Home / All / Suami Flash Sale / Bab 4. Ibu Mertua yang Kejam

Share

Bab 4. Ibu Mertua yang Kejam

last update publish date: 2021-10-25 19:15:35

Di lain tempat, di keluarga Meera sedang terjadi perselisihan hebat.

Meera dan orangtuanya tidak tinggal lagi di vila Mahesa, melainkan di sebuah bangunan yang sangat biasa.

Mereka telah diusir sejak Meera menentang kekuasaan dari Nyonya Mahesa.

“Sakha itu sampah yang enggak berguna! Hari ini citra kita hilang gara-gara dia. Jika kamu tidak menceraikannya, nenekmu akan mengusirmu dari Grup Mahesa, Meera!” seru Ibunya Meera marah.

Meera menghela napasnya pelan. "Meera akan mencari pekerjaan lain kalau memang benar Meera di usir sama nenek, Mah."

“Meera!” geram ibunya Meera menunjuk wajah Meeda. “Apa yang bagus dari sampah itu, hah? Mengapa kamu tidak bisa menceraikannya dan kemudian menikah dengan Sigit? Jika kamu menikah dengan sigit, keluarga kita bisa bangga!"

“Ya! Menikahlah dengan Sigit, keluarga kita akan segera menjadi terpandang di mata nenekmu. Dan nenekmu akan selalu menyanjung kamu setiap hari,” sahut ayahnya Meera.

"Jangan katakan apa-apa, aku tidak akan menceraikan Sakha!" kata Meera tegas.

"Meera!" seru ibunya Meera murka.

Akhirnya ibu dan ayahnya Meera menyuruh Sakha untuk masuk. Ketika mereka melihatnya, ayah  dan ibu Meera memandangnya dengan sinis.

Ibu Meera mendengus sebal. "Lihat! Wajahnya saja sudah sangat menjijikan sekali!"

Sakha mendesah dalam hati. Ibu mertuanya selalu meremehkannya, tetapi jika dia memberi tahu bahwa dia sekarang adalah bos Munthe Group dan memiliki uang tunai 20 triliun, seperti apa tanggapan dia?

Namun, Sakha belum siap memberi tahu identitasnya. Dia telah jauh dari keluarga Munthe selama bertahun-tahun. Siapa yang tahu tentang keluarga Munthe sekarang? Bagaimana jika seseorang di keluarga Munthe tidak menerimanya jika dia mengekspos dirinya sendiri? Karena itu, lebih baik tetap rendah hati dulu.

Jadi dia menundukkan kepalanya dan berkata dengan nada meminta maaf. "Bu, maaf, aku merepotkanmu hari ini."

"Kamu lebih dari masalah, kamu membunuh keluarga kami dari hadapan keluarga kami. Kamu tidak bisa sedikit sadar diri dan keluar dari rumah kita, hah!” murka ibunya Meera.

"Mah, jaga bicara Mamah. Sakha adalah menantu Mamah!" sahut Meera.

“Sampah itu!” Ibu Meera berkata dengan getir. “Saya tidak memiliki menantu yang begitu memalukan! Semakin jauh dia pergi dari hadapan saya, maka semakin baik kehidupan saya!"

Meera mendorong Sakha pelan. "Cepat pergi ke kamar."

Sakha mengangguk penuh rasa terima kasih dan lari kembali ke kamar.

Dia dan Meera telah menikah selama empat tahun, tetapi mereka tidak pernah melakukan ritual pernikahan semestinya. Meera tidur di tempat tidur dan dia tidur di lantai di sebelahnya.

Malam ini, Sakha tidak bisa tidur lama.

Apa yang terjadi hari ini sungguh mengejutkan, dia tidak akan bisa mencernanya untuk sementara waktu.

Sebelum tidur, Meera bertanya pada Sakha. "Bagaimana kabar Bibi Lena? Aku masih memiliki lebih dari 6 juta uang pribadi. Kamu bisa memberinya ke dia besok.”

"Tidak perlu, seseorang telah membayar biaya pengobatan Bibi Lena dan mengirimnya ke kota B untuk perawatan."

"Betulkah?" Meera bertanya dengan heran. "Bibi Lena diselamatkan?"

"Iya." Sakha mengangguk. “Bibi Lena telah melakukan kebaikan dan mengumpulkan kebajikan sepanjang hidupnya dan membantu begitu banyak orang. Sekarang seseorang akhirnya yang membantunya."

"Itu bagus." Meera mengangguk. "Kamu bisa berpikir lebih santai."

"Ya."

“Aku harus pergi tidur. Akhir-akhir ini, perusahaan memiliki banyak masalah dan aku sangat lelah.”

"Apa yang terjadi dengan perusahaan?" tanya Sakha penasaran.

“Perkembangan bisnisnya tidak terlalu bagus. Nenek selalu ingin bekerja sama dengan perusahaan besar seperti Munthe Group, tapi kekuatan keluarga Mahesa masih jauh lebih lemah," jelas Meera.

Sakha tiba-tiba teringat pada Munthe Group. “Keluarga Mahesa tidak bekerja sama dengan Munthe Group?” tanya Sakha kembali.

Meera tertawa kecil. “Bagaimana Munthe Group bisa memandang keluarga Mahesa! Bahkan suaminya Theresa dan keluarga Sadaru hampir tidak bisa mengejar Munthe Group. Nenek mengandalkan mereka setelah mereka menikah. Keluarga Sigit dapat membantu keluarga Mahesa untuk terhubung dengan Munthe Group."

Sakha mengangguk. Ternyata keluarga Meera telah menajamkan kepala mereka dan ingin bekerja sama dengan Munthe Group.

Namun, Nyonya Mahesa terlalu bermimpi sangat tinggi dan berharap penuh, Munthe Group sekarang menjadi miliknya.

Memikirkan hal ini, Sakha memutuskan untuk mengambil alih Munthe Group terlebih dahulu dan kemudian memberikan sedikit bantuan kepada Meera melalui Munthe Group. Dia terlalu diintimidasi di keluarga Mahesa. Sebagai suaminya, Sakha memiliki tanggung jawab untuk membantunya meningkatkan statusnya dalam keluarga.

Awalnya, suamimu berbeda dengan hari ini! Aku tidak akan pernah membiarkan orang meremehkanmu lagi! Aku akan membuat seluruh keluarga Mahesa tunduk padamu!

***

Halo para pembaca. Jangan lupa untuk memberikan vote, review dan komen, ya.

See you next bab guys ...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Flash Sale    Bab 75: Di Balik Gerbang Emas

    Mansion megah keluarga Munthe berdiri kokoh di atas perbukitan yang menghadap langsung ke arah pelabuhan. Arsitekturnya yang bergaya klasik modern dengan pilar-pilar tinggi dan pencahayaan temaram memberikan kesan misterius sekaligus berkuasa. Meera melangkah turun dari mobil, matanya tak henti memandangi barisan pelayan dan pengawal yang membungkuk hormat saat ia dan Sakha lewat. "Selamat datang kembali, Tuan Muda. Selamat datang, Nona Muda," sapa seorang pria tua dengan setelan kepala pelayan yang sangat rapi. Meera merasa canggung. Panggilan "Nona Muda" terasa begitu asing di telinganya, padahal di keluarga Mahesa, ia sering dipanggil dengan nada merendahkan jika pekerjaannya di kantor dianggap tidak becus oleh saudara-saudaranya. Meera memperhatikan Sakha yang kini duduk di kursi roda elektrik, wajah suaminya masih pucat namun tatapannya tetap tajam, memerintah setiap pergerakan di rumah itu tanpa perlu banyak kata. Setelah tim medis pribadi Sakha selesai menjahit luka di pa

  • Suami Flash Sale   Bab 74: Harga Sebuah Kesetiaan

    Guncangan di area pelabuhan berangsur mereda, menyisakan debu-debu yang menari di bawah sorot lampu taktis. Meera masih berlutut di atas aspal yang kasar, napasnya tersengal seolah separuh paru-parunya baru saja dikembalikan setelah mendengar suara Sakha di radio. Tanpa memedulikan rasa sakit di lututnya yang lecet, ia bangkit dan berlari mengikuti tim taktis yang bergerak cepat menuju arah drainase timur. "Sakha! Sakha!" Meera memanggil berkali-kali, suaranya parau tertiup angin laut yang dingin. Di ujung dermaga tua yang sudah lapuk, sebuah penutup beton drainase raksasa terbuka dengan dentuman keras. Tak lama kemudian, sebuah tangan yang bersimbah darah dan kotoran muncul, mencengkeram tepian semen. Tim taktis segera merapat, menarik tubuh pria yang keluar dari sana. Itu Sakha. Namun, pemandangan di depan mata Meera membuatnya hampir pingsan. Kemeja putih yang tadi dipakai Sakha kini telah berubah menjadi abu-abu kecokelatan, robek di bagian bahu, dan yang paling mengerikan ada

  • Suami Flash Sale   Bab 73: Di Ambang Runtuh

    Suara gemuruh dari runtuhnya lift servis menciptakan getaran hebat yang merambat hingga ke permukaan. Debu semen dan serpihan beton menghujani ruang kontrol bawah tanah, menciptakan kabut putih yang menyesakkan. Sakha terlempar dari kursi kontrol, bahunya menghantam sudut meja besi dengan keras hingga ia meringis menahan sakit yang menusuk. "Tuan Muda! Tuan Muda Sakha! Jawab saya!" Suara komandan taktis di earpiece Sakha terdengar pecah dan terganggu oleh interferensi frekuensi. Sakha terbatuk, mencoba menghirup udara yang kini terasa seperti menelan pasir. Ia meraba lantai, mencari senjata dan alat komunikasinya yang sempat terlepas. "Aku... aku masih hidup," jawab Sakha serak. Ia mencoba bangkit, namun kaki kirinya tertindih sebuah panel besi yang jatuh. "Jalur keluar utama runtuh. Armand atau wanita itu... mereka memasang jebakan cadangan." "Kami akan mengirim tim evakuasi masuk kembali!" "Jangan!" perintah Sakha tegas, meski suaranya bergetar menahan nyeri di kakinya. "Strukt

  • Suami Flash Sale   Bab 71: Sisa-Sisa Pengkhianatan

    Debu dari ledakan pintu utama mulai mengendap, namun ketegangan di dalam gudang itu justru semakin memuncak. Tim taktis Munthe Group telah mengamankan area bawah, memaksa anak buah Armand berlutut dengan tangan di atas kepala. Cahaya laser hijau kini terfokus pada sosok Armand yang masih berdiri kaku di atas balkon. Meera menatap punggung tegap Sakha. Meskipun identitas suaminya sebagai pewaris tunggal Munthe Group sudah terungkap, melihat kekuatan nyata yang digerakkan Sakha dalam sekejap mata tetap membuatnya merinding. Pria yang selama ini sabar menghadapi hinaan ibunya di meja makan, kini berdiri sebagai panglima yang siap menghancurkan musuhnya. "Armand," suara Sakha memecah keheningan, bergema dingin di antara dinding beton. "Kesalahan terbesarmu bukan berkhianat pada ayahku. Tapi berpikir bahwa kamu bisa menyentuh milikku." Armand mencengkeram pagar balkon. Wajahnya yang pucat kini mulai memerah karena amarah yang tertahan. "Milikmu? Kamu bicara soal Meera? Dia adalah Ma

  • Suami Flash Sale   BAB 70. Di Tengah Kegelapan

    Kegelapan di gudang tua itu terasa begitu padat, seolah-olah oksigen di sekitar mereka telah digantikan oleh ancaman yang nyata. Meera bisa merasakan otot lengan Sakha yang mengeras di bawah genggamannya. Meski pria ini selama ini dianggap suami sampah yang tidak berguna oleh keluarga Mahesa, di saat seperti ini, aura yang dipancarkan Sakha sama sekali tidak mencerminkan orang miskin. Ia berdiri tegak, setajam pedang yang siap mencabut nyawa, dengan kewaspadaan yang hanya dimiliki oleh mereka yang terbiasa hidup di puncak rantai makanan. "Tiga puluh orang," bisik Sakha tiba-tiba. Suaranya sangat rendah, nyaris tak terdengar, namun penuh dengan kepastian matematis. Meera tersentak, napasnya tertahan di tenggorokan. "Bagaimana kamu tahu?" "Langkah kaki mereka," jawab Sakha dingin. "Tekanan pada lantai beton, ritme pernapasan yang tertahan, dan desis gesekan kain seragam mereka. Armand meremehkanku. Dia pikir aku masih Sakha yang dia kenal sepuluh tahun lalu, seorang pemuda yang hany

  • Suami Flash Sale   BAB 69. Langkah Berbahaya

    Di sebuah gedung tua yang tersembunyi di pinggiran kota, Armand duduk di depan deretan layar monitor resolusi tinggi. Armand menyesap wine merahnya sambil tersenyum lebar melihat drama yang terjadi di layar. Kamera tersembunyi di ruangan Meera masih berfungsi, memberikan sudut pandang sempurna dari kemarahan Sakha. "Lihat itu," Armand menunjuk ke arah layar. "Sakha terlihat sangat gagah saat marah, bukan?" Seorang wanita yang berdiri di kegelapan di sampingnya mendengus. "Dia sudah menutup akses gedung. Rencanamu untuk menariknya keluar dari sana bisa berantakan kalau kamu terlalu lama menonton." Armand tertawa rendah, suara yang terdengar parau dan tidak menyenangkan. "Oh, tidak. Justru ini yang aku inginkan. Aku ingin dia merasa dia memiliki kendali, sebelum aku menarik karpet dari bawah kakinya." Armand mencondongkan tubuh ke depan, matanya yang dingin menatap tajam ke arah sosok Sakha di layar. "Dia pikir dia bisa melindunginya hanya dengan mengunci gedung? Sangat naif."

  • Suami Flash Sale   Bab 26. Eksistensi Anita

    Di mata semua orang yang sedang menunggu kedatangan ketua Munthe Group. Sakha lantas perlahan berdiri dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi.Mata seluruh ruang perjamuan terfokus pada Sakha dalam sekejap mata.“Sakha, apa yang sedang mau kamu lakuk

  • Suami Flash Sale   Bab 25. Kebohongan Nyonya Mahesa

    Ketika Sigit sudah melarikan diri dari kesalahan yang baru saja ia buat. Berbarengan itu Jay baru saja masuk, diikuti oleh saudara perempuannya yang tidak lain adalah Theresa dan suaminya yang bernama Sadaru.Selain Sadaru, ada juga seorang pemuda berpakaian mewah. Melihat wajahnya, dia aga

  • Suami Flash Sale   Bab 24. Sigit Membual

    Sigit merajuk setelah tiba di rumah, lalu ia pergi ke restoran makanan barat. Tetapi, ia menemukan sebuah keluarga beranggotakan empat orang pergi ke restoran makanan barat untuk makan malam juga.Dia juga melihat berita dari Munthe Group, dan Sigit malah sangat tertekan. Dia m

  • Suami Flash Sale   Bab 23. Kebahagiaan Keluarga Meera

    Memikirkan hal ini, Sabrina buru-buru berubah menjadi penampilan yang menyanjung Sakha dan berkata kepada Sakha dengan cara yang menawan. "Sungguh suatu kehormatan bagi hotel Monalisa Sweet kami dan teman-teman lama saya untuk datang, Tuan Sakha."Dia merasa bahwa dengan memuji Sakha, dia b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status