Início / Romansa / Step Brother Next Door / Bab (1) : Pintu Kamar Sebelah

Compartilhar

Step Brother Next Door
Step Brother Next Door
Autor: Anya Kiss

Bab (1) : Pintu Kamar Sebelah

Autor: Anya Kiss
last update Data de publicação: 2026-09-20 18:45:08

Kamar sebelahku, katanya adalah kamar kakak tiriku. Ia belum kembali dari Vatikan karena penugasan.

Dan sekarang aku berdiri di depan kamar yang selama seminggu terakhir hanya aku tahu bahwa pemilik kamar ini Hades Visconti.

Katanya dia letnan muda yang bertugas di satuan elit, yang jelas membuatnya hampir tidak pernah berada di rumah.

Usianya sudah 30 tahun, belum menikah.

Aku hanya pernah melihat wajahnya dari foto-foto yang dipajang di ruang kerja ayah.

Tampan.

Tetapi rasa penasaran tidak pernah membutuhkan alasan yang masuk akal.

Jemariku menyusuri kusen pintu berwarna hitam itu. Berbeda sekali dengan pintu kamarku sendiri yang dicat merah muda atas permintaan ibu. Cantik, lembut, dan sedikit berwarna-warni.

Pintu ini sebaliknya. Hitam, sederhana, dingin.

Aku mengembuskan napas pelan. Aroma minyak aromatherapy masih tercium hangat karena demamku masih naik-turun.

Mungkin aku hanya ingin melihat seperti apa kamar kakak tiriku.

Tanganku akhirnya menggenggam kenopnya. Kutarik, sayangnya tidak bergerak. Aku mencoba sekali lagi.

Tetap terkunci.

"Serius?"

Bibirku mengerucut. Mataku menatap lamat lubang kunci, seraya membungkukkan tubuhku yang hanya harus sedikit berjinjit untuk mencoba mengintip melalui lubang kunci.

Aku melepaskan kenop itu dengan kesal.

Lalu—

duk.

duk.

Suara langkah dari boots kasar terdengar dari arah tangga. Berat, pelan. Berjarak beberapa meter dariku.

Aku membeku.

Langkah berikutnya terdengar lebih dekat. Aku tidak tahu mengapa udara di lorong tiba-tiba terasa berbeda.

Saat ia berhenti di belakangku, aroma debu, kulit, dan sisa asap rokok dari seragamnya ikut memenuhi lorong membuatku meremang.

Langkah itu ternyata berhenti tepat di belakangku, membuatku perlahan menoleh.

Aku mengangkat wajah.

Hades Visconti.

Tinggi sekali. Jauh lebih tinggi daripada yang terlihat dalam foto.

Tatapan Hades turun kepadaku. Dingin, diam menatapku tegang.

Foto-foto itu ternyata berbohong. Warna rambutnya lebih pirang, sekarang sedikit berantakan.

Dan wajah itu...

Sial.

Tidak ada satupun foto di ruang kerja Ayah yang cukup baik untuk menjelaskan betapa tampannya laki-laki itu dari jarak sedekat ini, wajah Eropa selatan yang diwarisi dari garis keluarga Visconti.

Iris matanya gelap, membuatku tidak nyaman.

Tubuhnya pun menunjukkan hasil bertahun-tahun disiplin. Pakaian militernya masih menyimpan bekas perjalanan panjang. Wajahnya sama sekali tidak terlihat ramah. Ada kelelahan yang berat di bawah matanya, juga sesuatu yang lebih gelap, amarah yang belum sepenuhnya reda.

Tatapannya masih jatuh kepadaku, lalu berpindah pada dadaku. Aku mengerti kenapa. Lalu kedua tanganku menutup kaus.

Namun aku tidak melihat ada yang salah. Aku awalnya hanya sedang berdua di rumah dengan ibu, dan setahuku, di kota ini hal seperti itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.

Setelah menatap dadaku, beberapa saat tapannya turun kepada tanganku yang masih berada di dekat kenop pintunya.

Rahangnya semakin mengeras, hingga aku menelan ludah. Mendadak aku tiba-tiba lupa apa yang ingin kukatakan.

"Ka—" suaraku tersangkut.

Aku menarik napas kecil, dengan intonasi yang berusaha sopan, tapi karena suaraku kecil, aku tak bisa mencegahnya kalau akan terdengar sengaja, manja.

"Kak Hades?" suara yang keluar akhirnya lebih mirip bisikan lirih yang ragu.

Seolah kata itu terdengar asing dari mulutku. Hades tidak menjawab. Ia hanya menatapku.

Tangannya terangkat. Telapak yang lebar dan kapalan itu mendarat di bahuku, kemudian menggeser tubuhku dari depan pintu. 

Aku menahan napas, Hades masih diam.

Matanya tidak menunjukkan apa-apa. Tidak ada kehangatan. Tidak ada keramahan seorang kakak. Hanya tatapan datar yang hampir membuatku menyesal telah membuka mulut.

Aku seharusnya hanya melihat matanya. Entah mengapa pandanganku justru berhenti terlalu lama di bibirnya.

Kemudian ia berkata pelan. "Namamu Cherry?"

Aku mengangguk pelan.

Hades bergeser ke samping dan mendorong bahuku pelan agar aku menyingkir dari depan pintu. 

Dorongan itu memang tidak keras sampai membuatku kehilangan keseimbangan. 

“Minggir.”

Aku terdiam, pria itu bahkan tidak menoleh lagi.

Hades mengambil kunci dari sakunya, memasukkannya ke lubang kunci, lalu memutarnya.

Ia masuk ke kamarnya tanpa mengatakan apa-apa lagi. Hingga pintu itu tertutup di hadapanku.

Aku masih berdiri di lorong.

Jemari rampingku perlahan naik menyentuh rahangku sendiri. Aku tidak tahu apa yang lebih memalukan. Bahwa aku baru saja diperlakukan seperti anak kecil atau bahwa jantungku masih berdetak terlalu cepat karenanya.

"Pelan-pelan, dong!” aku masih menatap pintu itu, lalu mengerucutkan bibir.

Tidak ada jawaban, hanya keheningan. Kamar sebelah kembali menjadi miliknya.

Setelah akhirnya bertemu dengan Hades Visconti, mungkin rasa penasaranku memang seharusnya berhenti di sini.

Tetapi aku sudah terlambat.

Karena kakak tiriku sudah pulang.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Step Brother Next Door   Bab (6) : Ruang Kerja Ayah

    Kepusinganku belum berakhir. Hari itu ayah memintaku mengambil sebuah map dari ruang kerjanya."Map biru tua yang ada di laci paling atas," ujar ayah lalu menyeruput kopi yang katanya diimport dari York."Di dalamnya ada beberapa dokumen perusahaan. Ayah membutuhkannya sebelum makan siang." lanjut ayah sambil meletakkan kembali cangkirnya di atas meja.Aku mengangguk sambil bangkit dari kursi. Ku tinggalkan sebentar tugas sketsa anatomiku."Baik." sahutku sambil merapikan ujung kertas sketsa yang sedikit terlipat."Jangan lupa bawa semuanya." ujar ayah sambil mengangkat telunjuknya sebagai pengingat."Iya, ayah." jawabku sambil mengangguk sekali.Aku berjalan menuju ruang kerja ayah yang berada di ujung lorong.Aku membuka pintu perlahan.Ruangan kosong menyambutku, juga banyaknya barang-barang sentimental seorang mantan jenderal satuan elit.Aku menutup pintu di belakangku, kemudian berjalan menuju meja kerja besar yang memenuhi hampir separuh ruangan.Laci pertama, kosong. Laci kedu

  • Step Brother Next Door   Bab (5) : Saling Membantu

    Hades tidak berada di rumah pagi itu.Ayah sudah memintanya membawa mobil lamanya ke bengkel. Bukan karena mobil itu bermasalah, justru sebaliknya.Mobil tua berwarna hitam itu sudah bertahun-tahun berada di garasi keluarga dan masih terawat seperti benda yang terlalu berharga untuk diganti."Ganti oli saja sekalian periksa mesinnya," ujar ayah sambil menyerahkan kunci mobil kepada Hades. "Jangan sampai kau baru sadar ada masalah setelah mobilnya berhenti di tengah jalan."Hades menerima kunci tersebut tanpa banyak bicara. Ia memutar benda itu sekali di antara jemarinya sebelum memasukkannya ke saku celana."Aku bisa mengurusnya sendiri, Ayah," ucap Hades sambil mengangkat sebelah alis."Aku tahu," jawab ayah tenang sambil menatap putranya. "Itulah sebabnya aku menyuruhmu."Hades tidak menjawab.Tatapannya sempat berpindah kepadaku yang sedang duduk di meja makan. Hanya sepersekian detik sebelum kembali kepada ayah.Aku pura-pura tidak melihat."Aku pergi," ujar Hades sambil merapikan

  • Step Brother Next Door   Bab (4) : Kesalahan

    Sepanjang perjalanan pulang kemarin, cerita Kattie terus berputar di kepalaku.Ayah pernah melumpuhkan seorang penembak dalam acara amal. Hades bertugas di satuan elite. Sementara aku tinggal bersama mereka tanpa mengetahui apa pun selain nama keluarga Visconti yang terpasang di gerbang depan.Pantas saja suasana rumah ini terkadang terasa seperti markas jajahan. Konyol.Keesokan paginya, aku terbangun lebih siang dari biasanya. Ibu sudah bekerja di ruang baca, sedangkan Ayah pergi sejak pagi. Hades juga sempat mengatakan bahwa ia memiliki urusan di luar.Karena mengira tidak akan bertemu siapa pun, aku keluar kamar hanya dengan tanktop tipis dan celana pendek rumah.Aku baru berjalan beberapa langkah ketika pintu kamar ayah dan ibu terbuka.Hades muncul sambil membawa kotak perkakas.Langkahku langsung terhenti.Kaus hitamnya lembab di bagian dada dan punggung, sementara kedua lengannya digulung asal hingga siku. Rambutnya sedikit berantakan seperti baru beberapa kali diusap menggu

  • Step Brother Next Door   Bab (3) : Mobil Kakak

    Sialnya aku sudah menunggu di depan garasi hampir sepuluh menit. Tas kuliah yang menggantung di bahuku semakin terasa berat, sementara kanvas besar di tanganku berkali-kali diterpa angin. Seandainya ayah mengizinkan, sejak tadi aku sudah memesan Uber dan berangkat sendiri. Sayangnya, ia bersikeras meminta Hades mengantarku. Pintu menuju rumah akhirnya terbuka. Hades muncul dengan kunci mobil di tangan dan ekspresi seolah baru saja dipaksa meninggalkan urusan yang jauh lebih penting. Aku berdiri lebih tegak. "Maaf merepotkan," ucapku yang sebenarnya menahan ngeri. Dasar galak. Hades tidak menjawab. Tatapannya turun menuju kanvas dan tas yang kubawa, kemudian ia berjalan melewatiku menuju garasi. Aku menghela napas sebelum mengekor di belakang punggung tegapnya. Garasi keluarga Visconti jauh lebih besar daripada flat lama ibu. Beberapa mobil terparkir berjajar, Hades memilih Merces keluaran terbaru, yang berada di sudut. Mobil pribadinya. "Berikan," katanya tanpa men

  • Step Brother Next Door   Bab (2) : Kasih Sayang Ayah

    Pagi di rumah Visconti selalu dimulai dengan ketenangan yang nyaris terlalu sempurna.Pembantu rumah tangga datang setiap pagi dan pulang sebelum sore. Dan Mattheo, ayah tiriku tidak pernah menyukai orang asing tinggal di rumahnya, bahkan setelah bertahun-tahun meninggalkan dunia militer.Kebiasaan menjaga rumah, jadwal, dan segala sesuatu di bawah kendalinya rupanya tidak ikut pensiun bersamanya.Aku duduk di meja makan dengan punggung tegak, berusaha terlihat biasa saja.Hades mengenakan kaus gelap dengan lengan panjang yang digulung sampai siku. Ototnya terlihat padat, sementara urat-urat halus tampak jelas di punggung tangannya setiap kali ia mengangkat cangkir.Sialnya, pikiranku tidak mau bekerja sama. Karena beberapa detik kemudian, mataku kembali mencuri pandang.Sebagai mahasiswi seni yang terbiasa mengamati sesuatu yang menarik secara visual, aku tetaplah gadis normal yang akan panas dingin melihat pria seksi.Namun buru-buru, aku segera mengalihkan pandangan setelah mengama

  • Step Brother Next Door   Bab (1) : Pintu Kamar Sebelah

    Kamar sebelahku, katanya adalah kamar kakak tiriku. Ia belum kembali dari Vatikan karena penugasan.Dan sekarang aku berdiri di depan kamar yang selama seminggu terakhir hanya aku tahu bahwa pemilik kamar ini Hades Visconti.Katanya dia letnan muda yang bertugas di satuan elit, yang jelas membuatnya hampir tidak pernah berada di rumah.Usianya sudah 30 tahun, belum menikah.Aku hanya pernah melihat wajahnya dari foto-foto yang dipajang di ruang kerja ayah.Tampan.Tetapi rasa penasaran tidak pernah membutuhkan alasan yang masuk akal.Jemariku menyusuri kusen pintu berwarna hitam itu. Berbeda sekali dengan pintu kamarku sendiri yang dicat merah muda atas permintaan ibu. Cantik, lembut, dan sedikit berwarna-warni.Pintu ini sebaliknya. Hitam, sederhana, dingin.Aku mengembuskan napas pelan. Aroma minyak aromatherapy masih tercium hangat karena demamku masih naik-turun.Mungkin aku hanya ingin melihat seperti apa kamar kakak tiriku.Tanganku akhirnya menggenggam kenopnya. Kutarik, sayang

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status