共有

Keputusan

作者: NawankWulan
last update 公開日: 2025-08-21 01:25:26

Wicaksono dan Dimas yang duduk di teras rumah bertingkat itu sama-sama terdiam beberapa saat. Mereka baru mulai kembali bicara saat Raya meletakkan dua cangkir kopi di meja. Wicaksono duduk tenang lalu menatap Dimas dalam-dalam.

"Om rasa dia memang adikmu, Dim. Orang suruhan Om sudah cari tahu siapa keluarga Susanti dan bagaimana kehidupannya. Mereka bilang Ririn memang bukan anak kandung Susanti. Ririn diajak Susanti ke Jakarta saat usianya nyaris lima tahun. Saat itulah dia baru mengurus dok
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Yanti Bhrm
Mak min... babbya d banyakin . kurang euy.........
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Akhir yang Sempurna [TAMAT]

    ​Aroma semerbak bunga melati dan mawar sayup-sayup tercium dari setiap sudut ruangan, berpadu dengan wangi khas masakan nusantara, gulai kental, sate, dan aneka hidangan aqiqah yang telah disiapkan sejak subuh. Kediaman Ririn dan Awan hari ini tak ubahnya sebuah istana kecil yang sedang merayakan kehadiran sang putri mahkota.​Di depan cermin kamarnya, Ririn mematut diri. Gamis brokat berwarna peach lembut membalut tubuhnya dengan anggun. Dia menatap pantulan dirinya, lalu tatapannya turun pada boks bayi di sudut kamar. Di sana, tertidur pulas sesosok malaikat kecil berselimut kain putih. Aura Mega Wiryawan. Nama yang disematkan Awan dengan penuh doa dan harapan.​Sepasang lengan kokoh melingkar di pinggang Ririn dari belakang. Awan mendaratkan kecupan lembut di puncak kepala istrinya. Aroma musk dan kopi yang selalu menguar dari tubuh suaminya itu mengantarkan ketenangan yang luar biasa. Awan meninggalkan urusan kafe sepenuhnya selama seminggu ini, menyerahkan kemudi pada kepercayaan

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Permata Hati

    Kehamilan pertama ini benar-benar menguji fisik Ririn. Masa-masa morning sickness yang dipikirnya hanya akan berlangsung di trimester pertama, nyatanya terus berlanjut hingga hampir bukan keempat. Bau tumis bawang, wangi sabun mandi tertentu, bahkan terkadang aroma tubuh Awan sehabis pulang dari kafe bisa membuatnya berlari ke kamar mandi.​Siang ini, Ririn terbaring lemas di sofa ruang tengah. Wajahnya pucat pasi setelah memuntahkan seluruh isi perutnya untuk yang ketiga kalinya sejak pagi. ​Awan datang dari arah dapur, membawa secangkir teh jahe hangat dan sebaskom air hangat lengkap dengan handuk kecil. Pria itu meletakkan barang bawaannya di meja, lalu berlutut di lantai, tepat di sebelah Ririn. Tangannya yang besar dan hangat mulai membasuh wajah istrinya yang berkeringat dingin dengan penuh kelembutan.​"Masih mual banget, Sayang?" tanya Awan parau. Mata elangnya memancarkan kekhawatiran yang mendalam. Jari-jarinya beralih memijat pelan tengkuk Ririn. ​Ririn mengangguk lemah, me

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Hasil USG

    Setelah mendengar penjelasan Ririn mengenai siklus haid dan hasil test pack, Dokter Sarah tersenyum hangat. "Mari kita pastikan dengan USG ya, Mbak Ririn. Silakan berbaring."Ririn berbaring di atas bed periksa. Awan berdiri tepat di sebelahnya, menggenggam erat tangan Ririn yang terasa dingin. Dokter Sarah mengoleskan gel ultrasound yang terasa dingin di perut bawah Ririn, lalu mulai menggerakkan transducer.Mata Awan dan Ririn terpaku pada layar monitor di sebelah bed. Awalnya hanya terlihat gradasi hitam putih yang tak bisa mereka pahami, hingga Dokter Sarah menghentikan gerakannya pada satu titik dan memperbesar gambar."Nah, ini dia." Dokter Sarah menunjuk layar dengan tersenyum. "Lihat lingkaran kecil yang berwarna hitam ini? Ini namanya kantung kehamilan, atau gestational sac. Dan titik kecil di dalamnya ini adalah bakal janinnya.""Itu anak kami, Dok?" tanya Awan dengan suara parau."Iya, Pak Awan. Alhamdulillah, penebalan dinding rahimnya bagus, posisi kantung kehamilannya

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Kehebohan Pagi

    Sinar matahari pagi baru saja menyusup lewat celah tirai kamar. Pagi ini seharusnya berjalan seperti rutinitas biasa di usia pernikahan mereka yang baru menginjak bulan kedua. Awan, dengan kebiasaannya sebagai pemilik kafe, selalu memulai hari dengan menyeduh kopi. Hari ini, dia memilih biji kopi Arabica dari Gayo yang biasanya menjadi favorit Ririn karena aroma fruity-nya yang khas.​Namun, alih-alih menghampiri meja makan dengan senyum mengembang seperti biasa, Ririn yang baru saja keluar dari kamar tiba-tiba mematung di ambang pintu dapur. Wajahnya pucat pasi. Aroma kopi yang menguar di udara yang biasanya terasa menenangkan, kini menghantam penciumannya dengan cara yang salah. Perutnya bergejolak hebat, seolah ada ombak yang mengaduk-aduk isinya. ​Tanpa sepatah kata pun, Ririn berbalik badan. Dia menutupi mulutnya dengan kedua tangan dan berlari setengah terhuyung menuju kamar mandi.​"Huek... huek..."​Suara keras memecah keheningan pagi. Awan, yang baru saja menuangkan air pana

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Membungkam Nyinyiran

    ​Suasana menuju rumah Bu Ratri biasanya tenang, namun sore ini terasa berbeda. Beberapa ibu-ibu tampak berkumpul di rumah Bu Laras, bisik-bisik mereka lebih riuh dari biasanya saat melihat mobil mewah berwarna hitam metalik melintas pelan menuju rumah Ratri.​"Liat tuh, baru pulang dari Labuan Bajo katanya. Bu Ratri beruntung sekali punya menantu anak orang kaya," bisik Bu Tejo sambil mengunyah mangga muda. Para ibu itu sedang rujakan di rumah Bu Laras. "Ada untungnya, tapi banyak ruginya sih, Jeng." Bu Ambar menyahut sembari mencibir. "Rugi gimana, Jeng?" sahut yang lain nyaris bersamaan."Rugilah. Awan itu kan pinter, mapan pula. Kok malah pilih janda. Dia bisa dapat perawan yang cantik dan kaya," balas Bu Ambar lagi. "Namanya jodoh, Bu. Mana bisa kita menolak takdir. Lagipula, Ririn itu baik, cantik, kaya dan sangat menghormati orang tua, apa salahnya dijadikan istri? Dia juga kan nggak pernah bermimpi jadi janda, cuma keadaan yang memaksakan demikian. Jangan salahkan statusnya

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Bulan Madu

    "Ini tiket pesawat buat kita bertiga, Mas?" tanya Ririn menatap tiga tiket yang disodorkan suaminya. Awan tersenyum lalu mengangguk pelan."Iya, Sayang. Kamu bilang pengin live on board ke Labuan Bajo kan? Aku kabulin pokoknya. Cuma, mendadak aku berpikir gimana kalau ajak ibu sekalian, Sayang. Ibu juga belum pernah naik kapal. Makanya ini kubelikan tiket pesawatnya, sekalian berangkat bareng kita." Pandangan mata Awan kini beralih pada ibunya. "Bu, biarkan Awan dan Ririn bahagiain Ibu. Kita jalan-jalan bertiga ya? Ibu nggak perlu takut kalau nanti bakal ganggu kami. Kapalnya besar kok, kamarnya terpisah. Ririn juga pasti setuju, kan?"Ririn tak menjawab dengan kata-kata. Dia langsung berpindah kursi, memeluk Awan dengan seulas senyum. "Setuju banget," bisik Ririn di telinga Awan. Lalu dia menoleh pada mertuanya. "Ibu harus ikut! Pokoknya Ririn yang bakal dandanin Ibu buat foto-foto nanti!"Melihat ketulusan anak dan menantunya, Bu Ratri akhirnya tak kuasa menolak. Air mata kebaha

  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Pamit Pulang

    [Rin, gimana kabarnya? Kamu baik-baik saja kan? Semalam aku mimpiin kamu, Rin. Makanya, pagi-pagi begini sudah ganggu. Maaf yaa] Pesan dari Senja baru saja masuk ke aplikasi hijau milik Ririn. Ririn mengambil benda pipih itu di meja riasnya. Senyum tipis terlukis di kedua sudut bibirnya saat memba

    last update最終更新日 : 2026-03-31
  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Cekcok

    "Mau telepon, Ram? Angkat aja nggak apa-apa." Langit mempersilakan, namun Rama menggeleng. "Kamu kok aneh begitu, Mas? Kenapa?" tanya Ririn lagi. Dia kembali mengernyit, menatap suaminya yang mendadak salah tingkah. "Nggak, Sayang. Kayanya tadi salah sambung. Nomor itu sudah tiga kali ini meneror

    last update最終更新日 : 2026-03-30
  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Akhirnya Sadar

    "Kita mau tinggal di mana, Pak? Rumah itu satu-satunya tempat tinggal yang kita punya." Susan tergugu di tepi ranjang kamar tamu rumah Langit. Anwar yang baru datang pun berusaha menenangkan, meski batinnya sendiri sangat gelisah dan bingung. Sebagai kepala keluarga, selama ini Anwar sadar tak bis

    last update最終更新日 : 2026-03-29
  • Suami Dadakanku Bukan Pria Sembarangan   Tamu Tak Diundang

    "Sayang, mau makan apa?" Langit menepuk-nepuk pahanya, meminta Senja duduk di pangkuan. "Pengin makan pecel sama telur dadar yang gede deh, Mas. Sudah lama nggak makan itu. Cari di mana ya?" Senja duduk miring di pangkuan Langit sembari melingkarkan tangannya ke leher sang suami. "Ada. Mau makan

    last update最終更新日 : 2026-03-29
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status