LOGIN"Maaf kalau saya belum mempersiapkan mahar terbaik untuk Senja." Langit kembali menambahkan, mengabaikan olok-olok Abel dan Adi.
"Nggak apa-apa. Yang penting ada maharnya. Kalau Senja gimana? Ridho dengan mahar itu? Yakin kalau pernikahan ini tak salah?" Penghulu yang sedari tadi menyaksikan keributan di rumah itu pun ikut berkomentar.
"InsyaAllah yakin, Pak.” Senja tersenyum tulus. “Saya ridho dengan mahar apapun dan berapapun. Lagipula bukankah sebaik-baik mahar adalah mahar yang paling mudah atau ringan?"
Ucapan Senja membuat Langit menatap wanita itu, lalu tersenyum lembut.
"Kamu benar. Setidaknya bukan hal yang menyulitkan salah satu pihak." Penghulu kembali menimpali. Anwar pun mengangguk.
"Duh. Beda ya. Yang satu bisa kasih mahar satu motor dan perhiasan 20 gram, nggak berat buat Adi,” bisik salah seorang kerabat. “Yang satunya cuma bisa pakai recehan.”
"Ya iya. Kan Abel cantik, wajar Adi membuktikan cintanya dengan mahar yang pantas," sahut yang lain.
"Lagipula Adi memang niat menikahi Abel. Dia sudah persiapkan semuanya,” tanggap yang lain lagi. “Bukan karena kasihan atau karena kebetulan. Senja termasuknya beruntung ada yang mau menikahinya.”
“Benar. Coba bayangkan bagaimana perasaan Senja kalau dia gagal menikah hari ini. Mungkin dia bakal trauma atau bahkan berencana melajang seumur hidup."
Senja memejamkan kedua matanya sesaat lalu menghela napas panjang. Dia ingin sekali menimpali, tapi khawatir kembali membuat keributan yang akan semakin mempermalukan bapaknya.
"Kalau kalian nggak mau diam, silakan keluar dari rumah kami.” Anwar berujar tegas. Seketika beberapa orang yang berbisik-bisik tadi terdiam seketika. “Kami mengundang kalian ke sini agar ikut menyaksikan pernikahan anak kami, bukan untuk berkomentar negatif tentang pernikahan mereka."
"Pak ... mereka saudara-saudaraku. Kenapa kamu perlakukan seperti orang asing begitu?!" Susan protes. Dia tak terima saudara-saudaranya ditegur oleh Anwar.
"Mau saudara ataupun kerabat, kalau kurang ajar memang harus ditegur, Bu. Jangan sampai omongan mereka merusak kebahagiaan anak-anak kita," balas Anwar setengah berbisik.
"Merusak bagaimana sih? Lagipula yang mereka katakan benar.” Susan merengut. “Bapak jangan denial begitu."
"Mau benar atau tidak, mereka tak pantas bicara seperti itu di depan umum. Apalagi saat anak-anak kita akan ijab qabul. Sebagai orang yang lebih dewasa seharusnya mereka bisa mengontrol ucapan agar tak menyakiti siapapun apalagi keponakan sendiri."
"Bapak, ih!" Susan makin merajuk. Dia tampak kesal dengan jawaban suaminya yang tak mendukung bahkan terkesan menyudutkan saudara-saudaranya.
"Mas, maharmu mana? Siapkan dulu sebelum akad dimulai," pinta Abel sembari melirik Senja yang sedari tadi hanya menunduk.
"Ini perhiasannya, Pak. Kalau motornya ada di teras itu," tunjuk Adi pada penghulu dan saksi pernikahannya. Ketiga laki-laki itu pun manggut-manggut.
"Mbak, kamu juga harus minta calon suamimu menyiapkan maharnya dong. Taruh saja di sini biar kelihatan," tunjuk Abel ke atas meja yang digunakan untuk akad nanti.
Tak mau banyak komentar, Langit meletakkan empat lembar uang itu ke atas meja lalu duduk di depan penghulu. Perlahan Anwar mendekat lalu meminta penghulu dan saksi nikah anaknya untuk membantunya duduk. Dia ingin menjabat tangan menantunya saat akad nanti.
"Siapa dulu yang menikah, Pak?" tanya penghulu.
Anwar duduk di samping penghulu lalu menjawab, "Kakaknya dulu, Pak."
"Bapak! Kenapa Mbak Senja duluan sih, Pak? Sekali-sekali lebih mentingin dan dahuluin aku bisa, kan?” sentak Abel sembari menghela napas kasar. “Aku capek loh selalu dinomorduakan dalam hal apa pun!"
Abel tak terima jika bapaknya selalu mendahulukan Senja daripada dia. Abel iri dengan sikap bapaknya yang dinilai pilih kasih dalam hal apapun. Padahal selama ini Anwar selalu berusaha adil.
"Pokoknya sekarang aku mau nikah duluan! Lagipula memang pernikahan ini Mas Adi yang menyiapkan semuanya. Wajar jika kami yang diutamakan.” Abel kembali protes. Beberapa kerabat ibunya ikut mengiyakan. “Yang numpang seharusnya sadar diri sih. Ibarat kata saat ini aku ratunya. Jangan sampai datang ngelunjak mau ngalahin ratu. Mana ada begitu."
"Abel benar, Pak. Sudah, dia dulu saja yang menikah.” Susan menimpali. Wanita itu melirik ke arah Senja. ”Lagipula cuma jeda waktu saja loh ya. Masa Senja nggak mau ngalah."
"Kalian itu ributtttt terus. Hal sesederhana apapun selalu dijadikan masalah." Anwar berdecak kesal. Padahal ia hanya ingin memberikan dukungan pada anak sulungnya, tapi justru dibelokkan dan disalahpahami seperti ini.
"Abel duluan nggak apa-apa, Pak. Ayo lekas ijab qobul. Tak elok menunda-nunda. Kasihan penghulu masih banyak acara lainnya." Kali ini Senja menengahi, membuat Anwar menghela napas karena putri sulungnya kembali harus mengalah.
Bukan kali ini saja, tapi tiap kali Abel protes tentang apapun Senja memang lebih sering mengalah.
Sayangnya, sikap itu tak pernah dianggap ada oleh Abel. Dia masih saja bilang kalau kakak dan bapaknya terlalu egois dan selalu menomorduakannya.
"Kalau begitu, mari kita langsungkan akad nikahnya," ujar penghulu sembari memerintahkan Anwar dan Adi berjabat tangan.
"Setelah Pak Anwar mengucapkan ijab, Mas Adi langsung menjawab ya. Sudah hafal nama calon istrinya, Mas? Jangan sampai keliru," goda penghulu dengan senyum tipis.
"Iya, Pak. InsyaAllah nggak akan keliru." Adi berujar tegas membuat Abel berbunga-bunga. Dia begitu bahagia melihat perjuangan Adi untuk mempersuntingnya bahkan dengan mahar yang menurutnya cukup mengejutkan.
"Silakan dimulai, Pak." Anwar mengangguk lalu menghela napas panjang sebelum memulai ijabnya.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Adi Hidayat bin Rudy Hidayat dengan anak saya Abel Prameswari Putri dengan mahar satu unit motor dan 20 gram emas dibayar tunai," ujar Anwar tegas meski dengan mata berkaca.
Adi mengangguk lalu mengucapkan qabulnya," Saya terima nikah dan kawinnya Abel Prameswari Putri binti Anwar Mahendra dengan mahar tersebut dibayar tunai." Adi tersenyum setelah mengucapkan qabulnya dengan lancar.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu kepada para saksi. Kedua lelaki itu pun membalas kata yang sama.
"Saaah."
Syukur Alhamdulillah terdengar mengisi ruangan yang tak terlalu luas itu. Penghulu pun mengucapkan selamat pada mempelai karena sekarang sudah sah menjadi suami istri. Tak melanjutkan doa seperti biasanya, penghulu kembali menikahkan calon lain yang saat ini masih berdebar tak karuan.
"Mas Langit sudah siap?" tanya penghulu memastikan. “Langit Biru bin Dimas Kuncoro. Benar?”
Sedetik, lalu Langit mengangguk. Ekspresinya sedikit berubah mendengar nama ayahnya–padahal tadi ia sempat menyebutkan nama beliau pada penghulu dan calon mertuanya..
Langit dan Anwar saling tatap beberapa saat lalu sama-sama mengangguk pelan dan berjabat tangan.
Ada rasa haru, bangga dan syukur yang terlukis di wajah tua itu. Harapannya saat ini hanyalah melihat anak-anaknya bahagia dengan suaminya masing-masing.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Langit Biru bin Dimas Kuncoro dengan anak kandung saya Senja Prameswari dengan mahar uang empat ratus ribu rupiah dibayar tunai."
Langit tersenyum tipis sebelum mengucapkan qabulnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Senja Prameswari binti Anwar Mahendra dengan mahar tersebut dibayar tunai," balas Langit dengan sekali tarikan napas.
Anwar menghela napas panjang seolah ada beban berat yang kini luruh dari pundaknya.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu untuk kali kedua. Seperti sebelumnya saksi pun membalas dengan kata yang sama.
"Saaaahhh."
Senyum tipis terukir di kedua sudut bibir Senja. Kini, dia telah sah menjadi istri. Status yang selalu dia impikan sejak dulu karena dia selalu ingat dan percaya dengan sabda Rasulullah," Apabila seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya."
***
Akad nikah usai. Penghulu meminta mempelai perempuan untuk mencium punggung tangan suaminya masing-masing sebagai bentuk penghormatannya setelah sah berstatus istri.
"Untuk mempelai perempuan silakan cium tangan suaminya," perintah penghulu pada kakak beradik itu.
Abel yang terbiasa mesra dengan Adi pun tak ada canggung-canggungnya. Abel buru-buru menarik dan mencium punggung tangan suaminya. Sepasang suami istri tertawa bersama seolah kebahagiaan itu hanya milik mereka berdua.
"Akhirnya sah. Nggak perlu sembunyi-sembunyi lagi ya, Mas."
Senja melirik Abel yang berbisik ke telinga suaminya. Meski sudah memiliki kehidupan masing-masing, wajar jika Senja masih sesakit itu tiap kali mengingat pengkhianatan orang-orang yang disayanginya.
"Aku seneng banget bisa sah menjadi istrimu, Mas. Kelak kita akan melahirkan anak-anak yang cantik dan tampan." Adi mengangguk lalu mencium pipi istrinya.
Sementara Senja masih terdiam. Dua kali penghulu memanggil namanya, dua kali pula Senja masih membisu dan tenggelam dalam lamunan.
"Woi, Mbak! Kenapa melamun? Masih sakit hati karena Mas Adi lebih milih aku dibanding kamu?”
***
Aroma manis dari nangka yang dimasak lambat dengan gula aren bercampur dengan gurihnya kuah areh dan pedasnya sambal krecek memenuhi ruang VIP restoran berkonsep pendopo kayu jati itu.Awan sengaja menyewa ruangan privat di salah satu restoran gudeg legendaris di daerah Wijilan. Dia ingin ibunya bisa makan dengan tenang, jauh dari tatapan orang atau gangguan mendadak dari kerabat yang tak diundang.Bu Ratri duduk di antara anak dan menantunya. Wajahnya yang tadi pucat dan tegang kini mulai dialiri warna kehidupan. Matanya tak lepas menatap Ririn yang sedang sibuk menyendokkan nasi putih ke piring keramik milik mertuanya itu, disusul dengan sepotong ayam kampung paha atas dan telur bebek cokelat yang mengkilap."Cukup, Rin. Jangan banyak-banyak, Ibu sudah tua, perutnya nggak muat kalau sebanyak ini," tegur Bu Ratri lembut, senyumnya mengembang tulus."Sedikit lagi ya, Bu? Kreceknya enak banget lho ini, pedesnya pas," bujuk Ririn dengan nada manja yang natural, sama sekali tak terl
Lobi hotel bintang tempat mertua Ririn dan keluarganya menginap di kawasan Malioboro itu cukup ramai oleh wisatawan yang check-out, namun suasana di sudut ruang tunggu terasa begitu kelabu. Bu Ratri duduk di sofa dengan koper abu-abu di samping kakinya. Matanya masih terlihat sembab, meski sudah ditutupi bedak. Tangannya meremas tisu yang sudah hancur. Saat melihat sosok Awan dan Ririn berjalan masuk dari pintu kaca depan, Bu Ratri buru-buru membuang muka, mencoba menyembunyikan isak tangis yang tadi sempat lolos."Ibu!" panggil Awan setengah berlari. Ririn mengekor di belakang suaminya. Penampilannya saat ini cukup berbeda. Dia mengenakan gamis branded dan kacamata hitam yang disampirkan di kepala. Namun, wajah cantiknya tampak cemas. Awan langsung berjongkok di depan ibunya, menggenggam tangan wanita paruh baya itu yang terasa dingin."Ibu mau ke mana? Kenapa sudah bawa koper? Kan aku bilang Ibu pindah ke hotel kami aja, kita makan dan jalan-jalan bareng," cecar Awan, suaranya penuh
Matahari belum tinggi benar, tapi suhu di kamar hotel Bu Ratri mendadak terasa seperti di dalam oven. Hawa panas yang dibawa oleh lima kerabatnya itu membuat kamar itu terasa panas. Mereka adalah saudara kandung, ipar dan kerabat Bu Ratri sendiri. Orang-orang yang memiliki darah yang sama, namun kini menatapnya seolah dia adalah kriminal yang baru saja tertangkap basah."Jadi, Mbak Ratri masih mau menyangkal?" Suara Mira, adik tiri Ratri memecah keheningan dengan nada tinggi yang menyakitkan telinga. Wanita yang memakai gincu merah menyala itu duduk dengan kaki disilang angkuh, menatap kakaknya dengan jijik. Bu Ratri yang duduk di sudut ranjang meremas ujung daster batiknya. "Demi Allah, Mir. Demi Allah, Mbak nggak tahu. Sumpah," ucap Ratri dengan suara serak menahan tangis. "Awan nggak cerita soal keluarga Ririn yang sebenarnya. Dia cuma bilang kalau Ririn itu adiknya Damar, sahabatnya. Awan cerita sedikit soal status Ririn dan masa lalunya. Gitu aja, nggak ada yang lain. Mbak
Cahaya matahari pagi yang malu-malu mulai merayap masuk melalui celah tirai tebal Presidential Suite, menyapu lantai marmer yang dingin. Di luar, Gunung Merapi berdiri gagah dengan puncaknya yang berasap tipis, menjadi latar belakang kota Yogyakarta yang mulai menggeliat bangun.Di dalam kamar yang hening dan sejuk itu, dua sajadah masih tergelar berdampingan menghadap kiblat. Mukena sutra putih milik Ririn baru saja dilipat rapi di atas nakas, bersisian dengan sarung tenun milik Awan. Selepas mandi wajib dan menunaikan kewajiban Subuh berjamaah, suasana spiritual yang menenangkan menyelimuti ruangan itu. Namun, di balik ketenangan itu, ada debar-debar sisa kemesraan semalam yang masih terasa hangat di udara.Ririn duduk di tepi ranjang, masih mengenakan bathrobe putih tebal yang membungkus tubuhnya. Rambutnya yang basah dibiarkan tergerai, meneteskan air ke handuk kecil di bahunya. Dia menatap Awan yang sedang berdiri di balkon, menyesap kopi hitam tanpa gula. Punggung suaminya te
Pintu suite hotel itu tertutup rapat, memisahkan hiruk-pikuk pesta resepsi dengan keheningan mewah kamar pengantin mereka.Awan melonggarkan dasi kupu-kupunya dengan satu gerakan santai, lalu melempar jas mahalnya ke sofa. Dia berjalan menuju minibar, mengambil sebotol air mineral dingin, dan meneguknya hingga setengah. Gerak-geriknya tenang, penuh percaya diri. Dia berbalik, menyandarkan pinggangnya di meja bar sambil menatap Ririn yang sedang kesulitan melepas heels 12 cm-nya di tepi ranjang.Awan tersenyum lalu melangkah mendekati istrinya. Dia berlutut dengan satu kaki, mengambil alih kaki Ririn, dan melepaskan sepatu itu dengan lembut. Jemarinya yang maskulin memijat sebentar telapak kaki istrinya yang kemerahan."Enak?" tanya Awan, matanya menatap intens ke mata Ririn."Enak banget ...." balas Ririn pelan. Jantungnya berdebar kencang. Awan versi mode 'suami' ini jauh lebih mempesona daripada Awan yang biasanya sibuk mengatur karyawan di cafe. Awan berdiri, lalu menarik t
Profil Keluarga Mempelai WanitaAyah (Alm): Aryandanu Harjokusumo (Pengusaha Properti dan budayawan)Ibu (Alm) : Nella PratiwiKakak : 1. Dimas Putra Harjokusumo (CEO Dimas Utama Group) 2. Damar Putra Harjokusumo (CEO Damar Group dan Komisaris Utama Harjokusumo Land)"Uhuk! Uhuk!"Om Haryo tersedak ludahnya sendiri, matanya melotot ngeri menatap layar itu. Tangannya gemetar menunjuk tulisan Harjokusumo Land."Damar Group? Harjokusumo Land?" desis Om Haryo dengan suara tercekat. Dia menoleh horor ke arah Putri. "Putri! Itu yang punya gedung tempat Papa meeting bulan lalu! Kamu bilang Ririn anak orang miskin? Kamu bilang dia janda pengangguran?!""Aku ... aku nggak tau, Pa ...." cicit Putri, air matanya mulai menggenang. Bukan air mata haru, tapi air mata ketakutan."Mati kita," bisik Bude Laras, wajahnya tak kalah tegang. "Kita sudah menghina mereka habis-habisan di grup WA. Kalau Damar tau, habislah kita."Putri merasa lehernya dicekik. Rasa malu yang amat sangat menjalar dari ujun







