Compartilhar

140.

Autor: Lil Seven
last update Data de publicação: 2026-10-06 21:47:10

“Buka kuncinya, Kak. Aku mau turun sekarang!” Sylvia menepis kasar tangan Maxwell yang hendak menyentuh pipinya, buru-buru menarik roknya ke bawah dan merapikan kancing pakaiannya yang berantakan.

Maxwell membeku, tangannya tertahan di udara. Matanya menyipit berbahaya. “Duduk di tempatmu, Sylvia. Aku belum selesai bicara.”

“Tapi aku sudah selesai!” potong Sylvia cepat, suaranya meninggi sebelum tercekat menahan tangis. Gadis itu menolak menatap mata Maxwell, sengaja membuang pandangannya ke
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   238.

    --- Pintu griya tawang masih bergema ketika Maxwell mendorong Clarissa ke belakang hingga punggungnya menghantam dinding kaca dingin. Cengkeraman di rahangnya semakin keras, hampir menyakitkan. Bibirnya masih menempel brutal di mulut wanita itu, lidahnya menyerbu tanpa ampun, seolah ingin mencabik habis rasa pengkhianatan yang baru saja ia saksikan. Clarissa mengerang di sela ciuman itu, tubuhnya melengkung penuh kemenangan. Ia mengira akhirnya Maxwell jatuh ke dalam jebakan yang telah disiapkan Helena. Tangan-tangannya merayap ke dada pria itu, merobek kemeja putih yang sudah terbuka, kuku-kukunya mencakar kulit keras di bawahnya. Tapi Maxwell tidak memberi ruang untuk kenikmatan semu itu. Dia melepaskan bibir Clarissa dengan kasar, lalu menarik rambut wanita itu ke belakang hingga lehernya terekspos. Napasnya berat, panas, penuh racun. “Sylvia…” desisnya serak, hampir tidak manusiawi. “Kamu pikir

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   237

    Malam itu, dentum bas dari sebuah lounge eksklusif di kawasan SCBD berdenyut meredam rintik hujan di luar. Adrian menyewa seluruh lantai mezanin privat, sengaja menciptakan suasana remang dan terisolasi dari keramaian. Di atas meja marmer bundar, gelas kristal berisi koktail buah berwarna merah delima telah kosong untuk ketiga kalinya. Adrian tersenyum tipis, matanya mengawasi Sylvia yang mulai menyandarkan keningnya di telapak tangan. Campuran likur manis beralkohol tinggi yang sengaja ia pesankan bekerja jauh lebih cepat dari dugaan; kepala Sylvia berputar hebat, pandangannya mengabur diiringi gelombang pening yang melucuti seluruh kewaspadaannya. "Kepalaku... berat sekali, Adrian," bisik Sylvia parau. Pipinya memerah saga, suaranya meluncur lambat dan cadel. "Aku harus pulang... Maxwell pasti..." "Jangan sebut nama bajingan itu lagi, Sylvia," potong Adrian lembut. Pemuda itu bergeser merapat di sofa beludru, melingka

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   247.

    Pintu studio apartemen berderit menutup rapat, mengunci desau angin dingin dan gemuruh sisa badai di luar. Ruangan berukuran tiga puluh meter persegi itu seketika dipenuhi aroma lembap kain basah dan wangi kayu cendana dari tubuh Maxwell yang kian pekat terbakar demam.Lampu tidur di sudut ruangan memancarkan temaram hangat berwarna kuning gading. Begitu kunci pintu berputar, tubuh Maxwell yang semula ditopang Sylvia perlahan mendorong gadis itu mundur hingga punggungnya merapat ke daun pintu kayu.Kedua telapak tangan Maxwell yang besar menempel di sisi kepala Sylvia. Pria itu menundukkan wajahnya, napasnya memburu pendek dan panas, menyapu kening serta pipi Sylvia yang masih basah oleh air mata dan hujan."Maxwell, bajumu basah kuyup..." bisik Sylvia dengan suara bergetar pelan. Kedua tangannya terangkat ke dada bidang pria itu, berniat mendorongnya menjauh agar bisa mengambil handuk kering di kamar mandi. "Kamu harus segera berganti pakaian atau demammu akan makin tinggi."Bukannya

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   235.

    Pintu ganda griya tawang di lantai puncak Salvador Tower terbanting menutup dengan suara dentuman memekakkan telinga. Sylvia terdorong masuk ke ruang tamu yang temaram, mantelnya basah oleh sisa gerimis sore. Dua pengawal bertubuh kekar langsung mundur dan mengunci akses lift privat dari luar atas perintah mutlak sang pimpinan. Sylvia berbalik cepat dengan dada naik-turun menahan luapan amarah, rasa takut, dan harga dirinya yang diinjak-injak setelah dijemput paksa dari kafe tempat Adrian mengantarkannya berteduh. Di depannya, Maxwell berdiri bagai monster yang baru saja lepas dari rantai neraka. Kemeja putih pria itu basah menempel di tubuh tegapnya, dasinya sudah terlempar entah ke mana, dan rahangnya bergemeletuk kaku dengan urat-urat leher yang menonjol tegang. "Kamu menyuruh anak buahmu menyeretku seperti kriminal, Maxwell?!" suara Sylvia pecah, bergetar hebat di tengah luasnya ruangan mewah yang mendadak terasa mencekik. "Siapa kamu sebenarnya?! K

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   234

    Dentingan lift yang meluncur turun ke lantai dasar terasa bagai peti mati yang menyesakkan bagi Sylvia. Air mata yang sedari tadi ia tahan tumpah membasahi pipinya, mengaburkan pemandangan lorong lobi marmer saat pintu baja terbuka. Setiap jengkal harga dirinya terasa hancur berkeping-keping; pemandangan Clarissa di pangkuan Maxwell seolah menjadi stempel pengesahan atas setiap kata hinaan yang dilontarkan Helena. Sylvia melangkah setengah berlari menembus pintu putar kaca gedung Salvador Group, sama sekali tidak memedulikan gerimis siang yang mulai membasahi aspal pelataran lobi. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari pria itu. Namun, derit ban mobil memecah lamunannya. Sebuah sedan Maybach hitam berhenti mendadak tepat di tepi trotoar, menghalangi langkah Sylvia. Pintu penumpang belakang terbuka cepat, dan sosok Adrian Pratama melangkah keluar. Mengenakan setelan jas abu-abu tanpa dasi, wajah pemuda itu tampak tegang, namun matanya memancarkan keleg

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   232.

    Keesokan paginya, suasana di lantai empat puluh terasa berbeda. Ketegangan dingin yang menggantung di antara Sylvia dan Maxwell sejak malam sebelumnya belum sempat mencair, namun ritme kerja korporat memaksanya tetap melangkah profesional. Sylvia baru saja selesai merapikan berkas analisis pasar di meja kerjanya saat pintu lift eksekutif berdenting terbuka. Langkah kaki dengan ketukan stiletto yang tegas memecah keheningan koridor. Seorang wanita melangkah keluar dengan percaya diri. Rambut cokelat bergelombang jatuh sempurna di atas bahu gaun terusan merah marun berpotongan pas badan yang menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sangat berani. Clarissa Wijaya. Putri salah satu mantan diplomat rekanan dekat keluarga Salvador, lulusan luar negeri yang baru saja ditempatkan langsung di kantor eksekutif melalui memo pribadi Helena Salvador—tanpa melalui persetujuan Maxwell, dengan dalih "asisten protokoler khusus urusan konsorsium internasional". Claris

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status