ログインTunangan.Kata ini Shanaya ucapkan dengan sangat alami, seolah mereka sudah bersama bertahun-tahun dan itu adalah hal yang biasa.Mendengar itu, Lucien merasa seakan ada sesuatu yang menggaruk bagian tertentu di hatinya berulang kali.Rasa gatal di hatinya sulit ditahan, sudut bibirnya pun tanpa sadar sedikit terangkat.Sang kepala pelayan tidak menyadari adanya hal yang berbeda, tetapi dia sangat paham bahwa pria yang berdiri di samping Shanaya itu jelas bukan orang biasa, bukan seseorang yang bisa mereka singgung dengan mudah saat ini."Tentu, tentu."Setelah berkata demikian, dia dengan hormat memberi isyarat mempersilakan, lalu berjalan di depan untuk memandu jalan.Begitu melangkah masuk ke kamar tidur Herman, saat melihat orang yang terbaring di atas tempat tidur, Shanaya tanpa sadar mengernyitkan kening.Wajahnya tampak lebih suram, jelas tidak sebaik kemarin.Herman tidak berbohong padanya, kondisi penyakitnya memang semakin memburuk.Kepala pelayan mengira Herman sudah tertidu
Shanaya baru saja sampai di depan pintu klinik, Rony sudah membawa mobilnya mendekat.Melihat Shanaya keluar, Rony segera turun dari mobil, sambil bersiap membukakan pintu untuknya, dia berkata dengan senyum nakal, "Nona, aku sudah memperkirakan Anda akan keluar sekitar waktu ini.""Terima kasih, Kak Rony."Shanaya tersenyum tipis, seolah kembali ke masa ketika masih sekolah.Waktu itu, Rony juga selalu bisa memperkirakan dengan cukup tepat jam dia keluar dari sekolah, lalu membawa mobil ke depan gerbang, sebisa mungkin membuatnya berjalan lebih sedikit.Satu-satunya yang berbeda adalah, dulu Lucien selalu duduk di kursi belakang menunggunya setiap kali.Sekarang, mereka masing-masing sibuk dengan urusan sendiri.Perasaannya belum sempat tenang, ketika dia menoleh dan melihat pintu kursi belakang mobil yang sudah terbuka, lalu langsung bertatapan dengan sepasang mata hitam pekat itu.Dia tertegun, dan pria itu sudah lebih dulu berkata, "Tempat praktik kalian kalau sudah pulang kerja ha
Gerakan Shanaya terhenti sejenak. Setelah menenangkan diri sedikit, dia berjalan menuju ruang praktik sambil bertanya dengan nada agak bingung, "Ada bagian yang tidak nyaman?"Seharusnya, setelah kemarin baru saja menjalani akupunktur dan juga mengganti resep obat, tidak mungkin ada masalah.Namun suara Herman terdengar lemah tak bertenaga, tidak seperti berpura-pura."Ya."Herman tampak agak sesak napas, dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Pagi ini saat aku bangun, dadaku terasa sulit bernapas, bahkan bernapas pun sangat berat."Shanaya berpikir sejenak. "Baik, kamu coba berbaring miring dulu. Setelah aku selesai di poliklinik, aku akan langsung ke sana. Kalau sebelum itu gejalanya memburuk, segera hubungi ambulans."Mengenai kondisi Herman, kemarin baru saja Shanaya periksa nadinya, jadi dia sudah punya gambaran.Gejala sesak napas seperti ini memang bisa terjadi saat kondisi penyakit memburuk.Baru kemarin selesai menjalani akupunktur, hari ini sudah begini, dia khawatir akan
Saat mereka selesai, seluruh tubuh Shanaya basah kuyup seperti baru saja diangkat dari air, keringat membasahi dirinya saat dia terbaring lemas di atas bantal, tanpa sisa tenaga sedikit pun.Lucien mengambil tisu basah dan dengan hati-hati membersihkan dirinya. "Mau mandi?""Tidak perlu."Shanaya segera menolak.Meski belakangan ini setiap selesai, selalu Lucien yang menggendongnya ke kamar mandi dan dengan sabar membantunya mandi, hari ini dia tetap tidak ingin.Karena pria brengsek itu tidak bisa diandalkan. Sering kali saat sedang mandi, tiba-tiba dia menahan Shanaya di dalam bathtub dan melakukannya lagi.Saat ini, dia hanya ingin tidur.Matanya memang sejak awal sudah terlihat menggoda. Sekarang di sudut matanya masih tersisa air mata karena reaksi fisik, membuatnya tampak sangat memikat.Tenggorokan Lucien bergerak naik turun, menahan dorongan panas yang menjalar ke perut bawahnya. Dia menggendong Shanaya ke sofa, membereskan seprai yang berantakan, lalu kembali menggendongnya ke
Lucien tampak sedang dalam suasana hati yang baik.Shanaya mengira dia sedang bercanda, lalu menimpali, "Iya, iya, sebentar lagi Kak Elvano mau menyerahkan posisi CEO kepadaku, ya?"Lucien tertegun.Lucien mendengus sambil tertawa kecil, lalu mencubit pipinya yang memerah karena uap hangat. "Kalau kamu yang minta, siapa tahu benar-benar dia kasih ke kamu."Keluarga Wirantara langsung memberi 5% saham saat turun tangan, itu memang di luar perkiraannya.Namun, Keluarga Wirantara bisa begitu menghargai Shanaya, dia ikut senang untuknya.Shanaya meliriknya sekilas, tidak ingin bercanda dengannya lagi. "Cepat keringkan rambutku."Mungkin karena akhir-akhir ini Lucien terlalu perhatian, dia sudah terbiasa dilayani.Misalnya, sudah lama dia tidak mengeringkan rambutnya sendiri.Lucien menatapnya dengan penuh kasih. "Ya, Nona Besar."Sambil berkata begitu, Lucien menariknya ke sofa untuk duduk, lalu mengambil pengering rambut dan dengan terampil mengeringkan rambutnya.Setelah rambutnya kering
Perkataan itu sama sekali tidak berlebihan.Di Keluarga Wirantara, selama bertahun-tahun tidak ada satu pun yang berpikir untuk menyerah mencari Winona, bahkan Zafran sekalipun.Adapun Tuan Haryo yang berulang kali ragu dalam urusan saham, tidak lain hanya karena takut keempat bersaudara itu di masa depan menjadi renggang hanya karena sedikit saham tersebut.Karena mereka sudah berpikir dengan jelas, Nyonya Mariani melirik Tuan Haryo, lalu berkata kepada beberapa generasi muda dengan santai, "Yang merasa berutang pada Winona bukan hanya kalian. Aku dan kakek kalian sudah lama merencanakan ini. Asalkan suatu hari Winona bisa ditemukan kembali, semua hotel yang ada atas namaku akan aku berikan padanya."Yang dimaksud Nyonya Mariani adalah sebagian harta yang dia warisi secara sah setelah kedua orang tua dari pihak keluarga asalnya meninggal dunia.Sekarang, seberapa besar pun keuntungannya, semuanya tetap menjadi aset pribadinya.Kedua orang tua itu benar-benar tulus ingin menebus kesala
Angin dingin yang menggigit menyapu tubuh Shanaya, membuatnya bergidik hebat.Entah karena udara yang terlalu dingin, atau karena rasa takut yang merayap di hatinya.Belum sempat pikirannya menenangkan diri, dari kejauhan, di jalanan yang semula gelap gulita tiba-tiba muncul sorot cahaya.Beberapa s
Shanaya sangat jelas mengingat bahwa dia hanya pernah mengatakan kepada Lucien kalau kematian orang tua angkatnya disebabkan oleh Gayatri.Dia sama sekali tidak pernah menyebut nama Damar.Lucien tidak terkejut Shanaya akan menanyakan hal itu. Dia berjalan perlahan ke sisi tempat tidur, duduk, merap
Di telepon, suara operator langsung memberi tahu bahwa pihak yang dihubungi telah dimatikan.Davin mulai merasa gelisah. "Kamu menelepon Pak Adrian?""Iya."Jantung Lucien terasa tercekik, wajahnya begitu muram sampai seolah bisa meneteskan air. Dia pun mematikan ponselnya, lalu menoleh ke arah Arma
Namun, detik berikutnya, sebuah tamparan langsung mendarat di wajah Rivaldi!Di pipinya yang bersih dan tampan, tampak bekas merah yang jelas.Rivaldi mengernyit sedikit karena pukulan itu, ujung lidahnya menjilat darah yang merembes di sudut bibir, lalu dia menatap datar pria paruh baya di hadapann







