Share

Bab 66

Author: Citra Sari
Lucien menyunggingkan senyum dingin. "Kalau aku bilang tidak boleh, kamu langsung batal ikut?"

Shanaya tidak bisa menebak maksudnya, tetapi demi bisa bergabung ke dalam proyek, dia juga tidak berani menyinggung pria itu. "Ini proyek atas namamu, tentu aku akan menghormati keputusanmu."

Sejak menikah dengan Adrian, hubungan mereka jadi begitu asing. Bahkan lebih jauh daripada orang luar.

Suasana hening sejenak. Dari dada Lucien terdengar tawa sinis yang nyaris tak terdengar. Tatapan matanya sedin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suami Berengsek, Istrimu Kini Hamil Anak Big Boss!   Bab 794

    Karlina pandai berbicara. Dia menyodorkan secangkir teh kepada Arman, lalu dengan mudah membuka percakapan."Pak Arman, menurut Anda, bagaimana sebaiknya orang-orang seusia kita menjaga kesehatan tubuh?"Begitu membahas bidang yang menjadi keahliannya, Arman pun mulai banyak bicara.Dia menjelaskan semuanya dengan runtut, mulai dari pola makan hingga waktu istirahat, dari perubahan musim hingga kondisi tubuh. Setiap hal dijelaskan dengan jelas dan terperinci.Karlina dan Nadira tanpa sadar mendengarkan dengan saksama, sesekali menyelipkan beberapa pertanyaan untuk memperjelas detail.Aroma teh mengepul harum dari ruang minum teh. Suara tawa dan obrolan para orang tua terdengar samar-samar dari balik pintu geser yang setengah tertutup, sampai ke ruang tamu.Rivaldi membawa sebotol bir dan berjalan menghampiri sofa. "Ayo, ayo. Selagi para orang tua sedang mengobrol di sana, kita main sebentar."Dia menepuk sandaran sofa, lalu menyapu pandang ke semua orang yang hadir.Lucien mengangkat a

  • Suami Berengsek, Istrimu Kini Hamil Anak Big Boss!   Bab 793

    Nayla tersenyum ringan. "Aku senang kalau Anda suka. Nanti kalau aku mendapatkannya lagi, aku akan mengirimkannya kepada Anda."Setelah berkata demikian, dia kembali menyapa satu per satu Keluarga Wirantara yang hadir di sana, begitu juga dengan pasangan Arman.Malam ini, dia bukan hadir sebagai sekretaris Lucien, melainkan sebagai putri Keluarga Larasati. Berkenalan dan menjalin hubungan baik dengan lebih banyak orang akan bermanfaat baginya ketika kelak mengambil alih bisnis keluarga.Tidak lama kemudian, makan malam pun dimulai. Semua orang duduk di tempat masing-masing.Melani tidak bisa menahan diri untuk menghela napas kagum. "Sudah lama sekali tidak seramai ini."Putranya berada jauh di seberang lautan, sementara Arman juga tidak suka bergaul dengan orang-orang yang hanya mendekat karena kepentingan dan kekuasaan.Karena itu, kehidupan pasangan tua itu sehari-hari sangat tenang dan sepi. Namun, Melani sebenarnya cukup menyukai suasana yang ramai.Karlina tersenyum dan menyambung

  • Suami Berengsek, Istrimu Kini Hamil Anak Big Boss!   Bab 792

    Namun, tidak ada seorang pun yang berpikir lebih jauh tentang hal itu.Caleb dan Keluarga Wirantara memang cukup sering berhubungan, jadi wajar jika Shanaya pernah mendengar tentang dirinya.Elvano tersenyum sambil menyerahkan semua hadiah di tangannya kepada para pelayan. Hanya hadiah terakhir yang ia berikan langsung kepada Shanaya, lalu berkata sambil tersenyum tipis, "Ini hadiah ulang tahun untuk Lucien. Bisa tolong simpan dulu?""Baik, terima kasih, Kak Elvano."Shanaya melengkungkan bibirnya membentuk senyum, sepasang matanya pun ikut berbinar. "Sebenarnya aku cuma mencari alasan supaya kita semua bisa kumpul bersama. Tidak perlu repot-repot bawa hadiah."Elvano tanpa sadar mengangkat tangannya, seolah ingin mengusap kepala Shanaya. Namun, tepat saat tangannya hampir menyentuh puncak kepala gadis itu, dia menariknya kembali. "Hadiah tentu harus ada. Aku juga sudah menyiapkan hadiah untukmu.""Aku juga dapat?"Shanaya tertegun sejenak, lalu tersenyum. "Ulang tahunku masih lama."E

  • Suami Berengsek, Istrimu Kini Hamil Anak Big Boss!   Bab 791

    Delara sedang menunduk mengganti sepatu. Mendengar itu, dia melirik pria yang terlihat tenang itu, lalu menjawab dengan agak canggung, "Aku sudah bilang tidak perlu dia datang menjemput, tapi dia bersikeras mau datang."Nada suaranya terdengar seperti sedang mengeluh, tetapi setelah selesai memakai sepatu, dia secara alami bergeser setengah langkah ke samping, memberi ruang untuk Rivaldi. Dari gerakannya, tidak terlihat ada maksud untuk sengaja menghindar.Shanaya sudah memahami situasinya dalam hati, jadi dia tidak bertanya lebih jauh. "Kebetulan, Nenek tadi masih mengomel kenapa kamu belum datang."Dia sambil merangkul lengan Delara, lalu menoleh ke arah Rivaldi. "Kak Rivaldi, Lucien ada di ruang kerja lantai atas. Dia bilang kalau kamu datang, suruh kamu naik sebentar. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan denganmu."Mendengar perkataannya, Rivaldi juga tahu apa yang ingin Lucien bicarakan dengannya.Tidak lain adalah soal Herman.Orang ini, latar belakangnya yang begitu b

  • Suami Berengsek, Istrimu Kini Hamil Anak Big Boss!   Bab 790

    Lucien bersandar di sandaran kursinya, lalu tertawa kecil mengejek. "Kalau kamu iri, lain kali saat ulang tahunmu, aku sendiri yang akan mengadakan pesta untukmu.""Berengsek, kamu .…"Rivaldi dibuatnya terdiam sesaat, lalu tertawa sambil memaki, "Sudahlah, siapa juga yang mau kamu yang mengadakan pesta untukku."Meski berkata begitu, setelah ucapannya selesai, dia kembali terdiam selama dua detik, seolah sedang memikirkan sesuatu yang serius. "Ngomong-ngomong, apa masih belum ada perkembangan dari pihak Herman?"Mendengar nama itu disebut, nada bicara Lucien pun ikut menjadi dua tingkat lebih berat."Mario masih selidiki. Latar belakang Herman di Negara Meridia terlalu bersih, bersih sampai terasa agak mencurigakan. Untuk detailnya, nanti kita bicarakan saat kamu datang malam ini.""Selain itu, hari ini dia tiba-tiba pergi ke klinik pengobatan untuk mencari Shanaya.""Herman mencari Shanaya untuk apa?"Suara Rivaldi menjadi serius. "Apa yang sedang dia rencanakan?""Sulit untuk dikata

  • Suami Berengsek, Istrimu Kini Hamil Anak Big Boss!   Bab 789

    Langit menurunkan gerimis kecil, hawa dingin menusuk tubuh.Shanaya berjalan sampai ke bawah lorong, lalu baru berkata dengan santai, "Pak Herman, kenapa kamu tidak menelepon dulu sebelumnya? Kalau hari ini kebetulan aku tidak praktik, bukankah kamu jadi sia-sia datang jauh-jauh?""Aku sudah melihat jadwalnya di internet sebelumnya, jadi aku tahu pagi ini kamu ada jadwal konsultasi. Lagipula akhir-akhir ini kondisiku terasa jauh membaik, jadi tidak masalah meskipun harus datang sia-sia."Herman berkata sambil melangkah maju dengan santai, lalu berkata dengan akrab, "Kebetulan aku juga bisa melihat bagaimana kabarmu sekarang. Anak di dalam kandunganmu baik-baik saja, 'kan?"Saat mengatakan itu, pandangan Herman tertuju pada perut Shanaya yang sudah mulai terlihat karena kehamilannya. Senyumnya tampak ramah dan penuh perhatian, persis seperti seorang tetua yang sedang mengkhawatirkan keadaan seorang anak muda.Shanaya tanpa menunjukkan perubahan ekspresi mundur setengah langkah ke sampin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status