LOGINSuasana lounge hotel bintang lima itu riuh, namun suara ketawa Rhea adalah yang paling nyaring. Dengan segelas wine di tangan kanan dan gaun hitam yang memamerkan bahu mulusnya, Rhea sedang menjadi pusat perhatian. "Kalian tahu kenapa pria suka pakai dasi?" Rhea mengerling nakal ke arah teman-teman kantornya. "Supaya kalau mereka terlalu banyak bicara di ranjang, kita punya pegangan untuk menarik mereka lebih dekat... atau membungkam mereka." Ledakan tawa pecah. Pria-pria di meja itu menatap Rhea dengan tatapan lapar sekaligus kagum. Mereka menjuluki Rhea sebagai 'Si Singa'—wanita energik yang bicaranya berani, mesum dalam konteks bercanda, dan seolah-olah sudah khatam urusan ranjang. Namun, saat jam menunjukkan pukul sebelas malam, senyum itu memudar begitu Rhea melangkah masuk ke mobilnya. Di rumah, suasana hening. Rhea masuk ke kamar, menemukan Gavin sudah menunggunya. Tanpa kata-kata romantis, Gavin menariknya ke tempat tidur. Rhea mencoba membalas, mencoba menjadi 'Singa' yang diinginkan dunia, namun Gavin hanya fokus pada area sensitif Rhea dengan tangannya. Dingin. Terburu-buru. Rhea mendesah, namun matanya menatap langit-langit kamar yang kosong. Saat ia hampir mencapai puncak, Gavin menarik tangannya. Pria itu mencium keningnya sekilas—ciuman yang terasa seperti formalitas—lalu berbalik membelakangi Rhea. "Mas... tidak bisakah malam ini kita... melakukannya?" bisik Rhea parau. "Aku capek, Rhea. Lagipula, bukankah ini sudah cukup membuatmu puas?" jawab Gavin tanpa menoleh. Rhea terdiam. Di luar dia adalah predator, tapi di kamar ini, dia hanyalah mangsa yang kelaparan akan kasih sayang yang utuh. Ia tidak tahu, bahwa di balik punggung Gavin, sebuah rahasia besar tersimpan di dalam ponsel yang disembunyikan suaminya di bawah bantal.
View More"Gavin itu pria paling beruntung didunia," cetus Rendy sambil menyesap whiskey-nya, matanya tak lepas dari Rhea yang sedang tertawa di ujung meja.
Rhea melempar rambut panjangnya ke belakang, memamerkan leher jenjang yang dihiasi kalung berlian tipis. "Beruntung? Kurasa dia justru yang paling menderita, Ren. Bayangkan saja, setiap malam dia harus menghadapi 'singa' kelaparan sepertiku. Pulang kerja bukannya istirahat, malah harus kerja lembur di ranjang," jawab Rhea dengan kedipan mata nakal. Tawa pecah di antara rekan-rekan kantor mereka. Rhea memang juaranya. Cantik, energik, dan selalu punya bumbu-bumbu candaan dewasa yang membuat suasana jadi panas. Bagi mereka, Rhea adalah definisi wanita idaman: anggun di meja makan, tapi liar di kamar. "Hati-hati, Rhea. Jangan sampai Gavin pingsan karena kelelahan," timpal yang lain disambut sorak-sorai. Rhea hanya tersenyum tipis sambil meneguk cocktail-nya. Di balik senyum itu, dadanya terasa sesak. Bohong, batinnya. Gavin tidak pernah lelah karena aku, karena dia memang tidak pernah benar-benar menjamahku. Pukul sebelas malam. Rhea membuka pintu rumah mewahnya dengan gerakan perlahan. Keheningan menyambutnya. Aroma pengharum ruangan sandalwood yang tenang terasa mencekik. Ia melangkah ke kamar utama. Di sana, Gavin sudah duduk di tepi ranjang, hanya mengenakan celana pendek hitam, sibuk dengan tablet di tangannya. "Baru pulang?" tanya Gavin tanpa menoleh. Suaranya datar, sedatar garis cakrawala. "Jalanan macet, Mas," jawab Rhea lembut. Ia mendekat, meletakkan tasnya, lalu duduk di samping Gavin. Ia bisa mencium aroma sabun dari tubuh suaminya. Harum yang selalu memicu gairahnya, namun sekaligus memicu lukanya. Rhea mulai memainkan perannya. Ia merayap mendekat, menyandarkan kepalanya di bahu Gavin, lalu jemarinya yang lentur mulai menelusuri dada bidang suaminya. "Mas... aku kangen." Gavin menghela napas panjang, meletakkan tabletnya. Ia berbalik menatap Rhea. Tatapannya tidak dingin, tapi juga tidak hangat. Kosong. "Kamu selalu ingin, Rhea," gumam Gavin. Gavin menarik Rhea ke dalam pelukannya. Tangannya mulai bekerja—menggerayangi tubuh Rhea dengan teknik yang sudah sangat ia hafal. Rhea memejamkan mata, mencoba menikmati sentuhan itu. Bibir Gavin turun ke lehernya, memberikan ciuman-ciuman basah yang membuat Rhea mendesah pelan. Namun, itulah batasnya. Gavin membawa tangannya ke area sensitif Rhea, memberikan rangsangan yang intens, ahli, dan sangat teknis. Rhea merintih, tubuhnya melengkung mengikuti permainan suaminya. Tapi di tengah badai gairah itu, Rhea tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Satu menit... dua menit... Begitu Rhea mencapai puncak pelepasannya, Gavin menarik tangan Rhea, menuntunnya untuk menyentuh miliknya. Tatapan pria itu menggelap, penuh nafsu, namun tetap ada dinding pembatas yang tidak terlihat. "Bantu aku, Rhea," bisik Gavin serak. Rhea menurut. Sebagai istri yang mencintai suaminya, ia melakukan segalanya. Ia menggunakan bibirnya, tangannya, memberikan seluruh pengabdiannya hingga Gavin mengerang frustrasi dan mencapai puncaknya di tangan Rhea. Napas Gavin memburu. Ia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang sambil memejamkan mata, menikmati sisa-sisa pelepasan yang baru saja diberikan Rhea. Rhea, yang merasa suasananya sudah cukup intim, mulai berbisik sambil mengecup dada Gavin. "Mas... sekarang giliranku? Aku ingin merasakannya... aku ingin kita melakukannya, benar-benar melakukannya." Tangan Rhea mulai menuntun Gavin untuk berada di atas tubuhnya. Ia sudah siap. Ia sudah mendambakan penyatuan ini sejak malam pertama mereka yang gagal dua tahun lalu. Namun, tepat saat kulit mereka bersentuhan lebih intim, Gavin tiba-tiba memegang pergelangan tangan Rhea. Ia menghentikan gerakan istrinya dengan kekuatan yang membuat Rhea tersentak. "Jangan sekarang, Rhea. Aku sudah keluar," ucap Gavin dingin. Wajahnya yang tadi penuh gairah berubah seketika menjadi datar, seolah-olah sakelar emosinya baru saja dimatikan. "Tapi Mas, aku belum—" "Pakai tanganmu sendiri atau pakai mainanmu agar kau puas Rhea. Aku benar-benar lelah," potong Gavin. Ia beranjak dari tempat tidur, meraih handuk, dan berjalan menuju kamar mandi tanpa menoleh sedikit pun. Rhea terpaku di tempatnya. Hening. Hanya suara gemericik air dari shower yang terdengar. Ia menatap tangannya sendiri yang masih basah oleh sisa pelepasan suaminya. Rasa mual tiba-tiba naik ke kerongkongannya. Dia merasa seperti pelacur gratisan di rumahnya sendiri. Dia memberikan kepuasan, tapi permintaannya untuk sebuah penyatuan suci selalu dianggap sebagai beban. Saat itulah, ponsel Gavin yang tergeletak di nakas bergetar. Sebuah pesan masuk dari kontak bernama "." (Titik). Rhea meraih ponsel itu dengan tangan gemetar. Layarnya menyala, memperlihatkan pesan yang dikirim tepat tiga menit yang lalu: "Terima kasih untuk transferannya, Sayang. Dan terima kasih sudah menjaga janji kita. Tubuhmu hanya milikku, jangan biarkan dia mencicipi bagian dalamnya sedikit pun. Love you." Dunia Rhea seolah berhenti berputar. Jantungnya serasa diremas oleh tangan tak kasat mata. Rhea tertawa getir. Jadi, inilah alasan kenapa selama lima tahun pacaran Gavin sangat "menghormati" keperawanannya. Dan inilah alasan kenapa selama dua tahun menikah, Gavin hanya mau menggunakan tangan atau mulut. Bukan karena Gavin menghargai kesuciannya. Tapi karena Gavin sedang menjaga sebuah "aset" untuk wanita lain. Rhea meletakkan ponsel itu kembali dengan tenaga yang pelan, namun di dalam kepalanya, sesuatu baru saja meledak. Topeng "Singa" yang selama ini ia pakai hancur berkeping-keping. Ia berdiri, menghapus air matanya dengan kasar, dan menatap pintu kamar mandi dengan tatapan yang tak lagi penuh cinta, melainkan kebencian yang murni. Rhea memeluk lutut nya sendiri, sudah tak ada air mata..hanya tatapan kosong, ruh nya melanglang buana entah kemana..pikiran nya dipenuhi oleh suara-suara diskusi sumbang.."siapa wanita itu, apa yang terjadi dengan pernikahan ku." "creeeeeetttt..."pintu kamar mandi terbuka.Hening... Gavin belum pulang. Rhea seharusnya sudah bisa menebaknya, halaman depan kosong, tanpa deru mesin atau sorot lampu mobil yang biasanya ia nantikan dengan debar jantung bodoh. Rumah ini terasa hampa, hampa yang memuakkan, bahkan asisten rumah tangga pun tidak ada yang menyambutnya, karna Gavin hanya ingin asisten rumah tangga yang pulang di sore hari dan libur saat akhir pekan. Dulu, Gavin selalu bilang, "Malam hari dan akhir pekan itu waktu kita, Sayang. Tidak perlu ada asisten, aku ingin kita punya privasi." Kalimat yang dulu terdengar seperti janji romantis, kini berubah menjadi racun di telinganya. Itu bukan privasi, itu adalah cara Gavin mengosongkan rumah agar dia bisa bebas pergi ke pelukan Vanya tanpa ada mata yang mengawasi. Rhea menarik napas panjang, namun yang terhirup hanyalah aroma penghinaan. Dua tahun ia habiskan untuk mengemis nafkah batin, menari-nari di atas harga dirinya sendiri demi mendapatkan perhatian pria yang ternyata menjaga "kesucian" i
"Kemana si Rhea??pagi - pagi udh ga ada d rumah, mana ga pamit lagi! tapi bagus lah jadi aku ga harus banyak alasan untuk pergi hari Libur begini untuk ketemu Vanya" Gavin tidak sadar kalau istri nya tidak pulang. Gavin pergi tergesa-gesa tidak sabar untuk bertemu Vanya. Baru saja sampai d apartemen Vanya, Vanya sudah menyambutnya dengan lingerie merah. Gavin yang tidak sabar langsung mencumbu Vanya tanpa kata, menanggalkan lingerie merah itu menyesap payudara dan memasukan 2 jari nya dengan kasar kekepunyaan Vanya membuat Vanya menggeliat seperti ulat. Vanya melucuti pakaian Gavin dengan sama tidak sabaran nya, lalu mendorong Gavin hingga terlentang d atas ranjang...Vanya mulai menaiki tubuh Gavin dan meliuk liuk kan badannya "ahhhh..enak banget Gavin..gilaaaa aku mau keluarrrr". Vanya berisik meracau . Gavin bergerak kasar, seperti sedang mencoba membuktikan sesuatu pada dirinya sendiri. menjadikan Vanya seperti kuda pacu. Dipelukan Vanya, ia merasa berkuasa, namun ada kek
Sejenak melupakan badai yang akan datang dan apa yang akan dia lakukan setelah semua yang terjadi antara dirinya dan Bara. Sinar mentari pagi menerobos masuk celah gorden Penthouse..mengusik tidur Rhea. Rhea membuka mata, bara sudah tidak ada disampingnya, Rhea pun mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan,mengintip d balik selimut, hanya ada tubuh polos nya tanpa sehelai kain, bayangan kegiatan intim mereka tadi malam membayangi. "gilaaaaa..aku sudah benar-benar gila, apa yang aku lakukan semalam, bagaimana aku akan bertemu Bara setelah ini." Rhea menutup muka nya sendiri..kedua pipi nya terasa panas merona. "Aku harus buru-buru pulang menyelesaikan semua nya dengan Gavin." Rhea pun hendak bangun dr tidur nya,tetapi.. "awww..."pangkal paha nya sakit sekali, badan nya berasa remuk. Mendengar Rhea merintih kesakitan, Bara pun segera berlari menghampir Rhea. "kamu sudah bangun sweetheart? bagian mana yang sakit? "disana sakit sekali, aku kesulitan bangun" Rhea menunduk m
Bara melakukan dorongan pertama dengan penuh tenaga, ia tertegun. Langkahnya terhenti oleh sebuah hambatan yang nyata. Sangat sempit. Terlalu rapat. Dorongan kedua..Rhea menjerit kesakitan tapi belum juga tertembus. Bara membeku. Ia menarik diri sedikit, menatap wajah Rhea yang kini meringis kesakitan dengan air mata yang mengalir deras ke bantal. "Rhea..." Bara berbisik, suaranya bergetar antara bingung dan terkejut. "Tunggu sebentar. Apa-apaan ini?" Rhea memalingkan wajahnya, isakannya pecah. "Lanjutkan saja, Bara! Kenapa berhenti?! Bukankah aku jalang yang kau inginkan?atau kau juga tidak menginginkan ku?seperti Gavin yang tidak menginginkan ku karna menjaga janji nya kepada wanita lain untuk tidak menyentuhku!" tangis itu berubah menjadi raungan menyayat hati, ditengah gairah yang tadi memuncak Bara membeku. "aku masih perawan Bara, selama 5 tahun kami berpacaran aku pikir dia hanya mau menjagaku dan 2 tahun kami menikah dia tidak menyentuhku secara layak..aku pikir












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.