Home / Romansa / Step Brother Next Door / Bab (7) : Pagi dan Mesin Cuci

Share

Bab (7) : Pagi dan Mesin Cuci

Author: Anya Kiss
last update publish date: 2026-10-04 00:46:39

"...Kenapa bibirku terasa perih?"

Aku mengerjapkan mata beberapa kali.

Cahaya pagi menyusup melalui celah tirai dan jatuh tepat ke langit-langit kamar. Kepalaku terasa berdenyut, tenggorokanku kering, dan ada rasa asing yang masih tertinggal di bibirku.

Aku mengusapnya perlahan dengan ujung jari.

Perih, kenapa? Aku tidak ingat.

Entah sudah berapa banyak kebodohan yang berhasil ku cicil sejak aku tinggal di rumah ini.

Dan tampaknya, semalam aku baru saja menambah satu lagi.

Good girl, Cherry.

"Uh—"

Ternyata ada bau muntahan samar yang masih melekat pada pakaianku.

Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Untuk beberapa saat, aku hanya menatap langit-langit kamar.

Lalu ingatan mulai datang dalam potongan-potongan kecil.

Restoran, markas. Hades.

Aku menunduk. Jaket Hades yang kebesaran masih melekat pada tubuhku membuatku langsung terdiam.

"Sial." keluh ku dengan suara serak.

Kedua tanganku perlahan naik menutupi wajah.

"Aku melakukan apa semalam...?" rengekku pelan, nyaris seperti sedang berbicara kepada diri sendiri.

Aku mencoba mengingat lebih keras, suara mesin mobil. Cahaya lampu jalan yang bergerak melewati kaca jendela kusam.

Suara Hades yang terdengar semakin jauh.

Tangannya, wajahnya, kemudian, tidak ada.

Aku mengerang pelan dan menjatuhkan kedua tangan ke sisi tubuh.

"Jangan-jangan aku melakukan sesuatu yang memalukan..."

Aku bahkan tidak berani menyelesaikan kalimat itu. Yang paling mengganggu bukan hanya karena aku tidak mengingat bagaimana aku bisa sampai di kamar.

Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah ingatanku berhenti bekerja.

Dan semakin keras aku mencoba mengingatnya, semakin terasa seperti ada bagian dari malam tadi yang sengaja menolak untuk kembali.

Aku segera bangkit dari tempat tidur dengan langkah goyah.

Setelah mandi dan berganti pakaian, aku berdiri sebentar di depan cermin.

Tanganku kembali menyentuh bibir, tidak ada luka. Tidak ada darah. Hanya bagian tepi bibirku yang tampak sedikit lebih merah daripada biasanya.

“Ini kenapa…”

Hal itu membuatku mengerutkan kening, menatap pantulan wajahku sendiri beberapa detik. Aku bahkan tidak ingat bagaimana bibirku bisa seperti ini.

Kemudian aku mengumpulkan pakaian kotor yang masih berserakan. Ketika melihat jaket Hades yang masih tergeletak di kursi, tanganku sempat berhenti.

Aku menatap jaket itu beberapa saat.

"Jaket kakak...." lirihku, menahan rasa ngeri yang tiba-tiba muncul.

Ada rasa bersalah yang muncul ketika menyadari bahwa sejak tadi malam aku bahkan masih mengenakannya.

Kalau aku memang mengotori jaketnya semalam, setidaknya aku harus mencucinya.

Aku membawa seluruh pakaian itu turun ke ruang cuci. Rumah sayangnya terasa terlalu sunyi lagi pagi itu.

Ayah dan ibu tidak ada. Hanya suara mesin cuci yang samar terdengar. Aku membuka pintu ruang cuci perlahan, aku langsung berhenti.

Hades sudah berada di sana.

Ia berdiri di depan mesin cuci dengan celana olahraga hitam selutut, memperlihatkan kedua betisnya yang padat dan terbentuk. Kakinya telanjang, tanpa alas apa pun, berdiri mantap di atas lantai dingin ruang cuci.

"Sial..."

Rambutnya sedikit basah, beberapa helai jatuh berantakan di dahinya. Tubuh bagian atasnya tidak tertutup apa pun membuatku spontan terdiam.

Hades memiliki tubuh yang jauh lebih besar daripada yang terlihat ketika ia mengenakan pakaian sehari-hari.

Bahunya lebar, lengannya padat oleh otot yang terbentuk dari latihan bertahun-tahun. Dada dan perutnya menunjukkan garis tubuh yang tegas.

Tapi yang paling menarik perhatianku bukan itu.

Ada bekas luka di tubuhnya, beberapa terlihat jelas. Satu garis panjang melintas di bahunya. Bekas luka lain tampak samar di sisi tubuhnya, sementara beberapa jejak pucat terlihat di dekat tulang rusuk, juga bekas luka lama.

Hades akhirnya menoleh perlahan, tatapan matanya langsung bertemu dengan mataku.

Aku buru-buru mengalihkan pandangan.

"Kalau hendak masuk, masuklah," ujarnya dingin.

Aku tersentak kecil sebelum akhirnya melangkah masuk.

"Iya," jawabku pelan.

Aku membawa keranjang pakaian menuju bagian kosong di dekat mesin cuci, menunggu giliran.

Hades tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia kembali menghadap mesin cuci, mengambil beberapa pakaian dari keranjang miliknya, lalu memasukkannya satu per satu.

Jelas terlihat kalau ia hanya ingin menyelesaikan semuanya secepat mungkin.

Ketika sampai pada kemeja yang dikenakannya semalam, gerakannya berhenti.

Ia membentangkan kain itu sedikit di hadapan cahaya. Ada noda besar yang sudah samar, tetapi masih cukup terlihat pada bagian depan.

Aku langsung mengenalinya, wajahku memanas.

Hades tidak mengatakan apa-apa, kemudian mengambil botol deterjen pakaian dari atas mesin. Beberapa dituang, diarahkan pada bagian kain yang terkena noda.

Sekali, dua kali, tiga kali. Kemudian menuangkannya lagi. Seolah aroma sabun itu benar-benar dapat menghapus kejadian semalam.

"Tidak perlu sebanyak itu," ucapku pelan, jelas tersinggung.

Hades berhenti. Tapi tangannya masih memegang botol deterjen. Lalu menoleh kepadaku.

"Menurutmu tidak?" tanyanya datar.

Aku tidak menjawab. Hades menatap noda pada kemeja itu sekali lagi.

"Sayangnya, bau muntahan tidak sebaik itu dalam menerima alasan." ujarnya kering.

Aku menelan ludah. Ia menambahkan menyemprotkan pewangi.

"Terutama jika sumbernya adalah cairan lambung seseorang yang begitu bodoh sampai tidak mampu membedakan minuman dari orang asing dengan sesuatu yang aman untuk diminum." ucap Hades dengan nada yang semakin rendah.

Aku langsung terdiam.

Sial, itu sakit. Sangat sakit.

Namun Hades mengucapkannya tanpa nada mengejek yang berlebihan. Hanya fakta yang dibuat sedemikian tajam hingga terdengar seperti penghinaan.

"Aku benar-benar tidak tahu kalau minuman itu mengandung alkohol," kataku lirih.

Hades hanya diam. Tangannya begitu sibuk.

"Itulah yang membuatnya lebih menyedihkan."

Mendengar itu aku menunduk.

Ia lalu melipat kemejanya dengan rapi sebelum memasukkannya ke dalam mesin.

"Orang yang tahu sedang melakukan sesuatu yang bodoh setidaknya masih memiliki kesempatan untuk berhenti." ujar Hades tanpa menoleh kepadaku.

Hades menekan pakaian itu perlahan ke dalam mesin.

"Kau bahkan tidak tahu kalau kau sedang melakukan kebodohan." lanjutnya dengan tatapan sinis.

Aku meremas ujung bajuku.

"Maaf." ucapku pelan.

Tangannya berhenti, lalu menoleh kepadaku.

"Jangan minta maaf." ujarnya tegas.

Aku mengangkat wajah dengan tatapan memelas.

"Kenapa?" tanyaku dengan suara yang semakin kecil.

"Karena permintaan maaf tidak akan mengembalikan waktu yang kuhabiskan di lapangan," jawabnya tenang. "Tidak akan menghilangkan muntahan dari mobilku. Tidak akan menghilangkan noda dari pakaianku."

Ia menunjuk mesin dengan gerakan kecil.

"Dan jelas tidak akan menghilangkan aroma cairan lambungmu dari kain ini." tambahnya datar.

Aku langsung memalingkan wajah karena malu. Hades kembali menghadap mesin.

"Jadi, simpan permintaan maafmu." ujarnya., lalu ia menekan tombol mesin cuci.

"Gunakan lain kali sebelum melakukan sesuatu yang mengharuskanku membersihkan akibatnya."

Aku tidak lagi mampu menjawab. Dan aku benar-benar berharap aku bisa mengingat apa yang telah kulakukan.

Bukan karena ingin tahu.

Tapi karena tatapan Hades membuatku mulai takut kalau aku telah melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada sekadar muntah di mobilnya.

Atau jangan-jangan memang, aku telah melakukan sesuatu yang jauh lebih bodoh dari pada yang aku ingat?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Step Brother Next Door   Bab (55) : Berdarah

    Aku tetap diam, ingatan itu tidak pernah benar-benar hilang. Bau minyak senjata bercampur belerang bakar. Ruangan latihan yang dingin. Telapak tanganku yang lecet karena terlalu lama menggenggam salah gagang belati. Dan suara kasar ayah yang tidak pernah mengizinkanku berhenti hanya karena tubuhku lelah. "Aku juga yang mengajarimu bahwa tidak semua orang yang tersenyum kepadamu datang dengan niat baik," lanjutnya sambil mengangkat telunjuk. "Juga ada hal-hal yang harus kau lihat tanpa perlu bertanya. Ada pintu yang tidak boleh kau buka hanya karena kau memiliki kuncinya." Ayah menurunkan tangannya. Tatapannya semakin tajam. Ia mendekatkan wajah sedikit, cukup untuk membuat setiap perkataannya terdengar lebih jelas. "Lalu sekarang kau berdiri di hadapanku dan menginterogasi setiap urusan yang tidak kuberikan kepadamu?" tanyanya dengan rahang yang semakin mengeras. "Karena aku tahu ada sesuatu yang salah," jawabku tanpa ragu, lalu tanganku mengepal menahan untuk tidak gegabah. "Ti

  • Step Brother Next Door   Bab (54) : Yang Dulu

    "Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan. ayah akan bicara dengan Cherry," ujar ayah kemudian berbalik menuju pintu ruang cuci.Tapi, sebelum ia sempat melangkah keluar, ada sesuatu yang sejak kemarin mengganjal pikiranku."Ayah," panggilku tiba-tiba sambil mencengkram pinggiran keranjang baju.Ayah menghentikan langkah. Sebelah tangannya masih berada di dekat gagang pintu ketika ia menoleh sedikit."Ya?" sahutnya sambil mengangkat alis."Mantha," ucapku singkat sambil menatapnya lekat.Perubahan pada wajahnya awalnya tidak terlalu kentara. Tapi aku melihatnya, gerakan bahunya berhenri sesaat."Ada apa dengan Mantha?" tanyanya sambil menyipitkan mata.Aku menyandarkan pinggul pada sisi meja, lalu melipat kedua tangan di depan dada."Belum lama kita bekerja sama, urusan gudang dan stok untuk para utusan militer masih menggunakan jalur mereka," jelasku sambil mengamati reaksinya.Ayah tidak menyela. Ia hanya berdiri dengan satu tangan di saku celana, sementara tangan lainnya diam di sisi tu

  • Step Brother Next Door   Bab (53) : Marah

    "Adikmu tidak sengaja—" Kalimat ayah terdengar sangat menyebalkan di telingaku."Adik tiri," potongku dingin.Tanganku meraih botol deterjen di atas rak, kemudian menuangkan isinya ke wadah mesin cuci. Tutupnya kutekan hingga terdengar bunyi klik.Di sisi lain ayah tampak terdiam sebentar."Dia tidak bermaksud membuatmu kesal, Hades," ujar ayah lagi sambil menyandarkan bahu pada kusen pintu. Kedua tangannya masih berada di saku celana.Aku tak langsung menjawab, jemariku menekan tombol mesin cuci dengan kesal. Setelahnya mesin berbunyi."Tidak ada yang bertanya," jawabku datar, lalu aku menatapnya sinis.Mattheo mengembuskan napas pendek. Aku bisa merasakan tatapannya masih tertuju kepadaku, tapi aku tidak berniat membalasnya.Aku sudah cukup muak.Bukan hanya karena kejadian malam ini. Ada terlalu banyak hal yang harus kuterima sejak gadis itu tinggal di rumah ini.Bagaimana caranya mengatakan kepada ayah kalau anak perempuan tirinya itu tidak punya moral, tidak tahu malu, dan tampak

  • Step Brother Next Door   Bab (52) : Teguran

    "Cherry, berapa kali ibu harus mengingatkanmu untuk tidak ceroboh?" tegur Roseline sambil berdiri di dekat wastafel.Kedua tangan wanita itu terlipat di depan dada. Tatapannya tertuju pada putrinya yang sedang mencuci piring dengan kepala tertunduk.Cherry tidak menjawab, hanya terus sibuk dengan spons, sesekali membilas piring dengan air keran.Sejak makan malam berakhir, Hades tidak menoleh lagi kepadanya sebelum meninggalkan meja makan."Usiamu sudah cukup dewasa untuk memahami setiap tindakan punya konsekuensi," lanjut Roseline sambil melangkah mendekati meja dapur. Cherry hanya mengangguk kecil tanpa berani mengangkat wajah."Iya, Bu," jawabnya lemas sambil membilas piring yang berada di tangannya.Roseline menghela napas. Ia mengambil lap dapur yang tergantung di sisi lemari, kemudian mengeringkan permukaan meja yang sedikit basah."Dan ibu juga baru mendengar sesuatu yang lebih menarik dari kejadian malam ini," ucapnya sambil melipat lap tersebut. Nada suaranya semakin tajam.

  • Step Brother Next Door   Bab (51) : Soda

    "Apa bulu Nox tidak berjamur?" tanya Mattheo santai sambil meraih wadah kentang goreng di tengah meja.Hades tidak langsung menjawab.Perhatiannya masih tertahan pada tangan ayahnya yang terletak di atas meja. Telapak tangan itu bergerak seperti biasa. Tidak kaku, atau tidk ada gerakan yang tertahan, bahkan ekspresi pria itu tidak sedang menahan rasa sakit."Tidak," jawab Hades pendek sambil tetap mengamati ayahnya.Mattheo mengangguk kecil. Ia mengusap ujung jarinya dengan tisu sebelum mengambil kentang berikutnya."Benar-benar sudah diperiksa?" tanyanya lagi sambil mengangkat sebelah alis."Sudah," jawab Hades singkat."Dan jangan sampai Cherry memberi makan sembarangan lagi," ujar Mattheo sambil mengarahkan ujung kentang kepadanya sebelum memasukkannya ke dalam mulut.Cherry yang sedang membuka bungkus burger langsung mengangkat wajah, merasa tersinggung."Aku tidak sembarangan," protes Cherry sambil cemberut.Mattheo hanya tertawa pendek."Kau bulan lalu memberikan sesuatu dari d

  • Step Brother Next Door   Bab (50) : Makanan dan Jahitan

    "Lahan yang kemarin akhirnya sudah terjual," ujar Mattheo santai sambil membuka bungkus ayam goreng di hadapannya. Malam itu, keluarga Visconti berkumpul di meja makan, dengan kondisi suasana hati Mattheo yang terlihat sangat baik. Tidak ada masakan rumahan. Beberapa bungkus makanan cepat saji memenuhi meja, lengkap dengan ayam goreng, kentang, saus, dan beberapa minuman dingin. Roseline duduk di sebelah Mattheo, sementara Hades dan Cherry berada di sisi yang sama. "Benar-benar tanah yang tandus itu?" tanya Cherry sambil menatap wajah ayahnya dan mengambil sepotong kentang dari wadah. "Ya," jawab Mattheo sambil mengangguk kecil. "Yang ayah pernah cerita, salah satu tanah ayah yang sulit sekali laku itu?" tanyanya lagi sambil mengangkat sebelah alis. "Benar," jawab Mattheo sambil mencelupkan ayamnya ke dalam saus. "Katanya mau dibuat apa?" tanya Cherry lagi sambil menopang dagu dengan satu tangan. "Pabrik," jawab Mattheo singkat sambil menggigit ayamnya. Cherry lalu mengerjap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status