LOGINGerakan Shanaya terhenti sejenak. Setelah menenangkan diri sedikit, dia berjalan menuju ruang praktik sambil bertanya dengan nada agak bingung, "Ada bagian yang tidak nyaman?"Seharusnya, setelah kemarin baru saja menjalani akupunktur dan juga mengganti resep obat, tidak mungkin ada masalah.Namun suara Herman terdengar lemah tak bertenaga, tidak seperti berpura-pura."Ya."Herman tampak agak sesak napas, dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Pagi ini saat aku bangun, dadaku terasa sulit bernapas, bahkan bernapas pun sangat berat."Shanaya berpikir sejenak. "Baik, kamu coba berbaring miring dulu. Setelah aku selesai di poliklinik, aku akan langsung ke sana. Kalau sebelum itu gejalanya memburuk, segera hubungi ambulans."Mengenai kondisi Herman, kemarin baru saja Shanaya periksa nadinya, jadi dia sudah punya gambaran.Gejala sesak napas seperti ini memang bisa terjadi saat kondisi penyakit memburuk.Baru kemarin selesai menjalani akupunktur, hari ini sudah begini, dia khawatir akan
Saat mereka selesai, seluruh tubuh Shanaya basah kuyup seperti baru saja diangkat dari air, keringat membasahi dirinya saat dia terbaring lemas di atas bantal, tanpa sisa tenaga sedikit pun.Lucien mengambil tisu basah dan dengan hati-hati membersihkan dirinya. "Mau mandi?""Tidak perlu."Shanaya segera menolak.Meski belakangan ini setiap selesai, selalu Lucien yang menggendongnya ke kamar mandi dan dengan sabar membantunya mandi, hari ini dia tetap tidak ingin.Karena pria brengsek itu tidak bisa diandalkan. Sering kali saat sedang mandi, tiba-tiba dia menahan Shanaya di dalam bathtub dan melakukannya lagi.Saat ini, dia hanya ingin tidur.Matanya memang sejak awal sudah terlihat menggoda. Sekarang di sudut matanya masih tersisa air mata karena reaksi fisik, membuatnya tampak sangat memikat.Tenggorokan Lucien bergerak naik turun, menahan dorongan panas yang menjalar ke perut bawahnya. Dia menggendong Shanaya ke sofa, membereskan seprai yang berantakan, lalu kembali menggendongnya ke
Lucien tampak sedang dalam suasana hati yang baik.Shanaya mengira dia sedang bercanda, lalu menimpali, "Iya, iya, sebentar lagi Kak Elvano mau menyerahkan posisi CEO kepadaku, ya?"Lucien tertegun.Lucien mendengus sambil tertawa kecil, lalu mencubit pipinya yang memerah karena uap hangat. "Kalau kamu yang minta, siapa tahu benar-benar dia kasih ke kamu."Keluarga Wirantara langsung memberi 5% saham saat turun tangan, itu memang di luar perkiraannya.Namun, Keluarga Wirantara bisa begitu menghargai Shanaya, dia ikut senang untuknya.Shanaya meliriknya sekilas, tidak ingin bercanda dengannya lagi. "Cepat keringkan rambutku."Mungkin karena akhir-akhir ini Lucien terlalu perhatian, dia sudah terbiasa dilayani.Misalnya, sudah lama dia tidak mengeringkan rambutnya sendiri.Lucien menatapnya dengan penuh kasih. "Ya, Nona Besar."Sambil berkata begitu, Lucien menariknya ke sofa untuk duduk, lalu mengambil pengering rambut dan dengan terampil mengeringkan rambutnya.Setelah rambutnya kering
Perkataan itu sama sekali tidak berlebihan.Di Keluarga Wirantara, selama bertahun-tahun tidak ada satu pun yang berpikir untuk menyerah mencari Winona, bahkan Zafran sekalipun.Adapun Tuan Haryo yang berulang kali ragu dalam urusan saham, tidak lain hanya karena takut keempat bersaudara itu di masa depan menjadi renggang hanya karena sedikit saham tersebut.Karena mereka sudah berpikir dengan jelas, Nyonya Mariani melirik Tuan Haryo, lalu berkata kepada beberapa generasi muda dengan santai, "Yang merasa berutang pada Winona bukan hanya kalian. Aku dan kakek kalian sudah lama merencanakan ini. Asalkan suatu hari Winona bisa ditemukan kembali, semua hotel yang ada atas namaku akan aku berikan padanya."Yang dimaksud Nyonya Mariani adalah sebagian harta yang dia warisi secara sah setelah kedua orang tua dari pihak keluarga asalnya meninggal dunia.Sekarang, seberapa besar pun keuntungannya, semuanya tetap menjadi aset pribadinya.Kedua orang tua itu benar-benar tulus ingin menebus kesala
Saham Grup Wirantara sebagian berada atas nama Nyonya Mariani, kemudian Zafran, Elvano, dan Rivaldi masing-masing memegang sepuluh persen.Nadira memegang tiga puluh persen, di mana dua puluh persennya dititipkan untuk Aurelia dan Winona.Tuan Haryo mengernyit. "Saham Winona tidak perlu kamu urus. Sejak dulu sudah atas nama ibumu, nanti tinggal langsung dialihkan saja kepadanya."Jelas sekali dia tidak ingin merusak keseimbangan antara kelompok usaha dan keluarga.Bagaimanapun juga, Zafran tetaplah anak kandungnya sendiri.Lagi pula, dalam keluarga seperti apa pun, yang dikhawatirkan bukanlah kekurangan, melainkan ketidakadilan.Jadi, selama ini, dalam hal yang menyangkut harta keluarga, Keluarga Wirantara selalu bersikap terbuka, adil, dan jujur. "Kakek, sejak kapan Kakek juga suka pura-pura tidak tahu padahal sebenarnya paham?"Rivaldi seolah tidak menyadari sikap Tuan Haryo, lalu tersenyum dan berkata, "Aset atas nama ibuku memang sudah seharusnya menjadi milik Winona. Kami berempat
Shanaya tidak pernah sekalipun melupakan bahwa dua orang ini memikul nyawa orang yang paling dia cintai.Pandangan Lucien menyapu dokumen di tangannya, lalu berhenti pada matanya yang memerah."Pasti." Dia menjawab dengan tegas tanpa sedikit pun ragu.Apa yang dilakukan Gayatri dulu, dia sudah menyuruh Mario untuk mencari buktinya. Banyak cara dan metode yang tidak bisa digunakan oleh polisi, justru dikuasai dengan sangat mahir oleh Mario.Hanya saja karena rentang waktunya sudah terlalu lama, masih dibutuhkan sedikit waktu.Shanaya diam-diam menarik napas, lalu memasukkan kembali dokumen itu ke dalam map tanpa mengubah apa pun. "Ya, aku juga merasa pasti akan terungkap."Hal kecil pun ada jejaknya.Apalagi perbuatan yang sampai melukai dan merenggut nyawa manusia....Vila Brisa Alam.Aurelia menutup telepon, lalu langsung merasakan tatapan panas dari beberapa orang di sekelilingnya.Nadira, Elvano, Rivaldi, bahkan Tuan Haryo dan Nyonya Mariani semuanya menatapnya dengan penuh harap.
Susana mengerutkan kening dengan sangat tajam, seluruh tubuhnya terasa dingin.Anak lelaki yang telah dia kandung selama sembilan bulan dan lahirkan dengan susah payah itu, sekarang demi seorang wanita, berani bersikap ketus padanya."Apa maksudmu bilang itu bukan urusanku? Aku ini ibumu! Apa salahn
Mendengar itu, ekspresi Lucien langsung mengeras. "Ayo, kita segera ke rumah sakit."Rony yang mendengar suara gaduh itu langsung bergegas ke garasi untuk menyalakan mobil.Setelah duduk di dalam mobil, ketika Lucien hendak membantunya memasang sabuk pengaman, Shanaya sudah lebih dulu tenang dan mem
Larut malam, Lucien menyadari bahwa napas Shanaya yang berbaring di sampingnya akhirnya menjadi teratur. Tanpa suara, dia mengembuskan napas lega.Dia kembali menunggu sebentar, sampai Shanaya tidur lebih lelap, barulah dia mengangkat selimut dengan hati-hati dan turun dari tempat tidur.Kembali ke
Sesekali ada petugas medis yang lalu-lalang, menyadari ketegangan antara mereka, tetapi tak seorang pun berani ikut campur, semua menghindar dengan hati-hati.Adrian mengangkat tangan untuk merapikan tali jamnya. Sedikit sisa kelembutannya memudar, ekspresinya menjadi dingin, bahkan ada sedikit sind







