Início / Romansa / Suami Misteriusku / Bab 13 Lemari Kayu

Compartilhar

Bab 13 Lemari Kayu

last update Data de publicação: 2026-03-30 15:21:25

Aku tersenyum lebar, nyaris melompat kegirangan saat berhasil membuka pintu usang ini.

Kriet!

Sesuai ekspektasi, pintu ini berderit begitu nyaring. Menciptakan nuansa mencekam di setiap derit yang menggema. Seolah tengah menyambutku ke dalam sisi gelap ruangan ini.

Sedikit gelap, hanya cahaya remang berasal dari ventilasi yang menjadi satu-satunya penerangan ruangan ini.

Kuayunkan kaki ini ke dalam, meraba dinding mencari keberadaan tombol saklar lampu.

Cetrek!

Bahkan suara sekecil apa pun, aka
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (2)
goodnovel comment avatar
Yuni Masrifah
yuk, ikuti terus kisahnya kak! (^_^)
goodnovel comment avatar
carsun18106
tapi....bagaimana dgn para istri tristan terdahulu??
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Suami Misteriusku    Bab 117 Terjebak Macet

    “Elia!”Ibu berdiri di hadapanku, menyeringai dengan sebelah pisau berlumuran darah di tangannya.Dia … dia melakukannya padaku. Tidak, tubuhku mulai melemas, aku kesakitan, darahku semakin deras mengalir.“Tidak!”Aku tersentak, tubuhku berubah tegak, kuedarkan pandanganku. Ayah, dia ada di kamar ini, duduk di samping Ibu.“Elia! Kenapa teriak-teriak?” tanya Ayah.Aku menunduk, tidak sakit, tidak ada darah di bajuku, aku mengusap wajahku dengan kasar. Bahkan Ibu masih terbaring di atas ranjang.“Aku mimpi buruk, Yah. Ayah dari mana saja? Kenapa baru pulang?” tanyaku, aku cukup kesal padanya.“Ayah ada sedikit urusan. Terima kasih, Sayang, kamu sudah mengurus ibumu,” ucap Ayah.Kulihat wajah Ibu tidak sepucat tadi, bahkan sudah berhenti mengigau.“Apakah kamu yang mengompres Ibu?” tanya Ayah, aku mengangguk.“Tadi Ibu tergeletak di lantai, aku yang membawanya ke ranjang!” kataku.“Sepertinya Ibu sudah agak mendingan. Tadi dia pucat, sangat panas dan terus menerus mengigau,” sambungku.

  • Suami Misteriusku    Bab 116 Tergeletak

    “Apa yang tepat, Yah?” Ayah membalikkan tubuhnya menghadapku, lantas ia mencopot headset bluetooth yang sebelumnya terpasang di sebelah telinganya.“Sayang! Kamu sudah pulang? Ayah baru saja telponan dengan sekretaris Ayah di kantor. Em … bagaimana kuliahmu hari ini? Apakah mereka masih mengganggumu?” tanya Ayah.Aku menggeleng, aku mendaratkan bokongku ke atas sofa, dan Ayah duduk menyusul di sebelahku.“Tidak, Yah. Cuma ….”Aku bingung untuk mengatakan bahwa Mawar telah mengancamku. Aku menunduk, ini salahku, ini semua buah dari kecerobohanku.“Cuma apa?” tanya Ayah, matanya menyipit.“Tidak apa-apa, Yah. Tidak ada masalah apa pun!” jawabku.Ayah bergeming, pandangannya tak lepas dari wajahku. Tatapan itu cukup membuatku tak nyaman. Jika Ayah merasa ragu dengan ucapanku, hal semacam ini pasti akan terjadi. Dia memandangiku tanpa henti. Seolah tengah menyelami dasar pikiranku.“Kenapa … Ayah natap aku kayak gitu? Beneran, Yah, tidak ada masalah,” ucapku. Namun, Bola mataku bergerak

  • Suami Misteriusku    Bab 115 Evakuasi

    Aku diam, tidak menjawab iya atau tidak. Begitu sulit untuk menjawab salah satunya.“Bagaimana, Elia? Sebuah pilihan yang sangat menarik, bukan?” tanyanya.Napasku memburu, ingin rasanya aku memberi pelajaran pada wanita ini. “Jawab, Elia!” titahnya. Nada suaranya halus. Namun, terkesan mengejek.Jambakan tangannya pada rambutku semakin kuat, semakin terasa sakit. Aku tidak mampu lagi bergerak. Sedikit saja bergerak, semakin terasa sakit pula kulit kepalaku.“Jawab, atau detik ini juga, akan aku viralkan isi diary itu!” tambahnya.Dengan bibir bergetar, aku mulai membuka mulutku hendak menjawab.“A … ku–”“Woy! Perhatian semuanya! Ada yang meninggal!”Aku terkesiap, tiba-tiba tangan Mawar terlepas dari rambutku. Kami berdua menoleh ke arah lelaki yang berteriak lantang memberikan informasi.“Siapa? Di mana?” tanya Mawar.“Di perpus! Sebaiknya kamu lihat sendiri!” Mawar beranjak, dia berlari menuju perpustakaan. Aku merapikan rambutku yang kacau. Lantas aku pun beranjak dari kursi,

  • Suami Misteriusku    Bab 114 Pemandangan Langka

    “Kamu … Mawar, kan?” tanya Ayah, tanpa keluar dari dalam mobilnya. Ayah hanya melihat dari celah jendela yang sedikit terbuka.Fix! Mawar telah menghubungi Ayah, sehingga Ayah mengenali wanita ini. Kedua tanganku terkepal kuat.“Iya, Om. Aku temannya Elia, yang waktu kemarin mau menolong Elia, tapi sudah keduluan Om!” jawab Mawar.Wanita sialan! Dia memanipulasi keadaan. Dia telah menipu ayahku. Padahal jelas-jelas dialah otak di balik jebakan itu.“Tapi dia–”“Diam, atau diary kamu aku bongkar di hadapan anak-anak!” “Aw!” pekikku. Mawar mencubitku di bagian pinggang.“Kenapa, Elia? Ada yang sakit?” tanya Ayah. Matanya mengawasiku.Aku menggeleng cepat-cepat. Membantah pertanyaannya. Berusaha menyembunyikan reaksi sakitku.“Ayah sebaiknya cepat pergi kerja. Jangan buang-buang waktu lagi!” seruku. Padahal aku tidak ingin Ayah berlama-lama di sini, apalagi ada Mawar.Ayah tersenyum kecil, lantas mengangguk.“Baiklah, Little Princes!” sahut Ayah.Ayah lantas melanjutkan perjalanan, berl

  • Suami Misteriusku    Bab 113 Menjadi Posesif

    Aku membeliak, lantas menunduk menatap resleting celanaku.Ya Tuhan … malunya aku. Bisa-bisanya aku lupa menutupnya.“Kamu–”“Eh nggak ada. Ke mana, dia?”Aku mengedarkan pandangan, lelaki itu sudah tidak terlihat lagi. Aku tidak sadar jika dia pergi.Segera aku menutup resleting celanaku. Beruntung aku belum kembali ke kantin. Jika tidak, aku pasti menjadi bahan tertawaan banyak orang.“Ehem! Orang itu hanya selewat, kita nggak mungkin ketemu lagi!” gumamku. Aku menegakkan tubuhku, berjalan membusungkan dada. Demi membuang jauh ingatan tentang kejadian memalukan barusan.Aku melanjutkan niatku, memesan makanan untuk kami bertiga. Cukup lama menunggu, akhirnya tiga bungkus makanan telah terpampang di hadapanku.“Makan dulu, Tan, Neni. Habiskan, ya!” seruku.Mereka berdua menerima makanan ini.“Kamu memang anak baik. Pantas Neni selalu cerita dan memuji kamu, Elia. Tante jadi tenang, Neni memiliki teman seperti kamu. Kamu jangan sungkan kalau misal mau ke rumah kami, rumah kami akan se

  • Suami Misteriusku    Bab 112 Bertabrakan

    “Tante, aku Elia, temannya Neni. Bagaimana keadaan Tante sekarang? Sudah baikan?” tanyaku.Aku menyalaminya, ibunya Neni tersenyum kecil. Kuraih sebelah tangannya, kucium punggung tangannya tersebut.“Saya Tante Ella, keadaan Tante baik-baik saja. Kamu cantik, sesuai yang diceritakan oleh Neni,” jawab Tante Ella.Kulihat wajah Tante Ella begitu pucat. Bahkan tak jarang dia terbatuk. Tubuhnya pun terlihat sangat lemas.“Tante sudah minum obat? Sudah dibawa ke dokter?” tanyaku.Neni menimpali, “Ibu tidak dibawa ke dokter, El. Kami nggak ada uang. Sudah dua hari ini Ibu nggak jualan, jadi kami nggak punya uang untuk ke dokter!”Kuusap bahu Neni. Ternyata kehidupan Neni jauh dari yang aku bayangkan.“Maaf, Tante, Neni, ayah Neni di mana memangnya? Kok Tante yang kerja?” tanyaku.Neni tiba-tiba menunduk, dia terlihat sedih.“Ayahku sudah meninggal, El. Jadi Ibu yang menjadi tulang punggung keluarga. Aku bisa kuliah juga berkat beasiswa!” jelas Neni.Sebagai seorang teman, aku merasa tidak

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status