Masuk"Apa kamu tidak bisa membeli sepeda motor yang agak bagusan dikit?!"
Aku berseru dengan keras dari boncengan motor Abra yang bisa dikatakan hampir seperti rongsokan. Seluruh badan motor itu begitu tipis karena hanya tinggal kerangka. Di sepanjang jalan aku terus dibuat khawatir kalau-kalau motor yang kami tunggangi ini akan terbelah karena tidak mampu menahan bobot kami berdua."Siapa yang tahu aku akan membonceng orang suatu saat nanti," timpal Abra turut berteriak karena"Tolong!""Tolong!"Aku tidak segan berteriak untuk menarik perhatian semua orang di rumah ini. Dan dalam waktu singkat, semua orang sudah keluar dari kamar masing-masing."Mil, ada apa? Kamu kenapa teriak-teriak?" tanya Bapak sembari mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah. Mungkin dia berpikir ada maling yang baru saja masuk rumah.Aku dengan cepat menunjuk ke arah Mas Damar yang masih memegangi pipinya yang kemerahan karena tamparan dariku."Pak, dia mau melecehkanku!" seruku mengadu.Kening bapak mengernyit. Sementara Jemima melotot. "Apa?!" teriaknya.Mas Damar yang tampak tidak terima pun menuding wajahku dengan jari telunjuknya. "Kamu bilang aku mau melecehkanmu? Jangan sembarangan nuduh ya!""Aku nggak sembarangan nuduh kok," bantahku. "Lihat nih. Tanganku sampai merah karena cengkeramannya," Aku menunjukkan pergelangan tangan yang memerah pads semua orang."Dasar laki-laki bejat!" maki
Dag dig dug,Dag dig dug,Aku bisa mendengar dengan jelas jantungku yang berdegup kencang karena postur ambigu antara aku dan Abra ini. Aku juga bisa merasakan nafas yang perlahan menjadi tercekat berat.Sejak menikah, aku dan Abra memang tinggal sekamar dan tidur di kasur yang sama. Tapi kami tidak pernah melewati batas itu. Sekarang Abra tiba-tiba bertingkah seperti ini yang membuatku benar-benar tidak mengerti. Isi pikiran pria ini terlalu sulit untuk dibaca."K ... Kamu beneran mau minta jatah?" tanyaku memberanikan diri. " ... "Abra tidak langsung menjawab. Bibirnya terkatup sangat rapat. Ini membuat hatiku mencelos. Rasanya benar-benar memalukan memiliki hasrat sendirian. Aku tahu bahwa dia tahu tentang perasaanku yang menginginkan hubungan ini berjalan sebagaimana mestinya pasangan suami istri. Namun, memang sebaiknya hal ini tidak diucapkan dengan gamblang. Aku tidak mau mempermalukan diri sendiri lebih dari
Tidak ada yang baru dari hari-hari yang aku jalani. Setiap pagi buta aku dan Abra akan ke pasar untuk berbelanja, setelahnya memasak lauk untuk dijual. Sementara Jemima, kehidupannya tampak tidak terlalu baik. Hari-harinya senantiasa diisi oleh perdebatan dengan Mas Damar. Tidak ada lain yang mereka perdebatkan selain uang nafkah yang tidak cukup. "Makanya kamu juga kerja dong. Biar nggak minta-minta uang terus sama suami. Dibilang aku belum gajian kenapa nggak ngerti-ngerti sih!" "Kamu bilang apa? Kamu nyuruh aku kerja? Kamu lupa kalau aku lagi hamil?!" sambar Jemima. Matanya melotot penuh bara api kemarahan. "Emang kenapa kalau kamu lagi hamil? Banyak kok ibu hamil yang bisa kerja. Mereka aja bisa, masa kamu nggak?" "Aku nikah bukan buat jadi babu kamu ya. Kamu seharusnya meratukan aku karena sudah bela-belain mengandung anak kamu." Mas Damar mendengkus. "Cih. Gila-gila ratu."
"Mas, minta uang dong!" ujar Jemima ketika aku hendak berangkat bekerja."Nggak ada!" jawabku dengan terus terang. Biaya mahar dan hutang untuk menyelenggarakan pernikahan kemarin telah membuatku jatuh miskin. Uang di dalam tabunganku hanya tersisa dua juta saja. Sementara gajian masih lama. Terlebih lagi, aku enggan untuk memberikannya pada wanita culas ini."Mas, kamu nggak bisa gini dong. Aku ini istri kamu. Sudah sepantasnya kamu memberi nafkah padaku," protes Jemima tidak terima.Aku mengangkat bahu dengan masa bodoh. "Uangku sudah habis untuk membayar maharmu beserta biaya pernikahan dan lain sebagainya. Sampai nanti hutangku pada Januar habis, aku tidak bisa memberikan nafkah finansial untukmu," ungkapku."APA?!" pekik Jemima membuat telingaku seketika pengang."Kamu tidak usah teriak. Aku bilang kalau aku tidak akan memberikan nafkah padamu sampai hutangku pada Januar habis," ucapku mengulang pernyataan sebelumnya.
Berbeda dengan suasana hatiku yang ceria karena mengetahui satu lagi fakta soal Abra, suasana yang meliputi pengantin baru di keluarga ini tampak lebih suram. Sama sekali tidak ada rona bahagia yang seharusnya dimiliki oleh pasangan pengantin baru."Wah, senang ya. Sekarang rumah ini jadi makin ramai. Meja makannya sampai nggak muat nih," celetukku memecah kesunyian yang menyelimuti anggota keluargaku malam ini.Meja makan di rumah kami yang seharusnya hanya muat untuk empat orang itu kini ketambahan satu penghuni baru lagi. Tidak heran jika meja makan ini semakin terasa sempit dan penuh sesak."Iya, kamu dan suami kamu tuh yang menuh-menuhin tempat," balas Jemima dengan sewot.Bukannya marah, aku justru memiliki hasrat untuk ingin terus menggoda pasangan pengantin baru ini."Aku tahu kalau aku dan suamiku yang menuh-menuhin tempat. Oleh karena itu, aku ingin mengucapkan terima kasih pada semuanya karena telah membuat hal ini terjadi. Aku
"Kamu benar-benar mengenal kakaknya Mas Damar?" tanyaku dengan sedikit keterkejutan."Iya!" jawab Abra singkat."Wah, betapa sempitnya dunia ini," ucapku kemudian. "Ngomong-ngomong, bagaimana kamu bisa mengenalnya?" tanyaku dengan nada sedikit terlalu antusias." ... "Abra tidak langsung menjawab, dia hanya menatapku dengan kening berkerut. Mungkin juga dia tengah menimbang apakah akan memberitahuku atau tidak."Kalau kamu tidak mau memberitahu, aku juga tidak akan memaksa," ucapku dengan cepat. Aku tidak mau Abra beranggapan bahwa aku ini wanita ceriwis yang terlalu ingin ikut campur dengan urusannya." ... "Abra tidak menanggapi. Dia masih tetap diam dengan sorot mata menyipit tajam ke arahku. Situasi ini membuatku merasa canggung dan kikuk."J ... Jangan melihatku seperti itu," ujarku dengan terbata. Dipandang seperti ini membuatku gugup. Sorot mata itu terlalu tajam hingga membuatku merasa tatapa
Hari-hari yang aku dan Abra lalui masih sama seperti biasanya, hanya ada sedikit perbedaan di jam pulang. Kami yang biasanya berangkat setelah subuh dan pulang setelah isya, kini membatasi jam kerja hingga sampai jam 3 sore saja. Untuk meringankan pekerjaan, aku juga menambah dua pekerja lagi. Me
"Sayang sekali hari ini kita tidak bisa menonton acara lamaran Jemima," bisikku lirih dengan penuh penyesalan. Setelah menimbang apakah kami akan menonton drama lamaran Jemima hari ini atau tetap berangkat bekerja, dengan suara bulat kami memutuskan untuk tetap bekerja."Uang m
Lima hari telah berlalu sejak Mas Damar terakhir kali datang ke rumah. Dan sejak hari itu, suasan rumah menjadi jauh lebih suram dari yang seharusnya. Perdebatan antara Jemima dan ibunya juga terdengar semakin intens setiap harinya. "Apa sih sebenarnya yang kamu lihat dari si Damar ini?
"Hah? Berapa?!"Reaksi keterkejutan Mas Damar ini membuat wajah ibu tiriku seketika keruh. Sorot mata penuh ketidaksenangan seperti yang selalu dia pancarkan tatkala melihatku dan Abra juga kini di arahkan dengan terang-terangan pada Mas Damar."70 juta!" jawab ibu tiriku mengul







