ログインRhea menarik napas panjang di depan pintu kayu jati ruang VIP. Begitu ia melangkah masuk, pemandangan di dalamnya hampir membuat ia melempar bungkusan makanan di tangannya. Gavin sedang duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Papa dengan wajah penuh duka yang sangat dramatis, sementara Vanya sibuk memijat bahu Mama Sunita dengan gerakan yang seolah paling perhatian sedunia. "Sayang, dari mana saja? Papa tadi mencarimu," tanya Gavin dengan nada lembut yang terasa seperti racun di telinga Rhea. Rhea memaksakan senyum tipis, meletakkan bungkusan makanan dari Bara di meja. "Hanya mencari udara segar sebentar, Sayang. Oh ya, ini makanan untuk Mama. Harus dimakan ya, Ma, mumpung masih hangat." Vanya segera menyambar momen itu. Dengan suara manis yang dibuat-buat, ia membujuk Sunita. "Iya, Tante, ayo dimakan ya. Nanti kalau Tante sakit, siapa yang jaga Om Banyu?." Rhea menatap Vanya datar. Sejak kapan pelakor ini merasa menjadi bagian dari keluarga Wijaya? Tak lama, Vanya me
"Bara!" Suara Rhea tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak menatap sosok pria yang kini mengurungnya di antara dinding koridor dan tubuh tegapnya. Ada rasa kaget yang menghantam, namun jauh di lubuk hatinya, ada setitik kelegaan yang tak bisa ia pungkiri. "Kenapa... kenapa kamu ada di sini?" bisik Rhea, napasnya masih memburu. Bara tidak langsung menjawab. Ia menatap Rhea dengan tatapan tajam yang seolah bisa membaca setiap inci kesedihan di wajah wanita itu. "Sudah kubilang, hubungi aku, Rhea! Apa aku perlu mencari tahu sendiri setiap kali kamu menghilang?" Suara Bara rendah, namun penuh penekanan yang mengintimidasi sekaligus melindungi. "Kenapa saat terpuruk seperti ini kamu memilih sendirian? Sekarang ada aku. Jangan pernah berpikir untuk melalui semuanya sendirian lagi. Berbagilah kesedihanmu denganku." Jari-jemari Bara yang hangat bergerak perlahan, merapikan helaian rambut Rhea yang berantakan. "Tapi... dari mana kamu tahu kalau aku ada di sini?" tanya Rh
Rhea menarik napas panjang, menekan dadanya yang bergemuruh sebelum menekan tombol panggil. Begitu tersambung, suara melengking yang riang menyambar telinganya. "Halo... Hai, Rhea! Ada apa kamu telepon aku malam-malam begini? Kangen, ya?" Suara Vanya terdengar begitu ringan, seolah dunia hanya berisi tawa dan kesenangan. Rhea merasakan mual yang hebat di ulu hatinya. Bayangan Vanya yang mungkin sedang bersandar di dada Gavin saat ini membuat Rhea ingin muntah. Namun, Rhea adalah sutradanya, ia yang menulis narasinya. "Vanya..." Rhea memulai dengan suara yang bergetar hebat. "Papa... Papa masuk rumah sakit, Van... hiks..." Rhea melepaskan tangisnya. Isak yang tersedu-sedu, terdengar begitu hancur dan malang. "Aku tidak tahu ternyata selama ini Papa sakit kanker. Tadi sempat masuk ICU... Aku takut sekali, Vanya... sedih sekali..." Di seberang sana, Rhea bisa mendengar suara gesekan kain yang terburu-buru, seolah Vanya sedang bangkit dari posisi tidurnya. "Dan yang pali
Aroma karbol yang tajam dan bau obat-obatan yang menyesakkan langsung menyergap indra penciuman Rhea begitu kakinya melangkah masuk ke lorong rumah sakit. Suara decit sepatunya di atas lantai porselen putih yang dingin seakan berpacu dengan detak jantungnya yang bertalu tidak karuan. Di ujung lorong, tepat di depan ruang ICU yang mencekam, Rhea melihat sosok wanita yang paling ia cintai. Sunita duduk meringkuk dengan bahu yang bergetar hebat. "Mama..." suara Rhea pecah. Ia segera menghambur, merengkuh tubuh ibunya yang terasa jauh lebih rapuh dari terakhir kali mereka bertemu. "Apa yang terjadi? Kenapa Papa bisa masuk ke sini?" Sunita hanya bisa menjawab dengan tangisan yang menyayat hati. Rhea terdiam, mendekap ibunya dengan sabar, meski hatinya sendiri hancur berkeping-keping. Dunia seolah berhenti berputar sampai akhirnya Sunita mengangkat wajahnya yang sembap. "Maafkan Mama, Rhea... Maafkan kami," isak Sunita tertahan. "Selama dua tahun ini, Papa menyembunyikan semuanya. D
Hening... Gavin belum pulang. Rhea seharusnya sudah bisa menebaknya, halaman depan kosong, tanpa deru mesin atau sorot lampu mobil yang biasanya ia nantikan dengan debar jantung bodoh. Rumah ini terasa hampa, hampa yang memuakkan, bahkan asisten rumah tangga pun tidak ada yang menyambutnya, karna Gavin hanya ingin asisten rumah tangga yang pulang di sore hari dan libur saat akhir pekan. Dulu, Gavin selalu bilang, "Malam hari dan akhir pekan itu waktu kita, Sayang. Tidak perlu ada asisten, aku ingin kita punya privasi." Kalimat yang dulu terdengar seperti janji romantis, kini berubah menjadi racun di telinganya. Itu bukan privasi, itu adalah cara Gavin mengosongkan rumah agar dia bisa bebas pergi ke pelukan Vanya tanpa ada mata yang mengawasi. Rhea menarik napas panjang, namun yang terhirup hanyalah aroma penghinaan. Dua tahun ia habiskan untuk mengemis nafkah batin, menari-nari di atas harga dirinya sendiri demi mendapatkan perhatian pria yang ternyata menjaga "kesucian" i
"Kemana si Rhea??pagi - pagi udh ga ada d rumah, mana ga pamit lagi! tapi bagus lah jadi aku ga harus banyak alasan untuk pergi hari Libur begini untuk ketemu Vanya" Gavin tidak sadar kalau istri nya tidak pulang. Gavin pergi tergesa-gesa tidak sabar untuk bertemu Vanya. Baru saja sampai d apartemen Vanya, Vanya sudah menyambutnya dengan lingerie merah. Gavin yang tidak sabar langsung mencumbu Vanya tanpa kata, menanggalkan lingerie merah itu menyesap payudara dan memasukan 2 jari nya dengan kasar kekepunyaan Vanya membuat Vanya menggeliat seperti ulat. Vanya melucuti pakaian Gavin dengan sama tidak sabaran nya, lalu mendorong Gavin hingga terlentang d atas ranjang...Vanya mulai menaiki tubuh Gavin dan meliuk liuk kan badannya "ahhhh..enak banget Gavin..gilaaaa aku mau keluarrrr". Vanya berisik meracau . Gavin bergerak kasar, seperti sedang mencoba membuktikan sesuatu pada dirinya sendiri. menjadikan Vanya seperti kuda pacu. Dipelukan Vanya, ia merasa berkuasa, namun ada kek
Sejenak melupakan badai yang akan datang dan apa yang akan dia lakukan setelah semua yang terjadi antara dirinya dan Bara. Sinar mentari pagi menerobos masuk celah gorden Penthouse..mengusik tidur Rhea. Rhea membuka mata, bara sudah tidak ada disampingnya, Rhea pun mengedarkan pandangan ke sekeli
Bara melakukan dorongan pertama dengan penuh tenaga, ia tertegun. Langkahnya terhenti oleh sebuah hambatan yang nyata. Sangat sempit. Terlalu rapat. Dorongan kedua..Rhea menjerit kesakitan tapi belum juga tertembus. Bara membeku. Ia menarik diri sedikit, menatap wajah Rhea yang kini meringis ke
"Tangan mu saja sudah begitu lembut, bagaimana dengan yang lain nya?apakah lebih lembut dari punggung tangan mu?aku benar-benar penasaran, sayang sekali membayangkan kalo tubuh yang lembut ini menangis." "Mungkin aku sedang mencari seseorang yang cukup jantan untuk membuatku lupa cara menangis,"
Gavin keluar dengan handuk melilit pinggangnya, wajahnya tampak segar dan puas, seolah dia baru saja menyelesaikan transaksi bisnis yang menguntungkan. "Belum tidur?" tanya Gavin datar, bahkan tanpa melirik Rhea yang duduk mematung memeluk lututnya di tepi ranjang. Rhea tidak menjawab. Tengg







