登入“Selamat datang Non, Papi sudah ngomong ada Non Karin dan temannya, Mbok sudah siapkan dua kamar untuk Non, ini kamar Non Karin dan disebelah sini untuk temannya.” Karin masuk ke kamarnya dan langsung merebahkan dirinya. Sudah larut malam, ia ingin tidur cepat karena pagi besok harus ke rumah sakit lagi. “Rin, aku gak mau tidur sendiri. Aku takut.” Padahal kamarnya bagus sekali tetapi Silvi takut. “Sil, gak ada siapapun di rumah ini, kita aja. Aku lagi mau tidur sendiri. Gak usah cengeng, aku lagi capek.”Dengan berat hati, Silvi menurut dan masuk ke kamar mewah itu. Rumah Karin yang di Jakarta saja sudah mewah, ternyata Karin punya rumah lagi di Bandung, ini juga sangat mewah dan tanahnya juga luas. “Gak mungkin Papi Rion ke rumah ini, kan? Istrinya lagi sakit,” gumam Silvi. Silvi mandi cepat karena belum mandi malam dan tubuhnya lengket sekali. Sedangkan Karin masih menangis sendirian di kamarnya. Mami Kaina tidak pernah bahagia. Sekarang Maminya sakit stroke. Bagaimana hidupny
“Karin, Mami masuk rumah sakit di Bandung.” Pesan dari Dion, Dion sudah lebih dulu ke Bandung karena tidak ada yang menjaga Mami Kaina. Papi malah meninggalkan Mami sendirian di Bandung. Pesan itu membuat Karin khawatir, Maminya jarang sekali sakit, sekarang ia malah menginap di daerah lain, malam itu juga Karin berangkat ke Bandung dengan Silvi. “Kamu gak ngomong dr. Arlan lagi kalau kita ke Bandung?” tanya Silvi. “Gak usah,” jawab Karin sambil menunduk, mereka sudah di Bandara sebentar lagi check-in, naik pesawat lebih cepat makanya Karin memilih pesawat daripada mobil, meskipun jarak Jakarta Bandung tidak jauh. Padahal Silvi ada jadwal besok pagi bertemu dengan Diego tapi Silvi juga tidak mau meninggalkan Karin sendirian. “Mami sakit apa?” tanya Silvi. “Aku juga gak tau, Kak Dion belum kabarin,” jawab Karin. Karin sedih sekali, ia harap sakit Maminya tidak parah.Sebelum mereka masuk pesawat, Arlan menghubungi Karin, ia baru mendapatkan kabar tentang Mami Kaina. “Sayang, kam
Sorenya, Karin pulang lebih dulu. Ia sedang malas mencari Silvi. Tapi, Silvi menghubunginya. “Rin, kok udah pulang? Aku tadi siapin surat rekomendasi untuk kamu dan minta tanda tangan dosen juga, aku minta bantuan dr. Haikal.” Tadinya Karin marah, mendengar Silvi membantunya sampai seperti itu. Karin jadi tersenyum. “Jangan marah, Rin. Aku gak tau, aku benar-benar gak tau kalau kamu gak ngulang, kamu sendiri yang ngomong ngulang makanya aku minta rekomendasi duluan,” ucap Silvi dengan wajahnya yang sedih. “Aku gak marah, ya udah aku ke rumah sakit jemput kamu.” Karin memutar mobilnya ke rumah sakit, hari ini tenang sekali, tidak ada Dion. Pria galak itu sibuk di kantor makanya tidak peduli dengan Karin dan tidak juga menjemputnya pulang bahkan hari ini tidak banyak tanya tentang Karin. Silvi menunggu di depan rumah sakit, ia tidak sabar memberikan surat ini pada Karin tapi senyumnya pudar saat melihat ada mobil Papi Rion di parkiran dan ada juga Clara mendekati mobil Papi Rion.
“Maaf dok, kalaupun kau punya foto apapun yang akan menghancurkan aku, aku tidak akan pernah peduli seperti dulu denganmu lagi, kau bisa membuatku gagal jadi dokter, mungkin aku akan pergi dan tidak akan kembali.” Karin menepis tubuh Dimas yang mendekat dan keluar dari ruangan Dimas saat itu juga. Dimas sampai harus menyusul Karin tapi Karin lebih cepat bersembunyi. “Terserah!” gerutu Karin dalam hati, ia mencari tempat di belakang rumah sakit dan tidak ada orang yang melewati. Karin sudah bosan di rumah sakit ini, begitu penuh intrik, Karin tidak menyangka kalau dokter yang ditemuinya hampir keseluruhan punya skandal yang mengerikan. “Kalau kau membongkarnya, mungkin aku gak cocok jadi dokter.” Karin sudah tidak ingin ditekan, semakin ia takut, justru semua orang semakin menekannya. Mereka tahu kelemahan Karin dan dijadikan senjata untuk menaklukkannya.Ponsel Karin berdering, telpon dari Dimas. Karin mengabaikannya karena merasa tidak butuh, kalau Dimas juga ingin memberikan nil
Sudah capek-capek ke ruangan Arlan, Karin pikir mereka akan melepaskan gairah ternyata Arlan malah sibuk, Karin hanya sarapan saja, tidak melakukan apapun, ia malah menonton Arlan yang sedari tadi menghubungi temannya. Namun, tangan Arlan malah sibuk di bawah perut Karin. Makanya saat Silvi menghubunginya Karin sedang berada di puncak gairahnya. “Ahhhh, dokkkhhh.” Arlan meminta Karin diam, ia sedang menghubungi temannya yang juga seorang dokter di rumah sakit lain. “Kenapa Sil?” tanya Karin sambil menahan ledakan gairah yang sudah tidak tertahankan. “Dimana Rin? Kita udah mau ikut dr. Dimas, kamu terlambat loh,” ucap Silvi sambil menepuk jidatnya. “Ahhh bentar aduhhh sedikit lagiii ahhh.” “Rin, yang bener aja, masih pagi ini.” Karin sudah menduga pasti Silvi berpikir ia dan Arlan sedang bercinta padahal tidak melakukan apapun. “Iya Sil, bentar.” Karin menutup teleponnya dan menyingkirkan tangan Arlan. “Kenapa?” tanya Arlan sambil berbisik. “Aku udah masuk, mau
“Permisi dok,” ucap Silvi setelah mengetuk pintu dr. Diego, sebenarnya Silvi tidak ingin datang ke tempat ini tapi ia terpaksa, bukan karena buku, itu hanya alasan untuk Karin saja. “Masih keputihannya banyak?” tanya dr. Diego dengan profesional sambil menyapu tubuh Silvi dari atas sampai bawah. Wanita ini pernah menipunya tetapi ia lupakan saja, padahal Diego serius dengan Karin hanya saja wanita itu terlalu cuek. Silvi datang untuk berobat, ia tidak berani dengan dr. Arlan karena Arlan dekat dengan Karin dan bagaimana kalau Arlan cerita tentang masalah kewanitaan yang dihadapi Silvi sekarang, Silvi juga tidak berani berobat dengan dr. Dimas, Dimas punya skandal dan juga ia mantan Karin, Silvi pikir tidak nyaman. Silvi juga tidak berani datang ke dr. Icha atau dokter wanita yang lain, Silvi pikir mereka suka bergosip dan terlalu julid. Silvi tidak ingin jadi sejarah dan aib di rumah sakit ini. Penyakitnya hanya keputihan tetapi banyak sekali, Silvi takut kalau itu penyakit. Terlebi
“Dok, jangan kenceng-kenceng! Aku udah basah ih!” Pintu berbunyi klik. Kunci berputar dari dalam. Seorang dokter senior melangkah masuk sambil menarik lengan seorang koas. Karin menatap mereka. Mulut Karin terbuka. Ia mengambil ancang-ancang untuk teriak dan lari. Namun tiba-tiba, tanpa ia sadar,
“Makasih dokter,” jawab Karin dengan senyum yang dibuat-buat. Karin tidak tertarik sama sekali untuk ikut mandi dengan dr. Arlan meskipun sepertinya tubuh dr. Arlan atletis seperti yang Karin mau. “Aku pikir kita bisa mencobanya,” jawab Arlan dengan tawanya yang mengejek. Tidak lucu! Sungguh! K
Bodohnya, gumam Karin dalam hati. Ia tidak bisa memasak dan Karin juga tidak bisa menolak permintaan aneh Arlan untuk menjadi pembantu gratisnya hari ini. Di dalam mobil, Karin hanya diam terpaku menatap jalan yang sedikit lenggang. Arlan yang duduk di sampingnya juga tidak menyapanya atau bert
“Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di







