Share

Bab 4

Penulis: Wind
Keswari tersenyum pahit, lalu berusaha menarik kembali tangannya. "Yang Mulia bercanda. Mana mungkin saya berani marah pada Yang Mulia."

Namun, Harjuna justru menggenggamnya lebih erat. "Malam ini, datanglah."

"Ibu saya sedang sakit. Saya harus merawat beliau."

"Kalau begitu, besok." Nada bicaranya tak memberi ruang untuk dibantah.

"Besok saya harus membantu meracikkan obat untuk ibu saya."

"Lusa."

"Lusa saya sudah membuat janji dengan tabib ...."

"Keswari!" Akhirnya Harjuna kehilangan kesabaran. Dia menarik Keswari hingga berdiri tepat di hadapannya. "Sampai kapan kamu akan terus bersikap seperti ini?"

Angin gunung berembus, mengibaskan helaian rambut di keningnya. Keswari mengangkat kepala menatapnya. Matanya begitu tenang. "Sikap saya biasa saja."

Harjuna menatapnya cukup lama, lalu tiba-tiba mencibir. "Baiklah. Setelah pernikahanku dengan Manika selesai, akan kuselesaikan urusan di antara kita."

Setelah mengucapkan itu, dia berbalik dan pergi. Ujung jubah putih keperakannya berkibar tertiup angin.

Memandangi punggungnya yang menjauh, Keswari bergumam lirih, "Nggak perlu."

Pada hari pria itu menikah, dirinya juga akan menikah dengan seorang jenderal yang bertugas di perbatasan. Seumur hidup mereka tidak akan pernah bertemu lagi.

Setelah menenangkan diri, Keswari bersiap turun gunung. Namun, tiba-tiba Manika muncul dari gerbang kuil dan menghalangi jalannya.

"Tadi Pangeran mencarimu untuk apa?" Dia menatap Keswari dengan tatapan penuh kecurigaan.

Keswari menunduk. "Pangeran bilang ulang tahun Kakak sudah dekat. Beliau ingin menyiapkan kejutan, jadi datang meminta pendapatku."

Wajah Manika langsung berseri-seri. Dengan bangga, dia membelai tusuk konde berhias mutiara di rambutnya.

"Pangeran memang sangat menyayangiku. Beberapa hari lalu beliau bahkan khusus menyuruh orang membawa mutiara dari Laut Selatan untuk dibuatkan satu set perhiasan untukku ...."

Dia terus bercerita tentang berbagai perhatian dan kasih sayang Harjuna kepadanya. Keswari hanya mendengarkan dalam diam. Hatinya sudah lama mati rasa.

Tepat saat itu, terdengar derap kaki kuda yang tergesa-gesa. Seekor kuda yang mengamuk tiba-tiba menerjang ke jalan pegunungan dan memelesat lurus ke arah mereka.

"Awas!" Dalam sekejap, Harjuna melompat ke depan, memeluk Manika untuk melindunginya, lalu berguling ke samping.

Sementara itu, Keswari dihantam keras oleh kuda itu. Tubuhnya terpental jauh dan menggelinding menuruni anak tangga batu yang panjang.

"Ugh ...."

Rasanya seolah seluruh tulang di tubuhnya remuk. Keswari tergeletak di bawah tangga batu. Dia kesakitan hingga nyaris tak bisa bernapas.

Darah mengalir dari pelipisnya, mengaburkan pandangannya. Dengan susah payah, dia mengangkat kepala. Dia melihat Harjuna sedang menatapnya dengan penuh kekhawatiran, seolah hendak menyuruh seseorang memeriksa keadaannya.

"Yang Mulia ...." Tiba-tiba, Manika melemas dan bersandar di pelukan Harjuna. "Kepalaku pusing ...."

"Manika!" Harjuna segera menggendongnya. Tanpa menoleh sedikit pun, dia bergegas menuruni gunung.

Sebelum pergi, dia hanya sempat memberi perintah singkat, "Periksa keadaannya."

Keswari memandang punggung mereka hingga menghilang di tikungan. Sambil menggertakkan gigi, dia perlahan memaksa dirinya bangkit.

Dia menolak bantuan seorang pengawal. Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, dia melangkah sendirian menuruni gunung, setapak demi setapak.

Jalan pegunungan itu terjal. Dia berjalan, lalu berhenti untuk beristirahat, kemudian berjalan lagi.

Baru ketika langit benar-benar gelap, dia akhirnya sampai di Kediaman Adipati Bhagawan.

"Keswari!" Wening sedari tadi sudah menunggu di depan gerbang. Melihat putrinya pulang dengan tubuh penuh darah, wajahnya langsung berubah pucat.

"Kamu kenapa? Siapa yang melukaimu sampai seperti ini? Jangan-jangan Nona Manika lagi?" Dengan tangan gemetar, Wening mengusap luka di wajah putrinya.

"Kasihan sekali anak Ibu .... Lebih baik pernikahanmu ditunda dulu. Tunggu sampai lukamu sembuh baru menikah. Tenang saja, Ibu akan segera membicarakannya."

"Nggak ...." Keswari menggeleng dengan lemah. "Aku tetap akan menikah ... pada hari itu ...."

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, suara derap kaki kuda terdengar dari luar halaman.

Harjuna baru saja mengantar Manika pulang. Kebetulan dia mendengar ucapan itu. Dia segera menarik tali kekang kudanya, mengernyit, lalu bertanya dengan nada dingin, "Siapa yang akan menikah?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 24

    "Keswari ... aku salah. Aku tahu aku salah. Maafkan aku. Kamu masih mencintaiku, 'kan?" gumam Harjuna, berusaha mengulurkan tangan untuk meraih bayangan semu itu.Namun, bagaimana mungkin Keswari menjawabnya?Meski hanya khayalannya sendiri, Keswari tetap berdiri di tempat yang tak akan pernah bisa dijangkaunya, menatapnya dengan sorot mata yang dingin."Jangan ... jangan menatapku seperti itu, Keswari ...."Dia tidak lagi mampu menahan tangisnya. Air mata mengalir deras. Sekali lagi dia teringat ... andai pada hari itu dia menyetujui permintaan Keswari.Bukan hanya menjadikannya selir, melainkan langsung berjanji menikahinya. Apakah akhir mereka akan berbeda?Harjuna menggigit bibirnya erat-erat. Air matanya terus mengalir tanpa henti. Di tengah rasa sakit yang mencapai puncaknya, akhirnya dia memejamkan mata untuk selama-lamanya.Abimanyu hanya memandang semuanya tanpa ekspresi. Harjuna telah mati. Seluruh pasukannya menyerah.Bahkan pengawal pribadinya pun menyerahkan diri kepada pa

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 23

    Pada hari yang sama, Harjuna sedang menuliskan rencananya."Ayah pasti akan memanggil Abimanyu kembali ke ibu kota untuk melindunginya. Asalkan aku membunuhnya, nggak akan ada lagi yang bisa menghalangiku."Dia berbicara dengan tenang, tetapi di dalam matanya masih tersimpan obsesi yang mendalam.Pengawal yang mengikutinya berkata dengan ragu, "Jenderal Abimanyu sudah lama bertugas di perbatasan. Dalam waktu setengah bulan saja, beliau sudah bisa tiba di ibu kota.""Saat itu beliau akan membawa hampir 100 ribu prajurit pilihan. Kita akan sangat sulit menang.""Walaupun sulit, kita tetap harus menang!" Harjuna menghantam meja dengan keras.Pengawal itu langsung ketakutan dan berlutut. "Baik! Tapi ada satu hal yang belum hamba pahami. Kaisar sejak lama sudah berniat menyerahkan takhta kepada Yang Mulia.""Yang Mulia tinggal menunggu beberapa tahun lagi. Setelah Kaisar mangkat karena usia tua, Yang Mulia bisa naik takhta secara sah. Kenapa sekarang Yang Mulia justru mengambil risiko sebes

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 22

    Saat itu, banyak hal berkecamuk di benak Abimanyu. Tiba-tiba, dia mendengar suara seseorang."Jenderal! Jenderal! Jenderal Abimanyu!"Abimanyu langsung tersadar. Dia baru menyadari dirinya masih berada di perkemahan. "Maaf, tadi aku sedang memikirkan sesuatu. Kita lanjutkan."Dia kembali mengangkat tombak panjangnya.Sekelompok prajurit langsung tertawa."Jarang sekali Jenderal melamun.""Jangan-jangan sedang memikirkan istri?""Kudengar hari ini Pangeran datang mencari Kakak Ipar. Jangan-jangan mau merebut istri Jenderal?""Dia putra mahkota, 'kan? Mana mungkin!""Tapi Kakak Ipar memang layak diperjuangkan. Kalau bukan karena itu, mana mungkin Pangeran datang sendiri ke sini? Kalau memang urusan resmi, bukankah cukup langsung menemui Jenderal?"Mereka terus menebak-nebak.Tanpa sadar, Abimanyu mengernyit. Bagaimana mereka bisa menjadikan putra mahkota sebagai bahan candaan? Itu adalah tindakan yang sangat tidak sopan.Kalau sampai didengar orang lain, dalam kasus yang serius, mereka b

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 21

    Sungguh janji yang terdengar begitu indah. Putri mahkota, bahkan permaisuri. Kedudukan yang diimpikan oleh begitu banyak orang, kini dijanjikan Harjuna kepada Keswari.Kalau dulu, dia pasti akan sangat gembira. Bagaimanapun, dia pernah mencintai pria itu dengan begitu mendalam.Mendengar bahwa pria itu akan menikahinya, bagaimana mungkin dia tidak akan merasa bahagia?Namun sekarang ... selain kesedihan yang tak berujung dan kekecewaan, Keswari tak lagi memiliki perasaan lain.Dia mengeluarkan saputangan sutra putih yang selama ini selalu dibawanya ke mana pun. Saputangan itu digenggam erat di tangannya."Apa Yang Mulia masih ingat? Dulu ketika Yang Mulia mengambil darah dari jantungku, aku bilang aku menginginkan satu permintaan. Saat itu, Yang Mulia membubuhkan cap persetujuan."Harjuna mengangguk. Memang ada kejadian seperti itu.Keswari membentangkan saputangan itu. Di atasnya tertulis kalimat demi kalimat yang lahir dari darah dan air mata."Inilah permintaanku. Yang Mulia, mohon

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 20

    "Di mana Abimanyu?" teriak Harjuna.Abimanyu memasang wajah tenang, lalu keluar seorang diri."Ada keperluan apa, Yang Mulia?" tanyanya dengan sopan."Aku tanya padamu, apakah Keswari sudah menikah denganmu? Aku memerintahkan kalian bercerai sekarang juga!"Harjuna turun dari kudanya dan menatap Abimanyu. Namun, pria di hadapannya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mundur."Maaf, saya nggak bisa menyetujuinya. Hubungan saya dan Keswari sangat baik. Hanya karena satu kalimat dari Yang Mulia, Yang Mulia ingin memisahkan kami? Apa itu nggak terlalu gegabah?"Wajah Abimanyu tampak masam. Dia tidak membungkuk, juga tidak menunduk. Dia hanya menatap lurus ke arah Harjuna."Aku adalah putra mahkota. Kelak aku akan menjadi kaisar. Aku hanya memintamu bercerai dengan Keswari. Bukankah kamu seorang jenderal? Kenapa kamu nggak mematuhi perintahku? Atau jangan-jangan kamu ingin membangkang?"Selain kaisar, semua orang harus menghormati putra mahkota. Siapa yang berani melampaui kedudukannya

  • Sosok Liar Putra Mahkota yang Tersembunyi   Bab 19

    Bagaimana mungkin dia tidak mengenalnya? Putri mahkota saat ini adalah kakaknya sendiri. Sebelum mereka menikah, setiap hari dia diam-diam bertemu dengan sang putra mahkota.Pria yang di mata orang lain dikenal elegan dan berbudi luhur itu ... setiap kali bertemu dengannya justru selalu menindihnya dan melampiaskan hasrat tanpa kenal lelah. Seolah dia mencintainya hingga ke relung jiwa.Namun, setiap kali semuanya berakhir, sikapnya kembali begitu dingin dan menyakitkan. Dia membiarkan orang lain salah paham terhadapnya, membiarkan orang lain menyakitinya.Pria itu ingin dia selamanya hidup dalam bayang-bayang, menjadi mainannya yang tidak boleh diketahui siapa pun.Untuk melarikan diri darinya, Keswari memilih menikah dan pergi ke wilayah perbatasan ini. Namun, dia tidak menyangka Harjuna tetap datang mencarinya.Jari-jari Keswari mengepal erat. Meskipun sudah tak lagi mencintai pria itu, mengungkapkan semua ini kepada orang lain tetap membuat dadanya terasa sakit. Itu adalah masa lal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status