تسجيل الدخول"Kenapa aku harus menyalahkan ayahku?" bisik Rosemary dengan amarah yang bergetar hebat di tenggorokannya. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka dan menatap tepat ke dalam manik mata Calvin yang sedingin es. "Aku tak perlu menyalahkan ayahku, karena akulah yang salah! Akulah orang bodoh yang dengan mudahnya terperangkap dalam penipuan manis yang kau buat selama tiga tahun ini!"
Calvin hanya menyunggingkan senyum miring yang terkesan meremehkan. Tidak ada sedikit pun riak penyesalan yang tampak di wajah tampannya. Topeng pria penyayang yang selama ini disembunyikannya kini benar-benar telah luntur, menggantikannya dengan sosok iblis yang asing bagi Rosemary. "Aku sudah bilang padamu tadi, Rosemary," sahut Calvin dengan nada santai, seolah sedang membicarakan cuaca. "Jika aku ingin membalas dendam pada ayahmu atas kematian ayahku, maka putri kesayangan yang paling ia banggakan dialah yang harus kuhancurkan lebih dulu." "Oh, jadi kau pikir dengan menghancurkan diriku, kau bisa menghancurkan ayahku?" tawa pahit meluncur dari bibir Rosemary, bercampur dengan lelehan air mata yang tak memburu. "Kau sungguh picik, Calvin!" "Ya, tentu saja!" potong Calvin cepat, tatapannya mendadak mengeras bagai baja. Kilatan dendam di matanya menyala begitu pekat. "Kau akan kusakiti, kuseksa secara mental, sampai kau tidak sanggup lagi untuk melanjutkan hidupmu! Aku ingin ayahmu merasakan bagaimana rasanya melihat buah hatinya hancur berkeping-keping tanpa bisa berbuat apa-apa!" "Dasar sialan!" Dalam puncak kemarahannya, Rosemary melemparkan selembar kertas berlipat yang sejak tadi tertempel erat di jemarinya. Kertas putih hasil pemeriksaan laboratorium rumah sakit itu melayang di udara sebelum akhirnya mengenai dada Calvin dan jatuh menampar lantai granit yang dingin. Calvin menunduk, matanya menangkap tulisan tebal bercetak huruf kapital di bagian bawah kertas tersebut. *Hasil Tes Kehamilan: Positif.* Dahi pria itu berkerut dalam, napasnya tertahan sejenak saat membacanya. "Kau... kau hamil?" tanya Calvin dengan suara bertambah berat, menatap kertas itu dan Rosemary bergantian. Rosemary mendengus dingin, menyapu air mata di pipinya dengan kasar. "Tenang saja, Tuan Calvin yang terhormat! Aku tidak sudi melahirkan putramu!" Raut wajah Calvin berubah drastis dalam sekejap. Keangkuhannya mendadak berganti menjadi ketegangan yang pekat. "Kau tidak boleh menggugurkan kandunganmu! Kau harus melahirkan bayi itu!" geramnya melangkah maju menahan bahu Rosemary. "Kenapa aku harus melahirkan anak ini?!" bentak Rosemary seraya menghempaskan tangan Calvin dari tubuhnya. "Bukannya kau sangat membenciku? Bukannya darah yang mengalir di tubuhku ini beracun bagimu?!" *PLAK!* Suara tamparan keras mengudara di koridor sunyi itu. Kepala Rosemary terlempar ke samping saat telapak tangan Calvin mendarat kasar di pipi kirinya. Rasa panas menggelegak seketika di kulitnya, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih menyiksa. "Aku tak sudi melahirkan anakmu!" jerit Rosemary histeris dengan napas memburu. Tanpa membuang waktu lagi, ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Calvin yang masih berdiri mematung di depan pintu ruang kerjanya. Calvin mengusap jemarinya yang gemetar, lalu berteriak keras menembus keheningan rumah megah tersebut. "Bibi! Awasi Rosemary! Jangan sampai dia melangkahkan kaki keluar dari rumah ini! Matikan seluruh sinyal telepon dan koneksi internet agar dia tidak bisa kabur atau menghubungi siapapun!" "Baik, Tuan!" sahut suara pelayan dari arah bawah dengan penuh ketakutan. Rosemary berlari berderap menuju kamarnya di lantai atas. Ia membanting pintu kayu tebal itu hingga bergema ke seluruh sudut ruangan. Jarinya bergerak cepat memutar kunci. "Aku tak sudi lagi tinggal di neraka ini! Aku lebih baik pergi jauh dari tempat terkutuk ini!" umpatnya di antara isolasi rasa panik dan sakit hati. Dengan jemari yang bergetar hebat, Rosemary menarik koper besar dari dalam lemari pakaian. Ia membuka pintu lemari secara kasar, meraup pakaian-pakaian seadanya tanpa memedulikan kerapian, dan melemparnya masuk ke dalam koper. Air matanya menetes merusak kain-kain yang ia kemas, namun tekadnya sudah bulat. Ia harus menyelamatkan dirinya dan calon bayi di dalam rahimnya dari genggaman iblis berparas tampan itu. Setelah mengunci releting koper, Rosemary menarik gagangnya dan berjalan cepat menuju pintu keluar. Namun, saat ia berhasil membuka pintu kamar dan menuruni anak tangga menuju pintu utama, beberapa orang pria berbadan tegap berseragam serba hitam telah berbaris rapat menghalangi jalan keluarnya. "Nyonya, mohon maaf. Tuan Calvin melarang Anda untuk pergi dari rumah ini," jelas salah seorang pengawal dengan suara berat dan datar, merentangkan tangan untuk menghalangi langkahnya. Rosemary menatap barisan pengawal itu dengan napas tersengal-sengal. Kemarahannya yang sempat mereda kini kembali membakar seluruh dadanya. "Dasar Calvin sialan!" maki Rosemary penuh keputusasaan. Menyadari jalur keluarnya telah terkunci rapat dari segala arah, Rosemary memutar tubuhnya. Ia melepaskan pegangan kopernya begitu saja di atas karpet lantai dan bergegas kembali naik menuju ruang kerja suaminya dengan perasaan murka yang merintih. Ia menendang pintu ruangan Calvin hingga terhempas lebar. Pria itu tengah berdiri di dekat jendela besar, memegang segelas minuman keras sembari membelakanginya. "Apa maumu, Calvin?!" jerit Rosemary dengan suara melengking penuh emosi. "Kau ingin mengurungku di rumah ini seperti tawanan?!" Calvin memutar tubuhnya perlahan. Ia menyesap minumannya tenang sebelum menatap Rosemary tanpa ada sedikit pun kepanikan di matanya. "Lahirkan anak itu!" tegas Calvin dingin, suaranya terdengar mutlak tanpa bisa diganggu gugat. "Dan berikan bayi itu padaku setelah ia lahir. Maka dengan begitu, dendamku pada ayahmu akan dianggap lunas!" "Kau pikir aku ini apa, huh?!" bentak Rosemary, air matanya kembali menetes tajam. "Kau pikir aku ini mesin pencetak bayi?! Aku tidak sudi melahirkan anak hanya untuk memuaskan ego dan dendam sakit jiwamu!" "Rosemary, kau tidak punya pilihan lain di rumah ini!" gertak Calvin, melangkah mendekati istrinya dengan tatapan intimidatif. "Kau suka atau tidak, kau harus tetap melahirkan bayi itu!" Rosemary tertawa sinis, menatap lurus ke dalam mata Calvin yang gelap tanpa rasa takut sedikit pun. "Kau pikir aku sangat bodoh sampai mau menyerahkan bayi ini padamu? Ingat Calvin, kau bukan ayah yang baik! Kau hanya monster! Aku tidak akan pernah mengorbankan bayi yang tak berdosa ini hanya untuk menjadi tumbal pembalasan dendammu!" "Rosemary, kau tidak usah keras kepala!" bentak Calvin seraya mengepalkan tangannya rapat-rapat di udara. "Kenapa?!" tantang Rosemary sambil memajukan tubuhnya tepat di hadapan Calvin, menepuk dada pria itu dengan lantang. "Kenapa kau tidak suka dengan ucapan jujurku?! Jika kau benci mendengarnya, tampar saja pipiku lagi! Tampar sampai kamu puas!”"Cepat jalan, jangan buang waktu lagi!" jerit Rosemary seraya menekan perutnya yang membuncit dan melangkah setengah berlari menembus rintik hujan yang mulai membasahi pelataran kafe.Pria berbadan tegap itu memegang payung hitam tinggi untuk melindungi Rosemary, lalu membukakan pintu penumpang depan sedan perak yang terparkir darurat di pinggir jalan. Tanpa memedulikan rasa pening yang mendadak menyerang kepalanya atau denyut nyeri di pinggangnya, Rosemary menjatuhkan tubuhnya ke jok mobil. Mesin mobil meraung keras, roda-rodanya berdecit tajam mengikis aspal basah sebelum kendaraan itu melesat cepat menembus kegelapan malam yang kian pekat.Pikiran Rosemary kacau-balau. Selama tiga bulan terakhir, ia telah membangun benteng pertahanan yang begitu kokoh di dalam hatinya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa rasa cintanya pada Calvin telah mati sepenuhnya, berganti menjadi kebencian dan rasa dingin yang tak tersentuh. Namun, mendengar kabar bahwa pria itu terbaring kritis di ambang kem
"Jangan membuang waktu, masuk ke dalam mobil!" gertak pria berbadan tegap itu seraya mendorong tubuh Calvin secara kasar hingga pria itu terjerembet ke dalam jok belakang mobil sedan hitam tersebut.Pintu mobil langsung dibanting menutup dari luar dengan bunyi gemertak yang keras. Sebelum Calvin sempat memutar tubuh atau memprotes, dua orang pengawal lain di sisi kiri dan kanannya dengan cepat mengunci kedua pergelangan tangannya menggunakan borgol besi yang dingin. Sedan hitam itu langsung menekan pedal gas dalam-dalam, melesat meninggalkan kawasan pantai yang tenang menuju arah jalan bebas hambatan.Calvin tidak berontak. Pria yang biasanya memancarkan aura dominan dan tak tersentuh itu kini hanya duduk bersandar dengan pasrah. Kepala dan kemejanya masih basah oleh air yang disiramkan Rosemary beberapa menit lalu. Tatapan matanya kosong, memandangi kaca jendela luar yang menampilkan deretan pohon kelapa yang kian menghilang. Jiwanya seolah telah tertinggal di dalam kafe kecil itu—di
"Berani-beraninya kau menginjakan kaki di tempat ini!" jerit Rosemary seraya meraih teko kaca berisi air dingin di atas meja kasir dan menghempaskan isinya tepat ke wajah pria yang tengah berlutut di hadapannya.Air dingin membasahi wajah dan kemeja mahal yang kini tampak kusam milik Calvin. Pria itu tidak bergeming sedikit pun. Ia tidak menyapu air yang menetes dari ujung hidungnya, tidak pula berusaha membela diri. Matanya yang merah dan diliputi lingkaran hitam pekat tetap menatap lurus ke arah Rosemary—tatapan yang kini tidak lagi memancarkan keangkuhan atau kemurkaan, melainkan keputusasaan dan penyesalan yang begitu kelam.Lonceng pintu kafe yang berdenting pelan perlahan menghilang dari pendengaran Rosemary, digantikan oleh gemuruh jantungnya yang berdegup kencang. Seluruh ingatan buruk yang telah ia kubur rapat-rapat selama tiga bulan terakhir mendadak mencuat ke permukaan, meracuni udara sejuk pantai yang selama ini menyembuhkan lukanya."Rosemary... tolong," bisik Calvin den
"Lepaskan tanganku, Calvin!" jerit Rosemary seraya menghentakkan lengannya sekuat tenaga, mencoba menghempaskan cengkeraman besi yang mengikat pergelangan tangannya.Suara gesekan kain dan napas yang memburu memecah keheningan malam di kamar yang remang itu. Calvin berdiri tegap dalam kegelapan, matanya menyala tajam dipenuhi amarah dan keputusasaan yang bercampur menjadi satu. Cengkeramannya pada tangan Rosemary tidak mengendur sedikit pun, justru semakin mengetat hingga kulit pucat wanita itu memerah."Kau benar-benar tidak pernah kapok, Rosemary!" gertak Calvin dengan suara rendah yang bergetar. "Bahkan setelah tubuhmu hampir menyerah, setelah infus baru saja dicabut dari tanganmu, kau masih berpikiran untuk mencuri kunciku dan kabur?!""Lalu kau pikir aku akan diam saja menunggu dipotong-potong oleh iblis sepertimu?!" balas Rosemary menantang. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Calvin tanpa ada lagi sisa ketakutan. "Bunuh aku sekalian, Calvin! Bunuh aku dan anak ini jika ka
"Pegang kepalanya, cepat!" bentak Davian seraya mendorong pintu kamar utama dengan sikunya, menuntun dua orang perawat yang berlari mengekor di belakangnya.Suasana di dalam kamar megah itu berubah menjadi kacau-balau. Calvin berdiri mematung di tepi ranjang dengan napas tersengal, menatap telapak tangannya sendiri yang dingin dan gemetar. Di atas kasur busa tebal itu, tubuh Rosemary terbaring kaku bagaikan mayat. Wajahnya yang sepucat kertas kontras dengan rambut hitamnya yang berantakan menjuntai di atas bantal.Davian bergegas mendekat, memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Rosemary yang terasa sangat lemah dan terputus-putus. Tatapan matanya beralih menatap Calvin dengan kilatan amarah yang meluap-luap."Kau benar-benar gila, Calvin!" bentak Davian seraya menepis kasar tangan Calvin yang mencoba menyentuh kening Rosemary. "Lihat apa yang sudah kau lakukan padanya! Tubuhnya dehidrasi berat, demamnya tinggi, dan kau masih saja mengurungnya seperti binatang?!""Aku tidak bermak
"Ayo, Nyonya, telan sedikit lagi," bisik bibi pelayan dengan tangan bergetar, menyodorkan sendok berisi bubur gurih ke bibir Rosemary yang pucat.Rosemary tidak menolak. Ia membuka mulutnya perlahan, mengunyah dan menelan makanan itu tanpa bersuara. Tatapan matanya tidak lagi liar atau dipenuhi jeritan histeris seperti dua hari lalu. Ada ketenangan yang aneh memancar dari dirinya—sebuah ketenangan pasrah yang sengaja ia bangun sebagai topeng. Di dalam benaknya, setiap sendok bubur yang masuk ke dalam perutnya bukanlah bentuk ketundukan pada Calvin, melainkan bahan bakar. Ia membutuhkan tenaga. Ia harus mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya jika ingin keluar hidup-hidup dari neraka ini.Di sudut ruangan, dua orang pengawal berbadan tegap memperhatikan setiap gerak-gerik Rosemary dengan cermat. Melihat sang nyonya rumah kini bersikap kooperatif dan mau menghabiskan separuh porsi makanannya, ketegangan di wajah para penjaga itu perlahan mengendur. Laporan disampaikan kepada Calvin bahwa Ros







