تسجيل الدخولKepusinganku belum berakhir. Hari itu ayah memintaku mengambil sebuah map dari ruang kerjanya.
"Map biru tua yang ada di laci paling atas," ujar ayah lalu menyeruput kopi yang katanya diimport dari York. "Di dalamnya ada beberapa dokumen perusahaan. Ayah membutuhkannya sebelum makan siang." lanjut ayah sambil meletakkan kembali cangkirnya di atas meja. Aku mengangguk sambil bangkit dari kursi. Ku tinggalkan sebentar tugas sketsa anatomiku. "Baik." sahutku sambil merapikan ujung kertas sketsa yang sedikit terlipat. "Jangan lupa bawa semuanya." ujar ayah sambil mengangkat telunjuknya sebagai pengingat. "Iya, ayah." jawabku sambil mengangguk sekali. Aku berjalan menuju ruang kerja ayah yang berada di ujung lorong. Aku membuka pintu perlahan. Ruangan kosong menyambutku, juga banyaknya barang-barang sentimental seorang mantan jenderal satuan elit. Aku menutup pintu di belakangku, kemudian berjalan menuju meja kerja besar yang memenuhi hampir separuh ruangan. Laci pertama, kosong. Laci kedua, ya tentu saja benda yang sedang aku cari tidak ada. Aku menghela nafas sambil berjongkok untuk membuka laci paling bawah. Tidak ada juga. "Katanya di laci paling atas..." gumamku sambil berdiri kembali. Aku mengusap pelipis dengan ujung jari, mulai merasa sedikit kesal karena map yang kucari sama sekali tidak terlihat. Aku membuka lemari di samping meja, beberapa map tersusun rapi di sana. Aku mulai mencari berdasarkan warna. "Mana map biru tua..." gumamku pada udara kosong. Tanganku berpindah dari satu map ke map lainnya, sementara mataku menyipit memperhatikan warna setiap sampul. Aku menarik satu map keluar dan memeriksanya. Bukan. Aku mengembuskan napas panjang. Bahuku ikut turun karena kecewa. Sampai suara langkah kaki terdengar dari lorong membuatku berhenti. Langkah itu semakin dekati membuatku menoleh ke pintu. Hades. Refleks pertamaku bukan keluar, tapi justru panik. Aku tidak tahu kenapa, mungkin karena aku masih mengingat percakapan kami kemarin. Hades benar-benar berhasil sudah membuat orang lain merasa serba salah. Atau mungkin karena aku tahu Hades tidak akan senang jika melihatku berkeliaran di ruang kerja ayah tanpa alasan yang jelas. Aku buru-buru menutup lemari. Mataku bergerak mencari tempat untuk bersembunyi. Meja kerja Ayah. Aku langsung menunduk dan menyelipkan tubuhku ke bawah meja. Bodoh. Aku bahkan tidak sempat mempertimbangkan betapa konyolnya tindakanku. Aku hanya memeluk kakiku dengan menyedihkan, Pintu terbuka, sialnya Hades benar-benar masuk. Aku bisa melihat sepatu hitamnya bawah meja. Ia berhenti beberapa langkah dari meja. Ponselnya berdering. Hades dengan cepat mengangkatnya. "Ya." ucap Hades singkat sambil menatap layar ponselnya sebelum mengangkat pandangan ke arah ruangan. Aku menutup mulut dengan telapak tangan. "Miami?" tanyanya dengan suara rendah. Aku menahan napas. Di sisi lain Hades diam mendengarkan lawan bicaranya di ponsel. "Aku masih cuti." jawabnya setelah beberapa detik, suaranya tetap datar. Hening sebentar. "Berapa lama?" tanyanya sambil menggeser berat tubuhnya dari satu kaki ke kaki lainnya. Ia kembali diam, kemudian jawabannya terdengar rendah. "Belum tahu." jawabnya singkat. Hanya itu. Beberapa detik kemudian ia berkata, "Kirim detailnya." ujar Hades. Panggilan berakhir, lalu aku mendengar suara ponselnya dimasukkan ke dalam saku. Kemudian terdengar Hades berjalan mendekati meja. Aku bisa melihat bayangan tubuhnya dari bawah. Ia menarik sebuah kursi, membuat suara gesekan kayu terdengar pelan. Lalu sesuatu diletakkan di atas meja, sepertinya tas. Aku menggigit bibir. Lalu di susul suara retsleting dibuka. Dan aku benar-benar tidak berani bergerak. Beberapa detik kemudian, terdengar suara logam. Krek. Tubuhku menegang. Aku tidak bisa melihat apa yang sedang dilakukan Hades dari tempatku berada. Aku hanya bisa mendengar bunyi-bunyi kecil yang sesekali terdengar dari atas meja. Logam bergeser, sesuatu diletakkan. Kemudian suara lain. Krek. Aku menelan ludah. Tapi ruangan itu tetap diam seolah mengikuti Hades. Tidak ada satu kata pun keluar dari mulutnya, hanya suara benda-benda yang disentuhnya. Aku semakin merapatkan punggung ke sisi meja. Kemudian— Kling. Sebuah benda kecil jatuh membuatku tersentak. Benda itu menyentuh lantai, kemudian menggelinding. Pelan, sialnya sangat pelan. Aku menatapnya dari bawah meja dengan tatapan permusuhan. Awalnya aku kira hanya benda berbahan aluminium atau stainless. Mungkin tabung korek gas bermodel antik, tapi ternyata bukan. Sebuah peluru. Nafasku tertahan, darahku seperti berhenti mengalir. Benda kecil itu terus bergerak melewati kaki meja. Mendekat, semakin dekat. Sampai akhirnya berhenti tepat di samping lututku. Aku membeku, lalu membekap mulutku menahan agar tidak histeris. Wajahku basah oleh keringat dingin. Aku menatap ngeri benda kecil itu dengan wajah yang pasti sudah sepucat dinding di belakangku. Dan tidak bergerak. Tidak berani, jangan sampai Hades tahu. Namun beberapa detik kemudian, suara langkah Hades terdengar. Mendekat. Aku memejamkan mata dengan putus asa. Hingga langkahnya berhenti. Kemudian terdengar suara kursi bergeser. Aku membuka mata sedikit, bayangan Hades jatuh di lantai. Ia sedang mencari sesuatu, tangannya besarnya mungkin menyentuh lantai. Lalu— Hades berjongkok. Aku benar-benar sudah putus asa. Wajahnya perlahan muncul dari balik sisi meja. Dan mata kami bertemu. Aku membeku, begitu juga Hades. Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari kami yang bergerak. Tatapannya turun, ke wajahku. Kemudian ke peluru yang berhenti tepat di samping lututku. Rahangnya mengeras. "Apa yang kau lakukan di bawah meja?" tanyanya rendah, tapi juga nada suaranya sangat berbahaya. Alisnya sedikit turun, sementara pandangannya tetap terkunci padaku. Aku mencoba membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Hades masih berjongkok di depanku, tatapannya tidak berpindah. "Cherry Alana." panggilnya dengan suara rendah. Pertama kalinya ia memanggil dengan nama panjangku. Rasanya benar-benar membuatku tidak nyaman. "Aku..." jawabku terbata sambil menundukkan kepala sebentar. Suara yang keluar terdengar begitu kecil sampai hampir tidak terdengar. "Aku mencari map ayah." jelasku seadanya. Hades menatap tanganku yang kosong dan saling meremat dengan gelisah. "Dengan bersembunyi?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alis. Aku menggeleng cepat. "Bukan begitu." jelasku cepat. "Lalu?" tanyanya pendek sambil sedikit memiringkan kepalanya. Aku tidak bisa menjawab. Matanya turun lagi kepada peluru di lantai, lalu Hades mengambilnya. Aku spontan semakin mundur sampai punggungku menempel pada sisi meja. Gerakan itu membuat tatapannya kembali kepadaku. "Kau takut?" tanyanya sambil menatap wajahku yang pucat. Aku menggeleng sangat panik. Wajahku benar-benar pucat. Jari-jariku masih gemetar. Ia diam beberapa detik. Kemudian mengambil sesuatu dari atas meja dan tangannya kembali sibuk. Aku menatap benda itu sekilas. Pistol. Aku segera mengalihkan pandangan. "Kak..." panggilku pelan. Suaraku pasti sudah terdengar gemetar ditelinganya. Hanya hening, membuatku kembali mendongak untuk melihatnya. Ia ternyata menatapku dari atas. Tatapannya turun perlahan ke wajahku yang masih pucat, kemudian ke tanganku yang mencengkeram ujung kaus milikku. Aku tidak berani bergerak. "Kakak mau ke Miami?" tanyaku akhirnya sambil menelan ludah. Tatapannya kembali kepadaku. Sekali lagi, aku menyesal sudah bertanya. Dan Hades tidak langsung menjawab. "Ya." jawabnya singkat akhirnya, sambil memasukkan peluru tadi ke dalam tas. "Karena pekerjaan itu?" tanyaku lagi dengan suara hati-hati. Hades memasukkan peluru tadi ke dalam tas. "Cukup." ucapnya tegas. Satu kata yang terdengar seperti titah. Aku terdiam. "Keluar." perintahnya sambil mengulurkan satu tangan ke arah luar meja. Aku menelan ludah, lalu menurut, perlahan merangkak keluar dengan kikuk. Begitu berdiri, kakiku terasa masih lemas. Hades mengambil tasnya, aku kembali menatapnya. "Kenapa kakak membawa pistol?" tanyaku sambil menatap tas hitam di tangannya. Hades berhenti, tatapannya beralih kepadaku. Beberapa detik, kemudian ia menjawab, "Karena aku membutuhkannya." jawabnya dingin sambil menatapku tanpa berkedip. Aku menatapnya dengan tatapan rumit. "Untuk apa?" tanyaku pelan. Benar-benar cari mati. Lalu Hades berjalan melewatiku. "Bukan urusanmu." balasnya tanpa menoleh. Ia membuka pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sebentar. Tanpa menoleh, suaranya terdengar rendah. "Dan jangan pernah masuk ke ruangan ini tanpa izin lagi." ujarnya dengan nada peringatan. Pintu tertutup. Aku tetap berdiri di tengah ruangan, sendirian. Jantungku masih berdetak terlalu cepat. Aku kembali menatap meja kerja Ayah. Kemudian pada pintu ruangan itu yang terbuka lebar setelah jejak Hades.Kepusinganku belum berakhir. Hari itu ayah memintaku mengambil sebuah map dari ruang kerjanya."Map biru tua yang ada di laci paling atas," ujar ayah lalu menyeruput kopi yang katanya diimport dari York."Di dalamnya ada beberapa dokumen perusahaan. Ayah membutuhkannya sebelum makan siang." lanjut ayah sambil meletakkan kembali cangkirnya di atas meja.Aku mengangguk sambil bangkit dari kursi. Ku tinggalkan sebentar tugas sketsa anatomiku."Baik." sahutku sambil merapikan ujung kertas sketsa yang sedikit terlipat."Jangan lupa bawa semuanya." ujar ayah sambil mengangkat telunjuknya sebagai pengingat."Iya, ayah." jawabku sambil mengangguk sekali.Aku berjalan menuju ruang kerja ayah yang berada di ujung lorong.Aku membuka pintu perlahan.Ruangan kosong menyambutku, juga banyaknya barang-barang sentimental seorang mantan jenderal satuan elit.Aku menutup pintu di belakangku, kemudian berjalan menuju meja kerja besar yang memenuhi hampir separuh ruangan.Laci pertama, kosong. Laci kedu
Hades tidak berada di rumah pagi itu.Ayah sudah memintanya membawa mobil lamanya ke bengkel. Bukan karena mobil itu bermasalah, justru sebaliknya.Mobil tua berwarna hitam itu sudah bertahun-tahun berada di garasi keluarga dan masih terawat seperti benda yang terlalu berharga untuk diganti."Ganti oli saja sekalian periksa mesinnya," ujar ayah sambil menyerahkan kunci mobil kepada Hades. "Jangan sampai kau baru sadar ada masalah setelah mobilnya berhenti di tengah jalan."Hades menerima kunci tersebut tanpa banyak bicara. Ia memutar benda itu sekali di antara jemarinya sebelum memasukkannya ke saku celana."Aku bisa mengurusnya sendiri, Ayah," ucap Hades sambil mengangkat sebelah alis."Aku tahu," jawab ayah tenang sambil menatap putranya. "Itulah sebabnya aku menyuruhmu."Hades tidak menjawab.Tatapannya sempat berpindah kepadaku yang sedang duduk di meja makan. Hanya sepersekian detik sebelum kembali kepada ayah.Aku pura-pura tidak melihat."Aku pergi," ujar Hades sambil merapikan
Sepanjang perjalanan pulang kemarin, cerita Kattie terus berputar di kepalaku.Ayah pernah melumpuhkan seorang penembak dalam acara amal. Hades bertugas di satuan elite. Sementara aku tinggal bersama mereka tanpa mengetahui apa pun selain nama keluarga Visconti yang terpasang di gerbang depan.Pantas saja suasana rumah ini terkadang terasa seperti markas jajahan. Konyol.Keesokan paginya, aku terbangun lebih siang dari biasanya. Ibu sudah bekerja di ruang baca, sedangkan Ayah pergi sejak pagi. Hades juga sempat mengatakan bahwa ia memiliki urusan di luar.Karena mengira tidak akan bertemu siapa pun, aku keluar kamar hanya dengan tanktop tipis dan celana pendek rumah.Aku baru berjalan beberapa langkah ketika pintu kamar ayah dan ibu terbuka.Hades muncul sambil membawa kotak perkakas.Langkahku langsung terhenti.Kaus hitamnya lembab di bagian dada dan punggung, sementara kedua lengannya digulung asal hingga siku. Rambutnya sedikit berantakan seperti baru beberapa kali diusap menggu
Sialnya aku sudah menunggu di depan garasi hampir sepuluh menit. Tas kuliah yang menggantung di bahuku semakin terasa berat, sementara kanvas besar di tanganku berkali-kali diterpa angin. Seandainya ayah mengizinkan, sejak tadi aku sudah memesan Uber dan berangkat sendiri. Sayangnya, ia bersikeras meminta Hades mengantarku. Pintu menuju rumah akhirnya terbuka. Hades muncul dengan kunci mobil di tangan dan ekspresi seolah baru saja dipaksa meninggalkan urusan yang jauh lebih penting. Aku berdiri lebih tegak. "Maaf merepotkan," ucapku yang sebenarnya menahan ngeri. Dasar galak. Hades tidak menjawab. Tatapannya turun menuju kanvas dan tas yang kubawa, kemudian ia berjalan melewatiku menuju garasi. Aku menghela napas sebelum mengekor di belakang punggung tegapnya. Garasi keluarga Visconti jauh lebih besar daripada flat lama ibu. Beberapa mobil terparkir berjajar, Hades memilih Merces keluaran terbaru, yang berada di sudut. Mobil pribadinya. "Berikan," katanya tanpa men
Pagi di rumah Visconti selalu dimulai dengan ketenangan yang nyaris terlalu sempurna.Pembantu rumah tangga datang setiap pagi dan pulang sebelum sore. Dan Mattheo, ayah tiriku tidak pernah menyukai orang asing tinggal di rumahnya, bahkan setelah bertahun-tahun meninggalkan dunia militer.Kebiasaan menjaga rumah, jadwal, dan segala sesuatu di bawah kendalinya rupanya tidak ikut pensiun bersamanya.Aku duduk di meja makan dengan punggung tegak, berusaha terlihat biasa saja.Hades mengenakan kaus gelap dengan lengan panjang yang digulung sampai siku. Ototnya terlihat padat, sementara urat-urat halus tampak jelas di punggung tangannya setiap kali ia mengangkat cangkir.Sialnya, pikiranku tidak mau bekerja sama. Karena beberapa detik kemudian, mataku kembali mencuri pandang.Sebagai mahasiswi seni yang terbiasa mengamati sesuatu yang menarik secara visual, aku tetaplah gadis normal yang akan panas dingin melihat pria seksi.Namun buru-buru, aku segera mengalihkan pandangan setelah mengama
Kamar sebelahku, katanya adalah kamar kakak tiriku. Ia belum kembali dari Vatikan karena penugasan.Dan sekarang aku berdiri di depan kamar yang selama seminggu terakhir hanya aku tahu bahwa pemilik kamar ini Hades Visconti.Katanya dia letnan muda yang bertugas di satuan elit, yang jelas membuatnya hampir tidak pernah berada di rumah.Usianya sudah 30 tahun, belum menikah.Aku hanya pernah melihat wajahnya dari foto-foto yang dipajang di ruang kerja ayah.Tampan.Tetapi rasa penasaran tidak pernah membutuhkan alasan yang masuk akal.Jemariku menyusuri kusen pintu berwarna hitam itu. Berbeda sekali dengan pintu kamarku sendiri yang dicat merah muda atas permintaan ibu. Cantik, lembut, dan sedikit berwarna-warni.Pintu ini sebaliknya. Hitam, sederhana, dingin.Aku mengembuskan napas pelan. Aroma minyak aromatherapy masih tercium hangat karena demamku masih naik-turun.Mungkin aku hanya ingin melihat seperti apa kamar kakak tiriku.Tanganku akhirnya menggenggam kenopnya. Kutarik, sayang







