LOGINBegitu tahu siapa yang sedang menunggu mereka di ruang tamu, Tika beralih pandang pada Dewa yang juga akan menuju tempat yang sama. Mengetahui Dewa mengangguk samar—seolah mengatakan semua pasti baik-baik saja, Tika mengatur nafas terlebih dulu sebelum memutuskan memasuki ruangan tersebut. Melihat kemunculan pemilik rumah, Floren segara bangkit dari sofa. "Tika! Maaf. Aku baru bisa datang sekarang." Melihat sikap ramah Floren yang seakan tidak pernah terjadi ketegangan di antara mereka, Tika seketika berhenti, dan kembali menoleh Dewa yang juga ikut berhenti."Sebaiknya kita duduk," bisik Dewa menangkap kerutan di dahi sang istri. Mendapat anggukan setuju, Dewa membimbing Tika duduk di sofa yang sama. Meletakkan paper bag berukuran sedang ke atas meja, pun dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya—Floren kembali berkata, "ada hadiah tak seberapa untuk si kecil. Diterima ya. Sekali lagi aku ucapkan selamat atas kelahiran putra kalian." Namun, ternyata Floren tak cukup berani berad
Jagat media tengah dihebohkan dengan berita kematian Firman. Pemuda dua puluh delapan tahun itu ditemukan meringkuk tak bernyawa di dalam kamarnya. Diduga luka sayatan melintang di leher, hingga putusnya urat nadi yang menjadi penyebab nyawa pemuda itu tidak bisa diselamatkan. Dugaan sementara Firman nekat mengakhiri hidup, lantaran depresi.Pernyataan tersebut diperkuat oleh keterangan tahanan lain, yang mengatakan jika sejak kedatangan teman-temannya, Firman berubah murung, dan tidak banyak bicara. Sampai akhirnya selang beberapa hari, saat petugas datang mengantarkan sarapan, berulang kali memanggil tidak juga ada jawaban—Firman tetap meringkuk di atas karpet usang, dan begitu dipastikan ternyata ada genangan darah di dekat leher yang mulai mengering. Diperkirakan Firman melancarkan aksinya saat malam hari.Naasnya, keadaan tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di kediaman Liem. Ketegangan yang menurut keterangan terjadi saat pagi hari itu, menyisakan kekacauan hingga menjadi saks
“Kenapa ada disini?” Tika terkejut mendapati Inez bisa ada di rumah sakit yang sama dengannya. “Apa ada yang serius denganmu?” lanjutannya khawatir. “Tidak, Kak. Jangan cemas. Aku hanya sudah membuat janji dengan Dokter Rara,” balas Inez. “Kamu hamil lagi?” Tika langsung bisa menembak. Dengan wajah tersipu, Inez mengangguk. Meski menunjukkan senyum, tapi dalam hati Tika tetap mencemaskan kondisi adiknya. Pasalnya trauma itu belum sepenuhnya sembuh, dan sekarang Inez sudah kembali Gusti buat hamil. Keduanya lantas berjalan bersama menyusuri koridor rumah sakit yang tidak terlalu banyak orang berlalu lalang. Sampai saat ada persimpangan, mereka terpisahan. Tika sudah berdiri di depan ruang poli umum, menatap sebentar Inez yang masih berjalan tenang di koridor seberang Mengetahui sang adik sudah sampai di depan ruang obgyn dan tidak lama masuk, Tika juga langsung mengetuk pintu. “Masuk!” Mendengar suara dari dalam, Tika segera memutar handle. Pintu pun terbuka perlahan. Seo
"Aku hanya ingin kalian tetap hidup. Sekalipun aku harus membayar mahal untuk itu.” Nafas Floren tersengal mendengarnya, antara menahan kesal, dan muak. Menganggap apa yang Roland katakan hanya omong kosong. Tapi sebelum ia sempat membuka mulut, Roland sudah lebih dulu kembali bicara. “Dan salah satunya tidak bisa lagi bersamamu, aku terima. Setidaknya bisa melihatmu tetap bernafas sudah lebih dari cukup." Mata Floren seketika melebar. Menganggap apa yang Roland katakan sekarang tidak pantas diucapkan pecundang sepertinya. "Aku memang tidak pernah tahu perjanjian apa yang kau sepakati dengan Tuan Liem, " lirih Floren. "Tapi tidak bisakah kau memberiku penjelasan saat itu? Atau setidaknya memintaku pergi menggunakan bahasa manusia?” Mendenguskan senyum. “Membuat statement rendahan hanya karena ingin menikahi perempuan lain. Itu sangat menjijikan!" Roland hanya bisa menghela nafas panjang. Wajar Floren salah paham dan berpikir buruk terhadap dirinya. Sudah waktunya meluruskan. “
“Aku ingin bertemu Dewa!” Kembali datang, sikap Clara masih sama seperti kemarin, tidak sabaran dan penuh percaya diri. Tanpa menjawab, Resepsionis wanita itu langsung melakukan panggilan. “Apa kau tuli! Aku mau ketemu Dewa!” sentak Clara disertai gebrakan di meja resepsionis. Tidak lama dua petugas keamanan datang. “Bawa wanita ini!” perintah sang Resepsionis. “Hei! Beraninya kau mengusir menantu Wijaya!” Clara meradang, terlebih saat dua penjaga keamanan berani memiting tangganya. “Bawa dia!” perintah Resepsionis lagi. “Kau! Aku pastikan hari ini terakhir kau ada disini!” Sayangnya, ancaman Clara tak dihiraukan. Dia tetap diseret keluar seperti perusuh. “Lepas!” Sesampainya di depan pintu lobby dua pria berbadan tegap itu baru dilepasnya. “Pergi! Jangan buat keributan lagi disini!” bentak salah satu petugas. “Aku pastikan hidup kalian akan susah,” hardik Clara tidak terima sambil mengusap jijik kedua lengannya. “Dasar rendahan!” Melati yang baru turun dari mo
"Ini untukku?" Melihat gadis kecil itu mengangguk antusias, Floren tersenyum senang. "Terima kasih. Bunganya sangat cantik. Siapa namamu, Sayang? Oh." Namun, ia dibuat terkejut ketika mengetahui gadis itu, yang sejak tadi terus melukis wajahnya dengan senyuman manis, ternyata penyandang disabilitas. "Maafkan aku." Floren segera menjatuhkan lutut, memeluk gadis itu yang juga langsung melingkarkan tangan ke lehernya. 'Kenapa rasanya begitu menenangkan. Melihat gadis ini, aku seperti melihat diriku sendiri,' ujarnya dalam hati. Sejenak, ia menikmati momen tersebut—rasa hangat yang semakin menjalar ke relung hati. Untuk pertama kalinya juga ia merasa begitu dekat dengan orang asing. Bahkan saat di rumah sakit dulu ketika ia menenangkan gadis depresi, rasa tidak seperti ini. Memejamkan mata, Floren seakan larut ke dalam perasaan yang membuatnya enggan melepaskan pelukannya. Gadis itu seperti bagian dari dirinya yang selama ini terpisah. Aroma manis gadis itu seketika bisa meleburkan







