Share

9. Liburan

Author: Harmony^-
last update publish date: 2023-07-18 11:00:00

Lea seketika mengambil langkah mundur dan pergi–meninggalkan Derren dan Marsha yang memandangnya dengan tatapan tak senang.

Hanya saja, ada amarah di dalam sorot mata Lea saat memandang Marsha terakhir kali. Tapi, Derren tak terlalu memusingkannya dan fokus melihat kondisi Marsha yang cukup membuatnya khawatir.

“Ayo cepat masuk. Aku akan mengan-“

Seketika Marsha menunjuk ke arah pantai. Tepat di posisi kedua adik perempuan Derren sedang bermain air.

Derren menoleh ke arah itu dan menepuk ke
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Vina Oktavia
Next part kak
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Suami Kontrakku Ternyata Dewa Perang   179. Aku Selalu Di sisimu

    “Tolong selamatkan istriku, aku tidak bisa hidup tanpanya.”Marsha terdiam. Samar-samar suara suaminya yang merintih di tengah isak tangisnya, membuat hati Marsha merasa pilu. Namun kasih sayang terhadap buah hatinya lebih besar dari cinta pada suaminya. Kini bukan Derren yang menjadi dunianya, namun bayi mungil yang bahkan belum pernah dia lihat sekali pun.Zahra memasuki ruangan. Menatap Marsha yang merenung dalam lamunan panjang yang terasa berat. “Kamu mendengarnya, Marsha. Suamimu ingin kamu hidup.”Marsha melirik pelan. Suara kelam Zahra membuatnya menangis. Tatapan sendu yang senantiasa pilu itu terasa menyesakkan untuknya. Marsha tahu, banyak orang mengharapkan pilihan untuk melanjutkan hidup dan melepas bayinya. Namun ibu mana yang cukup gila untuk melakukan itu?“Tolong selamatkan anakku saja, Zahra.” Marsha tampak putus asa. Senyum pudar yang dia sanjung dengan Di setiap keputusannya selalu di tentang suaminya. Namun dia akan tetap memohon keselamatan bayinya.Lantas, dia

  • Suami Kontrakku Ternyata Dewa Perang   178. Permohonan

    Anna mendorong kursi roda Lea menuju tempat chek out bandara. Mereka siap pergi meninggalkan negara ini.Marsha hanya diam menatap keduanya berjalan menjauh. Dia mengantar kedua wanita itu ke sini. Mengemudikan mobilnya secara pribadi dan mengucapkan perpisahan dengan benar.“Terima kasih sudah mengantar istri dan anakku.” Seorang lelaki berusia 60 tahun berdiri di sampingnya dengan tatapan dingin—ciri khas orang tersebut.Wajah tampan yang eksotis selalu membuat Marsha merasa lelaki ini tidak akan pernah pantas di panggil “kakek” nantinya.“Senang bisa membantu Anda, Tuan Sean.”Lelaki itu mengukir sedikit senyum, menatap perut Marsha yang terlihat aneh hari ini. “Dan selamat atas kehamilanmu.”Marsha membulatkan mata, menurunkan pandangan dengan cepat sambil mengusap perutnya yang sedikit membesar.“Tidak Tuan.” Marsha menggeleng kuat. “Saya tidak mengandung. Sungguh.”Sean hanya terkekeh, menepuk pund

  • Suami Kontrakku Ternyata Dewa Perang   177. Salam Perpisahan

    “Nona, bolehkah saya masuk ke dalam?” Mina berdiri di depan pintu bersama Agam. Raut wajah bahagia terlihat jelas di wajah mereka. Sebentar lagi mereka akan mengabarkan kabar baik walau di sertai kabar buruk.“Masuk saja. Aku sudah ganti pakaian,” ucap Marsha dari dalam kamarnya dengan suara lantang.Mina membuka pintu, melihat Tuannya sedang duduk di depan meja rias dengan membuat wajahnya semakin cantik dengan riasan tipis.“Ada apa dengan raut wajah itu?” Marsha melihat wajah kedua sekretaris itu dari pantulan cermin dengan wajah heran. Wajah sumringah mereka membuat senyumannya ikut terbit, walau sedikit.“Kami mendapatkan informasi jika Tuan Hardy telah kembali di tangkap setelah kemarin berhasil kabur dari penjara.” Mina membuka omongan.Agam yang berdiri di sebelahnya hanya mengangguk-angguk. Namun berita kedua yang akan dia sampaikan bisa membuat senyum senang Marsha hilang.“Namun ada berita buruk yang menyertai itu.” Agam berbicara dengan wajah serius, membuat Marsha menat

  • Suami Kontrakku Ternyata Dewa Perang   176. Jatah?

    Marsha duduk bersandar di belakang kursi penumpang. Sementara Derren yang duduk di sampingnya hanya bisa menghela napas lelah beberapa kali sambil melihat penampilan dirinya yang kacau setelah di jambak istrinya sendiri sebagai ‘korban salah target’.“Rambutku pitak.” Gumam Derren melihat sebagian sisi rambutnya yang sedikit gundul.Sementara Marsha yang mendengarnya hanya memalingkan wajahnya, pura-pura tidak mendengarnya.“Aku harap seseorang bertanggung jawab. Bukannya malah memalingkan wajah dan tidak meminta maaf sama sekali. Bahkan bersikap acuh tak acuh.” Sindir Derren.Marsha masih diam. Dia tidak ingin mendengar dan memilih memejamkan mata.Lelaki itu diam. Dia menatap keluar jendela dengan tatapan sendu. Suasana canggung dan mencengkram itu membuat Marsha tidak nyaman. Dia segera membuka mata dan melirik apa yang di lakukan suaminya. Dia menemukan wajah sendu Derren dari pantulan kaca jendela mobil di

  • Suami Kontrakku Ternyata Dewa Perang   175. Sedikit Keributan

    Gama berdiri di depan kantornya dengan menggenggam papan nama miliknya dengan tatapan sendu.Di belakangnya, Agam, berdiri menunggunya dengan sabar sambil membawa sebuah kotak lumayan besar dalam pelukannya. “Anda tidak ingin pergi?” tanya Agam, membenarkan genggamannya pada kotak besar yang sedikit merosot karena kelebihan muatan. “Saya membawa benda yang cukup berat. Bisakah Anda menepi?” Mendengar itu, dengan wajah memelas Gama menepi dari depan pintu, bahkan membantu Agam membuka bilik pintu lebih lebar agar lelaki itu bisa masuk dengan mudah.“Marsha akan segera pindah ke kantor ini, kan? Kapan??” tanya Gama, lesu. Agam melirik sekilas ke arah Gama yang kembali berdiri menghalangi jalan di ambang pintu. “Entah. Mungkin dia akan segera sampai. Mungkin juga sore hari baru bisa mampir. Kenapa? Anda terlihat gelisah. Bukannya perjanjiannya berjalan lancar kemarin?” Agam menaikkan sebelah alisnya. “Jangan bilang Anda baru menyesalinya

  • Suami Kontrakku Ternyata Dewa Perang   174. Tawaran

    Marsha duduk bersantai di teras samping rumahnya dengan membaca beberapa dokumen sebelum akhirnya Derren datang membawa sebuah amplop dan memberikannya pada Marsha.“Sha, coba lihat apa yang aku dapatkan dari pelelangan yang aku hadiri hari ini.” Derren memberikan benda itu ke tangan istrinya.Marsha menaikkan sebelah alisnya sambil menerima benda itu. “Kamu itu orang sipil tapi terus-menerus datang ke tempat ilegal seperti itu. Apa tidak bahaya? Jika Tuan Bridam tahu, kamu akan mendapatkan masalah.”Derren hanya mengangkat acuh bahunya dan duduk di bangku yang berseberangan dengan Marsha, melihat istrinya membuka dokumen itu dan membulatkan matanya dengan sempurna.“Astaga.” Marsha menatap Derren dengan senyum kaku. “Bagaimana bisa kamu mendapat benda sebagus ini? Apakah ini untukku?”Derren mengangguk mantap. “Aku mendapatkannya dengan susah payah. Mengingat benda itu adalah barang berharga karena perusahaannya masuk ke dalam perusahaan raksasa ke-6 di dunia.”Marsha mengangguk-angg

  • Suami Kontrakku Ternyata Dewa Perang   162. Niat Busuk

    Marsha kembali ke kamar. Langkahnya terhenti di depan pintu saat ia melihat dua orang lelaki berdiri di sana—menjaga pintu. “Selamat siang, Nyonya Marsha.” Kedua lelaki itu menunduk hormat. “Kami akan mengawal Anda mulai sekarang.” Marsha menaikkan sebelah alisnya. Ia melihat

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • Suami Kontrakku Ternyata Dewa Perang   157. Hukuman

    Gama menatap Marsha yang tertidur pulas dengan berbagai macam alat bantu. Banyak selang yang di pasang para dokter untuk mengetahui kestabilan tubuhnya. “Ia akan segera pulih.” Orlando mendorong Derren memasuki kamar Marsha. Mereka bertiga menggunakan pakaian pelindung sebelum

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • Suami Kontrakku Ternyata Dewa Perang   160. Misi Mandiri

    Marsha diam sepanjang hari. Tak ada yang membuatnya melakukan aktivitas. Ia hanya diam di kamarnya dan menikmati waktu membacanya dengan santai. Ponselnya juga sudah di matikan karena bosan menjawab pertanyaan teman terdekatnya tentang bagaimana kondisinya saat ini. “Nona.” Da

    last updateLast Updated : 2026-04-03
  • Suami Kontrakku Ternyata Dewa Perang   155. Senjata Nyata

    “Di mana Marsha? Ia baik-baik saja, kan?” tanya Lea, begitu melihat Derren dan Daniel duduk di depan pintu tempat Marsha mendapat perawatan intensif. “Di dalam. Keadaannya semakin membaik dari sejam yang lalu. Kau tak perlu khawatir.” Derren menjelaskan. Matanya yang sembab dan sayu ter

    last updateLast Updated : 2026-04-03
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status