saling mencintai. Jodoh mereka sudah ditentukan langit, bukan sesuatu yang bisa dipisahkan oleh sembarang orang. Nona Keswari, sekarang kamu percaya, 'kan?"

Keswari menunduk. "Ya. Hubungan Pangeran dan Kakak begitu kuat. Memang sudah seharusnya mereka hidup bersama seumur hidup."

Harjuna sedikit mengernyit. Dia menatap Keswari dengan sorot mata yang sulit ditebak, tetapi tidak mengatakan apa pun. Dia hanya mengambil kembali kantong wewangian itu, menggandeng tangan Manika, lalu pergi.

....

Setelah kembali ke kediaman keluarga, malam itu juga Keswari memanggil para tukang kepercayaannya untuk menutup lorong rahasia itu sepenuhnya.

Batu bata ditumpuk satu demi satu. Bersama tembok yang makin rapat itu, seluruh kegilaan selama tiga tahun terakhir ikut terkubur.

"Nona, semuanya sudah selesai," kata salah seorang tukang dengan suara pelan.

Keswari mengangguk. Memandangi dinding yang telah kembali seperti semula, dia berpikir bahwa Harjuna sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya, jadi seharusnya tidak akan memedulikan hal sekecil ini.

Namun, larut malam keesokan harinya, tepat ketika dia hendak beristirahat, pintu kamarnya tiba-tiba didorong hingga terbuka.

Harjuna berdiri di ambang pintu dengan pakaian serba hitam untuk menghindari perhatian. Kemarahan jelas terlihat di matanya.

"Kenapa lorong rahasia itu kamu tutup?" tanyanya dengan nada dingin.

Jantung Keswari berdegup kencang. Dengan susah payah, dia tetap bersikap tenang. "Lorong itu hampir ditemukan oleh keluargaku. Aku tahu Yang Mulia mengkhawatirkan Kakak dan takut hubungan kita terbongkar, jadi aku menutupnya lebih dulu."

Raut wajah Harjuna sedikit melunak. "Kali ini kamu melakukan hal yang benar. Aku akan menyiapkan sebuah rumah lagi dan mencari cara untuk membawamu keluar agar tinggal di sana. Bersabarlah sebentar."

Mendengar itu, hati Keswari dipenuhi kegetiran. Dia benar-benar tidak mengerti, kenapa Harjuna rela bersusah payah seperti ini dan tetap tidak mau melepaskannya?

"Yang Mulia." Akhirnya, dia tidak bisa menahan diri lagi. "Sebentar lagi Yang Mulia akan menikahi Kakak. Jadi kenapa Yang Mulia nggak mau melepaskanku dan membiarkanku mencari pasangan hidupku sendiri?"

Jelas, Harjuna tidak menyangka dia akan menanyakan hal itu. Setelah terdiam beberapa saat, dia berkata, "Karena aku sudah merenggut kehormatanmu. Aku akan bertanggung jawab."

"Bertanggung jawab?" Keswari tersenyum getir. "Maksud Yang Mulia, membiarkanku hidup seumur hidup tanpa nama dan tanpa status, bersembunyi dari dunia, bahkan nggak pantas memiliki anak?"

Harjuna menatapnya tanpa berkedip. Dia tahu Keswari telah mengetahui soal obat pencegah kehamilan itu.

"Membiarkanmu tetap berada di sisiku saja sudah merupakan anugerah terbesar yang bisa kuberikan. Jangan terus meminta lebih."

"Anak-anakku menyangkut garis keturunan keluarga kerajaan. Mereka hanya boleh dilahirkan oleh Manika. Kamu bisa menikmati kehidupan mewah seumur hidup, apa itu masih belum cukup?"

Nada bicaranya kembali menjadi dingin. "Turuti saja semua perkataanku dan berhentilah membuat masalah. Aku juga nggak akan mengizinkanmu menikah."

Setiap kata itu bagaikan pisau yang menguliti hati Keswari hingga berdarah. Dia baru saja hendak mengatakan bahwa dirinya sudah tidak ingin lagi terikat dengan pria itu, ketika tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa dari luar halaman.

"Yang Mulia! Nona Manika pingsan!"

Ekspresi Harjuna langsung berubah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia segera berlari ke luar.

Keswari hanya berdiri terpaku di tempat. Setelah sekian lama, dia akhirnya tersenyum pahit.

....

Di Kediaman Adipati Bhagawan, para tabib istana berlutut memenuhi ruangan. Harjuna sendiri berjaga di sisi ranjang Manika. Melihat wajah wanita yang dicintainya pucat pasi, tatapannya dipenuhi kecemasan.

"Penyakit Nona Manika sudah diidap sejak lahir. Hawa dingin sudah merasuki tubuhnya." Tabib tua itu berkata dengan suara gemetar, "Obatnya harus dicampur dengan darah dari jantung kerabat sedarahnya. Akan lebih baik ...."

Dia ragu sejenak sebelum melanjutkan, "Jika darah itu berasal dari wanita yang seusia dengannya dan memiliki tubuh yang sehat."

Harjuna langsung mengangkat kepala. "Bawa Nona Keswari kemari!"

Tak sampai beberapa saat, Keswari sudah dibawa masuk oleh para pengawal. Dia terhuyung sebelum akhirnya berhasil berdiri tegak.

Dia melihat Manika yang masih tak sadarkan diri di atas ranjang, lalu memandang mata Harjuna yang dipenuhi kecemasan. Dadanya terasa nyeri.

"Ambil darah dari jantungnya," perintah Harjuna dengan dingin.

Seluruh tubuh Keswari membeku. Selama bertahun-tahun ini, Manika berkali-kali mempermalukan dirinya dan ibunya di depan banyak orang dengan mengandalkan statusnya sebagai putri sah.

Ucapan-ucapan tajam dan tatapan penuh penghinaan itu masih teringat jelas hingga sekarang.

Kini ... dirinya justru diminta mengorbankan darah dari jantungnya untuk menyelamatkan wanita itu?

"Yang Mulia." Keswari menggertakkan gigi. "Aku nggak bersedia."

Tatapan Harjuna langsung berubah dingin. "Kamu nggak punya pilihan. Kalau kamu tetap menolak, besok juga ibumu akan diusir dari Kediaman Adipati Bhagawan dan hidup terlunta-lunta di jalan."

Wajah Keswari seketika memucat. Tubuhnya bergoyang lemah. Pria itu benar-benar menggunakan ibunya untuk mengancamnya!

Tubuh ibunya lemah dan sering sakit. Kalau sampai diusir dari kediaman ....

"Baiklah." Akhirnya, Keswari menyerah. Suaranya bergetar saat berkata, "Aku bersedia memberikan darahku. Tapi setelah itu, Yang Mulia harus mengabulkan satu permintaanku!"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 24

    "Keswari ... aku salah. Aku tahu aku salah. Maafkan aku. Kamu masih mencintaiku, 'kan?" gumam Harjuna, berusaha mengulurkan tangan untuk meraih bayangan semu itu.Namun, bagaimana mungkin Keswari menjawabnya?Meski hanya khayalannya sendiri, Keswari tetap berdiri di tempat yang tak akan pernah bisa dijangkaunya, menatapnya dengan sorot mata yang dingin."Jangan ... jangan menatapku seperti itu, Keswari ...."Dia tidak lagi mampu menahan tangisnya. Air mata mengalir deras. Sekali lagi dia teringat ... andai pada hari itu dia menyetujui permintaan Keswari.Bukan hanya menjadikannya selir, melainkan langsung berjanji menikahinya. Apakah akhir mereka akan berbeda?Harjuna menggigit bibirnya erat-erat. Air matanya terus mengalir tanpa henti. Di tengah rasa sakit yang mencapai puncaknya, akhirnya dia memejamkan mata untuk selama-lamanya.Abimanyu hanya memandang semuanya tanpa ekspresi. Harjuna telah mati. Seluruh pasukannya menyerah.Bahkan pengawal pribadinya pun menyerahkan diri kepada pa

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 23

    Pada hari yang sama, Harjuna sedang menuliskan rencananya."Ayah pasti akan memanggil Abimanyu kembali ke ibu kota untuk melindunginya. Asalkan aku membunuhnya, nggak akan ada lagi yang bisa menghalangiku."Dia berbicara dengan tenang, tetapi di dalam matanya masih tersimpan obsesi yang mendalam.Pengawal yang mengikutinya berkata dengan ragu, "Jenderal Abimanyu sudah lama bertugas di perbatasan. Dalam waktu setengah bulan saja, beliau sudah bisa tiba di ibu kota.""Saat itu beliau akan membawa hampir 100 ribu prajurit pilihan. Kita akan sangat sulit menang.""Walaupun sulit, kita tetap harus menang!" Harjuna menghantam meja dengan keras.Pengawal itu langsung ketakutan dan berlutut. "Baik! Tapi ada satu hal yang belum hamba pahami. Kaisar sejak lama sudah berniat menyerahkan takhta kepada Yang Mulia.""Yang Mulia tinggal menunggu beberapa tahun lagi. Setelah Kaisar mangkat karena usia tua, Yang Mulia bisa naik takhta secara sah. Kenapa sekarang Yang Mulia justru mengambil risiko sebes

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 22

    Saat itu, banyak hal berkecamuk di benak Abimanyu. Tiba-tiba, dia mendengar suara seseorang."Jenderal! Jenderal! Jenderal Abimanyu!"Abimanyu langsung tersadar. Dia baru menyadari dirinya masih berada di perkemahan. "Maaf, tadi aku sedang memikirkan sesuatu. Kita lanjutkan."Dia kembali mengangkat tombak panjangnya.Sekelompok prajurit langsung tertawa."Jarang sekali Jenderal melamun.""Jangan-jangan sedang memikirkan istri?""Kudengar hari ini Pangeran datang mencari Kakak Ipar. Jangan-jangan mau merebut istri Jenderal?""Dia putra mahkota, 'kan? Mana mungkin!""Tapi Kakak Ipar memang layak diperjuangkan. Kalau bukan karena itu, mana mungkin Pangeran datang sendiri ke sini? Kalau memang urusan resmi, bukankah cukup langsung menemui Jenderal?"Mereka terus menebak-nebak.Tanpa sadar, Abimanyu mengernyit. Bagaimana mereka bisa menjadikan putra mahkota sebagai bahan candaan? Itu adalah tindakan yang sangat tidak sopan.Kalau sampai didengar orang lain, dalam kasus yang serius, mereka b

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 21

    Sungguh janji yang terdengar begitu indah. Putri mahkota, bahkan permaisuri. Kedudukan yang diimpikan oleh begitu banyak orang, kini dijanjikan Harjuna kepada Keswari.Kalau dulu, dia pasti akan sangat gembira. Bagaimanapun, dia pernah mencintai pria itu dengan begitu mendalam.Mendengar bahwa pria itu akan menikahinya, bagaimana mungkin dia tidak akan merasa bahagia?Namun sekarang ... selain kesedihan yang tak berujung dan kekecewaan, Keswari tak lagi memiliki perasaan lain.Dia mengeluarkan saputangan sutra putih yang selama ini selalu dibawanya ke mana pun. Saputangan itu digenggam erat di tangannya."Apa Yang Mulia masih ingat? Dulu ketika Yang Mulia mengambil darah dari jantungku, aku bilang aku menginginkan satu permintaan. Saat itu, Yang Mulia membubuhkan cap persetujuan."Harjuna mengangguk. Memang ada kejadian seperti itu.Keswari membentangkan saputangan itu. Di atasnya tertulis kalimat demi kalimat yang lahir dari darah dan air mata."Inilah permintaanku. Yang Mulia, mohon

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 20

    "Di mana Abimanyu?" teriak Harjuna.Abimanyu memasang wajah tenang, lalu keluar seorang diri."Ada keperluan apa, Yang Mulia?" tanyanya dengan sopan."Aku tanya padamu, apakah Keswari sudah menikah denganmu? Aku memerintahkan kalian bercerai sekarang juga!"Harjuna turun dari kudanya dan menatap Abimanyu. Namun, pria di hadapannya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mundur."Maaf, saya nggak bisa menyetujuinya. Hubungan saya dan Keswari sangat baik. Hanya karena satu kalimat dari Yang Mulia, Yang Mulia ingin memisahkan kami? Apa itu nggak terlalu gegabah?"Wajah Abimanyu tampak masam. Dia tidak membungkuk, juga tidak menunduk. Dia hanya menatap lurus ke arah Harjuna."Aku adalah putra mahkota. Kelak aku akan menjadi kaisar. Aku hanya memintamu bercerai dengan Keswari. Bukankah kamu seorang jenderal? Kenapa kamu nggak mematuhi perintahku? Atau jangan-jangan kamu ingin membangkang?"Selain kaisar, semua orang harus menghormati putra mahkota. Siapa yang berani melampaui kedudukannya

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 19

    Bagaimana mungkin dia tidak mengenalnya? Putri mahkota saat ini adalah kakaknya sendiri. Sebelum mereka menikah, setiap hari dia diam-diam bertemu dengan sang putra mahkota.Pria yang di mata orang lain dikenal elegan dan berbudi luhur itu ... setiap kali bertemu dengannya justru selalu menindihnya dan melampiaskan hasrat tanpa kenal lelah. Seolah dia mencintainya hingga ke relung jiwa.Namun, setiap kali semuanya berakhir, sikapnya kembali begitu dingin dan menyakitkan. Dia membiarkan orang lain salah paham terhadapnya, membiarkan orang lain menyakitinya.Pria itu ingin dia selamanya hidup dalam bayang-bayang, menjadi mainannya yang tidak boleh diketahui siapa pun.Untuk melarikan diri darinya, Keswari memilih menikah dan pergi ke wilayah perbatasan ini. Namun, dia tidak menyangka Harjuna tetap datang mencarinya.Jari-jari Keswari mengepal erat. Meskipun sudah tak lagi mencintai pria itu, mengungkapkan semua ini kepada orang lain tetap membuat dadanya terasa sakit. Itu adalah masa lal

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status