LOGINShanaya tidak bisa mengingat lagi pernah melihatnya di mana.Namun, firasatnya mengatakan padanya, yang disembunyikan Herman adalah seorang pria.Lucien sedikit mempertimbangkan sejenak, lalu berkata kepada orang di seberang telepon yang masih belum ditutup, "Kamu sudah dengar yang dikatakan Nona, 'kan?""Dengar."Mario berkata dengan tenang dan teratur, "Aku akan pergi memeriksa rekaman CCTV di kompleks Herman hari itu, lihat apakah bisa menemukan siapa orangnya.""Mm."Saat Lucien hendak menutup telepon, tiba-tiba suaranya menjadi tajam dan dia menambahkan, "Periksa juga apakah Felix pernah keluar masuk kompleks itu."Mario menjawab, "Aku akan segera memeriksanya."Panggilan berakhir.Shanaya hanya merasa sangat cemas, lalu dengan suara pelan mengungkapkan dugaannya, "Maksudmu kamu curiga Herman mungkin ada kaitannya dengan Damar?"Selain itu, dia tidak bisa memikirkan kemungkinan lain.Lucien mengangguk. "Bukan tidak mungkin."Shanaya merasa gelisah. Saat hendak bertanya lebih lanju
Di telepon terdengar keheningan singkat.Sesaat kemudian, Gayatri menggertakkan gigi dan berkata, "Kenapa? Kak Damar, aku tidak percaya kekuatan yang kamu pegang tidak bisa mengatasi seorang Shanaya!""Dia adalah titik lemah Lucien dan Keluarga Wirantara. Asal kamu mencengkeram dia, berarti kamu sudah memegang urat nadi dua keluarga itu. Membalaskan penghinaan untukku dan Gian cukup satu keputusan darimu saja!!"Gayatri tidak ingin lagi menjalani kehidupan dipandang rendah seperti ini bahkan satu hari pun.Dulu saat dia masih berada di Keluarga Wiraatmadja, meski kekuasaan nyatanya direbut oleh Lucien, orang-orang yang bertemu dengannya tetap harus menunduk hormat.Sekarang bagaimana? Siapa pun yang melihatnya justru menjauh, bahkan ada yang langsung mengejek dan menghinanya di depan muka.Herman berkata, "Keadaan sekarang sudah berbeda dari dulu. Sedikit saja lengah, jangankan mempertahankan DK, bahkan aku sendiri bisa ikut terseret."Keluarga Wirantara dan Lucien sepertinya rela meng
Bahasanya terdengar sangat sopan.Namun, Shanaya dengan mudah menangkap sindiran tersembunyi dalam nada bicaranya.Dari perkataan Herman, satu kata pun tidak ada yang Lucien percayai.Shanaya juga tidak terlalu percaya.Semuanya terasa agak terlalu kebetulan.Tadi malam Keluarga Wirantara baru saja menyelidiki perkara ini sampai tuntas. Pagi-pagi sekali hari ini, Herman sudah menelepon, bahkan dengan mulutnya sendiri membantah ucapan tegas yang dia katakan kemarin.Namun ....Baik Aurelia maupun Rivaldi, dalam urusan ini sama sekali tidak akan menyerahkan tugas kepada orang lain. Paling jauh, mereka hanya akan memakai orang kepercayaan di sisi mereka.Hubungannya dengan Keluarga Wirantara kemarin seharusnya tidak mungkin diketahui oleh Herman.Pandangan bingungnya jatuh pada Herman. Dia melihat Herman berdiri sambil menopang tubuh dengan tongkat, lalu berkata dengan agak canggung, "Pak Lucien, Dokter Shanaya, ini .…""Maaf sekali, mungkin hanya teman lamaku yang keliru. Aku sudah menge
Tunangan.Kata ini Shanaya ucapkan dengan sangat alami, seolah mereka sudah bersama bertahun-tahun dan itu adalah hal yang biasa.Mendengar itu, Lucien merasa seakan ada sesuatu yang menggaruk bagian tertentu di hatinya berulang kali.Rasa gatal di hatinya sulit ditahan, sudut bibirnya pun tanpa sadar sedikit terangkat.Sang kepala pelayan tidak menyadari adanya hal yang berbeda, tetapi dia sangat paham bahwa pria yang berdiri di samping Shanaya itu jelas bukan orang biasa, bukan seseorang yang bisa mereka singgung dengan mudah saat ini."Tentu, tentu."Setelah berkata demikian, dia dengan hormat memberi isyarat mempersilakan, lalu berjalan di depan untuk memandu jalan.Begitu melangkah masuk ke kamar tidur Herman, saat melihat orang yang terbaring di atas tempat tidur, Shanaya tanpa sadar mengernyitkan kening.Wajahnya tampak lebih suram, jelas tidak sebaik kemarin.Herman tidak berbohong padanya, kondisi penyakitnya memang semakin memburuk.Kepala pelayan mengira Herman sudah tertidu
Shanaya baru saja sampai di depan pintu klinik, Rony sudah membawa mobilnya mendekat.Melihat Shanaya keluar, Rony segera turun dari mobil, sambil bersiap membukakan pintu untuknya, dia berkata dengan senyum nakal, "Nona, aku sudah memperkirakan Anda akan keluar sekitar waktu ini.""Terima kasih, Kak Rony."Shanaya tersenyum tipis, seolah kembali ke masa ketika masih sekolah.Waktu itu, Rony juga selalu bisa memperkirakan dengan cukup tepat jam dia keluar dari sekolah, lalu membawa mobil ke depan gerbang, sebisa mungkin membuatnya berjalan lebih sedikit.Satu-satunya yang berbeda adalah, dulu Lucien selalu duduk di kursi belakang menunggunya setiap kali.Sekarang, mereka masing-masing sibuk dengan urusan sendiri.Perasaannya belum sempat tenang, ketika dia menoleh dan melihat pintu kursi belakang mobil yang sudah terbuka, lalu langsung bertatapan dengan sepasang mata hitam pekat itu.Dia tertegun, dan pria itu sudah lebih dulu berkata, "Tempat praktik kalian kalau sudah pulang kerja ha
Gerakan Shanaya terhenti sejenak. Setelah menenangkan diri sedikit, dia berjalan menuju ruang praktik sambil bertanya dengan nada agak bingung, "Ada bagian yang tidak nyaman?"Seharusnya, setelah kemarin baru saja menjalani akupunktur dan juga mengganti resep obat, tidak mungkin ada masalah.Namun suara Herman terdengar lemah tak bertenaga, tidak seperti berpura-pura."Ya."Herman tampak agak sesak napas, dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Pagi ini saat aku bangun, dadaku terasa sulit bernapas, bahkan bernapas pun sangat berat."Shanaya berpikir sejenak. "Baik, kamu coba berbaring miring dulu. Setelah aku selesai di poliklinik, aku akan langsung ke sana. Kalau sebelum itu gejalanya memburuk, segera hubungi ambulans."Mengenai kondisi Herman, kemarin baru saja Shanaya periksa nadinya, jadi dia sudah punya gambaran.Gejala sesak napas seperti ini memang bisa terjadi saat kondisi penyakit memburuk.Baru kemarin selesai menjalani akupunktur, hari ini sudah begini, dia khawatir akan
Saat keluar dari rumah utama Keluarga Pranadipa, senja sudah turun sepenuhnya. Angin malam menyelinap masuk dari kerah pakaiannya, membuat Shanaya merinding kedinginan.Lucien membuka pintu mobil, dan dia segera membungkuk naik ke dalam. Sebelum naik, dia tidak lupa menyerahkan kunci mobil Shanaya k
Helsa menatap pesan yang sudah dikirim, bibirnya tersungging dengan senyum penuh perhitungan.Meski Shanaya dan Lucien sangat dekat, apa gunanya?Menerima foto seperti ini, ada berapa wanita yang masih bisa menjaga kepercayaan sepenuhnya?Benih kecurigaan sekali ditanam, hanya akan terus berakar dan
Bianca hampir muntah darah. Saat membayangkan Shanaya dan Delara masih menonton pertunjukan itu, pelipisnya sampai berdenyut-nyedut karena marah.Melamar?Makhluk jelek itu benar-benar berani bermimpi!!Namun, dia juga tidak khawatir. Keluarga Wirantara tidak mungkin setuju dia menikah dengan Gilang
Sebelum mengucapkan kalimat itu, Shanaya sangat tegang sampai dia bisa mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang.Namun, begitu kata-kata itu terucap, seluruh tubuhnya langsung terasa rileks.Baik maupun buruk, dia sudah menyiapkan dirinya. Dia hanya diam menunggu Herman memberi jawaban.Herm







