Compartir

16. Membuat Rencana

Autor: Mokaciinoo
last update Fecha de publicación: 2024-03-17 22:00:05

"Apa kamu tidak bisa membeli sepeda motor yang agak bagusan dikit?!"

Aku berseru dengan keras dari boncengan motor Abra yang bisa dikatakan hampir seperti rongsokan. Seluruh badan motor itu begitu tipis karena hanya tinggal kerangka. Di sepanjang jalan aku terus dibuat khawatir kalau-kalau motor yang kami tunggangi ini akan terbelah karena tidak mampu menahan bobot kami berdua.

"Siapa yang tahu aku akan membonceng orang suatu saat nanti," timpal Abra turut berteriak karena
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Suami Paksaku Ternyata Konglomerat    54. Kekacauan di Tengah Malam

    "Tolong!""Tolong!"Aku tidak segan berteriak untuk menarik perhatian semua orang di rumah ini. Dan dalam waktu singkat, semua orang sudah keluar dari kamar masing-masing."Mil, ada apa? Kamu kenapa teriak-teriak?" tanya Bapak sembari mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah. Mungkin dia berpikir ada maling yang baru saja masuk rumah.Aku dengan cepat menunjuk ke arah Mas Damar yang masih memegangi pipinya yang kemerahan karena tamparan dariku."Pak, dia mau melecehkanku!" seruku mengadu.Kening bapak mengernyit. Sementara Jemima melotot. "Apa?!" teriaknya.Mas Damar yang tampak tidak terima pun menuding wajahku dengan jari telunjuknya. "Kamu bilang aku mau melecehkanmu? Jangan sembarangan nuduh ya!""Aku nggak sembarangan nuduh kok," bantahku. "Lihat nih. Tanganku sampai merah karena cengkeramannya," Aku menunjukkan pergelangan tangan yang memerah pads semua orang."Dasar laki-laki bejat!" maki

  • Suami Paksaku Ternyata Konglomerat    53. Mantan Tak Tahu Malu

    Dag dig dug,Dag dig dug,Aku bisa mendengar dengan jelas jantungku yang berdegup kencang karena postur ambigu antara aku dan Abra ini. Aku juga bisa merasakan nafas yang perlahan menjadi tercekat berat.Sejak menikah, aku dan Abra memang tinggal sekamar dan tidur di kasur yang sama. Tapi kami tidak pernah melewati batas itu. Sekarang Abra tiba-tiba bertingkah seperti ini yang membuatku benar-benar tidak mengerti. Isi pikiran pria ini terlalu sulit untuk dibaca."K ... Kamu beneran mau minta jatah?" tanyaku memberanikan diri. " ... "Abra tidak langsung menjawab. Bibirnya terkatup sangat rapat. Ini membuat hatiku mencelos. Rasanya benar-benar memalukan memiliki hasrat sendirian. Aku tahu bahwa dia tahu tentang perasaanku yang menginginkan hubungan ini berjalan sebagaimana mestinya pasangan suami istri. Namun, memang sebaiknya hal ini tidak diucapkan dengan gamblang. Aku tidak mau mempermalukan diri sendiri lebih dari

  • Suami Paksaku Ternyata Konglomerat    52. Pesan dari Mantan

    Tidak ada yang baru dari hari-hari yang aku jalani. Setiap pagi buta aku dan Abra akan ke pasar untuk berbelanja, setelahnya memasak lauk untuk dijual. Sementara Jemima, kehidupannya tampak tidak terlalu baik. Hari-harinya senantiasa diisi oleh perdebatan dengan Mas Damar. Tidak ada lain yang mereka perdebatkan selain uang nafkah yang tidak cukup. "Makanya kamu juga kerja dong. Biar nggak minta-minta uang terus sama suami. Dibilang aku belum gajian kenapa nggak ngerti-ngerti sih!" "Kamu bilang apa? Kamu nyuruh aku kerja? Kamu lupa kalau aku lagi hamil?!" sambar Jemima. Matanya melotot penuh bara api kemarahan. "Emang kenapa kalau kamu lagi hamil? Banyak kok ibu hamil yang bisa kerja. Mereka aja bisa, masa kamu nggak?" "Aku nikah bukan buat jadi babu kamu ya. Kamu seharusnya meratukan aku karena sudah bela-belain mengandung anak kamu." Mas Damar mendengkus. "Cih. Gila-gila ratu."

  • Suami Paksaku Ternyata Konglomerat    51. Damar POV | Jatuh Miskin

    "Mas, minta uang dong!" ujar Jemima ketika aku hendak berangkat bekerja."Nggak ada!" jawabku dengan terus terang. Biaya mahar dan hutang untuk menyelenggarakan pernikahan kemarin telah membuatku jatuh miskin. Uang di dalam tabunganku hanya tersisa dua juta saja. Sementara gajian masih lama. Terlebih lagi, aku enggan untuk memberikannya pada wanita culas ini."Mas, kamu nggak bisa gini dong. Aku ini istri kamu. Sudah sepantasnya kamu memberi nafkah padaku," protes Jemima tidak terima.Aku mengangkat bahu dengan masa bodoh. "Uangku sudah habis untuk membayar maharmu beserta biaya pernikahan dan lain sebagainya. Sampai nanti hutangku pada Januar habis, aku tidak bisa memberikan nafkah finansial untukmu," ungkapku."APA?!" pekik Jemima membuat telingaku seketika pengang."Kamu tidak usah teriak. Aku bilang kalau aku tidak akan memberikan nafkah padamu sampai hutangku pada Januar habis," ucapku mengulang pernyataan sebelumnya.

  • Suami Paksaku Ternyata Konglomerat    50. Seatap Dengan Mantan

    Berbeda dengan suasana hatiku yang ceria karena mengetahui satu lagi fakta soal Abra, suasana yang meliputi pengantin baru di keluarga ini tampak lebih suram. Sama sekali tidak ada rona bahagia yang seharusnya dimiliki oleh pasangan pengantin baru."Wah, senang ya. Sekarang rumah ini jadi makin ramai. Meja makannya sampai nggak muat nih," celetukku memecah kesunyian yang menyelimuti anggota keluargaku malam ini.Meja makan di rumah kami yang seharusnya hanya muat untuk empat orang itu kini ketambahan satu penghuni baru lagi. Tidak heran jika meja makan ini semakin terasa sempit dan penuh sesak."Iya, kamu dan suami kamu tuh yang menuh-menuhin tempat," balas Jemima dengan sewot.Bukannya marah, aku justru memiliki hasrat untuk ingin terus menggoda pasangan pengantin baru ini."Aku tahu kalau aku dan suamiku yang menuh-menuhin tempat. Oleh karena itu, aku ingin mengucapkan terima kasih pada semuanya karena telah membuat hal ini terjadi. Aku

  • Suami Paksaku Ternyata Konglomerat    49. Tentang Januar

    "Kamu benar-benar mengenal kakaknya Mas Damar?" tanyaku dengan sedikit keterkejutan."Iya!" jawab Abra singkat."Wah, betapa sempitnya dunia ini," ucapku kemudian. "Ngomong-ngomong, bagaimana kamu bisa mengenalnya?" tanyaku dengan nada sedikit terlalu antusias." ... "Abra tidak langsung menjawab, dia hanya menatapku dengan kening berkerut. Mungkin juga dia tengah menimbang apakah akan memberitahuku atau tidak."Kalau kamu tidak mau memberitahu, aku juga tidak akan memaksa," ucapku dengan cepat. Aku tidak mau Abra beranggapan bahwa aku ini wanita ceriwis yang terlalu ingin ikut campur dengan urusannya." ... "Abra tidak menanggapi. Dia masih tetap diam dengan sorot mata menyipit tajam ke arahku. Situasi ini membuatku merasa canggung dan kikuk."J ... Jangan melihatku seperti itu," ujarku dengan terbata. Dipandang seperti ini membuatku gugup. Sorot mata itu terlalu tajam hingga membuatku merasa tatapa

  • Suami Paksaku Ternyata Konglomerat    7. Hari Pernikahan

    Aku mematut diriku di depan satu-satunya cermin yang ada di kamar. Saat ini tubuhku sudah dibalut oleh sebuah gamis berwarna putih polos tanpa banyak hiasan indah. Kepalaku ditutup dengan jilbab asal-asalan yang masih menunjukkan helaian rambut hitamku. Adapun wajahku hanya dibaluri bedak tipis d

  • Suami Paksaku Ternyata Konglomerat    6. Disekap

    "Kamilia, kamu kenapa?!" Pertanyaan ini terlontar seiring dengan pintu kamarku yang menjeblak terbuka. Tiga orang anggota keluarga ini kemudian satu demi satu mulai menampakkan wajah penasaran mereka melalui ambang pintu kamar."Apa yang kamu lakukan? Kenapa semuanya berantakan

  • Suami Paksaku Ternyata Konglomerat    5. Menuntut Penjelasan

    'Sampai ketemu besok, calon istri,'Ucapan Abra terus terngiang di dalam kepalaku sampai kami sekeluarga keluar dari pintu kontrakan pria itu. Namun, bukan karena aku tiba-tiba terpesona dengan apa yang diucapkan oleh Abra, hanya saja sikap tenang yang dia tunjukkan telah menimbulkan tan

  • Suami Paksaku Ternyata Konglomerat    4. Persyaratan

    "Kenapa kamu mengatakan kamu akan menikahiku? Aku tidak mau menikah!" Aku berseru dengan marah pada Abra begitu para warga telah bubar, dan hanya menyisakan kami sekeluarga.Abra pun mengangkat bahunya dengan masa bodoh. "Toh pilihannya cuma ada dua. Aku tidak mau diarak keliling kampung, dan menjad

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status