로그인Saat Reynald tersadar, Aurelia sudah berjalan jauh dengan langkah lebar.Dia mengertakkan gigi, lalu bergegas menyusulnya. Dengan suara rendah, dia berkata, "Aurelia, Kakek sudah menunggu di dalam. Setidaknya jangan permalukan aku di depan keluarga saat makan nanti.""Mempermalukanmu?"Aurelia terus berjalan tanpa berhenti. Wajahnya tetap tenang, tanpa sedikit pun perubahan ekspresi. "Reynald, waktu kamu menjadikan keselamatan Shanaya sebagai alat tawar-menawar, apa kamu pernah memikirkan soal rasa malu?"Ucapan itu bagaikan jarum yang menusuk Reynald, membuat raut wajahnya sedikit berubah.Benar juga.Dia bahkan sudah tega melakukan hal serendah itu. Wajar saja jika wanita sekelas Aurelia, yang sejak lahir hidup sebagai putri keluarga terpandang, semakin memandang rendah dirinya.Baru saja Reynald hendak bicara lagi, pintu ruang utama terbuka dari dalam. Yuliana keluar menyambut mereka dengan senyum ramah. "Akhirnya kalian datang! Ayo, cepat masuk. Di luar anginnya kencang."Ekspresi
Reynald meletakkan ponselnya di sandaran tangan tengah, lalu memejamkan mata sejenak, memaksa dirinya mengesampingkan semua keraguan tadi.Setidaknya untuk saat ini, keputusan yang diambilnya tidak salah.Dia masih bisa mempertahankan semua yang dimilikinya.Tidak lama kemudian, mobil memasuki kawasan Vila Brisa Alam dan perlahan berhenti di depan gerbang besi berukir.Alan turun dari mobil dan menekan bel gerbang.Setelah pelayan membukakan gerbang, Reynald merapikan kerah jas dan kancing mansetnya. Setelah memastikan penampilannya rapi, barulah dia melangkah masuk.Di jam seperti ini, ternyata Aurelia baru saja selesai makan siang.Para pelayan sedang membereskan piring dan peralatan makan dari meja.Aurelia mengenakan gaun beludru hijau tua dengan selendang senada di bahunya. Rambutnya disanggul rendah, sementara anting-anting zamrud di telinganya memancarkan kilau dingin di bawah cahaya lampu.Penampilannya begitu anggun, tenang, dan berkelas, nyaris tanpa cela. Namun, tidak ada se
Hari acara makan bersama keluarga itu tiba dengan cuaca yang cerah, sesuatu yang jarang terjadi belakangan ini.Reynald berangkat dari kantor setengah jam lebih awal. Saat sedan hitamnya keluar dari parkiran bawah tanah, Alan yang duduk di kursi penumpang depan menyodorkan sebuah dokumen, tetapi Reynald langsung menolaknya dengan lambaian tangan."Hari ini tidak usah membahas pekerjaan."Dia bersandar di kursi belakang sambil memejamkan mata untuk beristirahat. Namun, jari-jari di atas lututnya tanpa sadar terus mengepal dan mengendur berulang kali.Belum lama mobil memasuki jalan utama, ponselnya berdering.Di layar, muncul deretan angka acak yang tampak seperti kode tidak beraturan.Reynald refleks hendak menolak panggilan itu, tetapi entah kenapa, dia justru mengangkatnya.Dia tidak langsung menyapa.Dari seberang telepon, terdengar suara serak yang berbicara dengan tenang dan perlahan. Suara itu terdengar berat dan tua, seperti kayu lapuk yang telah lama terendam teh pekat."Pak Re
Reynald tidak berniat mengungkapkannya.Setidaknya untuk saat ini, dia tidak akan menceritakannya kepada siapa pun, termasuk sang kakek."Kakek tidak perlu mengkhawatirkan masalah ini."Nada suaranya lembut, tetapi penuh keyakinan. "Kakek cukup tahu semua yang menjadi hak Keluarga Anandita pasti akan kita dapatkan kembali, tanpa terkecuali. Soal Lucien, aku tahu apa yang harus kulakukan."Tuan Abimana tidak bertanya lebih jauh, tetapi juga tidak membiarkan masalah itu berlalu begitu saja."Kamu tahu batasan? Sejak kapan kamu mulai bicara soal tahu batasan di depan Kakek?"Nada suaranya terdengar santai, seolah hanya sedang bercanda. Namun, Reynald tahu ada maksud serius di balik ucapan itu.Sang kakek sedang menguji reaksinya, bahkan bisa dibilang sedang memperingatkannya.Keluarga Anandita tidak keberatan menggunakan cara-cara yang tidak biasa demi mendapatkan keuntungan. Namun, ada satu syarat, yaitu semuanya harus tetap berada dalam batas yang bisa dikendalikan oleh Keluarga Anandit
Keesokan harinya, saat Alan membuka pintu dan masuk, Reynald sedang berdiri di depan jendela besar.Di luar, langit Kota Panaraya tampak kelabu. Gedung-gedung tinggi menjulang, sementara kendaraan berlalu-lalang seperti semut. Seluruh pemandangan itu terasa begitu suram dan menyesakkan."Pak Reynald, ada kabar baik!"Nada suara Alan terdengar jauh lebih ceria daripada biasanya."Sore ini, kita mendapat pemberitahuan bahwa beberapa proyek yang sebelumnya dihentikan oleh Grup Wiraatmadja boleh dilanjutkan kembali sesuai rencana awal."Reynald terus menatap ke luar jendela cukup lama sebelum perlahan berbalik. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat. "Berapa proyek?""Untuk saat ini, tiga proyek."Alan memeriksa tablet di tangannya. "Proyek logistik di selatan kota, tender energi baru di pinggiran timur, dan proyek pembangunan fasilitas pendukung di utara kota yang sebelumnya sudah menandatangani perjanjian penghentian kerja sama. Ketiganya mengirim email.
Klinik Tradisional Sehat Damai.Tatapan Lucien terpaku pada nama itu, sementara ibu jarinya tanpa sadar mengusap tepi layar ponsel.Rolls-Royce itu ternyata juga pernah muncul di sekitar klinik.Artinya, ada hubungan tersembunyi antara mobil yang dinaiki Reynald sore tadi dan Klinik Tradisional Sehat Damai.Dan orang di balik semua itu kemungkinan besar adalah Damar.Dengan kata lain, bisa jadi orang itu adalah Herman.Lucien bersandar di kursinya dan memejamkan mata, mencoba merangkai kembali semua informasi yang dia dapatkan.Reynald yang sudah terdesak dan Damar yang selama ini bersembunyi dalam bayang-bayang. Keduanya memiliki satu titik penghubung, yaitu Shanaya.Lucien membuka mata. Tatapannya begitu dingin hingga terasa mengerikan.Dia mengambil ponselnya dan membalas pesan Rony dengan singkat. [Terus awasi.]Setelah itu, dia menelepon Rivaldi."Sudah menemukan sesuatu?" Rivaldi segera mengangkat telepon."Mobil yang dinaiki kakak iparmu itu juga pernah terlihat di sekitar Klini







