MasukBijak memilih bacaan, cerita ini mengandung 21+!! Sakit hati ditinggalkan setelah jatuh miskin, Dewa berniat membalas dendam pada mantan kekasihnya, dengan menerima tawaran Tika sebagai suami kontraknya. Namun, siapa sangka, ia justru jatuh hati pada nona konglomerat itu. Naasnya, saat Dewa tengah berjuang, sebuah kebenaran tentang dirinya terungkap yang mengakibatkan Tika salah paham. Lantas, bagaimana kisah keduanya? Akankah kontrak mereka berakhir atau Dewa berhasil membuat pernikahan mereka menjadi "nyata"?
Lihat lebih banyak"Saya memang miskin, tapi bukan berarti Mbak bisa merendahkan saya dengan cara seperti ini."
"Saya tidak bermaksud merendahkan. Saya hanya berpikir, apa yang akan saya berikan nanti, cukup sepadan dengan kesediaan Abang. Bukankah seharusnya begitu?" ujar Tika disertai senyum tipis. "Tapi maaf! Saya memilih tetap konsisten pada keputusan awal, dan saya harap Mbak bisa menghargai itu." Dewa masih berusaha menahan diri menghadapi Tika—perempuan keras kepala yang sebenarnya sudah cukup membuatnya muak. Bagaimana tidak, belum genap dua jam bersama, Dewa merasa otot-otot lengannya menegang lantaran harus mempertahan bersikap tenang. Kendati sebenarnya gemuruh di dalam sana sudah siap diledakkan, bahkan sejak awal Tika mengutarakan keinginannya. Selain itu, Dewa juga menyesali keputusannya telah mendatangi Tika, tanpa pernah memperhitungkan hal tersebut bisa saja terjadi. "Katakan. Apa yang bisa membuat Abang berubah pikiran?" desak Tika. Helaan nafas kasar kembali lolos dari mulut Dewa. Tika terlalu sembrono dengan menanyakan sesuatu yang bisa sangat membahayakan dirinya sendiri. Tidakkah Tika sadar seberapa besar resiko atas pertanyaan tersebut? Rasanya cukup mustahil, perempuan cerdas sepertinya tidak bisa memperhitungkan sebab akibat dari tindakan yang sudah dilakukan. Tapi melihat seberapa keras Tika memaksakan kehendak, Dewa semakin waspada. Sudah pasti ada alasan yang mendasari Tika melakukan semua itu. Namun, apapun masalahnya, Dewa tidak ingin tahu, apalagi peduli. Perempuan itu sangat merepotkan dengan keinginannya yang dirasa, konyol. "Saya akan menyiapkan uangnya sekarang juga. Katakan. Berapa yang Abang inginkan?" lanjut Tika yang seketika menyentak punggung Dewa. Sikap congkak Tika benar-benar melukai harga diri Dewa yang setinggi langit. Apa perempuan itu pikir harta yang dia miliki bisa membeli segalanya? Hingga ia rela merendahkan diri untuk bisa mendapatkan sejumlah uang? Tidak ferguson! "Tidak heran jika orang sepertimu menganggap segalanya bisa dibeli dengan harta. Tapi maaf. Seberapa banyak Mbak menawarkannya kepada saya, itu tidak akan merubah apapun!" Sayangnya alih-alih responsif, Tika justru semakin menjadi. "Yakin dengan jumlah yang mencapai miliaran tidak bisa membuat Abang berpaling? Satu miliar, dua miliar, atau sepuluh miliar? Jangan sungkan untuk memberitahu saya. Katakan saja, hm?" Semakin jengah, Dewa seketika terjingkat berdiri–ingin segera pergi. Tika sudah sangat keterlaluan, dan melampaui batas. Sampai tiba-tiba.. "Jika Abang selangkah saja meninggalkan ruangan ini, saya akan berteriak, dan bisa dipastikan apa yang terjadi setelah itu." Tika tersenyum licik. "Cih! Berani mengancam saya?" bentak Dewa disertai tatapan tajam. "Jangan melampaui batasan, Nona Tika! Saya bisa saja hilang kendali dan pastinya Anda yang akan menyesal." "Perlu diingat lagi, Bang Dewa. Anda ada di tempat saya. Tentunya saya yang lebih memegang kendali." Berdecak kesal, Dewa tengah matian-matian menahan amarah yang semakin membumbung tinggi. Sikap Tika tidak bisa ditolerir lagi. Bukan hanya terlalu keras kepala, tetapi Tika juga sudah sangat keterlaluan. Perempuan ceroboh yang sebenarnya telah mengabaikan keselamatan sendiri, demi tujuan yang Dewa anggap konyol. Jika saja Tika laki-laki, maka akan lain cerita. Dewa tidak perlu menahan diri untuk langsung memberinya pelajaran. Tidak seperti sekarang yang sedang ia lakukan. Menggeram, mengepalkan tangan, nafas menderu, tapi hanya bisa diam menahan semua itu agar tidak meledak dan berakhir kekacauan. "Ternyata benar, sesuatu yang terlihat indah di luar, belum tentu sama dengan apa yang ada di dalam," lirih Dewa penuh penekanan. Ia sudah sangat muak menghadapi kegilaan Tika. "Terkadang seseorang bisa menghalalkan segala cara demi suatu tujuan. Memilih egois dengan mengorbankan orang lain. Bukankah sudah seperti hukum alam? Jika ada yang dirugikan, tentunya ada pihak lain yang diuntungkan. Benar begitu?" Dewa mendengus. Jawaban Tika tak urung membuatnya bertambah kesal. Ditatapnya tajam perempuan itu yang sedang berjalan pelan memutari meja bundar—penghalang mereka. "Begitu juga dengan saya," lanjut Tika disertai senyum tipis. Dewa segera mengalihkan pandangan, bukan hanya tidak ingin melihat wajah menyebalkan Tika. Tetapi juga keberanian perempuan itu yang mengambil jarak begitu dekat dengannya, mampu memunculkan sengatan-sengatan kecil yang membuatnya semakin panas. Meski dengan tinggi tubuhnya saja hanya sebatas bahu Dewa, tidak ada keraguan sedikitpun di wajah Tika untuk balas menatap dingin lelaki di depannya itu. Tindakan sembrono yang sebenarnya tidak ia sadari telah mengusik kelelakian Dewa. "Apapun itu bukan urusan saya, dan sekali lagi saya tegaskan! Saya tidak mau terlibat dalam masalah Mbak yang sama sekali tidak saya inginkan." Bisa melihat wajah cantik Tika, serta semua keindahan yang perempuan itu miliki dengan jarak sedekat itu, iblis dalam diri Dewa semakin meronta. Sesuatu yang tidak Tika ketahui—bahwasanya lelaki muda yang bersamanya kini bukanlah pemuda polos yang hanya cukup memandangi wajah tanpa menuntut sesuatu yang lebih. "Tapi saya bisa melihat keraguan di wajah Abang. Benarkah Abang masih tetap teguh sekarang?" Sialan memang. Dewa hanya bisa menegang kaku saat Tika terus merapatkan diri padanya. Bisa berakibat fatal jika ia tidak segera menghindar. "Tidak sepantasnya perempuan bermartabat seperti Mbak melakukan ini pada laki-laki asing." Glek! Seakan tamparan keras menyadarkan Tika yang langsung berpaling, dan menjauh ketika tubuh mereka nyaris tak bercela. "Saya tahu Mbak tidak seperti itu. Jangan lakukan lebih dari ini," lanjut Dewa. Meski sebenarnya terselip penyesalan di hati, tapi ia tidak punya cara lain, selain mengatakan hal tersebut. Tika hanya mampu tertunduk malu. Kalimat pamungkas Dewa benar-benar telah menghujam tepat ke ulu hati. "Silahkan cari laki-laki lain yang mau menerima tawaran itu, permisi." Dewa bergegas pergi. Ia butuh pengalihan atas apa yang sudah terbakar di dalam sana. Namun, baru beberapa langkah menjauh, kalimat Tika seketika menghentikannya. "Karena saya tahu Abang orang baik. Abang tidak seperti mereka yang menganggap uang segalanya. Untuk itu saya berani bertindak sejauh ini." Naasnya bukan hanya suara bergetar Tika yang mampu menggelitik telinga, tapi juga pernyataan perempuan itu yang terlalu dini menyimpulkan dirinya orang baik membuat Dewa mendenguskan senyum geli. "Terlalu naif menilai saya baik, bahkan di pertemuan pertama yang singkat ini. Saya yakin Mbak akan menyesali keputusan hari ini di lain waktu." "Tidak akan. Terserah bagaimana penilaian Abang terhadap saya. Tapi saya yakin. Abang memiliki hati yang baik." Semakin geli dengan pujian yang Tika lontarkan, Dewa menggaruk satu alis yang tiba-tiba gatal. Ia lantas membalik badan. Sebenarnya ia merasa kesal telah dipermainkan, tetapi pujian demi pujian Tika tak urung membuat kekesalan itu sedikit teralihkan. "Maaf atas sikap saya yang sudah menyinggung Abang tadi. Sungguh, saya tidak bermaksud merendahkan ataupun melukai harga diri Abang. Saya hanya berpikir setiap tindakan tetap harus mendapat imbalan yang sepadan, itu saja. Sekali lagi saya minta maaf," ungkap Tika tulus disertai gurat penyesalan. Ia telah salah menduga dengan menganggap Dewa seperti laki-laki lain yang rela melakukan segalanya hanya demi uang. Penolakan Dewa seakan membuka matanya, jika penampilan berandal lelaki itu bukanlah cerminan yang sebenarnya. Karena itulah, Tika merasa bersyukur, sang adik telah mencarikan lelaki yang tepat untuknya. "Jadi semua itu hanya—" "---maaf. Saya tahu sudah keterlaluan," potong Tika cepat. "Lalu bagaimana dengan permintaan Mbak tadi?" Setelah berhasil menguasai diri, Dewa malah gemas melihat perubahan Tika yang lebih banyak tertunduk. Kemana perginya keberanian yang beberapa saat lalu perempuan itu tunjukkan? "Sebenarnya—" Brak! Brak! Tiba-tiba suara gedoran pintu disertai teriakan seseorang mengejutkan keduanya. Dewa mengerutkan alis saat melihat kecemasan di wajah Tika. "Siapa yang datang?" "Emm… itu, anu, dia," ujar Tika gugup bercampur panik. Dewa semakin yakin ada sesuatu dibalik kecemasan Tika. "Sebaiknya biarkan dia masuk sebelum pintunya roboh." "Tidak!" tolak Tika cepat. Dewa yang penasaran menatap ke arah pintu utama, hingga akhirnya....Sedangkan di rumah Adiraksa, Tika masih mematung di tempat, menimang apakah akan bergabung atau memilih putar badan dan kembali ke kamar begitu tahu siapa yang sedang berbicara dengan suaminya di ruang tamu. Namun, ketika sudah memutuskan tidak akan menemui tamunya, Dewa justru melihatnya lebih dulu, dan meminta mendekat lewat anggukan samar. Masih ragu, tapi tatapan hangat Dewa seakan menyakinkan semua akan baik-baik saja. Akhirnya dengan langkah pelan ia pun berjalan mendekat. “Arkhan sudah tidur?” Dewa berdiri menyambut. “Sudah,” balas Tika disertai senyum singkat. Ia masih belum tahu apa tujuan pasangan itu datang ke rumahnya malam-malam. “Duduklah.” Dewa mempersilahkan sang istri duduk bersisian dengannya. “Mereka mengundang kita besok malam. Selain merayakan ulang tahun putri mereka, mereka juga memutuskan untuk kembali bersama.” Cukup terkejut, tapi Tika belum berkomentar. Sampai akhirnya suara Floren menarik perhatiannya. “Maafkan aku, Tika. Aku sudah sangat egois s
“Apa kau sudah gila!” teriak Alan lantang sambil menarik pisau dapur dari tangan Clara yang ujungnya nyaris menembus perut wanita itu. “Dia anakku! Berani kau menyakitinya! Maka semua keluargamu akan menanggung akibatnya!” Ia tidak main-main, lantaran sudah sangat muak dengan sikap Clara yang dianggap bukan hanya serakah, tapi juga tidak punya hati sebagai wanita dan calon ibu. “Sudah aku katakan! Aku tidak mau mengandung anakmu!” balas Clara ikut berteriak. Suaranya bahkan sampai melengking hingga menembus ruang tengah yang hening. “Untuk apa dia lahir! Aku tidak mau anakku merasakan apa yang aku rasakan sekarang. Tidak bisa hidup layak padahal memiliki suami kaya!” “Tidak bisa hidup layak katamu!” Dipuncak amarah, Alan menekan kalimatnya. Suaranya berdesis di celah gigi yang merapat. “Kau anggap apa semua yang sudah kuberikan padamu selama ini!” Kemarahan nyaris membuat Alan menggila, kalau saja tidak ingat di perut Clara telah hidup satu nyawa calon penerus keluarganya. Tapi p
Jagat media tengah dihebohkan dengan berita kematian Firman. Pemuda dua puluh delapan tahun itu ditemukan meringkuk tak bernyawa di dalam kamar sel. Diduga luka say*tan melintang di leher, hingga put*snya urat nadi yang menjadi penyebab nyawa pemuda blasteran itu tidak bisa diselamatkan. Dugaan sementara, Firman nekat mengakhiri hidup lantaran depresi. Pernyataan tersebut diperkuat oleh keterangan tahanan lain, yang mengatakan jika sejak kedatangan teman-temannya Firman berubah murung, dan tidak banyak bicara. Sampai akhirnya selang beberapa hari petugas datang mengantarkan sarapan, sudah berulang kali memanggil tidak juga ada jawaban—Firman tetap meringkuk di atas karpet usang. Begitu dipastikan ternyata ada genangan d*rah di dekat leher yang mulai mengering. Diperkirakan Firman melancarkan aksinya saat malam hari. Naasnya, keadaan tidak jauh berbeda juga telah terjadi di kediaman Liem. Tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya dan siapa yang telah melakukannya, sekarang yang tersisa h
“Kenapa ada disini?” Tika terkejut mendapati Inez bisa ada di rumah sakit yang sama dengannya. “Apa ada yang serius denganmu?” lanjutannya khawatir. “Tidak, Kak. Jangan cemas. Aku hanya sudah membuat janji dengan Dokter Rara,” balas Inez. “Kamu hamil lagi?” Tika langsung bisa menembak. Dengan wajah tersipu, Inez mengangguk. Meski menunjukkan senyum, tapi dalam hati Tika tetap mencemaskan kondisi adiknya. Pasalnya trauma itu belum sepenuhnya sembuh, dan sekarang Inez sudah kembali Gusti buat hamil. Keduanya lantas berjalan bersama menyusuri koridor rumah sakit yang tidak terlalu banyak orang berlalu lalang. Sampai saat ada persimpangan, mereka terpisahan. Tika sudah berdiri di depan ruang poli umum, menatap sebentar Inez yang masih berjalan tenang di koridor seberang Mengetahui sang adik sudah sampai di depan ruang obgyn dan tidak lama masuk, Tika juga langsung mengetuk pintu. “Masuk!” Mendengar suara dari dalam, Tika segera memutar handle. Pintu pun terbuka perlahan. Seo
“Kau terlihat gugup.” Sentuhan di punggung tangannya membuat Tika terhenyak. Ia langsung menoleh pada Dewa yang juga sedang menatapnya. “Apa itu terlihat jelas di wajahku?” “Aku bahkan tidak pernah melihatmu segugup ini. Di hari pernikahan kita saja kau masih cukup tenang.” Tangan Dewa terangkat
“Kenapa bisa terluka? Apa kau berkelahi dengan seseorang? Atau mungkin ada yang menyerangmu?” Mendengar pertanyaan beruntun Tika, Dewa justru melengkung senyum cerah meski wajahnya masih terlihat pucat. “Kenapa tersenyum?” ketus Tika menahan kesal. Seandainya Dewa tahu, betapa cemasnya Tika ketika
“Apa gunanya kau jika tidak bisa menjamin kebebasan putraku!” Di atas kursi rodanya, Nyonya Liem terus berkata lantang pada Tuan Liem. Wanita itu seperti sudah kehilangan akal sesaat setelah kembali dari rumah sakit. Mengingat bagaimana sulitnya hanya ingin melihat kondisi Firman. Setelah sempat ber
"Kau tidak bisa melakukan ini, Dewa!" Floren merasa tertipu, dan tentu saja tidak terima dengan menunjukkan kemarahan saat terjingkat berdiri dari sofa. "Kau pikir mudah menjadi diriku setelah apa yang kita lalui dulu? Apalagi aku pernah mengandung bayimu." Floren mengingatkan, mungkin saja Dewa yan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak