Início / Romansa / Step Brother Next Door / Bab (5) : Saling Membantu

Compartilhar

Bab (5) : Saling Membantu

Autor: Anya Kiss
last update Data de publicação: 2026-09-20 18:45:25

Hades tidak berada di rumah pagi itu.

Ayah sudah memintanya membawa mobil lamanya ke bengkel. Bukan karena mobil itu bermasalah, justru sebaliknya.

Mobil tua berwarna hitam itu sudah bertahun-tahun berada di garasi keluarga dan masih terawat seperti benda yang terlalu berharga untuk diganti.

"Ganti oli saja sekalian periksa mesinnya," ujar ayah sambil menyerahkan kunci mobil kepada Hades. "Jangan sampai kau baru sadar ada masalah setelah mobilnya berhenti di tengah jalan."

Hades menerima kunci tersebut tanpa banyak bicara. Ia memutar benda itu sekali di antara jemarinya sebelum memasukkannya ke saku celana.

"Aku bisa mengurusnya sendiri, Ayah," ucap Hades sambil mengangkat sebelah alis.

"Aku tahu," jawab ayah tenang sambil menatap putranya. "Itulah sebabnya aku menyuruhmu."

Hades tidak menjawab.

Tatapannya sempat berpindah kepadaku yang sedang duduk di meja makan. Hanya sepersekian detik sebelum kembali kepada ayah.

Aku pura-pura tidak melihat.

"Aku pergi," ujar Hades sambil merapikan ujung kausnya.

"Jangan lama," kata ayah seraya menepuk bahu putranya singkat. "Ada beberapa barangmu yang masih belum kau bereskan."

Hades mengerutkan kening.

"Aku bereskan sendiri nanti," balasnya sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Sebagian sudah ayah pisahkan," jelas Ayah sambil menunjuk ke arah ruang laundry. "Yang kotor ada di sana."

Hades menghela napas pendek, lalu mengangguk sekali.

Ia tidak menjawab lagi. Pria itu langsung berbalik dan berjalan meninggalkan ruang makan.

Aku memperhatikannya sampai punggungnya menghilang di balik pintu.

Pintu depan kemudian tertutup.

Beberapa detik aku masih menatap ke sana sebelum akhirnya kembali mengambil camilan di atas meja.

Ayah kembali menatap televisi.

"Cherry."

Aku menoleh.

"Ya, Ayah?" sahutku sambil meletakkan ponsel di samping piring.

Ayah menunjuk ke arah ruang laundry dengan dagunya.

"Bisa bantu Ayah sebentar?" tanyanya sambil menurunkan volume televisi.

Aku langsung mengangguk.

"Bisa," jawabku seraya bangkit dari kursi.

"Pakaian kakakmu yang belum dicuci masih ada di sana," jelas Ayah sambil berjalan lebih dulu menuju ruang laundry. "Sebagian pakaian biasa, beberapa pakaian dinas."

Aku mengikuti langkahnya.

"Kenapa aku?" tanyaku sambil mengangkat kedua alis.

Ayah tersenyum tipis.

"Karena kau sedang belajar," jawabnya sambil membuka keranjang pakaian.

"Belajar mencuci pakaian Kak Hades?" tanyaku dengan kepala sedikit miring.

Ayah terkekeh. Tangannya terangkat untuk mengusap pelipis rambutku.

"Belajar mengurus rumah," koreksinya sambil menepuk kepalaku pelan. "Kau sudah dua puluh satu, Hades tiga puluh. Kalau suatu hari ayah dan ibu pergi lama, kalian tetap harus bisa mengurus semuanya sendiri."

Aku mengerucutkan bibir.

"Ayah tidak mau kalian bergantung pada orang di luar rumah untuk hal-hal sederhana," lanjutnya sambil mulai mengeluarkan pakaian dari keranjang.

Aku mengangguk perlahan.

"Kalau kak Hades sakit?" tanyaku sambil mengambil salah satu kemeja.

"Panggil dokter," jawab Ayah singkat sambil melipat sebuah celana.

Aku mengerutkan hidung.

"Kalau sakitnya parah?" tanyaku lagi dengan nada penasaran.

"Kalau sakitnya serius, tentu panggil dokter," jawab ayah sambil menatapku. "Tapi kalau hanya demam atau luka ringan, kau setidaknya harus tahu bagaimana membantunya sampai pertolongan datang."

Ia mengambil sebuah seragam dari dalam keranjang, kemudian menyerahkannya kepadaku.

"Dan sebaliknya," ujar Ayah sambil mengangkat telunjuknya.

Aku menerima seragam itu dengan kedua tangan.

"Kalau kau yang sakit atau sedang repot, Hades juga harus tahu apa yang harus dilakukan," lanjutnya sambil menatapku serius.

Aku memandangi seragam di tanganku.

"Jadi ayah ingin kami saling menjaga?" tanyaku pelan.

"Bukan menjaga seperti anak kecil," koreksi Ayah sambil menggeleng. "Saling membantu."

Ia mengambil kunci dari atas meja dan memutarnya di antara jemarinya.

"Rumah ini besar," lanjutnya sambil menghela napas. "Suatu hari mungkin ayah dan ibu lebih banyak berada di luar negeri karena pekerjaan. Ayah tidak ingin ketika itu terjadi, kalian malah hidup seperti dua orang asing."

Aku terdiam.

Dua orang asing, mungkin memang sudah begitu dari awal.

Aku baru mengenal Hades sebagai kakakku. Bahkan sampai sekarang, rasanya saja masih aneh memanggilnya kakak.

Ayah menepuk keranjang pakaian.

"Sekarang periksa semua saku sebelum masuk mesin," perintahnya lembut sambil menunjuk pakaian-pakaian tersebut sebelum pergi.

Aku mengangguk.

"Baik."

Aku mulai memilah pakaian, kemeja, celana, pakaian latihan. Kemudian seragam.

Aku memeriksa saku satu per satu seperti yang diajarkan Ayah.

Kosong, kosong lagi.

Sampai ujung jariku menyentuh sesuatu.

Aku berhenti.

Dengan dua jari, kutarik benda tersebut keluar.

Ternyata sebuah plastik kemasan. Kemasan itu sudah robek dan kosong.

Aku mengerutkan kening sambil membaliknya.

Tulisan di sana membuatku terdiam.

Beberapa bagian sudah tidak jelas karena robekan yang terlihat seperti dilakukan terburu-buru.

Aku menelan ludah, wajahku perlahan terasa panas.

Aku menatap benda itu lama, seolah benda tersebut akan tiba-tiba menjelaskan dirinya sendiri.

Namun tulisan itu tetap sama.

Kondom.

Pikiranku bahkan belum selesai mencerna benda yang baru saja kutemukan ketika suara pintu depan terdengar.

Aku tersentak.

Beberapa detik kemudian, langkah kaki memasuki rumah.

Aku menoleh.

Hades.

Kenapa cepat sekali dia pulang?

Pria itu muncul di depan ruang laundry dan langsung berhenti.

Matanya bergerak dari pakaian-pakaian yang berserakan di sekitar keranjang, kemudian beralih kepadaku.

Aku refleks merapikan posisi duduk.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Hades dengan suara dingin sambil menatapku tajam.

Aku menunjuk keranjang pakaian.

"Ayah yang menyuruhku," jawabku sambil mengangkat bahu.

Hades berjalan mendekat, langkahnya terdengar berat di lantai.

"Untuk apa?" tanyanya lagi seraya mengernyitkan kening.

"Mencuci pakaian kakak," jawabku sambil kembali mengambil sebuah kemeja.

Ia berhenti beberapa langkah di depanku.

"Ayah menyuruhmu mencuci pakaian kotor milikku?" tanyanya dengan nada tidak percaya sambil melirik keranjang.

Aku mengangguk kecil.

"Katanya supaya kita bisa saling membantu kalau suatu hari Ayah dan Ibu sedang pergi," jelasku sambil melipat kemeja di tanganku.

Hades mengembuskan napas melalui hidung.

"Dia tidak perlu melakukan itu," ucapnya sambil mengusap rahangnya.

Aku mengerutkan kening.

"Memangnya kenapa?" tanyaku sambil menatapnya.

"Karena aku bisa melakukannya sendiri," balas Hades seraya mengulurkan tangan ke arah keranjang.

Aku membuka mulut hendak menjawab.

Namun sebelum sempat berkata apa-apa, pandangan Hades jatuh ke atas meja.

Aku mengikuti arah matanya.

Plastik kemasan tadi masih berada di sana.

Hades Dengan cepat mengambilnya.

Gerakannya berhenti sesaat setelah melihat benda itu. Kemudian ia mengangkat wajah kepadaku.

"Kau membuka saku celanaku?" tanyanya sambil mengangkat kemasan tersebut di antara dua jarinya.

"Aku cuma memeriksanya sebelum dicuci," jawabku cepat seraya mengangkat kedua telapak tangan sedikit.

Hades menurunkan tangannya perlahan.

"Tahu benda itu apa?" tanyanya dengan suara rendah.

Aku mengangguk kecil.

"Tahu," jawabku singkat dengan intonasi ragu.

Ia menatapku beberapa detik.

"Apa kau pernah menggunakan benda seperti ini?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alis.

Alisku langsung terangkat, aku bahkan sampai memiringkan kepala.

Maksud pria ini apa?

Sehari-hari aku tinggal di rumah. Pernahkah dia melihatku berkeliaran malam-malam membawa seorang pria?

Hades mengangkat sebelah alis lagi.

"Pernah?" tanyanya sambil menunggu jawabanku.

"Bukan urusanmu!" balasku cepat seraya menyilangkan kedua tangan di depan dada.

Hades berdeham pelan.

"Berarti pernah?" tanyanya lagi dengan sudut bibir yang nyaris tidak bergerak.

Aku langsung memutar mata.

"Tidak!" bantahku sambil menggeleng tegas.

Hades memasukkan kemasan tersebut ke saku celananya.

"Kalau begitu jangan penasaran," ujarnya sambil merapikan ujung bajunya.

"Aku tidak penasaran," sanggahku seraya kembali mengambil pakaian.

Hades diam.

Sudut rahangnya bergerak sedikit. Seharusnya percakapan itu berhenti di sana.

Seharusnya aku juga berhenti.

Namun rasa penasaran yang sejak tadi mengganggu pikiranku justru semakin besar.

Aku mengangkat wajah.

"Kakak sering menyewa pelacur?" tanyaku polos sambil menatapnya.

Tangan Hades berhenti. Ruangan itu mendadak terasa sunyi.

Aku melihat rahangnya menegang.

Tangannya yang berada di sisi tubuh perlahan mengepal.

"Untuk apa bertanya?" tanyanya dingin akhirnya sambil menatapku lekat.

Suaranya jauh lebih rendah dari sebelumnya.

Aku langsung tahu bahwa aku mungkin sudah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak kukatakan.

Namun rasa penasaran sudah telanjur menjalar ke dada.

"Aku cuma bertanya, kak," belaku seraya kembali melipat pakaian, berusaha terdengar santai.

Hades melangkah mendekat.

Aku otomatis mengangkat wajah untuk melihatnya.

"Dan kau merasa berhak bertanya tentang itu?" tanyanya sambil menundukkan sedikit kepalanya.

Aku menelan ludah.

Jarinya kembali mengepal di sisi tubuh, lalu Hades menarik napas panjang.

"Aku tidak pernah menyewa siapa pun," ujarnya akhirnya sambil menatapku tajam.

Aku mengangkat pandangan.

"Dan kehidupan pribadi orang dewasa bukan sesuatu yang berhak kau simpulkan dari satu benda yang kau temukan di saku celana," lanjutnya dengan suara tegas.

Aku menunduk.

"Jadi..." gumamku pelan sambil meremas ujung kain di tanganku. "Kakak punya seseorang?"

Hades mengusap rahangnya sebentar.

"Dan lagi, itu bukan urusanmu," jawabnya seraya menjatuhkan tangannya kembali ke sisi tubuh.

Aku kembali menatapnya.

"Tapi kakak punya?" tanyaku lagi sambil sedikit memiringkan kepala.

Hades menatapku lama.

Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.

Yang bisa kulihat hanya wajahnya yang semakin sulit dibaca.

"Aku pria dewasa, Cherry," ujarnya akhirnya dengan nada yang sedikit meninggi. "Aku memiliki kehidupan pribadi. Cukup sampai di situ."

Ia mengalihkan pandangan sebentar sebelum kembali menatapku.

"Dan kau," lanjutnya sambil menunjukku singkat dengan telunjuk, "sebaiknya belajar bahwa rasa ingin tahu tidak selalu memberimu hak untuk mendapatkan jawaban."

Aku terdiam.

Hades membungkuk sedikit untuk mengambil kasar beberapa pakaiannya dari dalam keranjang.

"Dan jangan sentuh barang pribadiku lebih dari yang diperlukan," tegasnya sambil memasukkan pakaian tersebut ke lengannya.

Ia hendak berbalik.

Namun tanganku lebih dulu menggenggam ujung bajunya.

"Kak," panggilku pelan.

Langkah Hades langsung berhenti, punggungnya masih menghadapku.

Ia tidak langsung menoleh.

Aku sempat ragu sebelum akhirnya berkata,

"Aku cuma membantu," ucapku sambil perlahan melepaskan genggaman pada bajunya. "Tidak usah marah-marah begitu."

Hades akhirnya menoleh, tatapannya masih keras.

Aku menunggunya menjawab.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Kemudian rahangnya bergerak.

"Persetan," desisnya sebelum berbalik meninggalkanku.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Step Brother Next Door   Bab (6) : Ruang Kerja Ayah

    Kepusinganku belum berakhir. Hari itu ayah memintaku mengambil sebuah map dari ruang kerjanya."Map biru tua yang ada di laci paling atas," ujar ayah lalu menyeruput kopi yang katanya diimport dari York."Di dalamnya ada beberapa dokumen perusahaan. Ayah membutuhkannya sebelum makan siang." lanjut ayah sambil meletakkan kembali cangkirnya di atas meja.Aku mengangguk sambil bangkit dari kursi. Ku tinggalkan sebentar tugas sketsa anatomiku."Baik." sahutku sambil merapikan ujung kertas sketsa yang sedikit terlipat."Jangan lupa bawa semuanya." ujar ayah sambil mengangkat telunjuknya sebagai pengingat."Iya, ayah." jawabku sambil mengangguk sekali.Aku berjalan menuju ruang kerja ayah yang berada di ujung lorong.Aku membuka pintu perlahan.Ruangan kosong menyambutku, juga banyaknya barang-barang sentimental seorang mantan jenderal satuan elit.Aku menutup pintu di belakangku, kemudian berjalan menuju meja kerja besar yang memenuhi hampir separuh ruangan.Laci pertama, kosong. Laci kedu

  • Step Brother Next Door   Bab (5) : Saling Membantu

    Hades tidak berada di rumah pagi itu.Ayah sudah memintanya membawa mobil lamanya ke bengkel. Bukan karena mobil itu bermasalah, justru sebaliknya.Mobil tua berwarna hitam itu sudah bertahun-tahun berada di garasi keluarga dan masih terawat seperti benda yang terlalu berharga untuk diganti."Ganti oli saja sekalian periksa mesinnya," ujar ayah sambil menyerahkan kunci mobil kepada Hades. "Jangan sampai kau baru sadar ada masalah setelah mobilnya berhenti di tengah jalan."Hades menerima kunci tersebut tanpa banyak bicara. Ia memutar benda itu sekali di antara jemarinya sebelum memasukkannya ke saku celana."Aku bisa mengurusnya sendiri, Ayah," ucap Hades sambil mengangkat sebelah alis."Aku tahu," jawab ayah tenang sambil menatap putranya. "Itulah sebabnya aku menyuruhmu."Hades tidak menjawab.Tatapannya sempat berpindah kepadaku yang sedang duduk di meja makan. Hanya sepersekian detik sebelum kembali kepada ayah.Aku pura-pura tidak melihat."Aku pergi," ujar Hades sambil merapikan

  • Step Brother Next Door   Bab (4) : Kesalahan

    Sepanjang perjalanan pulang kemarin, cerita Kattie terus berputar di kepalaku.Ayah pernah melumpuhkan seorang penembak dalam acara amal. Hades bertugas di satuan elite. Sementara aku tinggal bersama mereka tanpa mengetahui apa pun selain nama keluarga Visconti yang terpasang di gerbang depan.Pantas saja suasana rumah ini terkadang terasa seperti markas jajahan. Konyol.Keesokan paginya, aku terbangun lebih siang dari biasanya. Ibu sudah bekerja di ruang baca, sedangkan Ayah pergi sejak pagi. Hades juga sempat mengatakan bahwa ia memiliki urusan di luar.Karena mengira tidak akan bertemu siapa pun, aku keluar kamar hanya dengan tanktop tipis dan celana pendek rumah.Aku baru berjalan beberapa langkah ketika pintu kamar ayah dan ibu terbuka.Hades muncul sambil membawa kotak perkakas.Langkahku langsung terhenti.Kaus hitamnya lembab di bagian dada dan punggung, sementara kedua lengannya digulung asal hingga siku. Rambutnya sedikit berantakan seperti baru beberapa kali diusap menggu

  • Step Brother Next Door   Bab (3) : Mobil Kakak

    Sialnya aku sudah menunggu di depan garasi hampir sepuluh menit. Tas kuliah yang menggantung di bahuku semakin terasa berat, sementara kanvas besar di tanganku berkali-kali diterpa angin. Seandainya ayah mengizinkan, sejak tadi aku sudah memesan Uber dan berangkat sendiri. Sayangnya, ia bersikeras meminta Hades mengantarku. Pintu menuju rumah akhirnya terbuka. Hades muncul dengan kunci mobil di tangan dan ekspresi seolah baru saja dipaksa meninggalkan urusan yang jauh lebih penting. Aku berdiri lebih tegak. "Maaf merepotkan," ucapku yang sebenarnya menahan ngeri. Dasar galak. Hades tidak menjawab. Tatapannya turun menuju kanvas dan tas yang kubawa, kemudian ia berjalan melewatiku menuju garasi. Aku menghela napas sebelum mengekor di belakang punggung tegapnya. Garasi keluarga Visconti jauh lebih besar daripada flat lama ibu. Beberapa mobil terparkir berjajar, Hades memilih Merces keluaran terbaru, yang berada di sudut. Mobil pribadinya. "Berikan," katanya tanpa men

  • Step Brother Next Door   Bab (2) : Kasih Sayang Ayah

    Pagi di rumah Visconti selalu dimulai dengan ketenangan yang nyaris terlalu sempurna.Pembantu rumah tangga datang setiap pagi dan pulang sebelum sore. Dan Mattheo, ayah tiriku tidak pernah menyukai orang asing tinggal di rumahnya, bahkan setelah bertahun-tahun meninggalkan dunia militer.Kebiasaan menjaga rumah, jadwal, dan segala sesuatu di bawah kendalinya rupanya tidak ikut pensiun bersamanya.Aku duduk di meja makan dengan punggung tegak, berusaha terlihat biasa saja.Hades mengenakan kaus gelap dengan lengan panjang yang digulung sampai siku. Ototnya terlihat padat, sementara urat-urat halus tampak jelas di punggung tangannya setiap kali ia mengangkat cangkir.Sialnya, pikiranku tidak mau bekerja sama. Karena beberapa detik kemudian, mataku kembali mencuri pandang.Sebagai mahasiswi seni yang terbiasa mengamati sesuatu yang menarik secara visual, aku tetaplah gadis normal yang akan panas dingin melihat pria seksi.Namun buru-buru, aku segera mengalihkan pandangan setelah mengama

  • Step Brother Next Door   Bab (1) : Pintu Kamar Sebelah

    Kamar sebelahku, katanya adalah kamar kakak tiriku. Ia belum kembali dari Vatikan karena penugasan.Dan sekarang aku berdiri di depan kamar yang selama seminggu terakhir hanya aku tahu bahwa pemilik kamar ini Hades Visconti.Katanya dia letnan muda yang bertugas di satuan elit, yang jelas membuatnya hampir tidak pernah berada di rumah.Usianya sudah 30 tahun, belum menikah.Aku hanya pernah melihat wajahnya dari foto-foto yang dipajang di ruang kerja ayah.Tampan.Tetapi rasa penasaran tidak pernah membutuhkan alasan yang masuk akal.Jemariku menyusuri kusen pintu berwarna hitam itu. Berbeda sekali dengan pintu kamarku sendiri yang dicat merah muda atas permintaan ibu. Cantik, lembut, dan sedikit berwarna-warni.Pintu ini sebaliknya. Hitam, sederhana, dingin.Aku mengembuskan napas pelan. Aroma minyak aromatherapy masih tercium hangat karena demamku masih naik-turun.Mungkin aku hanya ingin melihat seperti apa kamar kakak tiriku.Tanganku akhirnya menggenggam kenopnya. Kutarik, sayang

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status