Beranda / Romansa / Suami Dingin, Pria Lain Menginginkanku / Bab 2. sang Predator yang terluka

Share

Bab 2. sang Predator yang terluka

Penulis: Aksara
last update Tanggal publikasi: 2026-03-06 00:29:06

Gavin keluar dengan handuk melilit pinggangnya, wajahnya tampak segar dan puas, seolah dia baru saja menyelesaikan transaksi bisnis yang menguntungkan.

​"Belum tidur?" tanya Gavin datar, bahkan tanpa melirik Rhea yang duduk mematung memeluk lututnya di tepi ranjang.

​Rhea tidak menjawab. Tenggorokannya terasa tersumbat semen. Dia hanya menatap lurus ke depan, ke arah cermin rias yang menampilkan bayangan seorang wanita dengan rambut berantakan dan bibir yang masih menyisakan rasa suaminya.

​Gavin merebahkan diri, menarik selimut, dan dalam hitungan menit, napasnya terdengar teratur. Pria itu tertidur lelap, menjaga "janji sucinya" untuk wanita lain di atas tubuh istrinya sendiri.

​Rhea bangkit dengan kaki gemetar. Dia melangkah ke kamar mandi, mengunci pintunya, dan menyalakan shower dengan suhu paling dingin. Di bawah kucuran air yang menusuk kulit, Rhea menggosok bibirnya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Dia menggosok lehernya, dadanya, dan jemarinya yang tadi baru saja memuaskan Gavin hingga kulitnya memerah dan perih.

​Dia ingin melunturkan setiap jejak sentuhan Gavin. Dia merasa kotor—bukan karena aktivitas seksualnya, tapi karena dia baru saja menyadari bahwa dirinya hanyalah alat bantu untuk sebuah

kesetiaan yang ditujukan pada wanita lain.

​Setelah keluar dari kamar mandi, Rhea tidak kembali ke ranjang. Dia mengenakan jubah mandi sutranya, mengambil sebungkus rokok tipis yang sudah lama ia simpan di laci terdalam—rokok yang biasanya hanya ia gunakan sebagai properti saat berakting "berani" di depan teman-temannya.

​Dia melangkah ke balkon kamar. Angin malam yang lembap menerpa wajahnya.

​Klik.

​Api kecil menyala, membakar ujung tembakau. Rhea menyesapnya dalam-dalam—sesuatu yang sebenarnya jarang ia lakukan—lalu mengembuskan asapnya ke udara malam. Matanya menatap lampu-lampu kota yang buram karena air mata yang akhirnya jatuh satu per satu.

​Di tangannya, rokok itu terbakar perlahan, persis seperti harga dirinya yang kini menjadi abu.

​Selama lima tahun dia menjaga kehormatannya karena cinta. Selama dua tahun dia bertahan dalam kekosongan karena percaya pada kata "sabar". Ternyata, dia hanya menjaga sebuah "berlian" yang tidak akan pernah punya pemilik, karena kuncinya sudah Gavin berikan pada wanita lain.

​Rhea mematikan puntung rokoknya di pagar besi balkon. Tatapannya yang tadi rapuh tiba-tiba berubah menjadi tajam dan dingin. Dia tidak akan menangis lagi.

​Jika Gavin menganggap tubuhnya adalah sebuah kuil yang harus dijaga demi orang lain, maka malam ini, Rhea akan memastikan kuil itu runtuh. Dia akan memberikan apa yang selama ini "dijaga" Gavin kepada pria mana pun yang bisa menghargainya. Pria mana pun, asal bukan Gavin.

​Rhea berbalik masuk, mengganti jubah mandinya dengan gaun yang paling tidak sopan yang pernah ia beli, dan pergi meninggalkan rumah itu tanpa menoleh lagi.

Lampu jalanan menyambar kaca depan mobil Rhea seperti kilatan trauma yang tak kunjung usai. Kakinya menginjak pedal gas lebih dalam, mengabaikan spedometer yang sudah melewati angka 100. Di sampingnya, tas tangan mahal tergeletak pasrah, di dalamnya tersimpan ponsel yang tadi memperlihatkan sebuah pengkhianatan paling kotor yang pernah Rhea baca.

​Jangan biarkan dia mencicipi bagian dalamnya sedikit pun.

​Kalimat itu berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Rhea tertawa getir di balik kemudi. "Mencicipi?" gumamnya serak. "Selama ini aku menjaga diri hanya untuk menjadi bahan lelucon di antara mereka?"

​Rhea menghentikan mobilnya dengan kasar di depan sebuah lounge eksklusif yang dikenal sebagai tempat pelarian kaum elit yang ingin menanggalkan moral mereka sejenak.

​Dia keluar dari mobil, membetulkan gaun backless sutranya yang hanya setinggi paha. Riasan matanya yang tadi luntur karena air mata, kini ia poles ulang menjadi smokey eyes yang tajam dan misterius. Dia tidak ingin terlihat seperti istri yang baru saja diselingkuhi. Dia ingin terlihat seperti wanita yang siap menghancurkan hidup siapa pun malam ini.

​Begitu pintu berat berlapis beludru itu terbuka, aroma tembakau mahal, parfum pria, dan alkohol menyambutnya. Rhea melangkah menuju bar, setiap langkahnya menarik perhatian. Pinggulnya berayun dengan ritme yang mematikan.

​"Buatkan aku satu gelas minuman yang paling kuat," ucap Rhea pada bartender tanpa menoleh

​"Anda sendirian, Nona?" tanya si bartender sambil menyiapkan minuman.

​Rhea tersenyum miring, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Apa aku terlihat seperti butuh pengawal?"

​Rhea menyesap minumannya. Cairan pahit itu membakar kerongkongannya, tapi tak sebanding dengan api yang membakar dadanya. menghancurkan puingan kesetiaan dan rasa cinta nya untuk Davin.

Di sudut bar yang temaram, ia merasakan sebuah tatapan. Bukan tatapan memuja yang biasa ia dapatkan dari pria-pria lemah di kantornya. Ini adalah tatapan yang berbeda—berat, tajam, dan penuh selidik.

​Rhea menoleh perlahan. Di sana, di meja paling pojok yang terlindung bayangan, duduk seorang pria dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Jam tangan peraknya berkilat tertimpa lampu redup. Pria itu—Bara—sedang mengamati Rhea seolah sedang menilai kualitas sebuah barang antik yang sangat mahal, namun terlihat rusak.

​Bara tidak mengalihkan pandangannya saat Rhea menangkap basah dirinya. Justru pria itu mengangkat gelas whiskey-nya tipis, sebuah tantangan tanpa kata.

​Rhea merasakan egonya tergelitik. Luka hatinya membutuhkan pelampiasan. Dia butuh seseorang yang tidak mengenalnya sebagai istri Gavin yang malang. Dia butuh pria yang menganggapnya sebagai "Singa" yang siap menerkam.

​Rhea bangkit dari kursinya, membawa gelasnya, dan berjalan lurus menuju meja Bara. Dia duduk tepat di depan pria itu tanpa diundang, menyilangkan kakinya yang jenjang hingga gaunnya tersingkap lebih tinggi.

​"Kamu punya kebiasaan memperhatikan orang asing sampai mereka merasa telanjang, atau aku memang seistimewa itu?" tantang Rhea dengan nada bicara nakal khasnya, mencoba menutupi detak jantungnya yang berpacu liar.

​Bara meletakkan gelasnya. Suaranya berat dan rendah saat ia akhirnya bicara, "Aku hanya sedang menebak, apa yang dilakukan wanita cantik sepertimu di tempat seperti ini dengan mata yang baru saja berhenti menangis, tapi bibir yang bicara seperti seorang pemain?"

​Rhea tertegun sejenak. Topengnya retak sedikit. Pria ini cerdas.

Pria itu mengulurkan tangan nya..dan menyebutkan namanya Bara..rhea pun melakukan hal yang sama, bara mengecup punggung tangan Rhea dengan lembut.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Suami Dingin, Pria Lain Menginginkanku   Bab 11. Ulat bulu

    Rhea menarik napas panjang di depan pintu kayu jati ruang VIP. Begitu ia melangkah masuk, pemandangan di dalamnya hampir membuat ia melempar bungkusan makanan di tangannya. Gavin sedang duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan Papa dengan wajah penuh duka yang sangat dramatis, sementara Vanya sibuk memijat bahu Mama Sunita dengan gerakan yang seolah paling perhatian sedunia. ​"Sayang, dari mana saja? Papa tadi mencarimu," tanya Gavin dengan nada lembut yang terasa seperti racun di telinga Rhea. ​Rhea memaksakan senyum tipis, meletakkan bungkusan makanan dari Bara di meja. "Hanya mencari udara segar sebentar, Sayang. Oh ya, ini makanan untuk Mama. Harus dimakan ya, Ma, mumpung masih hangat." ​Vanya segera menyambar momen itu. Dengan suara manis yang dibuat-buat, ia membujuk Sunita. "Iya, Tante, ayo dimakan ya. Nanti kalau Tante sakit, siapa yang jaga Om Banyu?." ​Rhea menatap Vanya datar. Sejak kapan pelakor ini merasa menjadi bagian dari keluarga Wijaya? ​Tak lama, Vanya me

  • Suami Dingin, Pria Lain Menginginkanku   Bab 10. Direktur Utama

    ​"Bara!" ​Suara Rhea tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak menatap sosok pria yang kini mengurungnya di antara dinding koridor dan tubuh tegapnya. Ada rasa kaget yang menghantam, namun jauh di lubuk hatinya, ada setitik kelegaan yang tak bisa ia pungkiri. ​"Kenapa... kenapa kamu ada di sini?" bisik Rhea, napasnya masih memburu. ​Bara tidak langsung menjawab. Ia menatap Rhea dengan tatapan tajam yang seolah bisa membaca setiap inci kesedihan di wajah wanita itu. "Sudah kubilang, hubungi aku, Rhea! Apa aku perlu mencari tahu sendiri setiap kali kamu menghilang?" ​Suara Bara rendah, namun penuh penekanan yang mengintimidasi sekaligus melindungi. "Kenapa saat terpuruk seperti ini kamu memilih sendirian? Sekarang ada aku. Jangan pernah berpikir untuk melalui semuanya sendirian lagi. Berbagilah kesedihanmu denganku." ​Jari-jemari Bara yang hangat bergerak perlahan, merapikan helaian rambut Rhea yang berantakan. ​"Tapi... dari mana kamu tahu kalau aku ada di sini?" tanya Rh

  • Suami Dingin, Pria Lain Menginginkanku   Bab 9. Aku Sutradaranya

    Rhea menarik napas panjang, menekan dadanya yang bergemuruh sebelum menekan tombol panggil. Begitu tersambung, suara melengking yang riang menyambar telinganya. ​"Halo... Hai, Rhea! Ada apa kamu telepon aku malam-malam begini? Kangen, ya?" Suara Vanya terdengar begitu ringan, seolah dunia hanya berisi tawa dan kesenangan. ​Rhea merasakan mual yang hebat di ulu hatinya. Bayangan Vanya yang mungkin sedang bersandar di dada Gavin saat ini membuat Rhea ingin muntah. Namun, Rhea adalah sutradanya, ia yang menulis narasinya. ​"Vanya..." Rhea memulai dengan suara yang bergetar hebat. "Papa... Papa masuk rumah sakit, Van... hiks..." ​Rhea melepaskan tangisnya. Isak yang tersedu-sedu, terdengar begitu hancur dan malang. "Aku tidak tahu ternyata selama ini Papa sakit kanker. Tadi sempat masuk ICU... Aku takut sekali, Vanya... sedih sekali..." ​Di seberang sana, Rhea bisa mendengar suara gesekan kain yang terburu-buru, seolah Vanya sedang bangkit dari posisi tidurnya. ​"Dan yang pali

  • Suami Dingin, Pria Lain Menginginkanku   Bab 8. Seperti ular berkepala dua

    Aroma karbol yang tajam dan bau obat-obatan yang menyesakkan langsung menyergap indra penciuman Rhea begitu kakinya melangkah masuk ke lorong rumah sakit. Suara decit sepatunya di atas lantai porselen putih yang dingin seakan berpacu dengan detak jantungnya yang bertalu tidak karuan. Di ujung lorong, tepat di depan ruang ICU yang mencekam, Rhea melihat sosok wanita yang paling ia cintai. Sunita duduk meringkuk dengan bahu yang bergetar hebat. "Mama..." suara Rhea pecah. Ia segera menghambur, merengkuh tubuh ibunya yang terasa jauh lebih rapuh dari terakhir kali mereka bertemu. "Apa yang terjadi? Kenapa Papa bisa masuk ke sini?" Sunita hanya bisa menjawab dengan tangisan yang menyayat hati. Rhea terdiam, mendekap ibunya dengan sabar, meski hatinya sendiri hancur berkeping-keping. Dunia seolah berhenti berputar sampai akhirnya Sunita mengangkat wajahnya yang sembap. "Maafkan Mama, Rhea... Maafkan kami," isak Sunita tertahan. "Selama dua tahun ini, Papa menyembunyikan semuanya. D

  • Suami Dingin, Pria Lain Menginginkanku   Bab 7. Kembali hancur

    Hening... ​Gavin belum pulang. Rhea seharusnya sudah bisa menebaknya, halaman depan kosong, tanpa deru mesin atau sorot lampu mobil yang biasanya ia nantikan dengan debar jantung bodoh. Rumah ini terasa hampa, hampa yang memuakkan, bahkan asisten rumah tangga pun tidak ada yang menyambutnya, karna Gavin hanya ingin asisten rumah tangga yang pulang di sore hari dan libur saat akhir pekan. ​Dulu, Gavin selalu bilang, "Malam hari dan akhir pekan itu waktu kita, Sayang. Tidak perlu ada asisten, aku ingin kita punya privasi." Kalimat yang dulu terdengar seperti janji romantis, kini berubah menjadi racun di telinganya. Itu bukan privasi, itu adalah cara Gavin mengosongkan rumah agar dia bisa bebas pergi ke pelukan Vanya tanpa ada mata yang mengawasi. ​Rhea menarik napas panjang, namun yang terhirup hanyalah aroma penghinaan. Dua tahun ia habiskan untuk mengemis nafkah batin, menari-nari di atas harga dirinya sendiri demi mendapatkan perhatian pria yang ternyata menjaga "kesucian" i

  • Suami Dingin, Pria Lain Menginginkanku   Bab 6. Suara dibalik telepon

    "Kemana si Rhea??pagi - pagi udh ga ada d rumah, mana ga pamit lagi! tapi bagus lah jadi aku ga harus banyak alasan untuk pergi hari Libur begini untuk ketemu Vanya" Gavin tidak sadar kalau istri nya tidak pulang. Gavin pergi tergesa-gesa tidak sabar untuk bertemu Vanya. Baru saja sampai d apartemen Vanya, Vanya sudah menyambutnya dengan lingerie merah. Gavin yang tidak sabar langsung mencumbu Vanya tanpa kata, menanggalkan lingerie merah itu menyesap payudara dan memasukan 2 jari nya dengan kasar kekepunyaan Vanya membuat Vanya menggeliat seperti ulat. Vanya melucuti pakaian Gavin dengan sama tidak sabaran nya, lalu mendorong Gavin hingga terlentang d atas ranjang...Vanya mulai menaiki tubuh Gavin dan meliuk liuk kan badannya "ahhhh..enak banget Gavin..gilaaaa aku mau keluarrrr". Vanya berisik meracau . Gavin bergerak kasar, seperti sedang mencoba membuktikan sesuatu pada dirinya sendiri. menjadikan Vanya seperti kuda pacu. Dipelukan Vanya, ia merasa berkuasa, namun ada kek

  • Suami Dingin, Pria Lain Menginginkanku   Bab 5. Orang asing yang hangat

    Sejenak melupakan badai yang akan datang dan apa yang akan dia lakukan setelah semua yang terjadi antara dirinya dan Bara. Sinar mentari pagi menerobos masuk celah gorden Penthouse..mengusik tidur Rhea. Rhea membuka mata, bara sudah tidak ada disampingnya, Rhea pun mengedarkan pandangan ke sekeli

  • Suami Dingin, Pria Lain Menginginkanku   Bab 4. Gairah di atas luka (21+)

    Bara melakukan dorongan pertama dengan penuh tenaga, ia tertegun. Langkahnya terhenti oleh sebuah hambatan yang nyata. Sangat sempit. Terlalu rapat. Dorongan kedua..Rhea menjerit kesakitan tapi belum juga tertembus. Bara membeku. Ia menarik diri sedikit, menatap wajah Rhea yang kini meringis ke

  • Suami Dingin, Pria Lain Menginginkanku   BaB 3 . Menjadi jalang ( 21+)

    "Tangan mu saja sudah begitu lembut, bagaimana dengan yang lain nya?apakah lebih lembut dari punggung tangan mu?aku benar-benar penasaran, sayang sekali membayangkan kalo tubuh yang lembut ini menangis." "Mungkin aku sedang mencari seseorang yang cukup jantan untuk membuatku lupa cara menangis,"

  • Suami Dingin, Pria Lain Menginginkanku   Bab 1. Topeng sang singa malam

    ​"Gavin itu pria paling beruntung didunia," cetus Rendy sambil menyesap whiskey-nya, matanya tak lepas dari Rhea yang sedang tertawa di ujung meja. ​Rhea melempar rambut panjangnya ke belakang, memamerkan leher jenjang yang dihiasi kalung berlian tipis. "Beruntung? Kurasa dia justru yang paling m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status