Mag-log in“Diam kamu di sini! Berani keluar, tamat riwayat Ayahmu yang pesakitan itu!” ancam bu Devi dengan gerakan tangan seolah memotong leher. “Ingat itu! Selangkah saja kamu pergi, Ayahmu mati!” Wanita itu mengulangi ancamannya. Bola matanya membulat seolah mau keluar.
Bu Devi tak sedikitpun merasa iba melihat Sova yang sudah rapi memakai seragam sekolah, kini duduk bersimpuh dengan berurai air mata. “Ma, tolong kasih Sova kesempatan. Sova harus berangkat ke sekolah. Ma, tolong Sova!” rengek gadis berseragam SMA itu sambil memegangi kaki bu Devi yang hendak keluar. Tangisnya terdengar sangat pilu bagi orang yang memiliki hati selembut sutera, tapi tidak bagi ibu tirinya itu.“Heh, anak tak tahu diuntung! Silakan kamu pergi dari sini, tapi Ayahmu mati. Kamu tentu tahu kalau ancaman Mama tidak pernah main-main.” Bu Devi berusaha melepaskan kakinya dari Sova dengan menendang-nendangkan kakinya ke tubuh Sova, tapi gadis itu bertahan.“Ma, izinin Sova sekolah hari ini. Sova janji, Sova akan ikuti perintah Mama, apapun itu! Tapi tolong, izinkan Sova sekolah dan jangan celakain Ayah. Tolong Ma!” rengek Sova untuk ke sekian kalinya. Bahkan, dari ucapannya tersirat bahwa gadis yang selalu ceria dan tak pernah ambil pusing dengan keadaannya itu, kini sedang putus asa. Sangat putus asa sehingga ia mengucapkan ikrar janji yang hanya muncul dari ketakberdayaannya.“Heeuuuhhh...!” teriak bu Devi sambil mencubit bahu Sova sekencang-kencangnya.“Aaaa... aa.. awww... “ lirih Sova yang berusaha bertahan, namun akhirnya menyerah dan melepaskan kaki bu Devi.“Enggak ada tawar menawar. Yang ada, kamu kawin sama si kakek, Ayahmu selamat. Kalau enggak, jangan harap kamu bisa ikut menguburkannya hari besok. Bahkan, kamu yang akan saya kambing hitamkan sebagai pembunuh ayahnya sendiri. Tamat!” ucapnya seraya menatap tajam ke arah Sova yang kini terduduk di lantai, masih dengan isak tangisnya.Wanita itu pun segera keluar dari kamar Sova dengan membanting pintu, sehingga pintu itu pun rusak di bagian bawahnya. Saat berbalik, ia kaget karena di belakangnya ada Yulia yang sedang menatapnya terpaku.“Ada apa sih, Ma?” tanya Yulia yang kini tengah berdiri di sebrang tungku. Gadis itu tak pernah mau masuk ke kamar Sova karena tak ingin menginjak lantai hitam, akibat terkena tumpukan asap dari tungku.“Yuli, dari kapan kamu berdiri di situ, Sayang?” tanya bu Devi dengan lemah lembut, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan apa yang diucapkannya kepada Sova.“Dari tadi. Aku denger Mama mau kawinin si Sova? Sama bandot tua yang baru datang ke kampung ini?” tanya Yulia dengan senyum yang merekah di bibirnya. Rasanya, derita Sova merupakan anugrah baginya.“Iya. Kamu cepetan siap-siap, kamu harus tampil lebih cantik daripada pengenten. Orang pengantennya tua renta, hahahaha...!” tawa bu Devi yang membuat hati Sova semakin berdenyut nyeri.“Ma, masa aku harus nikah sama orang tua? Mungkin usianya sama kaya Ayah. Bagaimana aku harus mengurusi Ayah dan suami bersamaan? Bagaimana dengan cita-citaku, Ma?” lirih Yulia memeluk kedua lututnya. Bibirnyapun bergetar saat mengatakan hal itu. Ia membayangkan jika dirinya harus menghapus segala langkah dan tujuan yang sudah Ia susun untuk diperjuangkan. Dimulai dari hadiah debat bahasa Inggris yang merupakan beasiswa kuliah di Universitas ternama dengan jurusan hubungan internasional, Ia harus hapus dari daftar yang harus Ia perjuangkan. Belum lagi hal-hal lain yang sudah Ia tulis di buku catatannya.“Berisik!” ketus bu Devi sambil membanting pintu kamar Sova. “Ayo, Sayang! Kamu harus tampil cantik!” Terdengar suara lirih bu Devi yang menjauh dari kamar Sova.Rasanya, pengorbanan yang sudah Ia lakukan untuk keluarga ini sia-sia saja. Apalagi saat mendengar perhatian bu Devi pada Yulia yang mengharuskannya tampil cantik. Bukankah dirinya yang dipaksa menjadi pengantin? Lalu mengapa Yulia yang akan didandani? Bukan dirinya menginginkan pernikahan ini, tapi perhatian bu Devi-lah yang menjadi penyebabnya menyunggingkan senyum smirk di wajah cerianya.“Aku baru sadar kalau hidupku semenyedihkan ini. Semasa Ayah sehat, aku dinomor duakan sama Ayah. Setelah Ayah sakit, Aku yang harus rawat. Aku juga harus bantu banting tulang, di sela-sela Aku belajar. Saat kakek tua yang datang melamar, Aku yang harus jadi pengantin karena Mama akan mendapatkan uang. Lalu Aku dapat apa? Hikshikshiks... Aku bukannya tak sadar sama perlakuan mereka, tapi Aku hanya berharap masih memiliki keluarga yang utuh. Bahkan, makam Ibu kandungku aja Aku enggak tahu, karena Ibu meninggal di luar negri, karena disiksa majikannya. Ibu... hikshikshikahiks. Ini enggak adil!” racau Sova sambil menarik-narik ujung roknya, yang sejajar dengan tangan karena posisi duduknya yang memeluk lutut.“Aku harus pergi. Ya, Aku harus pergi. Aku bisa minta bantuan bu Halimah. Ya, Aku harus pergi... “ Sova terdiam sambil memikirkan sesuatu. “Jangan, jangan minta bantuan bu Halimah, Aku malu. Bu Halimah udah baik banget sama Aku. Jangan manfaatin kebaikannya. Aku hanya perlu pergi dari sini,” ucap Sova sambil menghapus air matanya. Ia pun segera berdiri, dengan segera Ia mengganti baju seragam yang Ia kenakan dengan pakaian biasa dan melipatnya, kemudian memasukkannya ke dalam tas beserta dua pasang baju lainnya. Ia masih berharap bisa melanjutkan pendidikan yang sebenarnya bulan depan waktunya Ujian Akhir. Tapi, kalaupun Ia harus pergi hari ini, sedangkan nanti Ia mendapatkan rezeki untuk melanjutkan pendidikan, Ia berharap bisa menggunakannya lagi.Sova berjongkok, mengangkat kasur kapuk yang tergeletak di lantai papan, mengambil sebuah kantong hitam yang Ia sembunyikan di sana. Ia langsung memasukkan kantong hitam itu ke dalam tas. Uang, ya... isinya merupakan tabungan yang Ia kumpulkan diam-diam selama ini. Jumlahnya sebanyak tiga ratus tujuh puluh enam ribu rupiah. Ia rutin menghitungnya setiap minggu, demi menjaga dari hilang dan mengetahui berapa kekurangannya untuk membawa Ayahnya ke rumah sakit.Prang...Terdengar sesuatu jatuh dari ruangan lain, Sova pun berhenti sejenak sebelum akhirnya Ia nekad menggendong tasnya. Ia pun segera berjalan menghampiri pintu dan membukanya secara perlahan.“Sova...!” teriak bu Devi dengan suara stereo yang bisa terdengar sampai sekampung. Ya, semua tetangganya diam melihat tingkah keluarga itu kepada Sova. Bukan mereka tak tahu dengan perlakuan bu Devi kepada Sova, tapi mereka enggan memiliki masalah dengan bu Devi yang mendapat julukan tersembunyi dari warga sebagai nenek sihir. Mereka lebih banyak membantu Sova secara sembunyi-sembunyi, macam perang gerilya. Terlebih, perlakuan pak Harun selagi sehat pun tak jauh dari istrinya, padahal pak Harun merupakan Ayah kandung Sova, tapi Ia seolah lebih menyayangi Yulia. Yang membuat tetangga lebih segan lagi adalah sikap Sova yang seolah-olah tak mengambil pusing, bahkan terkesan membela.“Sova...!” lengkingan itu pun kembali terdengar sampai tiga kali. Sova yang sudah bersiap dengan tas nya pun hanya terdiam dengan perasaan kesal yang membuncah. Haruskan Ia menggunakan ilmu bela diri yang selama ini Ia pelajari saat ini?Malam itu, langit di atas gudang tua masih gelap tanpa bintang. Udara dingin menyusup di sela-sela papan kayu yang lapuk, membawa bau debu, minyak tanah, dan besi berkarat. Roy berdiri diam di antara keributan yang perlahan mereda. Napasnya masih berat, dadanya naik turun menahan rasa sakit di sekujur tubuh. Darah dari luka di pelipisnya menetes perlahan ke pipi, lalu jatuh ke lantai berdebu. Di depannya, Rian sudah tergeletak tak berdaya dengan tangan yang patah, sementara dua petugas polisi memborgolnya dan membawanya keluar. Di sudut ruangan, Beni sedang ditolong oleh paramedis. Wajahnya pucat, tubuhnya penuh memar, tapi matanya perlahan terbuka. Saat ia melihat Roy, ia tersenyum tipis—senyum lega yang hampir tak terlihat. Roy membalasnya dengan anggukan kecil. “Kau aman, Pak,” bisik Beni pelan. Roy mengangguk lagi, tapi hatinya belum benar-benar tenang. Bayangan tentang Sova dan Rafa masih memenuhi kepalanya. Selama per
"Jangan pedulikan saya, pak Roy! Ingat bu Sova di rumah," tolak Beni dengan suara yang terdengar payah.Roy mengangguk pelan seolah memberi isyarat bahwa ia ada di sana, bahwa ia datang untuk menyelamatkan Beni. "Lepaskan dia. Urusan ini hanya antara kau dan aku. Dia tidak ada hubungannya sama sekali." Rian menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa keras, suaranya bergema di dinding gudang kosong itu. "Ah, Roy... kau tidak pernah pandai bernegosiasi. Kau pikir aku bodoh? Jika aku melepaskan dia sekarang, kau akan membunuhku di tempat ini, bukan? Tidak, tidak. Dia adalah jaminan terbaikku. Dan kau... kau adalah kunci dari segalanya." Rian melangkah lebih dekat lagi, matanya menyala penuh kebencian. "Dengar baik-baik. Selama sembilan tahun ini aku bersembunyi, membangun kembali kekuasaanku, menyusup diam-diam. Aku tahu segalanya tentangmu—perusahaan barumu, rumah mewahmu, istri cantikmu, anakmu, bahkan Beni yang begitu setia kepada bos-nya. K
Asap knalpot berputar liar di udara malam saat mobil Roy melesat semakin kencang, membelok tajam memasuki jalanan berbatu di pinggiran utara kota, daerah yang sepi, penuh bangunan tua yang terbengkalai, sisa-sisa pabrik tekstil yang sudah ditutup puluhan tahun lalu. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena amarah yang membakar setiap inci tubuhnya. Roy tersenyum smirk, pertanda bahwa semua masih bisa ia kendalikan, meskipun rasa takut akan kehilangan Sova membuncah. Bukan tanpa perhitungan ia mendatangi tempat ini, tapi rencana yang sudah ia susun runtuh seketika saat pertahanan terakhirnya diusik. Di balik keningnya yang berkerut, bayangan wajah Sova yang menangis, suara tangisan bayinya, dan ketakutan di mata mereka terus berputar tanpa henti. Sosok lembut dan damai yang ia bangun selama bertahun-tahun kini runtuh seketika; pria yang dulu dikenal sebagai pemimpin kejam dan tak kenal ampun, sosok yang ia kubur dalam-dalam kini bangkit kembali,
"Ayo!" pinta Hilda agar Sova terus bergerak masuk ke dalam kamar. Sova pun mengikutinya. Sova terdiam di sofa kamar, sementara Hilda memeriksa setiap jendela, kemudian menutup gordennya. "Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres." Hilda duduk di sofa yang bersebelahan dengan Sova. "Maksudnya?" "Rumah ini sudah gak aman," sahut Hilda. "Sova, ingat, apapun yang terjadi, kamu tidak boleh keluar dari sini. Setidaknya, kita bisa lebih aman di dalam. Cepat hubungi Roy!" titah Hilda. "Kang Roy tadi pergi dengan tergesa-gesa, wajahnya sangat serius. Dia bilang ada urusan pekerjaan, tapi... aku merasa ini ada hubungannya dengan Beni yang hilang." Hilda mengangguk pelan, matanya menatap ke arah jendela-jendela besar yang tertutup tirai tebal. Ia juga tahu sedikit banyak tentang masa lalu Roy, hal-hal yang tidak pernah dibicarakan secara terang-terangan namun terasa berat di bahu pria itu. "Tenanglah, Roy orang yang hebat, dia pasti bisa mengatasi semuanya. Selama ini dia selalu bisa men
Roy mematikan layar ponselnya dengan tangan yang sedikit gemetar, rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya tampak menonjol. Pesan ancaman itu tercetak jelas di benaknya, setiap kata seolah berubah menjadi pisau yang menusuk tajam ke dalam kesadarannya. Ia tahu betul siapa pengirim pesan itu—orang yang mengenal dirinya luar dalam, orang yang paham betul apa yang paling ia takuti, dan orang yang sengaja memanfaatkan kelemahan terbesarnya untuk menjeratnya. "Kang... siapa yang menelepon? Ada apa?" suara Sova terdengar pelan dan cemas, ia melangkah mendekat, tangannya yang lembut menyentuh lengan Roy dengan penuh kekhawatiran. Matanya yang bening menatap lurus ke manik mata suaminya, berusaha membaca apa yang sedang terjadi di balik raut wajah yang berubah pucat itu. Roy menoleh perlahan, menatap wajah wanita yang telah mengubah seluruh hidupnya. Wanita yang ia nikahi hanya sebagai sarana untuk mewariskan segala hartanya, namun kini telah menjadi satu-satunya alasan ia ingin tetap
Roy menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya dwngan sedikit kasar.Suara itu adalah suara Richard. Bos mafia yang dulu berada di bawah kendalinya. “Richard… ini saya” jawab Roy dengan suara yang tenang namun tegas. Ada jeda beberapa detik di seberang sana, seolah orang yang dipanggil itu sedang terkejut sekaligus senang mendengar suara orang yang sudah lama tidak berkomunikasi dengannya. “Bos Roy. Wah, sungguh keajaiban. Sekian purnama saya menunggu anda menghubungis saya, akhirnya hal itu tiba. Pasti ada masalah besar yang membuat anda memutuskan untuk memecah kesunyian ini, kan?” tanya Richard dengan nada yang terdengar antusias sekaligus penasaran. “Kamu benar. Saya butuh bantuanmu, Richard.""Dengan senang hati saya akan membantu. Maaf, karena saya menghentikan pengawasan dan perlindungan diam-diam terhadap anda karena permintaan anak buah anda saat itu," ucapnya membuka kisah lama. Sepeninggal Roy, Richard
SLTC 102Roy masih tertegun setelah mendengar ucapan Sova barusan. Ia berpikir jika apa yang dikatakan Sova sangat masuk akal dan memungkinkan dan memiliki nilai kebenaran. "Apa benar seperti apa yang istriku bilang, Ben?" tanya Roy benar-benar meminta pendapat. "Menurutku demikian," sahut Beni membu
Mata Roy berkilat merah. Ia begitu marah dengan apa yang disampaikan oleh anak buahnya barusan. "Jaga kedua tua bangka ini, jangan sampai mereka berdua kabur!" titah Roy membuat semua orang yang berada di sana saling melemparkan pandangan. "Siapa yang kau sebut dengan tua bangka?! " teriak Pak Tejo
"Ap...pa maksudmu?" Tanya Pak Tejo tergagap. "Sudah jelas saya katakan barusan bahwa Anda berdua tidak mengenali siapa Dania. Anda berdua sudah abai kepadanya dari dulu Lalu, kenapa sekarang kalian begitu mati-matian membela? Itu karena anda hanya menginginkan harta milik Roy dan kalian tidak menge
SLTC 99"Pelakor miskin sepertimu tak perlu ikut bicara! Tak ada kepatutan dari setiap ucapanmu," hardik pak Tejo dengan mata nyalang. "Jangan pernah menghina istriku! Wanita yang kau sebut miskin ini adalah is-tri-ku. Camkan itu!" sahut Roy membalas tatapan nyalang pak Tejo seraya menunjuk tepat ke







