LOGINKarina tidak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di titik ini. Mengenakan gaun putih untuk kedua kalinya.
Dan kini… menikah dengan mantan kekasihnya yang dulu ia tinggalkan.
Namun, takdir memiliki selera humor yang sangat kelam. Pernikahan ini bukan tentang cinta atau masa depan yang cerah, melainkan tentang bertahan hidup di tengah teror yang tidak kunjung usai.
Biarlah orang berkata apa. Baginya, hanya keselamatan nyawanya yang paling utama.
Pengajuan administrasi pernikahan mereka terasa seperti maraton yang melelahkan.
Pria itu mengurus segala dokumen, memastikan semuanya selesai dalam waktu kurang dari satu bulan.
Karina merasa seperti pion dalam permainan catur yang rumit. Dan Arkan perwira yang tidak menyukai ketidakpastian.
Selama bulan itu, Karina tidak pernah melihat Arkan selama berhubungan di masa lalu. Seperti menunjukkan emosi yang tidak perlu.
Satu-satunya cahaya di tengah kegelapan ini adalah Ibu Arkan. Karina sempat takut akan penolakan, namun wanita itu justru menginginkannya kembali dengan tangan terbuka.
Bagi Karina, itu adalah hal paling baik yang ia terima selama hidupnya yang penuh dengan kepahitan.
Setelah akad yang hanya dihadiri orang terdekat, Karina dan Arkan menghabiskan malam pertamanya di hotel.
Seadanya. Sewajarnya orang menikah.
Arkan masuk ke kamar setelah menyelesaikan beberapa urusan pekerjaan di ponselnya.
Ia melepas jas dinasnya, menyampirkannya di sandaran kursi, lalu menatap Karina.
"Tidur di ranjang. Saya akan tidur di sofa."
Karina mendongak, merasa sedikit lega namun juga bingung. "Mas, tidak perlu... saya bisa—"
"Tidur di ranjang," potong Arkan tegas. "Kalau ada perlu apa-apa, bangunkan saja."
Pria itu berjalan menuju sofa, lalu duduk di sana sembari menata bantal.
Sebelum benar-benar memejamkan mata, ia menatap Karina. "Dengar, Karina. Meskipun kita menikah tanpa cinta, saya memegang tanggung jawab atas keselamatanmu. Kita hanya perlu bertahan satu tahun.
Setelah semuanya reda, jika kamu ingin berpisah, saya tidak akan menahanmu."
Karina hanya mengangguk pelan, lidahnya mendadak kelu.
Dia tahu.
Lalu ia beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat dia sedang berada di bawah guyuran air hangat, ponselnya yang tergeletak di atas nakas bergetar hebat.
Arkan yang sedang bersiap untuk memejamkan mata, terganggu oleh suara getaran itu. Ia melirik layar ponsel Karina.
Jantungnya berdegup kencang saat melihat sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Sebuah foto.
Arkan mengambil ponsel itu, dan darahnya langsung mendidih.
Foto itu adalah potret mereka berdua, diambil dari sudut yang sangat tersembunyi di dalam kamar hotel ini.
Sialan. Pria itu memang sebrengsek ini?
Arkan bangkit menyisir ruangan, memeriksa setiap lubang ventilasi, jam dinding, hingga lampu hias.
Namun saat pintu kamar mandi terbuka. Karina keluar dengan mengenakan bathrobe, rambutnya basah dan meneteskan air ke lantai.
Ia baru saja hendak menyapa Arkan dan menyuruhnya memejamkan mata karena ia tak membawa baju ganti ke kamar mandi.
Namun ketika dia melihat pria itu menatapnya dengan intensitas yang sangat berbahaya.
"Ada apa, Mas?" tanya Karina cemas.
Arkan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah lebar mendekati Karina, lalu menarik pinggang wanita itu hingga menempel ke tubuhnya. “M–mas, saya mau ambil baju.”
Arkan membisikkan sesuatu di dekat telinganya, "Jangan bicara. Anggap ini malam kesekian kita.”
Karina tersentak, namun matanya menangkap kilat peringatan di mata Arkan. Arkan tidak menunggu jawaban. Ia mendorong Karina ke tembok, tangan besarnya merayap diluar bathrobe.
“Saya tidak tahu, Karina. Bahwa mantan suamimu…. Segila itu.”
Karina memejamkan mata erat-erat saat merasakan sentuhan hangat jemari Arkan di pinggangnya.
“Pura-pura mendesah.” Karina tersentak, namun matanya menangkap kilat peringatan di mata Arkan.
“Perlu saya ingatkan bahwa kamu milik saya sekarang?”
Karina jatuh telentang di atas kasur yang empuk, matanya membelalak menatap Arkan yang langsung mengungkung tubuhnya.
Detak jantungnya bertalu-talu, bercampur antara takut setengah mati pada ancaman Rangga dan perasaan asing dari kedekatan mereka.
"Mas—" Karina mencengkeram erat bahu Arkan, suaranya tertahan di tenggorokan.
"Desah, Karina. Sekarang," bisik Arkan, suaranya terdengar berat dan serak tepat di celah leher wanita itu.
Tangan besar Arkan sengaja meremas seprai di sisi kepala Karina, menciptakan derit halus dari ranjang hotel. Dia menyurukkan wajahnya ke ceruk leher Karina, memberikan kecupan-kecupan basah yang sengaja dibuat bersuara.
Karina menggigit bibir bawahnya, mencoba mengeluarkan suara yang diminta. Sebuah lenguhan halus akhirnya lolos dari tenggorokannya, terdengar gemetar namun cukup meyakinkan untuk siapa pun yang sedang menguping.
"Lebih keras," perintah Arkan lirih. Dia melepaskan satu kancing kemejanya sendiri dengan kasar, membiarkan dadanya bergesekan dengan kain bathrobe Karina yang sudah melonggar.
Mata Arkan yang tajam melirik sekilas ke arah sudut lampu meja, tempat yang dia curigai sebagai letak kamera tersembunyi. Seringai tipis muncul di wajah tegasnya, sebuah pesan bisu untuk pria keparat yang sedang menonton dari kejauhan.
Karina memejamkan mata saat melepaskan desahan yang lebih panjang, melingkarkan tangannya di bahu kokoh Arkan agar sandiwara ini terlihat makin sempurna.
"Kamu milik saya sekarang, Karina.”
Arkan menggeram rendah, sengaja menekan berat tubuhnya di atas Karina untuk mempertegas posisi mereka.
Sentuhan Arkan terasa begitu nyata, tidak seperti akting biasa. Kulit mereka yang saling bersentuhan memicu ketegangan lain yang membuat ruangan itu mendadak terasa panas.
Namun, saat bathrobe itu benar-benar terkoyak sepenuhnya dan memperlihatkan apa yang terbuka di bawahnya, Arkan mendadak berhenti.
Napasnya tertahan, matanya menggelap saat memandang lekuk tubuh Karina dari luar bathrobe yang terkoyak setengah.
Warasnya seolah diuji sampai ke batas akhir. Pria itu menelan ludah dengan susah payah, menatap wajah Karina yang memerah dengan sisa-sisa air mata yang mengering di sudut pipi.
Karina menatap sepasang mata tajam di atasnya, menemukan keinginan yang sangat besar di sana. Di tengah ketakutannya pada Rangga, kehadiran Arkan terasa menjadi satu-satunya tempat aman yang tersisa untuknya.
"Boleh saya masukin?"
Karina berdiri mematung di pelataran parkir minimarket yang terik. Kantong plastik belanjaan di tangannya terasa kian berat, seberat debaran halus yang kembali mengetuk dadanya. Ia menyapu pandangan ke sekeliling, merasa cemas jika ada ibu-ibu komplek perumahan dinas atau prajurit Arkan yang mengenali dirinya sedang berdiri berdua dengan pria asing. "Dion... kamu tidak seharusnya ke sini," ujar Karina setengah berbisik, suaranya sarat akan nada peringatan. "Ini area dekat komplek rumah dinas suamiku." Dion menghentikan langkahnya tepat dua meter dari Karina. Pria itu mengusap tengkuknya—kebiasaan lama yang terlalu dihafal Karina—menampilkan raut raut serba salah. "Aku tahu, Karina. Maaf," sahut Dion pelan, menatap Karina dengan binar tulus yang jernih. "Aku enggak bermaksud mengganggu rumah tanggamu. Tapi... jujur, setelah kemarin kita ketemu di kafe, pikiran aku enggak bisa tenang." "Soal apa lagi, Dion? Semuanya sudah lewat lima tahun lalu," potong Karina, berusaha menguatkan be
Pagi datang membawa kabut tipis yang menggantung di pekarangan rumah dinas. Suasana di dalam rumah terasa terlalu sunyi, hanya dihiasi denting sendok yang bertabrakan dengan cangkir keramik di meja makan. Arkan duduk dengan kemeja dinasnya yang rapi, menyesap kopi hitam tanpa gula seperti biasa, sementara matanya membaca dokumen di hadapannya. Karina meletakkan piring berisi piring piring sarapan di meja. Gerakannya pelan dan teratur, namun pikirannya jelas tidak sepenuhnya berada di sana. Lingkaran hitam tipis di bawah matanya menjadi bukti bahwa bayangan Dion dan kenangan masa lalu benar-benar merenggut tidur nyenyaknya semalam. "Kamu kurang tidur," ujar Arkan tanpa mendongak dari dokumennya. Suaranya datar, namun tegas. Karina tersentak kecil, membetulkan letak taplak meja. "Hanya sedikit gelisah, Mas. Mungkin karena udaranya dingin semalam." Arkan menurunkan dokumen di tangannya, lalu menatap Karina lurus-lurus. Pandangan matanya yang tajam seolah mampu menembus setiap lapis
Lampu kamar utama sudah diredupkan sejak setengah jam yang lalu. Di luar, suara gerimis tipis menyiram dedaunan di pekarangan rumah dinas, menciptakan ritme konstan yang seharusnya menenangkan. Namun, bagi Karina, keheningan malam itu justru terasa terlalu bising. Di sampingnya, Arkan sudah berbaring miring membelakanginya. Deru napas suaminya terdengar teratur dan halus, tanda pria itu telah lelap setelah seharian menguras energi di markas. Karina menatap punggung tegap Arkan yang tertutup selimut abu-abu. Ada rasa bersalah yang pelan-pelan merayap di dadanya, karena di tempat tidur yang sama, pikirannya justru berkelana ke tempat lain. Bayangan wajah Dion sore tadi terus berputar di benaknya. Bukan sosok Dion yang penuh emosi atau menuntut penjelasan, melainkan Dion yang bicara dengan nada tenang, sedikit canggung, dan mengusap tengkuknya persis seperti yang selalu pria itu lakukan lima tahun lalu ketika mereka masih bersama. Cara Dion menatapnya—tatapan yang jujur, tanpa intimid
Matahari sore membias temaram di balik jendela kaca kafe modern di pusat kota. Karina duduk sendirian di sudut ruangan yang agak terpencil, menunggu Arkan yang berjanji akan menjemputnya usai rapat di Markas Besar. Ia menyesap teh kamomilnya pelan, menikmati ketenangan yang belakangan ini menghiasi hidupnya. Langkah kaki seseorang mendekati mejanya, lalu terhenti. "Karina...?" Karina mendongak. Cangkir di tangannya mendadak bergetar tipis hingga air di dalamnya bergoyang. Sosok pria berjas rapi berdiri di hadapannya dengan tatapan mata tak percaya, campur aduk antara rindu dan luka lama yang belum sembuh. "Dion...?" bisik Karina parau, tenggorokannya mendadak kaku. Dion menatap cangkir kopi di mejanya sebelum kembali memandang Karina. Matanya menyiratkan keterkejutan yang nyata, namun tidak ada emosi berlebihan di sana—hanya rasa tidak percaya yang mengendap pelan. "Aku cuma kaget bisa ketemu kamu di sini, Karina," ujar Dion pelan. Suaranya terdengar biasa, tanpa nada puiti
Hari-hari penuh ketenangan di Lembang akhirnya harus usai. Setelah dua hari menikmati masa cuti yang singkat namun berharga, Arkan dan Karina berkemas untuk kembali ke kota. Perjalanan pulang sore itu terasa sangat berbeda dibanding perjalanan Arkan yang dipenuhi kepanikan beberapa hari lalu.Di dalam SUV hitam yang membelah jalan tol menuju pusat kota, suasana begitu hangat. Tangan kiri Arkan tak pernah lepas menggenggam jemari Karina di atas konsol tengah, sementara lagu berirama lembut mengalun pelan dari pemutar musik mobil.Karina menatap pemandangan gedung-gedung tinggi yang mulai menyambut kedatangan mereka. "Mas... rasanya aneh ya, balik ke rumah dinas lagi setelah semua hal yang terjadi."Arkan menoleh sekilas, menyunggingkan senyum tipis sebelum kembali fokus ke jalan raya. "Aneh bagaimana, sayang?""Ya... dulu waktu tinggal di sana, aku selalu merasa seperti tamu. Setiap sudut rumah rasanya dingin," bisik Karina pelan, lalu menatap Arkan dengan pendar mata yang hangat. "Tap
Sesampainya di pasar tradisional Lembang yang ramai, Arkan tetap menggenggam jemari Karina dengan erat. Sikap posesif sang jenderal sama sekali tak berkurang. Setiap kali ada pedagang atau pengunjung pria yang tak sengaja melirik ke arah istrinya, Arkan akan serta-merta menegakkan dada bidangnya dan melempar tatapan menajam yang membuat orang-orang refleks menepi.Karina yang menyadari hal itu hanya bisa menahan senyum sepanjang menyusuri lorong pasar. Ia menarik lengan baju Arkan, membawanya berhenti di depan sebuah lapak sayuran segar."Mas, tolong jangan menatap Paman Penjual Sayur seperti mau mengajak perang," bisik Karina jenaka di samping telinga suaminya. "Kasihan pamannya sampai gemetaran memegang timbangan."Arkan berdeham pelan, berusaha menetralkan raut wajahnya yang kaku. "Aku hanya memastikan tidak ada yang bertindak tidak sopan padamu.""Siapa juga yang mau bertindak tidak sopan di depan pria sebesar ini?" goda Karina seraya terkekeh pelan. Ia lalu menunjuk seikat kangku







