LOGIN“Ulat kecil di rambutmu!” Aku membeliak.“Ulat? Cepat singkirkan, Pak. Geli, ih aku jadi gatal!” Aku tidak berani bergerak, hanya meracau tak jelas karena ketakutan.Pak Dirja mengambil ulat bulu itu dan membuangnya ke dalam tong sampah.Sugesti yang kuat, mendengar kata ulat bulu, sekujur tubuhku merinding. Aku menggaruk-garuk kulitku hingga kemerahan.“Di sini masih banyak pepohonan, jadi tidak aneh jika ada ulat,” ucap Pak Dirja.“Sebaiknya kamu ganti baju, takutnya bulu ulah itu ada yang menempel di baju kamu. Sebentar!” Pak Dirja berlalu ke dalam kamar.Tidak berselang lama, lelaki tua itu kembali dengan satu stel pakaian wanita di sebelah tangannya.“Ini baju anak saya, sepertinya muat di kamu. Pakai saja tidak apa-apa,” sambungnya.Cepat-cepat aku menerimanya lantas membawanya ke dalam kamar mandi.“Terima kasih, Pak. Bajunya muat di badan saya,” ucapku.“Iya! Em … Sophia, sudah jam delapan, saya harus pergi belanja untuk kebutuhan jualan besok. Saya titip Randi lagi, ya! Saya
“Bibi kenapa bengong?” tanya Randi, yang berhasil menyadarkanku dari lamunan.“Ah iya, Bibi tidak apa-apa, Sayang. Sekarang habiskan sarapannya, ya!” sahutku.Tidak berselang lama Pak Dirja kembali. Dia mulai memasak tulang yang dia potong tadi.“Em … Bapak jualan?” tanyaku.Di dapur, sambil mencuci piring bekas Randi makan, Pak Dirja tengah sibuk membuat bumbu sup.“Iya, saya jualan sup di sini,” jawabnya.“Apakah boleh saya bantu Bapak jualan?” tanyaku.“Saya tidak mampu membayar karyawan. Jadi saya selalu kerjakan semua sendiri. Saya harus menabung untuk pengobatan Randi.”“Em … maaf, Pak. Tapi saya butuh uang untuk ongkos saya pulang. Saya tidak mungkin terus menerus merepotkan Bapak di sini. Saya–”“Sudah saya bilang, saya belum punya uang untuk ongkosmu. Untuk sementara kamu tinggal saja di sini, sampai uang saya terkumpul. Baru nanti kamu boleh pulang,” potongnya.Aku menghembuskan napas kasar. Kuanggukan kepala ini pelan.Mungkin aku harus bersabar dulu. Bisa saja aku menghubu
Mendengar pertanyaanku, gerakan orang itu seketika terhenti. Suasana yang awalnya terdengar gaduh, kini berubah hening.Perlahan orang itu menoleh ke arahku. Mulutnya sibuk memainkan batang korek api. Dia adalah lelaki tua.“Sudah bangun? Saya Pak Dirja,” jawabnya.Orang yang bernama Pak Dirja itu kembali sibuk dengan tulang-tulang besar yang hendak ia potong. Perlahan aku mendekatinya, duduk di hadapannya sambil memperhatikan gerak tangan yang sibuk memotong benda keras berwarna putih serta cuilan-cuilan daging yang masih menempel tersebut.“Kenapa saya bisa ada di sini?” tanyaku.Gerakan Pak Dirja kembali berhenti.“Semalam kamu nyaris dibuang oleh dua orang di jurang di tepi jalan!” jawabnya.Aku mengernyitkan dahiku. Aku tidak paham.“Maksudnya, Pak? Dibuang? Siapa yang mau membuangku?” tanyaku.Pak Dirja kembali memotong tulang-tulang itu. Suasana kembali gaduh.“Saya tidak tahu, kemungkinan perampok. Kamu cek saja, apakah ada barangmu yang hilang? Saya hanya kebetulan lewat sa
Malam yang seharusnya menjadi malam penuh penuh haru, penuh canda, tawa, menjadi obat di mana aku sangat membutuhkan semua itu. Namun, kini berubah dalam sekejap mata. Menjadi malam tangis, ketakutan, dan keputusasaan.Langkah ini begitu berat. Gelap yang semakin menguasai. Aku berjalan ditemani sayup-sayup angin malam yang menerpa seluruh tubuhku. Menerbangkan helai-helai rambut panjangku. Seolah tengah mendramatisir penderitaan yang tengah aku alami. Hebat, aku seperti hidup dalam sinetron. Namun, nyatanya yang kualami bukanlah sinetron.Aku tersenyum, bukan bahagia. Namun, luka. Sakit ini sudah semakin dalam. Menusuk kalbu. Tak pernah sedikit pun aku membayangkan bahwa hidupku akan seperti ini. Aku seolah berjalan mengelilingi garis lingkaran. Sejauh apa pun aku pergi, sepanjang apa pun aku berjalan, pada kenyataannya, aku kembali dan terus kembali pada satu titik. Tristan.Terjerumus dalam lingkaran darah. Terjerembab dalam pelukan yang sama. Sampai pernah terpikirkan, bahwa mati
“Ada apa, Sophia? Kenapa kamu mengajak kami untuk pergi dari sini?” tanya Ibu.Tidak ada waktu untuk membahas alasannya. Aku ingin mereka mengikuti ajakanku. Aku takut, seseorang tengah mengintai di sekitar rumah ini.Surat itu berisi sebuah peringatan. Tidak ada toleransi untuk orang yang mengusik hubunganku dengan Tristan. Walaupun aku bersikeras untuk kembali kepada Tristan. Namun, ketakutan terbesarku sekarang, jika aku pergi, aku takut Ayah dan Ibu celaka. Aku takut, aku harus bisa melindungi mereka dengan tanganku sendiri.“Tidak ada waktu lagi. Secepat mungkin kita harus pergi dari sini!” ajakku.“Kenapa kami harus pergi dari sini? Ini rumah kami, kenapa kamu seperti ketakutan, Sophia? Bukankah kamu bersikeras ingin kembali lagi pada Tristan?” tanya Ibu.“Iya, Sophia. Kenapa sikapmu aneh seperti ini? Apakah ini ada hubungannya dengan Tristan?” timpal Dean.Aku bingung harus menjelaskannya seperti apa. Apakah mereka akan percaya dengan ancaman yang kudapat?“Tempat ini sudah tid
Cepat-cepat aku mematikan telepon yang tersambung ke nomor Tristan ini.“Kenapa, Sop?” tanya Ibu.Cepat-cepat aku menggelengkan kepalaku. Aku memasukkan ponsel ini ke dalam saku celana.“Wajahmu tiba-tiba pucat. Ada apa dengan ponselmu?” tanya Dean.“Tidak apa-apa, aku hanya ingat Elia saja saat melihat fotonya barusan!” jawabku berdalih.Aku harap mereka tidak curiga atas apa yang Tristan lakukan pada ponselku, dan melakukan hal yang dapat membahayakan keselamatan mereka.“Kita berangkat sekarang!” ajakku.Aku dan Dean segera keluar, berjalan kaki menuju kediaman Sena.“Dean, kapan kamu kembali ke desamu?” tanyaku.Kami berdua jalan bersebelahan.“Sepertinya kamu berharap sekali aku pergi dari sini. Apakah kedatanganku sangat mengganggumu?” tanyanya.“Bukan! Bukan seperti itu. Aku hanya … aku hanya … ah, lupakan!” jawabku.Bahkan berjalan kaki seperti ini pun perasaanku seperti ada yang mengintai. Namun, aku tidak tahu dari arah mana, siapa, dan berapa orang. Yang aku tahu hanya satu







