Share

192.

Penulis: Lil Seven
last update Tanggal publikasi: 2026-10-24 09:29:37

Sylvia tersenyum tipis, tangannya mengusap rahang Maxwell yang tegang. "Aku sudah bilang, aku mau berusaha sendiri, Maxwell. Dunia kerja memang begini untuk anak baru."

"Persetan dengan dunia kerja," potong Maxwell dingin tanpa ragu. Pria itu menangkup wajah Sylvia dengan kedua tangannya, mendekatkan wajah mereka hingga napas mereka saling bersinggungan. Ada nada permohonan yang begitu tulus sekaligus putus asa dalam suaranya yang biasanya selalu dingin dan berkuasa.

"Aku nggak bisa lihat kam
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   232.

    Keesokan paginya, suasana di lantai empat puluh terasa berbeda. Ketegangan dingin yang menggantung di antara Sylvia dan Maxwell sejak malam sebelumnya belum sempat mencair, namun ritme kerja korporat memaksanya tetap melangkah profesional. Sylvia baru saja selesai merapikan berkas analisis pasar di meja kerjanya saat pintu lift eksekutif berdenting terbuka. Langkah kaki dengan ketukan stiletto yang tegas memecah keheningan koridor. Seorang wanita melangkah keluar dengan percaya diri. Rambut cokelat bergelombang jatuh sempurna di atas bahu gaun terusan merah marun berpotongan pas badan yang menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sangat berani. Clarissa Wijaya. Putri salah satu mantan diplomat rekanan dekat keluarga Salvador, lulusan luar negeri yang baru saja ditempatkan langsung di kantor eksekutif melalui memo pribadi Helena Salvador—tanpa melalui persetujuan Maxwell, dengan dalih "asisten protokoler khusus urusan konsorsium internasional". Claris

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   231.

    Malam itu, griya tawang di puncak Salvador Tower tenggelam dalam temaram lampu gantung tembaga. Dari dinding kaca raksasa, kerlip lampu kota membentang bagai hamparan bintang mati. Sylvia berdiri mematung di dekat balkon kaca, jemarinya yang dingin memilin ujung lengan rajut putihnya. Di dalam kepalanya, suara Helena Salvador terus berdengung bagai racun yang mengendap, mengulang-ulang kalimat terkutuk itu tanpa henti: Pernahkah dia membicarakan pernikahan denganmu? Kamu tidak lebih dari pelacur simpanan yang kebetulan pandai bekerja. Denting pintu kamar utama terbuka perlahan. Aroma segar air sabun bercampur wangi maskulin kayu cendana langsung menyusup ke udara, mengumumkan kehadiran sang penguasa menara. Maxwell melangkah keluar hanya mengenakan celana tidur panjang berwarna abu-abu gelap. Dada bidangnya yang kokoh dan berotot masih basah oleh sisa bulir air, sementara handuk putih kecil melingkar longgar di lehernya. Melihat Sylvia masih berdiri kak

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   230.

    Helena sama sekali tidak gentar melihat serpihan kertas cek yang berhamburan di atas meja marmer. Sebaliknya, senyum di bibir wanita bergaun sutra gading itu justru semakin melebar—sebuah senyum dingin, penuh bisa, dan sarat kepuasan melihat mangsanya mulai menunjukkan riak emosi. "Robek sesukamu, Sylvia," suara Helena mengalun begitu tenang, bahkan nyaris lembut, namun setiap suku katanya bagai jarum beracun yang ditusukkan perlahan ke ulu hati gadis itu. "Sikap defensifmu itu membuktikan satu hal: kata-kataku tepat mengenai sasaran terlemahmu." Sylvia menahan napasnya di tenggorokan, berdiri mematung di seberang meja. Jemarinya yang terkepal di samping rok span bergetar samar. Ia berniat melangkah pergi meninggalkan ruangan VIP beraroma melati itu, namun tatapan tajam sang nyonya besar seolah memaku kedua kakinya di lantai karpet tebal. "Duduk kembali," desis Helena tanpa nada tinggi, namun sarat gravitasi kekuasaan yang menekan. "Aku belum selesai me

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   229.

    Sore itu, rintik hujan mulai membasahi dinding kaca sebuah restoran privat di kawasan Menteng. Sylvia melangkah masuk ke ruang VIP yang telah dipesan khusus atas nama Helena Salvador. Undangan mendadak yang dikirimkan melalui kurir pribadi tanpa sepengetahuan Maxwell itu sengaja tidak ia tolak; Sylvia ingin menyelesaikan persoalan ini secara langsung tanpa perisai kekuasaan Maxwell yang selalu membentenginya. Di dalam ruangan beraroma melati dan kayu manis itu, Helena duduk anggun di kursi beludru maroon. Gaun sutra gadingnya memancarkan kemewahan aristokrat yang kaku. Di atas meja marmer di hadapannya, hanya tersaji dua cangkir teh porselen Inggris kuno. "Duduk," perintah Helena datar, bahkan tanpa repot-repot mengangkat pandangannya dari cangkir teh. Sylvia menarik kursi di seberangnya perlahan, duduk dengan punggung tegak dan dagu terangkat tenang. "Selamat sore, Nyonya Salvador. Ada hal mendesak apa sampai Anda meminta saya datang tanpa memberi tahu

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   228.

    Keheningan di ruang sidang dewan komisaris lantai dua seketika berubah menjadi kuburan massal bagi reputasi Grace. Lembaran bukti transaksi kripto dan transkrip pesan terenkripsi yang disajikan Alex tergeletak telanjang di atas meja marmer, memantulkan kepanikan murni di bola mata gadis angkat keluarga Salvador itu. "Mama... ini jebakan! Kak Maxwell memalsukan semuanya demi membela pelacur ini!" jerit Grace histeris, air matanya tumpah merusak riasan mahalnya saat ia berlutut di sisi kursi Helena, mencengkeram kain sutra gaun ibu angkatnya dengan jemari gemetar. "Aku bersumpah demi Tuhan, Ma! Aku tidak pernah berhubungan dengan Adrian Pratama!" Helena menunduk, menatap tangan Grace yang mencengkeram gaunnya dengan tatapan hampa yang perlahan membeku menjadi amarah dingin. Sebagai matriark yang membesarkan Grace dari anak seorang pelayan dapur hingga memiliki gelar terhormat di kalangan sosialita ibu kota, fakta bahwa gadis ini menjual rahasia inti Salvador Group

  • Sst, Kak, Ini Rahasia!   227.

    Pukul sepuluh tepat, pintu ganda ruang sidang dewan komisaris di lantai dua terbuka lebar. Suasana di dalam ruangan megah berpanel kayu jati itu mendadak hening total, tercekik oleh ketegangan yang telah memuncak sejak pagi. Maxwell melangkah masuk dengan setelan jas hitam arang tiga lapis yang terpasang sempurna. Di sampingnya, Sylvia berjalan dengan langkah teratur mengenakan kemeja formal berkerah tinggi dan rok span hitam elegan—meski jemarinya dingin, tatapannya berusaha tetap lurus dan bermartabat di bawah arahan sang CEO. Di ujung meja bundar marmer, duduk seorang wanita paruh baya berwibau dengan gaun sutra ungu tua dan kalung mutiara bertingkat di lehernya. Garis wajahnya mewarisi ketegasan ningrat yang serupa dengan Maxwell, memancarkan aura nyonya besar yang berkuasa penuh. Helena Salvador. Ibu kandung Maxwell, sosok matriark keluarga yang memegang pengaruh besar di kalangan elit dan dewan komisaris. Dan tepat di sisi kanannya, dudu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status