LOGIN"Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan. ayah akan bicara dengan Cherry," ujar ayah kemudian berbalik menuju pintu ruang cuci.Tapi, sebelum ia sempat melangkah keluar, ada sesuatu yang sejak kemarin mengganjal pikiranku."Ayah," panggilku tiba-tiba sambil mencengkram pinggiran keranjang baju.Ayah menghentikan langkah. Sebelah tangannya masih berada di dekat gagang pintu ketika ia menoleh sedikit."Ya?" sahutnya sambil mengangkat alis."Mantha," ucapku singkat sambil menatapnya lekat.Perubahan pada wajahnya awalnya tidak terlalu kentara. Tapi aku melihatnya, gerakan bahunya berhenri sesaat."Ada apa dengan Mantha?" tanyanya sambil menyipitkan mata.Aku menyandarkan pinggul pada sisi meja, lalu melipat kedua tangan di depan dada."Belum lama kita bekerja sama, urusan gudang dan stok untuk para utusan militer masih menggunakan jalur mereka," jelasku sambil mengamati reaksinya.Ayah tidak menyela. Ia hanya berdiri dengan satu tangan di saku celana, sementara tangan lainnya diam di sisi tu
"Adikmu tidak sengaja—" Kalimat ayah terdengar sangat menyebalkan di telingaku."Adik tiri," potongku dingin.Tanganku meraih botol deterjen di atas rak, kemudian menuangkan isinya ke wadah mesin cuci. Tutupnya kutekan hingga terdengar bunyi klik.Di sisi lain ayah tampak terdiam sebentar."Dia tidak bermaksud membuatmu kesal, Hades," ujar ayah lagi sambil menyandarkan bahu pada kusen pintu. Kedua tangannya masih berada di saku celana.Aku tak langsung menjawab, jemariku menekan tombol mesin cuci dengan kesal. Setelahnya mesin berbunyi."Tidak ada yang bertanya," jawabku datar, lalu aku menatapnya sinis.Mattheo mengembuskan napas pendek. Aku bisa merasakan tatapannya masih tertuju kepadaku, tapi aku tidak berniat membalasnya.Aku sudah cukup muak.Bukan hanya karena kejadian malam ini. Ada terlalu banyak hal yang harus kuterima sejak gadis itu tinggal di rumah ini.Bagaimana caranya mengatakan kepada ayah kalau anak perempuan tirinya itu tidak punya moral, tidak tahu malu, dan tampak
"Cherry, berapa kali ibu harus mengingatkanmu untuk tidak ceroboh?" tegur Roseline sambil berdiri di dekat wastafel.Kedua tangan wanita itu terlipat di depan dada. Tatapannya tertuju pada putrinya yang sedang mencuci piring dengan kepala tertunduk.Cherry tidak menjawab, hanya terus sibuk dengan spons, sesekali membilas piring dengan air keran.Sejak makan malam berakhir, Hades tidak menoleh lagi kepadanya sebelum meninggalkan meja makan."Usiamu sudah cukup dewasa untuk memahami setiap tindakan punya konsekuensi," lanjut Roseline sambil melangkah mendekati meja dapur. Cherry hanya mengangguk kecil tanpa berani mengangkat wajah."Iya, Bu," jawabnya lemas sambil membilas piring yang berada di tangannya.Roseline menghela napas. Ia mengambil lap dapur yang tergantung di sisi lemari, kemudian mengeringkan permukaan meja yang sedikit basah."Dan ibu juga baru mendengar sesuatu yang lebih menarik dari kejadian malam ini," ucapnya sambil melipat lap tersebut. Nada suaranya semakin tajam.
"Apa bulu Nox tidak berjamur?" tanya Mattheo santai sambil meraih wadah kentang goreng di tengah meja.Hades tidak langsung menjawab.Perhatiannya masih tertahan pada tangan ayahnya yang terletak di atas meja. Telapak tangan itu bergerak seperti biasa. Tidak kaku, atau tidk ada gerakan yang tertahan, bahkan ekspresi pria itu tidak sedang menahan rasa sakit."Tidak," jawab Hades pendek sambil tetap mengamati ayahnya.Mattheo mengangguk kecil. Ia mengusap ujung jarinya dengan tisu sebelum mengambil kentang berikutnya."Benar-benar sudah diperiksa?" tanyanya lagi sambil mengangkat sebelah alis."Sudah," jawab Hades singkat."Dan jangan sampai Cherry memberi makan sembarangan lagi," ujar Mattheo sambil mengarahkan ujung kentang kepadanya sebelum memasukkannya ke dalam mulut.Cherry yang sedang membuka bungkus burger langsung mengangkat wajah, merasa tersinggung."Aku tidak sembarangan," protes Cherry sambil cemberut.Mattheo hanya tertawa pendek."Kau bulan lalu memberikan sesuatu dari d
"Lahan yang kemarin akhirnya sudah terjual," ujar Mattheo santai sambil membuka bungkus ayam goreng di hadapannya. Malam itu, keluarga Visconti berkumpul di meja makan, dengan kondisi suasana hati Mattheo yang terlihat sangat baik. Tidak ada masakan rumahan. Beberapa bungkus makanan cepat saji memenuhi meja, lengkap dengan ayam goreng, kentang, saus, dan beberapa minuman dingin. Roseline duduk di sebelah Mattheo, sementara Hades dan Cherry berada di sisi yang sama. "Benar-benar tanah yang tandus itu?" tanya Cherry sambil menatap wajah ayahnya dan mengambil sepotong kentang dari wadah. "Ya," jawab Mattheo sambil mengangguk kecil. "Yang ayah pernah cerita, salah satu tanah ayah yang sulit sekali laku itu?" tanyanya lagi sambil mengangkat sebelah alis. "Benar," jawab Mattheo sambil mencelupkan ayamnya ke dalam saus. "Katanya mau dibuat apa?" tanya Cherry lagi sambil menopang dagu dengan satu tangan. "Pabrik," jawab Mattheo singkat sambil menggigit ayamnya. Cherry lalu mengerjap
Sejak pagi, suasana hatiku tidak membaik. Aku bahkan tidak tahu harus menyebutnya sebagai apa. "Bukan sedih, bukan marah juga." lirihku tanpa motivasi yang tersisa. Hanya ada semacam rasa tidak nyaman yang menetap sejak kejadian kemarin. Bahkan teman-temanku yang sejak tadi berusaha mengajakku pergi ke pusat perbelanjaan sepulang kuliah tidak berhasil membuatku tertarik. "Cherry, ikut kami saja. Kita makan dulu," ajak Bella sambil berdiri di samping meja dan sedikit membungkukkan tubuh ke arahku. Aku memasukkan buku terakhir ke dalam tas tanpa menatapnya. "Tidak hari ini," jawabku singkat sambil menarik resleting tas hingga tertutup dengan gerakan lemas. "Kenapa? Kau kelihatan murung sekali," tanyanya sambil memperhatikan wajahku dengan alis sedikit terangkat. "Lelah," jawabku pendek sambil mengangkat bahu. Itu berakhir dengan jawaban yang paling mudah. Aku tidak mungkin menceritakan apa yang sebenarnya memenuhi kepalaku. Tentang kejadian kemarin, juga Hades dan Manon. Ak







